
Untuk waktu yang cukup lama, Kalea menarik napas panjang. Pandangannya jatuh pada piring-piring makanan yang baru sedikit disentuh, juga gelas wine yang sama sekali tak berkurang volumenya karena sang empunya pergi begitu saja. Ada begitu banyak pertanyaan yang mengerubungi kelapa Kalea saat ini. Tentang pesan macam apa yang Gavin terima hingga lelaki itu sampai tega meninggalkannya sendirian di sini.
Setengah jam Kalea duduk termenung di tempatnya, masih sibuk bertanya kepada diri sendiri sampai akhirnya seorang pelayan datang menghampiri dengan raut wajah tidak enak. Pelayan perempuan itu tampak ragu saat akan berbicara, sehingga Kalea terpaksa menyunggingkan senyum palsu untuk meyakinkan si pelayan agar bicara senyamannya.
"Di depan ada driver taksi online yang ingin menjemput." Kata si pelayan cafe.
"Saya nggak pesan." Kata Kalea dengan jujur. Ia memang tidak merasa memesan taksi online. Jangankan memesan taksi online, untuk mencerna situasi yang sedang terjadi sekarang saja Kalea masih belum mampu.
"Atas nama Gavin, Mbak. Mungkin Mas nya yang tadi yang pesankan?"
Kalea terdiam cukup lama. Pikirannya kembali melayang-layang di udara. Di satu sisi, ia merasa kesal pada Gavin karena lelaki itu seenaknya saja meninggalkan dirinya sendirian di sini, tapi di sisi lain ia merasa Gavin tak sepenuhnya berniat bersikap buruk karena nyatanya lelaki itu masih ingat untuk memesankannya taksi online. Kalea dibuat bingung dengan perasaannya sendiri, dia tidak tahu bagaiamana harus bersikap saat ini.
"Mbak?"
"Iya, terimakasih. Minta tolong driver nya tunggu sebentar lagi."
Si pelayan mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Kalea. Setelah berdiam diri cukup lama, Kalea akhirnya bangkit. Ia berjalan gontai menuju bagian depan cafe di mana sudah ada sebuah taksi online yang menunggunya. Di samping badan mobil, seorang pria paruh baya tampak berdiri sambil menekuri ponsel di tangan.
Saat sadar akan kehadiran Kalea, pria itu menegakkan badan kemudian memasukkan ponsel ke saku kemeja setelah meniliknya untuk yang terakhir kali.
"Mbak Kalea, ya?" tanya si driver.
Kalea mengangguk dan sang driver tersenyum ramah.
"Saya diminta sama Mas Gavin untuk antar Mbak Kalea pulang. Mari, Mbak." Ucap si driver sembari membukakan pintu di bagian penumpang, tapi Kalea malah menggelengkan kepala sehingga membuat sang driver mengerutkan kening kebingungan.
"Saya udah telepon teman saya untuk jemput. Bapak selesaikan saja pesanannya, ya." Kata Kalea, memaksakan senyum.
"Wah, nggak bisa gitu, Mbak. Kalau ada apa-apa sama Mbak, nanti saya yang kesalahan." Ucap si driver yang tampak ketakutan.
"Saya mau pergi dulu sama teman saya, Pak."
__ADS_1
"Tapi, Mbak..."
"Saya udah bilang ke Mas Gavin kok. Bapak nggak usah khawatir."
Si driver tampak menimang. Ia ragu-ragu apakah harus menuruti kemauan perempuan di hadapannya ini atau tetap kekeuh untuk membawanya pulang sesuai perintah si pengorder. Masalahnya, kalau ada sesuatu yang terjadi pada perempuan ini, sang driver pasti yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di sisi lain ia tak mungkin memaksa Kalea untuk ikut bersamanya, takut menimbulkan masalah yang lebih besar.
Maka dengan hela napas panjang dan hati yang bergemuruh gusar, si driver pun memilih untuk melaksanakan permintaan Kalea.
"Makasih ya, Pak." Kalea tersenyum untuk terkahir kalinya sebelum berjalan menjauh dari area cafe.
Kalea terus berjalan menyusuri jalanan yang tampak lengang. Ia bohong soal teman yang akan menjemputnya. Kalea sama sekali tidak menghubungi Karel, ia terlalu tidak enak karena sudah mengabaikan lelaki itu hanya demi bisa pergi bersama Gavin malam ini. Padahal, Karel sudah dengan sukarela datang ke rumahnya membawakan oleh-oleh di saat lelaki itu baru sampai dari perjalanan jauh.
Hati Kalea terasa sakit. Ia tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Gavin bahkan tidak mengiriminya pesan untuk sekadar bertanya apakah taksi online yang lelaki itu pesan untuk Kalea sudah tiba atau belum. Kalea pikir lelaki itu tidak benar-benar peduli padanya.
Di dekat persimpangan, Kalea menghentikan langkah. Ia sudah tidak sanggup lagi membawa kakinya melangkah di saat tubuhnya mulai bergetar menahan tangis. Maka ia duduk bersimpuh di atas trotoar, mengabaikan tatapan aneh yang beberapa pengendara layangkan kepadanya saat mereka melewati Kalea.
Kalea duduk di atas trotoar untuk waktu yang cukup lama. Anehnya ia tak kunjung menangis meskipun dadanya terasa semakin sesak. Ia masih bisa memaklumi jika Gavin memang punya urusan yang lebih penting, hanya saja, Kalea merasa caranya seharusnya tidak begini. Sebagai laki-laki, Gavin tidak seharusnya meninggalkannya sendirian, entah sepenting apapun urusannya, kan?
