
Tiga hari pasca kecelakaan, Gavin dinyatakan koma dan harus dirawat secara intensif di ruang ICU, lengkap dengan berbagai macam alat medis yang dipasang untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
Kabar itu tentu saja menjadi duka yang mendalam bagi seluruh anggota keluarga, terlebih Bunda yang begitu merasa terpukul hingga beberapa kali jatuh pingsan karena enggan menerima kenyataan tersebut. Papa Jonathan sampai harus membawa Bunda pulang, menahannya untuk tidak datang ke rumah sakit selama berhari-hari kemudian sampai kondisi Bunda benar-benar stabil.
Kalea sendiri cukup keras kepala waktu itu. Dia tetap bersikeras datang ke rumah sakit setiap hari, walaupun dia hanya akan berakhir menangis tersedu-sedu di samping ranjang pasien karena Gavin sama sekali tidak merespon apapun yang dia katakan.
Dokter bilang, kemungkinan untuk sadar tetap ada, tetapi kemungkinan untuk Gavin tidak akan pernah membuka matanya lagi juga lebih besar. Sehingga, yang bisa dokter sarankan hanyalah memperbanyak doa, meminta kepada Tuhan agar Gavin masih bisa diberikan kesempatan.
Dan sekarang, sudah masuk hari ke-seratus, tetapi masih belum ada tanda-tanda bahwa Gavin akan segera bangun dari tidur panjangnya.
Kalea, yang kini perutnya sudah mulai membesar, bahkan sudah tidak bisa lagi menangis. Dia cuma bisa terus berdoa, semoga Tuhan masih mau memberi Gavin kesempatan untuk menjalani kehidupannya lagi, dengan jalan cerita yang lebih baik.
Rasanya tidak adil kalau Tuhan memanggil Gavin sekarang, di saat lelaki itu belum menerima permintaan maaf darinya dan dari orang-orang yang telah berkontribusi menyumbangkan rasa sakit untuk lelaki itu selama dia hidup.
Sebab, selama Gavin koma, Kalea mulai satu persatu menemukan kebenarannya. Melalui jurnal yang dia temukan di laptop milik Gavin ketika ia hendak memeriksa album-album foto pernikahan mereka yang tersimpan di sana, Kalea akhirnya tahu alasan kenapa Gavin masih enggan meninggalkan Irina meskipun lelaki itu sudah terikat pernikahan yang sah dengan dirinya.
Alasannya hanya satu ternyata, karena Gavin sedang menyiapkan sesuatu untuk menjamin bahwa kehidupan Irina akan baik-baik saja setelah kepergiannya. Lelaki itu rupanya sudah diam-diam membeli saham di perusahaan Papa atas nama Irina, sedikit demi sedikit, hanya untuk menjamin bahwa setelah mereka berpisah, tidak akan ada yang bisa mengusik kehidupan perempuan itu.
Gavin melakukan itu sebagai bentuk rasa tanggung jawab terhadap Irina, sebagai ucapan terima kasih karena perempuan itu sudah bersedia menemaninya di waktu-waktu sulit sekaligus permintaan maaf karena pada akhirnya dia tidak bisa menjaga perempuan itu sampai akhir.
Selain soal Irina, Kalea juga menemukan hal lain melalui jurnal tersebut. Salah satunya adalah fakta bahwa ternyata Gavin merupakan sosok Abang yang selama ini dia cari.
__ADS_1
Ada satu bagian khusus di jurnal itu yang berisi tentang mereka. Tentang bagaimana menyesalnya Gavin karena telah meninggalkan dirinya tanpa sepatah pun kata pamit belasan tahun lalu, juga tentang seberapa keras lelaki itu berusaha untuk menemukan dirinya lagi.
Lelaki itu juga menuliskan bahwa dia tidak akan mati, sebelum berhasil menemukan dirinya dan menyampaikan permintaan maaf yang tulus atas kepergiannya waktu itu.
