
Saat remaja, ketika teman-temannya yang lain sudah sibuk membicarakan tentang pernikahan impian yang ingin mereka jalani di masa depan, gaun pengantin model apa yang akan dikenakan di hari bahagia sekali seumur hidup itu, juga sosok seperti apa yang akan mereka pilih untuk menemani seumur hidup mereka, Kalea justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir tentang bagaimana caranya ia bisa menggelar pameran untuk lukisan-lukisan yang sudah ia buat, tanpa merepotkan Mama dan Papa.
Di lain waktu, ketika teman-teman seusianya berceloteh tentang cinta pertama disusul kisah-kisah jatuh cinta yang lain, Kalea justru sibuk berkutat dengan kuas dan cat, menyeret Karel, satu-satunya manusia yang sudi menemaninya berkeliling untuk mencari peralatan melukis yang habis. Setengah hidupnya dihabiskan untuk mencintai lukisan, karena bagi Kalea hanya itu cara yang paling ampuh untuk menumpahkan semua perasaan yang tidak semuanya bisa ia ceritakan kepada orang lain.
Kalea anak manja, ia menggantungkan hidupnya pada kasih sayang Mama, Papa dan juga Karel. Tapi untuk beberapa hal yang berkaitan dengan mimpinya, sebisa mungkin ia berusaha untuk mencapainya sendiri tanpa perlu merepotkan orang lain.
Namun hari ini, di hadapan cermin besar yang menampakkan refleksi dirinya yang tampak asing, Kalea menyadari bahwa menjadi mandiri tidak pernah semudah itu. Ia pernah berkata tidak ingin menikah sebelum berhasil menggelar pameran dengan usahanya sendiri, tapi nyatanya kini ia justru berdiri di hadapan cermin sambil memandangi gaun pengantin rancangan desainer kondang yang menempel pas di tubuhnya bersama seorang laki-laki berjas hitam yang berdiri tepat di belakangnya.
Kalea memandangi refleksi dirinya untuk waktu yang cukup lama, mengabaikan eksistensi Gavin yang sudah berdiri di belakangnya sejak bermenit-menit lalu setelah lelaki itu selesai mencoba jas miliknya. Gaun pengantin yang kini ia kenakan bukanlah gaun pengantin dengan desain mewah seperti yang teman-temannya dulu kerap bicarakan. Ini hanya sebuah gaun pengantin simpel. Berwarna putih, berbahan satin dengan potongan off-shoulder yang menampakkan leher jenjang juga bahu indahnya. Sebelum ini, Kalea tidak pernah mengenakan pakaian yang menampakkan bahunya karena menurutnya itu terlalu terbuka dan tidak cocok dengan gayanya. Namun kali ini, ia merasa takjub mendapati gaun dengan desain sesimpel ini ternyata terlihat bagus di tubuhnya. Seolah gaun ini memang diciptakan hanya untuk dirinya. Seolah, Kalea memang dilahirkan untuk mengenakan gaun ini sekali seumur hidupnya.
"Cantik."
Suara Gavin mengudara. Tapi Kalea masih enggan untuk menolehkan kepala. Ia hanya melirik Gavin melalui pantulan yang ada di cermin, kemudian kembali fokus menatapi refleksi dirinya sendiri. Cantik. Kalea tidak tahu apakah kata itu Gavin tujukan untuk dirinya, atau justru gaun pengantin yang kini ia kenakan. Maka setelah merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari gaun yang ia coba kini, Kalea menolehkan kepala.
"Yang cantik gaunnya atau aku?" tanyanya.
"Gaunnya."
Kalea mendengus sebal mendengar jawaban itu. Ia memutar kepala, kembali menatapi pantulan dirinya di cermin yang kini tampak cemberut. Berbanding terbalik dengan Gavin yang justru tersenyum puas hingga kedua matanya nyaris hilang.
"Gaunnya cantik karena kamu yang pakai." Kata Gavin, hanya untuk membuat rona merah perlahan-lahan muncul di belah pipi Kalea.
Kalea merasakan pipinya memanas, jadi ia buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju fitting room diikuti seorang karyawan perempuan yang tadi membantunya mengenakan gaun pengantin ini.
Gavin yang melihat hal itu hanya terkekeh. Ia membiarkan Kalea berlalu tanpa berniat untuk meledeknya lebih lanjut. Kemudian, saat seorang karyawan perempuan lain datang kepadanya dengan satu paperbag berukuran besar dan senyum yang terkembang ramah, Gavin berhenti tertawa.
"Pesanan Bapak sudah siap." Kata karyawan perempuan itu sembari mengulurkan paperbag itu kepadanya.
"Terimakasih." Gavin berucap sopan.
