Serana

Serana
Unstopabble


__ADS_3

Puas menyaksikan Irina meneguk alkohol sampai nyaris kehilangan kesadaran, Taruna beranjak dari tempatnya. Ia berjalan ke sisi tubuh Irina, menarik pelan kepala perempuan itu yang terkulai di atas meja bar sebelum membopong tubuh rampingnya ke dalam gendongan.


Raga yang masih setia berjaga dari balik meja bar berlari ke luar dari tempatnya, dengan sigap membantu Taruna membawakan beberapa barang milik Irina lalu membuntuti Taruna yang sudah melangkah lebih dulu.


Taruna agak kesusahan untuk membelah lautan manusia yang masih saja penuh energi padahal malam sudah lewat. Pukul setengah tiga dini hari, tapi anehnya orang-orang mabuk ini seolah belum kelelahan dan enggan untuk berhenti memenuhi ruangan. Beruntung Raga selalu sigap membantunya membuka jalan hingga mereka sampai di pintu keluar.


"Sampai sini aja, lo harus jaga di meja bar." Kata Taruna setelah Raga membukakan pintu.


Namun Raga menggeleng. Lelaki itu bersikeras untuk mengantarnya sampai ke mobil, jadi Taruna tidak lagi melayangkan protes. Karena yang terpenting sekarang adalah ia harus membawa Irina pulang sebelum pagi menjelang dan eksistensi mereka akan menarik lebih banyak perhatian.


Sampai di mobil, Raga bergerak cekatan membukakan pintu, membantu Taruna mengatur kursi penumpang agar Irina bisa setengah berbaring dengan nyaman. Kemudian Taruna menurunkan tubuh Irina dan segera memasangkan seatbelt.


"Thanks. Tips buat lo nanti gue transfer." Kata Taruna setelah menutup pintu.


"Nggak perlu. Gue lakuin ini pure karena lo dan Irina udah banyak membantu gue." Raga mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyum tulus.


"Gue nggak suka lo merasa berhutang Budi."


"Ini bukan hutang budi, man. Tapi simbiosis mutualisme. Kita saling membutuhkan satu sama lain, betul?" Setelah mengatakannya, Raga mendaratkan sebuah tepukan di bahu Taruna. Membuat yang lebih tua melirik sekilas ke bahunya yang mendadak terasa lebih ringan ketimbang sebelumnya.

__ADS_1


"Hati-hati nyetirnya, jangan ngebut. Kalau ada apa-apa atau lo butuh bantuan gue, telepon aja. You can count on me, brother." Kemudian Raga berlalu dari sana.


Cukup lama Taruna terdiam di tempat, memandangi punggung lebar Raga yang semakin menjauh dari jangkauan matanya. Bahkan Taruna masih tidak bisa menarik pandangannya sampai tubuh Raga benar-benar menghilang di balik pintu.


Kemudian satu getar di ponsel dalam saku celana berhasil menarik perhatian Taruna. Dengan gerakan cepat ia keluarkan ponsel dari saku celana untuk memeriksa pesan yang baru saja masuk ke sana.


Done.


Hanya satu kata itu yang tertera di layar ponselnya dan dikirimkan dari nomor tak dikenal. Taruna memutuskan untuk tidak membalas pesan tersebut dan langsung berjalan menuju sisi pengemudi. Setelah melemparkan ponsel ke dashboard dan memasang seatbelt, Taruna pun melajukan mobilnya membelah jalanan dini hari yang lengang.


...****************...


Dengan gerakan pelan, Taruna membaringkan tubuh Irina di atas tempat tidur yang terbalut seprai warna abu-abu tua. Tangannya kemudian bergerak turun, melepas high heels merah terang dari kaki Irina sembari menggeleng pelan saat menyadari bahwa warna sepatu ini sama sekali tidak match dengan gaun hitam pekat yang Irina kenakan. Padahal biasanya, Irina paling repot soal memadu-padankan outfit yang dikenakan. Tapi malam ini, barangkali karena hatinya yang terlanjur remuk redam, perempuan itu jadi tidak terlalu peduli lagi pada penampilannya.


Selesai dengan urusan sepatu, Taruna beralih menarik selimut tebal berwarna senada dengan seprai dengan maksud untuk menutupi tubuh Irina. Namun ketika selimut itu baru sampai di batas perut, Taruna dibuat tersentak saat Irina tiba-tiba mencekal tangannya.