"Halo, manis. Kok sendirian aja, sih? Mau Abang temani, nggak?" kata salah seorang pria bertubuh lebih pendek dengan tato di sekujur lengan bagian kiri.
"Perempuan nggak boleh keliaran sendiri loh malam-malam begini. Mau kemana? Abang anterin, mau?" kata satu orang lagi yang bertubuh lebih tinggi dengan tiga tindik di telinga bagian kanan.
Kalea tidak pandai menilai karakter orang, dan ia bukannya ingin men-judge orang bertato dan bertindik sebagai orang jahat. Hanya saja, instingnya mengatakan kalau dua pria di hadapannya ini bukanlah orang baik. Dengan begitu saja Kalea bangkit berdiri. Dia sudah bersiap untuk melarikan diri saat tangannya lebih cepat dicekal oleh si pria bertato.
"Lepasin!" Kalea berusaha berontak, tapi tenaganya tidak seberapa bila dibanding dengan pria itu.
"Mau kemana, sih? Sini senang-senang dulu sama kita." kata si pria bertindik sembari tertawa cekikikan.
Kalea menatap keduanya dengan tatapan nyalang. Sejujurnya Kalea takut, tapi kalau dia terlihat lemah, dua orang pria ini akan memandang remeh dirinya dan berpikir bisa berbuat macam-macam.
Kalea melirik situasi di sekitar yang sialnya semakin sepi. Kalau tadi masih ada beberapa kendaraan yang melintas, kali ini jalanan benar-benar kosong. Tidak ada satupun pengendara yang lewat, sedangkan dua pria di hadapannya mulai tertawa makin kencang.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" ancam Kalea. Ia melotot pada pria yang mencekal lengannya, namun si pria malah tertawa terbahak-bahak dan Kalea bisa merasakan cekalan di tangannya makin kuat.
"Jangan galak galak dong, sayang. Nanti cantiknya luntur." Kata si pria bertindik, tangannya bergerak kurang ajar menyentuh dagu Kalea yang sontak ditepis oleh gadis itu.
"Jangan sentuh saya!" Kalea makin geram sekaligus ketakutan. Dia tidak pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya. Dan walaupun Papa sudah mengajarinya bagaimana cara melarikan diri dari orang yang menganggunya, Kalea tetap tidak bisa berbuat apa-apa saat situasi seperti ini benar-benar menimpa dirinya. Ia ketakutan.
"Kalau kita nggak mau, kenapa? Ayolah, kita bisa bersenang-senang." ucap si pria bertato.
Dua pria itu masih terus berusaha untuk menyentuh Kalea meskipun gadis itu sudah berontak dan selalu menepis tangan mereka agar menjauh.
Kalea sudah pasrah saat kedua tangannya kini telah berhasil di kuasai oleh dua orang pria itu. Ia pikir, hidupnya akan berakhir saat itu juga ketika salah satu dari dua pria itu (Kalea tidak tahu yang mana karena ia terlalu ketakutan) menyentuh dagunya, menariknya untuk lebih dekat.
"Percuma kamu melawan, nggak akan ada yang bantuin kamu. Kalaupun ada orang lewat, mereka nggak akan berani melawan kami, karena kami yang megang daerah sini."
Kalea memejamkan mata saat pria yang memegang dagunya itu bergerak semakin dekat. Ia masih terus berusaha meronta dan doa tak hentinya ia panjatkan dalam hati. Sekarang ini, Kalea cuma bisa berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya dari dua pria jahat ini.
Lalu, saat Kalea merasakan tubuhnya ditarik ke sisi yang lain, ia sudah sepenuhnya pasrah. Apapun yang terjadi setelah ini, dia enggan membayangkannya.
Namun alih-alih mendapati dirinya diperlakukan jahat, Kalea justru merasakan tubuhnya dipeluk sangat erat. Erat sekali sampai ia tidak punya kesempatan untuk membuka mata demi melihat apa yang tengah terjadi saat sayup-sayup terdengar suara orang yang mengaduh kesakitan di susul suara ramai yang berasal dari beberapa orang. Sepertinya, sedang terjadi baku hantam dan Kalea masih tidak bisa mencerna situasinya. Apakah dia baru saja diselamatkan? Tapi oleh siapa? Orang yang sedang memeluknya sekarang ini, siapa?
Kalea hendak melepaskan diri, tapi orang yang sedang memeluknya saat ini tak mengijinkan. Tubuhnya dipeluk makin erat, kepalanya diusap pelan sehingga yang Kalea bisa lakukan hanya diam dan pasrah.
Sampai akhirnya suara gaduh itu mereda. Menyisakan suara rintihan kecil yang Kalea yakin berasal dari dua orang pria tadi yang habis digebuki ramai-ramai entah oleh siapa.
Namun Kalea masih tidak berani membuka mata, hingga seseorang yang memeluknya mulai membuka suara.
"It's me, it's okay. You're safe now."
Itu suara yang Kalea kenal. Kalea pikir ia sedang berhalusinasi saking takutnya. Namun saat membuka mata, tangisnya pecah seketika itu juga. Rupanya, ia tidak sedang berhalusinasi, lelaki itu benar-benar ada di sini, memeluknya erat sementara dua pria asing yang berniat jahat kepadanya sudah jatuh tersungkur, meringis dengan wajah yang babak belur. Beberapa orang lain yang ada di sana bergerak menyeret dua pria tadi menjauh dari sana.
"It's ok. You can cry." Kata seseorang itu lagi yang membuat tangis Kalea semakin pecah. Kalea memeluk orang itu erat, meremas kemeja yang dikenakan hingga kusut tak berbentuk.
__ADS_1
"There's nothing you need to worry about, cuz I'm here. And will always be here, by your side."