Kemudian karyawan itu berlalu, meninggalkan Gavin sendirian, termenung memandangi paperbag di tangan untuk waktu yang cukup lama. Dadanya kembali terasa perih saat bayangan wajah gadisnya muncul di kepala. Bagaimana dia tertawa, bagaimana dia menangis, bagaimana dia mencurahkan segala resah dan merebahkan lelah di bahunya. Juga bagaimana Gavin berlaku yang sebaliknya. Gaun yang ada di dalam paperbag itu seharusnya tidak sampai ke pemiliknya dengan cara seperti ini. Seharusnya, gadisnya datang langsung ke sini untuk mencobanya, sambil memandangi refleksi dirinya di cermin dan tersenyum sumringah ketika gaun impiannya akhirnya selesai dibuat. Seharusnya. Gavin benci sekali dengan satu kata itu.
Gavin mungkin akan mati tenggelam dalam pikirannya sendiri, kalau saja suara renyah Kalea tidak menyapa tepat waktu.
Ketika ia mengangkat kepala, gadis itu sudah berdiri tiga langkah di depannya. Gaun pengantin yang sedari tadi melekat pas di tubuh kecilnya sudah ditanggalkan, tergantikan dengan dress di bawah lutut yang berwarna merah muda. Gavin terdiam sesaat, memandangi rona merah di belah pipi Kalea yang masih terlihat kentara. Dengan begitu saja, perih di dadanya semakin terasa. Ada satu bagian di hatinya yang sudah lama terluka, dan mendapati Kalea berdiri di hadapannya dengan rona merah di pipi juga senyum malu-malu seperti sekarang ini membuat lukanya kembali basah dan bernanah.
"Kamu nggak mau ganti baju?" tanya Kalea setelah hening berkuasa cukup lama.
Suara jernih Kalea berhasil mengalihkan Gavin dari pikiran-pikiran sedihnya, membuat sudut-sudut bibirnya tertarik sedikit demi membentuk sebuah senyuman yang rasanya sulit sekali untuk dia suguhkan sekarang ini. Kalau boleh jujur, ia ingin beberapa adegan yang terjadi di antara mereka selama dua bulan ini hanyalah mimpi. Sebuah mimpi yang akan hilang ketika ia membuka matanya keesokan hari.
"Kamu belum kasih komentar untuk jas saya." Gavin meletakkan paperbag yang sedari tadi ia pegang ke sofa di sebelah kanannya. Kemudian ia mulai memutar tubuh, membiarkan Kalea lebih leluasa meneliti setiap lekuk tubuh yang terbalut jas itu demi bisa menemukan di mana letak cacatnya.
__ADS_1
"Gimana?" tanyanya setelah kembali menghadap ke Kalea.
Yang pertama Gavin dapat bukankah komentar ataupun pujian, melainkan senyum yang terkembang cukup lebar. Jenis senyum yang mampu mendatangkan kehangatan sekaligus menambah kegetiran di hati Gavin.
"Tampan." Hanya itu yang Kalea katakan. Kemudian gadis itu memutar tubuh, berjalan lebih dulu meninggalkannya dengan beribu tanda tanya yang kembali berebut mengerubungi kepala.
"Jam tujuh nanti aku ada janji sama Karel untuk pergi nonton One Piece di bioskop, jadi kita harus selesaikan urusan kita supaya aku bisa tenang nonton filmnya." Kalea berhenti melangkah hanya untuk mengatakan itu. Ia sedikit menoleh pada Gavin dengan senyum yang masih tersungging. Kemudian ia melanjutkan langkah, meninggalkan Gavin yang diam mematung di tempatnya selama beberapa saat.
Setelah tubuh Kalea sepenuhnya menghilang dari pandangan, Gavin mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Ia ambil paperbag dari sofa kemudian bergegas menyusul Kalea. Ia sudah tidak berniat lagi untuk menanggalkan jas yang saat ini ia kenakan. Biarlah jas itu ia pakai sampai nanti. Karena siapa tahu, semua ini betulan cuma mimpi dan ia tidak menyesal karena sudah sempat mengenakan jas ini.
Saat tiba di luar gedung, ia menemukan Kalea sudah berdiri di depan mobilnya, menyandarkan tubuhnya di kap mobil sembari asik memainkan ponsel.
Gavin menghentikan langkahnya saat Kalea tiba-tiba tertawa. Rasa penasarannya mulai muncul saat tawa itu tak kunjung reda dan mata boba milik gadis itu masih terpaku pada layar ponsel yang entah sedang menampilkan apa. Lalu ia kembali melangkah, hanya untuk mendapati tawa Kalea kian meledak hingga kini bahu gadis itu ikutan bergetar.
"Kamu ngetawain apa, sih?" tanyanya setelah sampai di hadapan Kalea. Ia penasaran, tapi tidak juga berani untuk melongokkan kepala demi memeriksa apa yang sedang Kalea lihat dari layar ponselnya. Sebab ia tahu itu adalah privasi dan ia tidak boleh melanggarnya.