Taruna mengangkat wajahnya, membuat matanya bertemu dengan mata Irina yang kini tampak sayu dan sedikit memerah. Ada kabut bening yang menyelimuti mata Irina, hanya tinggal menunggu waktu sampai kabut bening itu luruh menjadi tetesan air mata.


"Lo butuh sesuatu?" tanya Taruna dengan suara super pelan dan lembut.

__ADS_1


"Aku butuh kamu."


Taruna sepenuhnya kehilangan kata-kata. Waktu seolah berhenti berputar ketika tangan lembut Irina bergerak menggenggam tangannya erat. Kemudian saat perempuan itu menariknya dan membuatnya menunduk sehingga wajah mereka berada dalam jarak yang cukup dekat, Taruna menahan napas. Aroma alkohol yang menguar dari belah bibir Irina yang sedikit terbuka sama sekali tidak menganggunya. Yang mengganggu bagi Taruna justru belah bibir merah tebal milik perempuan itu yang seolah sedang melambai kepadanya, mengundangnya untuk datang menjamah.


Taruna menggelengkan kepala pelan saat pikiran kotor mulai memenuhi kepalanya. Dia mungkin bukan lelaki baik-baik dan ini bukan pertama kalinya ia berada di dalam situasi yang membuatnya terjebak dengan seorang perempuan yang tengah mabuk. Tapi karena ini Irina, Taruna sama sekali tidak bisa membiarkan pikiran kotor itu menguasai dirinya.


Maka sebelum pikirannya semakin liar, Taruna bergerak menjauhkan wajahnya dari Irina. Dia berniat bangkit, tapi Irina kembali menariknya sehingga kini jarak di antara mereka menjadi lebih dekat ketimbang yang sebelumnya.


Sejenak Taruna berpikir bahwa Irina sedang berhalusinasi. Alkohol yang perempuan itu tenggak mungkin sudah sepenuhnya merenggut kesadaran sehingga kini yang nampak di depan mata Irina adalah Gavin, bukan dirinya. Itu masuk akal karena selama ini Irina memang tidak pernah bersikap seperti ini kepada dirinya. Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha. Tidak peduli pada fakta bahwa dialah yang selalu berada di sisi perempuan itu dalam setiap fase buruk di hidupnya. Di mata Irina, selalu hanya ada Gavin, bukan Taruna.


Namun pikiran itu sepenuh sirna saat Irina kembali membuka mulutnya. Dengan suara serak, Irina berkata. "Aku butuh kamu, Na." Yang membuat pertahanan Taruna runtuh seketika.


Kini, ia tidak bisa lagi menahan diri. Apalagi saat Irina terus menatapnya lekat dengan sepasang mata yang semakin tampak berkabut dan terlihat kesepian, Taruna sepenuhnya menyingkirkan logika di dalam kepala. Dengan gerakan pelan, ia mendaratkan kecupan di bibir Irina. Beberapa detik bibir mereka bertemu dan Taruna masih enggan menarik diri. Sengaja ingin melihat reaksi Irina. Kalau perempuan ini menunjukkan gestur menolak sentuhannya, maka Taruna akan segera berhenti. Tidak akan ia lanjutkan apapun yang kini ada di dalam kepala.


Dan ketika Irina tidak berusaha mendorong tubuhnya, Taruna menganggap hal itu sebagai sebuah tanda bahwa ia diijinkan untuk bertindak lebih jauh.


Maka dengan gerakan yang teramat pelan dan sama sekali tidak menuntut, Taruna mulai memagut bibir Irina. Menyecap rasa manis yang selama ini hanya bisa ia damba dalam kepala dengan begitu sabar. Memperlakukan bibir Irina dengan sangat lembut seolah tidak ingin menyakiti perempuan ini sama sekali.


Waktu terus bergulir, seiring dengan decapan basah keduanya yang semakin menjadi dan tangan Taruna yang mulai bergerak ke belakang tubuh Irina, membelai lembut punggung mulus si supermodel demi menyalurkan perasaan yang selama ini hanya ia simpan sendirian.

__ADS_1


Persetan dengan esok hari. Malam ini, Taruna hanya ingin memiliki Irina untuk dirinya sendiri.


__ADS_2