
Di lain tempat, di sudut kelab yang sepi dan temaram, di mana alunan musik yang dimainkan oleh disc jockey mulai terdengar samar-samar, seorang pemuda duduk anteng di tempatnya sembari memainkan ponsel. Ia sedang menunggu seseorang.
Sekitar tiga puluh menit menunggu, pemuda itu tersenyum cerah ketika mendapati sosok Taruna muncul dan berjalan ke arahnya dalam setelan kemeja biru muda lengan pendek dan celana bahan warna hitam. Di tengah temaramnya pencahayaan di sekitar, pemuda itu bisa melihat kilat yang berpendar dari kedua bola mata Taruna. Kilat yang selalu membuatnya kagum dan menjadikan sosok Taruna sebagai panutan.
"Sorry, gue telat." Itu adalah kalimat pertama yang Taruna katakan begitu sampai di hadapan sang pemuda.
Sang pemuda, Raga, berdiri dari duduknya dan langsung melayangkan sebuah tepukan di bahu kiri Taruna. "It's ok. Gue tahu kerjaan lo banyak."
"Jadi, gimana?" tanya Taruna setelah mengambil posisi duduk di seberang Raga. Dikeluarkannya ponsel dari saku celana sambil menunggu Raga kembali duduk di tempatnya.
"Aman." Kata Raga setelah kembali ke posisi semula. Di belakang tubuhnya ada sebuah amplop cokelat yang sedari tadi dia jaga layaknya seorang bayi baru lahir yang rentan. Kemudian, amplop cokelat itu dia sodorkan kepada Taruna sambil memamerkan senyum puas atas hasil kerjanya sendiri.
Taruna menerima amplop itu dengan senang hati. Tangannya bergerak pelan membuka amplop itu untuk melihat isi di dalamnya. Dan ketika satu persatu penghuni amplop itu mulai menampakkan diri, Taruna tidak bisa menahan diri dari senyum miring yang lolos begitu saja.
"Bagus." Pujinya yang ditujukan kepada Raga.
Taruna mengangkat pandangan, menatap Raga dengan binar cerah di kedua bola matanya. "Sedikit lagi, Ga. Tolong bantu gue sedikit lagi."
Raga tentu tidak keberatan dengan permintaan itu, jadi dia segera menganggukkan kepala sebelum Taruna mengulangi kalimatnya. "Lo tenang aja, Na. Gue akan bantu lo sampai akhir. Karena..." Raga menegakkan punggungnya. Mencondongkan tubuhnya ke arah Taruna dan menautkan kedua tangannya yang bertumpu di paha.
__ADS_1
"Lo udah menyelamatkan nyawa gue. Kalau bukan karena lo, gue mungkin udah mati. Atau lebih parahnya, mungkin gue masih jadi pecandu narkoba sampai sekarang. Hidup gue pasti masih berantakan dan gue nggak akan bisa bangkit untuk tumbuh jadi manusia yang seperti sekarang." Kata Raga sambil mengenang kembali masa kelam dalam hidupnya.
Selama bertahun-tahun sebelum pertemuannya dengan Taruna, Adipati Raga hanyalah seorang pecandu narkoba yang sering keluar masuk penjara. Tumbuh di jalanan membuatnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Selain narkoba, Raga juga pecandu miras dan **** bebas. Entah sudah berapa banyak perempuan yang ia tiduri, beberapa bahkan mungkin pernah mengandung anaknya.
Seorang Adipati Raga sebetulnya bukanlah anak terlantar yang lahir dari keluarga miskin dengan banyak anak. Ia merupakan putra ke-dua dari seroang pejabat negara yang namanya sering nampang di berita karena citranya yang dermawan dan sayang keluarga. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua, tetapi Raga tidak pernah merasa dia punya saudara karena kedua orangtuanya terlalu banyak membanggakan sang kakak ketimbang dirinya.
Hidup Raga masih baik-baik saja walau di banyak kesempatan ia merasa terasingkan di dalam keluarganya sendiri. Sampai suatu hari, ia menemukan kekasih hati yang begitu dia puja dan jaga setengah mati tidur dengan kakak laki-laki yang begitu dia benci. Rupanya, mereka berdua telah berselingkuh dan sering tidur bersama tanpa sepengetahuan Raga.