Namun tanpa diduga, Kalea tiba-tiba menyodorkan layar ponsel tepat di depan wajahnya, membuatnya refleks memundurkan kepala.
"Lihat deh, dia lucu." Kata Kalea.
Gavin tidak tahu mengapa ia bisa menurut saja saat gadis itu menyuruhnya menonton sebuah video yang menampilkan seorang perempuan berkerudung yang sedang berkomat-kamit. Mulanya Gavin merasa tidak ada yang aneh, tidak juga ada hal yang lucu sehingga bisa membuat Kalea terbahak-bahak seperti sebelumnya. Namun saat Kalea menaikkan volume video sehingga suara yang keluar dari sana terdengar semakin jelas, Gavin praktis memundurkan wajahnya dengan gerak yang dramatis. Rupanya, perempuan berkerudung itu sedang bernyanyi. Tidak ada yang salah dengan video seseorang yang sedang bernyanyi. Hanya saja, perempuan berkerudung itu menyanyikan lagu yang sepenuhnya asing di telinga Gavin, plus gerak bibirnya saat bernyanyi yang terkesan berlebihan berhasil membuat Gavin merinding sebadan-badan.
"Begitu syulitttt lupakan Reyhan...apalagi Reyhan baik..."
"Kamu ngapain sih, Kalea?" tanyanya keheranan sebab Kalea masih tak kunjung berhenti bernyanyi.
"Ih, kenapa sih? Ini tuh bagus lagunya. Begitu syulitttt lupakan Reyhan... apalagi Reyhan baikkkk..." Kalea kembali bernyanyi kemudian diakhiri kekehan yang sangat renyah.
Gavin yang sudah terlanjur bergidik akhirnya memutuskan untuk membiarkan Kalea menyelesaikan tawanya. Ia kabur, berjalan cepat ke sisi pengemudi lalu buru-buru masuk ke dalam mobil dan duduk. Sungguh, ia tidak tahu kalau Kalea bisa bersikap random seperti ini. Agaknya, apa yang Bunda ceritakan kepadanya masih banyak yang terlewat. Wanita itu memang bilang kalau Kalea suka bertingkah aneh, tapi Gavin tidak menyangka bahwa level anehnya akan seakut ini.
"Hiiii...." Gavin kembali bergidik. Ia usap sekujur badannya yang merinding sebelum kembali bersikap cool saat Kalea menyusulnya masuk ke dalam mobil.
"Kamu nggak bukain pintu buat aku? Tumben?" tanya Kalea setelah memasang seatbelt.
"Kamu aneh. Saya pikir tadi itu lagi kesurupan, makanya saya tinggal." Gurau Gavin. Ia kemudian menyalakan mesin dan hendak menginjak pedal gas ketika Kalea kembali berulah.
"Iya, kesurupan Reyhan. Begitu syulittt eumphhh..."
Tidak ada yang terpikirkan di kepala Gavin ketika ia bergerak secara refleks membekap mulut Kalea saat bibir tipis itu mulai menggumamkan lagi lagu aneh yang tadi. Sungguh, merinding di tubuhnya belum sepenuhnya hilang, jadi ia tidak ingin Kalea membuatnya semakin parah.
"Lepwashmmm...Gavhin." Kalea meronta, namun Gavin masih enggan menyingkirkan telapak tangannya dari bibir gadis itu.
__ADS_1
Akhirnya, ia memutuskan untuk menginjak pedal gas dan mulai mengemudi dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi masih terus membekap mulut Kalea agar gadis itu tidak kembali berulah.
******
Tujuan mereka selanjutnya adalah hotel tempat resepsi pernikahan akan digelar. Dari yang Kalea dengar, persiapannya sudah sampai 90 persen. Sebetulnya ia tidak terlalu mau ambil pusing, toh semua itu sudah diurus oleh pihak wedding organizer dan ia tidak perlu lagi menguras tenaga untuk mengecek ini dan itu.
Tapi Gavin agaknya lain, lelaki itu sepertinya adalah tipikal perfeksionis yang tidak bisa melewatkan detil sedikitpun. Maka setelah melewati obrolan panjang untuk mendiskusikan perihal keraguan yang tiba-tiba muncul di benak Kalea saat dalam perjalanan ke butik tadi, lelaki itu menawarkan untuk mereka sekalian berkunjung ke hotel untuk memeriksa sudah sejauh mana persiapannya dikerjakan.
Kalea tidak menolak. Tentu saja. Karena setelah diskusi panjang yang mereka lewati selama perjalanan menuju butik tadi, ia pada akhirnya berhasil menemukan satu keyakinan yang mampu mendepak semua keraguan yang bergelayut di hatinya sejak berhari-hari kemarin. Jawaban yang Gavin berikan untuk setiap pertanyaan yang ia lontarkan nyatanya selalu mampu untuk membuatnya bungkam. Membuat ragu yang awalnya menggebu perlahan-lahan mereda hingga akhirnya betulan sirna.
