Serana

Serana
Sedikit Tentang Masa Lalu


__ADS_3

Sudah hampir dini hari, tetapi Irina masih tidak bisa memejamkan matanya. Dadanya masih terasa sesak, pun pikirannya kian carut-marut seiring hening yang menguasai sejak ia dan Gavin memutuskan untuk membaringkan diri di kasur. Ia tidur dengan posisi menyamping, membelakangi Gavin yang sama sekali tidak berusaha untuk menarik perhatiannya lebih keras seperti biasa. Untuk beberapa alasan, Irina merasa Gavin mulai perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang asing.


Di tengah semrawutnya isi kepala, Irina tiba-tiba teringat pada pertemuan pertamanya dengan Gavin yang jauh dari kata menyenangkan. 


Sekitar empat tahun lalu, Gavin memungutnya dari sebuah klub malam tepat sebelum ia menyerahkan tubuhnya kepada pria hidung belang kesepian yang datang ke klub penuh dengan aroma alkohol dan bau apak asap rokok. Gavin yang kala itu cuma orang asing rela mengeluarkan uang puluhan juta untuk menebus harga dirinya yang telah dijual oleh ayah tirinya kepada pemilik klub demi mendapatkan uang untuk membayar hutang akibat kalah judi. 


Padahal waktu itu, Gavin sendiri sedang tidak baik-baik saja.


Setelah hening yang cukup lama dan kecanggungan yang tercipta antara dua orang asing yang bertemu dalam situasi dan tempat yang jauh dari kata baik itu Gavin mulai menceritakan sedikit tentang dirinya. Tentang bagaimana ia dituntut untuk menjadi sempurna demi mempertahankan posisinya. Tentang bagaimana lelaki itu tumbuh menjadi pemuda kesepian karena nyatanya apa yang ia miliki selama ini tidak sepenuhnya diperuntukan untuknya. Juga tentang fakta bahwa ia hanyalah anak haram yang tak pernah diharapakan kehadirannya ke sini, dan terpaksa dilahirkan karena orangtuanya tidak punya pilihan lain. Untuk ukuran seseorang yang baru kenal, Gavin bercerita banyak.


Kemudian untuk mengimbangi cerita Gavin, Irina juga menceritakan sedikit tentang dirinya. Tentang ibunya yang selalu melampiaskan amarah kepadanya sedari ia masih kecil karena trauma yang dimiliki atas kejadian buruk di masa lalu, di mana ibunya pernah mengalami pelecehan seksual hingga membuatnya mengandung Irina dan terpaksa melahirkannya ke dunia tanpa seorang suami. Tentang ibunya yang hobi mabuk dan merokok serta berkencan dengan banyak laki-laki, membayar mereka mahal demi mengejar obsesinya untuk membuktikan bahwa derajat laki-laki bisa jadi lebih rendah ketimbang perempuan. Juga tentang ibunya yang akhirnya memutuskan menikah dengan laki-laki biadab yang sering berusaha melecehkan dirinya, sampai akhirnya menjualnya ke sebuah klub malam tepat satu hari setelah ibunya mati.


Selepas dari klub, Gavin membawanya, memberinya tempat tinggal dan memenuhi segala kebutuhannya. Gavin mempersiapkan banyak hal untuk dirinya, mulai dari pendidikan hingga akhirnya mendorongnya untuk terjun ke dunia modeling karena lelaki itu bilang ia punya bakat. Dan untuk semua hal yang telah Gavin berikan kepadanya, lelaki itu tidak meminta balasan yang muluk. Gavin hanya meminta sebuah pelukan untuk menenangkan dirinya kala mimpi buruknya datang di malam-malam tertentu.


Dua orang yang terluka saling bertemu, kemudian mereka memutuskan untuk bergandengan tangan, merawat luka masing-masing sampai akhirnya bisa kembali berdiri tegak.


Seiring berjalannya waktu, sikap yang Gavin tunjukkan berhasil membuat Irina ketergantungan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya akan berjalan jika lelaki itu memutuskan untuk menarik garis batas dan perlahan-lahan menghilang dari sisinya. Di mata Irina, mereka saling membutuhkan agar tetap jadi manusia yang utuh, walau separuh jiwa mereka telah lama mati bersama luka-luka yang ditimbun dalam dada.


Lantas, salahkah bila kini Irina ingin bertindak egois dengan menginginkan Gavin untuk dirinya sendiri? Sebab Gavin adalah laki-laki pertama yang membuatnya merasa dicintai secara utuh, sebagai dirinya sendiri. 


Semua mimpinya untuk hidup bahagia bersama Gavin sebetulnya bisa saja terwujud, kalau perempuan bernama Kalea itu tidak datang ke hidup mereka dengan embel-embel perjodohan sialan yang sayangnya tidak bisa Gavin tolak. Perjodohan ini diperlukan untuk melindungi mereka berdua. Agar Gavin bisa mempertahankan posisinya sebagai anggota keluarga Cakraditya, dan ia bisa tetap melanjutkan karir di dunia modeling tanpa kekhawatiran yang berlebih karena ada Gavin yang akan selalu berdiri di belakang tubuhnya. 

__ADS_1


Tapi kalau melindungi mereka berdua berarti harus ada jarak yang tercipta, maka Irina merasa hal itu tidak sepadan. Apa gunanya tetap bisa hidup bergelimang harta dan popularitas bila ia harus kehilangan satu-satunya cinta yang pernah ia punya, yang tidak pernah dia dapatkan bahkan dari orangtuanya sendiri?


Tidak. Irina tidak akan sanggup kalau itu betulan terjadi.


