
Selesai sarapan, Kalea bergerak cepat membereskan piring dan peralatan makan yang lain dari atas meja. Gavin sudah lebih dulu berlalu ke halaman belakang karena harus menerima telepon, jadi Kalea sendirian membereskan sisa makan mereka berdua.
Tepat ketika piring-piring kotor berhasil ia letakkan ke wastafel, bel rumah berbunyi begitu nyaring. Dengan alis yang saling bertaut, Kalea berjalan ke arah pintu depan sambil bertanya-tanya siapa kiranya yang akan datang berkunjung jam segini? Sekarang mungkin baru pukul sembilan dan rasanya aneh kalau ada orang yang bertamu sepagi ini. Terlebih ini adalah rumah yang baru mereka tempati dan hanya keluarga mereka berdua saja yang tahu alamat rumah ini. Mama dan Papa jelas tidak akan bertandang karena kemarin selepas acara pernikahannya, kedua orangtuanya itu langsung berangkat ke bandara untuk terbang ke Korea, merayakan hari jadi pernikahan mereka yang bertepatan dengan hari pernikahan putri semata wayangnya. Kadang Kalea tidak habis pikir kenapa orangtuanya masih begitu bersemangat untuk merayakan ulangtahun pernikahan yang usianya sudah menginjak 27 tahun.
Lalu kalau bukan kedua orangtuanya, lantas siapa? Orangtua Gavin?
Pertanyaan itu masih terus berputar di kepala bahkan sampai ia tiba di depan pintu. Tangannya yang masih setengah basah terulur membuka pintu besar itu. Hanya untuk mendapati angin menerpa wajahnya dalam kekosongan yang menyebalkan.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan tidak terlihat jejak siapapun yang baru saja menginjakkan kaki di pelataran rumahnya. Yang Kalea dapati di depan pintu hanyalah sebuah kotak berukuran 20x20x8 cm berwarna biru tua dengan sebuah pita berwarna merah yang menghiasinya. Karena masih penasaran dengan siapa yang telah membunyikan bel, Kalea mengabaikan kotak hadiah itu sebentar dan berjalan melewati pembatas teras. Ia melongokkan kepala, menoleh ke kanan dan ke kiri, melemparkan pandangan jauh ke depan untuk mencari seseorang yang entah siapa. Namun tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada siapapun di sana. Seolah bel di rumahnya dibunyikan oleh angin dan kotak kado itu datang dengan sendirinya, entah dari mana.
Tahu bahwa pencariannya hanya akan berakhir sia-sia, Kalea kembali melangkah ke arah pintu. Sempat berdiri mematung sebentar sambil menunduk menatapi kotak kado yang dicampakkan di atas lantai. Agak ragu apakah harus membawa kotak kado itu ke dalam rumah atau membiarkannya tetap ada di sana. Masalahnya, Kalea tidak tahu apa isi di dalam kotak itu. Bagaimana kalau isinya adalah sesuatu yang mengerikan; seperti potongan tubuh manusia, misalnya?
Ah...Kalea terlalu banyak menonton drama thriller sehingga pikirannya melayang terlalu jauh.
Pada akhirnya, tetap ia pungut juga kotak itu. Ada sebuah kertas note kecil yang terselip di antara pita penghiasnya, Kalea mengambil kertas note itu dan mulai membaca pesan yang ada di sana.
Happy wedding. Wishing you a long and happy marriage. Wiht love, December.
Begitulah yang tertulis di kertas note tersebut. Karena Kalea tidak tahu siapa pengirim yang mengatasnamakan dirinya sebagai December ini, maka Kalea memutuskan untuk membawa kotak itu ke dalam rumah. Tanpa tahu bahwa jauh di seberang jalan, di tempat yang tidak bisa ia jangkau dengan pandangan, seorang pria berjaket hitam dengan topi dan masker warna senada sedang mengarahkan kamera profesional untuk membidik Kalea bersama kotak hadiah di dalam dekapan.
Usai mengambil foto Kalea, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian men- dial sebuah nomor yang tak butuh waktu lama untuk tersambung.
"Mission complete." Ucapnya kepada seseorang di seberang. Kemudian sambungan telepon terputus dan pria itu masuk ke dalam mobilnya. Mobil itupun melaju, meninggal area perumahan Kalea setelah memastikan dirinya tidak akan tertangkap oleh kamera keamanan yang sudah disabotase.
...****************...
Jam empat sore, hujan turun tipis-tipis. Awan berwarna kelabu menggulung habis semburat oranye yang seharusnya terlukis menghiasi langit sore ini.
__ADS_1
Di sofa ruang tengah, Gavin memfokuskan pandangan pada layar televisi yang kini menayangkan berita tentang anjloknya harga saham milik beberapa perusahaan besar. Walaupun perusahaan milik Papa masih terpantau aman, tapi Gavin selalu menyempatkan diri untuk memeriksa perkembangan pasar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat sedang fokus mengikuti jalannya berita, perhatiannya tiba-tiba tercuri oleh keberadaan sebuah kotak kado di meja televisi. Kotak itu memang tergeletak agak tersembunyi di belakang televisi, sehingga awalnya Gavin tidak menyadari keberadaannya.
"Aku bikin pajeon (pancake daun bawang ala Korea), kamu mau nyobain nggak?"
Gavin menolehkan kepala ketika suara Kalea menginterupsi. Perempuan itu berjalan dari arah dapur sembari membawa piring berisi pajeon. Raut wajahnya tampak cerah, seperti matahari pagi yang menyambut mereka ketika pertama kali membuka mata tadi.