Saya jua khawatir pada banyak hal. Itu wajar karena kita cuma manusia yang tidak tahu bagaimana takdir yang akan kita jalani ke depan. Kekhawatiran itu baik untuk membuat kita menjadi waspada. Tapi, kekhawatiran yang terlalu berlebihan hanya akan membawa kita pada ketiadaan. Jadi, daripada khawatir tentang hal-hal yang memang belum tentu akan terjadi, kenapa kita nggak saling bantu untuk meyakinkan diri?
Ucapan Gavin kembali terngiang di telinganya. Bagaimana lelaki itu menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa terkesan memaksakan kehendak dan berlagak seperti orang yang paling benar membuatnya tanpa sadar lebih mudah setuju pada pemikiran lelaki itu. Karena setelah ia telaah lebih jauh, apa yang Gavin ucapkan memang benar. Ia cenderung mudah khawatir pada hal-hal yang kemungkinan terjadinya bahkan kecil. Sejak dulu, Karel juga sudah mengeluhkan sifatnya yang satu itu. Tapi Kalea yang dulu hanya akan bersikukuh pada kekhawatirannya tanpa mau mencari jalan untuk keluar dari kegelisahan yang ia ciptakan sendiri. Tapi hari ini, bersama Gavin, ia berhasil menemukan celah untuk kabur dari perangkap yang diciptakan oleh kepalanya sendiri. Ia berhasil lolos dari jebakan bernama overthinking dan telah berulang-ulang kali mengucapkan kalimat-kalimat baik untuk dirinya sendiri. Dan itu ternyata sangat efektif untuk membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Kamu nanti malam nonton cuma berdua aja sama Karel?" tanya Gavin tiba-tiba setelah memarkirkan mobilnya.
Kalea menoleh, hanya untuk menemukan Gavin tengah menatapnya serius.
"Iya. Teman aku kan emang cuma Karel." Jawab Kalea apa adanya. Mungkin bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar menyedihkan. Tapi bagi Kalea, itu sama sekali tidak sedih. Memiliki hanya Karel bahkan jauh lebih baik ketimbang memiliki seribu teman yang belum tentu bisa memperlakukannya sebaik Karel.
"Pantesan kamu suka random, lha wong bertemannya sama modelan kayak Karel." Gavin mencibir, namun Kalea tidak benar-benar menemukan kebencian dalam nada suaranya.
"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan. Biarpun otaknya sering sengklek dan kadang suka konslet, tapi Karel itu teman yang baik. Kalau nggak ada dia, kamu nggak akan ketemu sama Kalea yang sekarang ini." Kata Kalea sembari melepas seatbeltnya.
"Karel seberarti itu buat kamu?"
Kalea mengangguk mantap. Sudah tidak diragukan lagi. Karel memang seberarti itu. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi Karel di hidupnya karena bagi Kalea, Karel memang hanya ada satu.
"Kalau ada penghargaan untuk teman paling baik sedunia, aku yakin Karel yang bakal jadi juaranya." Kata Kalea begitu bangganya. Ia betul-betul berharap penghargaan semacam itu betulan ada, sebab Karel memang pantas mendapatkannya.
"Glad to hear that." Kata Gavin, kemudian ia turun dari mobil lebih dulu. Seharusnya ia berjalan ke sisi mobil yang satunya dan membukakan pintu untuk Kalea, namun ia justru terpaku di tempat saat mendapati sebuah mobil yang begitu ia kenal terparkir persis di seberang mobilnya. Kacanya gelap, jadi Gavin tidak bisa memastikan apakah pemilik mobil itu masih ada di dalam atau tidak. Ia termenung cukup lama di tempat, sibuk menerka-nerka skenario macam apa yang Tuhan persiapkan untuk dirinya hari ini. Tidakkah ia boleh melewati satu harinya saja dengan tenang tanpa perasaan takut yang mendera?
Dan semua pikirannya seketika buyar hanya karena sebuah tepukan pelan di bahunya, disusul suara nyaring Kalea yang membuatnya seketika menoleh.
"Kenapa?" tanya Kalea keheranan.
"Nggak apa-apa, ayo." Gavin meraih tangan Kalea, menggenggamnya erat kemudian berjalan beriringan memasuki lift. Ia cuma bisa berdoa semoga Tuhan mau berbaik hati kepadanya walau hanya hari ini saja. Setidaknya, biarkan ia menikmati waktunya dengan tenang tanpa perasaan takut dan khawatir yang kain terasa mencekik setiap harinya.
*Semoga.
Semoga.
__ADS_1
Semoga*.