"Rin,"


Irina tak menyahut. Ia biarkan suara Gavin mengudara tanpa mendapatkan balasan apa-apa. Lidahnya kelu, terlalu banyak kata yang ingin dia ucapkan namun tak satupun yang berhasil keluar.


"Kalau ada kejadian kayak gitu lagi, tolong kasih tahu aku."


Irina merasakan kasurnya sedikit bergoyang, pertanda bahwa Gavin baru saja merubah posisi tidurnya. Namun ia masih enggan menyahut, tetap pada pendiriannya untuk diam seribu bahasa meski kini ia bisa merasakan telapak tangan Gavin yang hangat menyentuh pundaknya.


"Aku udah janji untuk jagain kamu, jadi tolong bantu aku untuk nggak mengingkari janji itu." Kali ini, suara Gavin terasa lebih dekat, disusul hangat embusan napas lelaki itu yang terasa menerpa permukaan lehernya yang terekspos. Tak lama setelah itu, Irina merasakan hidung Gavin menyentuh lehernya, membaui aroma sabun yang menempel di kulitnya dengan rakus. Seolah ia adalah oksigen yang lelaki itu harus hirup agar tetap hidup. Perlahan-lahan, tangan besar Gavin yang semula menyentuh pundaknya bergerak pelan, meraih tubuhnya, mendekapnya erat dari belakang.


"Jangan membentangkan jarak yang semula memang nggak ada di antara kita." Kata Gavin lagi seiring dengan pelukannya semakin mengerat.


"Kamu yang udah ciptain jarak itu." Miris. Irina meringis saat perih kembali terasa di dadanya.


"Aku nggak pernah melakukannya,"


"You did." Sela Irina sebelum Gavin melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Terdengar suara hela napas yang teramat berat. Irina merasakan bulu halus di sekitar lehernya berdiri ketika napas hangat Gavin menerpa kulitnya berkali-kali, seolah lelaki itu sengaja ingin meruntuhkan dinding egonya yang kokoh.


Dua tahun berpacaran, Gavin tidak pernah berusaha berbuat macam-macam kepada dirinya. Walau mereka sering menghabiskan malam dengan tidur di kasur yang sama, tapi lelaki itu sama sekali tidak pernah berusaha melewati batas. Bahkan ketika mereka ada di titik di mana mereka saling menginginkan satu sama lain, Gavin akan berhenti sebelum langkah mereka makin jauh. Tetapi merasakan embusan napas hangat lelaki itu di lehernya secara berulang tentu memberikan efek yang berbeda. Biar bagaimanapun, ia manusia normal yang memiliki hawa nafsu. Satu bagian di otaknya kini sedang merancang sebuah skenario. Bagaimana kalau ia berbalik, menerjang Gavin dan mengajak lelaki itu bergelut dengan perasaan frustasi mereka sampai akhirnya mereka betulan menyatu dan tidak ada lagi jalan keluar untuk melepaskan diri dari satu sama lain?


Namun bagian lain di otaknya yang bertugas untuk mengendalikan diri segera menepis ide gila itu. Ia tidak ingin jadi murahan. Tidak ingin berakhir mengenaskan seperti ibunya yang terpaksa melahirkan seorang bayi tanpa suami.


Maka sebelum keinginannya untuk menerjang Gavin semakin besar, Irina bergerak cepat, menarik dirinya dari lengan kekar Gavin walau usahanya berakhir sia-sia karena lelaki itu enggan melepaskan dirinya.


"Vin,"


"Don't you dare to leave me alone." Bisik Gavin, tepat di telinganya. "Nggak peduli seberapa hebat Taruna memperlakukan kamu selama aku nggak ada, tolong jangan pernah berpikir untuk berlari ke arahnya."


"Kamu ngomong seolah-olah aku berniat melipir ke orang lain, padahal faktanya kamulah yang sedang berjalan menjauh untuk menggapai tangan perempuan lain." Kata Irina dengan dada yang kembali terasa sesak.


"Aku nggak pernah menjauh dari kamu." Irina merasakan pelukan Gavin melonggar. Napas hangat lelaki itu juga sudah tidak lagi terasa di permukaan kulitnya. Namun tak berselang lama, ia dibuat terkejut ketika tubuhnya dibalikkan secara tiba-tiba, membuatnya mau tak mau harus bertatapan dengan manik kelam Gavin yang malam ini tampak redup persis seperti yang ia temui empat tahun silam.


"Pernikahan aku dan Kalea nggak akan merubah apa-apa. Kamu tetap akan ada di posisi ini, di sisi aku sebagai seseorang yang mau aku jaga." Gavin terlihat sungguh-sungguh saat mengatakannya, sebab saat Irina berusaha mencari kebohongan di balik manik kelam itu, ia tidak menemukan apa-apa.


"Jadi, jangan berpikir untuk membalikkan badan kamu memunggungi aku. Jangan berjalan ke arah orang lain, mau itu Taruna atau siapapun juga." Final Gavin, sebelum Irina merasakan bibir tebal lelaki itu bergerak pelan di atas bibirnya. Sama seperti hari-hari yang lalu, ciuman itu terasa lembut tanpa sedikitpun menuntut.


Katakanlah Irina bodoh, karena dalam sekejap saja ia mulai memejamkan mata. Mengesampingkan perih di dada dan membiarkan bibir Gavin menyesap lebih dalam, menjelajah lebih jauh.

__ADS_1


Lalu satu tetes air mata jatuh di sela pagutan mereka ketika satu pikiran acak mampir di kepalanya. Bagaimana kalau Gavin akan melakukan hal yang sama kepada Kalea?


__ADS_2