Hati Raga hancur, tentu saja. Tetapi kejadian itu bukanlah satu-satunya penyebab mengapa Raga bisa berakhir menjadi berandalan.
Tiga bulan berselang sejak kejadian memilukan itu, ayahnya diringkus polisi karena kedapatan terlibat dalam kasus korupsi pengadaan dana bantuan sosial untuk masyarakat miskin dan warga terdampak bencana alam. Ibunya yang malu memutuskan gantung diri dan kakak laki-laki satu-satunya yang dia miliki kabur ke luar negeri demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Raga ditinggalkan sendirian. Ia kesepian dan dituntut untuk menyembuhkan lukanya seorang diri tanpa ada yang berusaha mengulurkan batuan.
Dan pemuda itu adalah Taruna, yang kini duduk di hadapannya dengan penampilan yang jauh lebih tegar ketimbang saat pertama kali mereka bertemu.
Sejak hari itu, Raga telah bertekad untuk meninggalkan segala jenis obat-obatan terlarang dan mengurangi intensitas minum alkohol. Ia juga tidak lagi tidur dengan sembarang perempuan karena Taruna telah memberitahunya bahwa hal itu memiliki resiko yang tinggi.
Dengan kebaikan hatinya, Taruna berhasil membuat Rata tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
__ADS_1
Dan sebagai rasa terimakasih, bukankah wajar jika sekarang Raga mengabdikan diri untuk membantu Taruna keluar dari segala permasalahan yang menimpa?
"Sekarang ini, gue hidup untuk lo, Na. Untuk membantu lo menyelesaikan apa pun." Pungkas Raga, tanpa sedikit pun keraguan.
"Thanks, Ga." Taruna menyimpan amplop cokelat itu di sisi tubuhnya. "Gue menghargai itu."
"Gue juga selalu menghargai apa pun yang lo lakuin buat gue, Na." Raga tersenyum dan Taruna membalas senyum itu.
Raga mungkin berpikir Taruna telah menyelamatkan nyawanya. Padahal kenyataannya, justru Raga lah yang telah menyelamatkan nyawa Taruna.
Malam ketika Taruna menemukan Raga tergeletak di pinggir jalan dengan mulut yang berbusa, Taruna sedang merencanakan untuk menghilangkan nyawanya sendiri. Mobil yang dia kendarai awalnya akan dia bawa menuju jurang dan ia akan terjun dari sana. Berharap sebelum mobil menyentuh dasar jurang, nyawanya akan lebih dulu diambil agar ia tidak terlalu merasa kesakitan.
Duka atas kepergian Dyandra benar-benar membuat Taruna hilang akal. Ditambah dengan kenyataan bahwa Sierra lahir dengan sedikit masalah di organ pernapasannya. Anak itu didiagnosis menderita bronkitis, yaitu penyakit yang disebabkan karena terjadinya peradangan di area bronkus sehingga mengakibatkan menyempitnya saluran pernapasan. Saat sedang kambuh, Sierra akan merasakan sesak napas dan Taruna tidak tega melihat hal itu. Rasanya, kalau dia boleh meminta pada Tuhan, dia ingin penyakit itu untuk dirinya saja, jangan Sierra.
Tapi Tuhan memang selalu punya cara yang ajaib untuk membolak-balikkan hati manusia.
Saat membawa Raga ke rumah sakit dan menunggu dokter memberikan perawatan, Taruna seolah mendapatkan secercah harapan baru untuk hidup. Seperti bagaimana ia membantu Raga untuk mendapatkan kembali kesempatan hidupnya, Taruna juga ingin menciptakan kesempatan itu untuk dirinya sendiri.
Maka, di sinilah dia sekarang. Tetap hidup untuk memperjuangkan apa yang telah menjadi hak Sierra. Taruna telah bersumpah, dia tidak akan mati sebelum berhasil membawa keadilan untuk dipersembahkan kepada anak itu. Juga kepada Dyandra yang telah mati dipeluk kesepian panjang.
__ADS_1
Tunggu sedikit lagi, ya, Sierra.
Bersambung