"Boleh." Tanpa banyak bicara, Gavin langsung mengambil sekeping pajeon dari piring yang baru saja Kalea letakkan di atas meja di depan sofa. Dibawanya pajeon itu ke depan mulut dan langsung dilahap dengan semangat. Gavin bahkan tidak perlu berekspektasi apapun pada apa yang dibuat Kalea. Karena apapun hasilnya, ia akan tetap berkata bahwa apa yang Kalea masak enak. Tapi jauh dari dugaannya, pajeon yang Kalea buat ternyata memang enak sehingga ia tidak perlu berpura-pura.
"Enak." Puji Gavin sungguh-sungguh dengan mulut yang penuh. Ia berhenti mengunyah sebentar, hanya untuk menyunggingkan senyum tipis kepada Kalea yang sudah bergabung di sampingnya.
"Makasih." Kalea balas tersenyum kemudian ikut mencomot satu keping pajeon, mengambil gigitan kecil dan mengunyahnya dengan sabar. "Aku sering bikin ini di rumah, buat camilan kalau lagi turun hujan kayak gini."
Gavin hanya manggut-manggut menanggapi informasi yang Kalea berikan. Kunyahannya berhasil membuat pajeon di dalam mulut melembut kemudian bisa ditelan. Tidak puas hanya mendapatkan satu, Gavin mencomot sekeping lagi.
Di sela kunyahannya pada pajeon yang ke-dua, Gavin kembali teringat pada kotak kado yang tadi sempat menyita perhatiannya.
Kalea berdeham. Pandangan perempuan itu lurus ke depan pada layar televisi. Tampak begitu serius padahal Gavin tahu ia tidak betulan mengerti apa yang sedang mereka tonton saat ini.
"Itu kotak apa?" tanyanya sembari menunjuk ke arah kotak kado tersebut.
"Kotak apa?" Kalea balik bertanya. Menoleh pada Gavin dengan tatapan kebingungan.
"Itu, yang di belakang televisi."
Kalea tampak terdiam, memandangi kotak kado yang Gavin maksud selama beberapa saat. Alisnya saling bertaut dan perempuan itu bahkan berhenti mengunyah.
__ADS_1
"Ya ampun!"
Kini giliran Gavin yang kebingungan saat Kalea tiba-tiba memekik sambil menepuk jidatnya sendiri. Pajeon yang sisa setengah dilemparkan begitu saja ke atas meja kemudian perempuan itu setengah berlari ke arah meja tv. Dengan gerakan serabutan, Kalea meraih kotak kado itu dan berjalan kembali ke sofa.
"Tadi pagi ada yang ninggalin kotak ini di depan pintu. Aku nggak tahu siapa, soalnya pas aku buka pintu sama sekali nggak ada siapa-siapa." Jelas Kalea.
Mendengar itu, Gavin sontak menengakkan badan. Diraihnya kotak itu dari tangan Kalea. Kepalanya mulai penuh dengan banyak spekulasi. Terlebih saat matanya mendapati kertas note yang terselip di antara pita yang menghias kotak kado tersebut. Gavin tidak membaca seluruh tulisannya, karena satu hal yang mencuri perhatiannya adalah nama pengirim yang ada di bagian pojok kanan bawah.
December.
Hanya ada satu kemungkinan tentang siapa pengirim kotak ini jika mengacu pada inisial nama samaran yang digunakan untuk mengirimnya. Satu-satunya orang terdekatnya yang lahir di bulan Desember cuma Irina, jadi kalau nama pengirim itu mewakili bulan kelahiran si pengirim, maka satu-satunya yang mungkin adalah Irina.
Tapi Gavin tidak ingin berprasangka buruk pada seseorang yang ia sayangi. Maka dengan gerakan pelan, Gavin membuka penutup kotak itu. Hanya untuk dibuat terperangah saat mendapati satu set perhiasan merk ternama yang hanya ada sebelas set di dunia. Bukan. Bukan soal stoknya yang limited dan harganya yang fantastis. Melainkan fakta bahwa satu set perhiasan itu pernah ia belikan khusus untuk Irina di hari jadi mereka yang ke-2.
Jadi, benar Irina yang mengirimkan ini? Tapi untuk apa? Apa tujuan perempuan itu melakukannya?
"Gavin?"
Sentuhan pelan di bahunya itu berhasil membuyarkan pemikiran Gavin. Cepat-cepat ia tutup kembali kotak kado itu lalu meletakkannya di atas meja.
"Isinya apa? Kok kamu kaget gitu?" tanya Kalea. "Bukan sesuatu yang mengerikan, kan?"
Ini mengerikan, Kalea. Jauh lebih mengerikan dari apa yang bisa kamu bayangkan. Tapi Gavin hanya bisa mengatakannya di dalam hati. Sebagai gantinya, ia hanya menjawab pertanyaan Kalea itu dengan sebuah kalimat sederhana. "Isinya satu set perhiasan. Tapi kayaknya salah kirim deh, soalnya nama pengirimnya juga nggak jelas dan nggak tertera juga disitu kalau paketnya memang ditujukan buat kita."
"Terus gimana dong? Mau dibalikin kemana? Kan, nama sama alamat pengirimnya juga nggak ada."
"Sementara kamu simpan aja dulu. Nanti saya coba caritahu lewat cctv di sekitar rumah. Siapa tahu aja bisa membantu kita menemukan siapa pengirimnya dan paket ini bisa kita kembalikan."
__ADS_1
Seperti biasa, Kalea menurut tanpa banyak bertanya lebih lanjut. Dalam sekejap pembicaraan tentang kotak kado itu terlupakan begitu saja, tergantikan dengan cerita-cerita random yang Kalea celotehkan dengan nada riangnya.
Sementara Gavin mulai kembali sibuk dengan pemikirannya sendiri, tidak terlalu mendengarkan celotehan Kalea karena kepalanya terlalu ribut hingga membuatnya merasa pusing.