"Kamu belum minta maaf sama aku, Abang. Jadi, kamu belum boleh mati," bisiknya, tepat di telinga Gavin meskipun dia tahu lelaki itu tidak akan bisa meresponnya.
"Aku juga belum minta maaf sama kamu, atas kesalah pahaman yang aku tolak penjelasannya dari kamu." Lanjutnya. Tangan Gavin yang dingin dia raih, dia tautkan jemari mereka, kemudian membawa tangan dingin itu menempel di pipinya.
"Kamu juga belum tahu kebenaran soal Papa Jonathan dan Dyandra," sesak kembali terasa saat Kalea menyebutkan nama dua orang itu.
Sebelumnya, sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa semua kekacauan yang terjadi di hidupnya dan Gavin ternyata disebabkan oleh Taruna, yang terobsesi untuk menuntut balas atas sesuatu yang bahkan sama sekali bukan tanggung jawab Gavin.
Seminggu setelah Gavin dinyatakan koma, Taruna datang ke rumah Bunda dan membuat keributan, mengatakan bahwa dia hendak meminta pertanggung jawaban dari Papa Jonathan atas Sierra, dan nyawa Dyandra yang telah melayang.
Taruna terlihat begitu yakin dan menggebu-gebu saat menawarkan untuk dilakukan tes DNA, tetapi pada akhirnya, hasil yang keluar justru membuat lelaki itu diam seribu bahasa.
Berdasarkan hasil tes DNA yang keluar, Papa Jonathan bukanlah ayah biologis Sierra. Entah bagaimana mulanya sampai Taruna bisa menuduhkan hal itu kepada Papa Jonathan.
Sewaktu tahu kalau ternyata apa yang Taruna tuduhkan sama sekali tidak terbukti, Kalea marah besar. Dia memaki-maki lelaki itu, tepat di depan wajahnya, seolah dia sudah tidak takut pada apapun lagi. Dia bahkan menampar Taruna, memukul-mukul dada lelaki itu beberapa kali demi meluapkan sakit hatinya karena lelaki itu telah melukai Gavin sekaligus membuatnya tidak mempercayai suaminya sendiri.
Kekesalan Kalea juga semakin menjadi-jadi saat mengetahui kalau ternyata anak yang dikandung oleh Irina adalah darah daging Taruna. Bahwa Gavin sama sekali tidak menyentuh perempuan itu, tetapi Irina dan Taruna begitu tega menjadikan Gavin sebagai kambing hitam.
__ADS_1
Namun, tidak peduli seberapa banyak rasa kesal yang dia miliki untuk Irina dan Taruna, tetap tidak melebihi rasa kesalnya terhadap diri sendiri. Kalea masih terus menyalahkan diri sendiri atas ucapan kasarnya pada Gavin malam itu.
"Ayo bangun, Abang. Aku mohon ...." air matanya merembes lagi. Setelah berhari-hari tidak dia tumpahkan, stoknya pasti tersisa banyak.
Lalu, di tengah-tengah isakan yang mulai menjadi-jadi, Kalea merasakan jemari Gavin yang dia genggam erat bergerak pelan.
Tangisan Kalea seketika berhenti, dia membawa tangan Gavin yang ada di genggamannya ke depan wajah, memperhatikan tangan itu dengan saksama untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi saking frustrasinya mengharapkan Gavin bangun dari koma.
Jemari Gavin bergerak lagi. Kali ini, Kalea yakin bahwa dia tidak sedang halu.
Kemudian, dia menaikkan pandangan, menatapi wajah Gavin yang terpasang ventilator. Perlahan tapi pasti, mata Gavin terbuka. Manik kelam yang telah sekian lama tertidur itu akhirnya bangun dan menatapnya sayu.
"Abang? Abang udah bangun?" Kalea refleks mencondongkan tubuhnya ke arah Gavin.
"Abang bisa dengar aku? Bisa lihat aku dengan jelas?"
Gavin jelas tidak menyahut, tetapi saat Kalea perhatikan lagi, dia melihat bibir Gavin bergerak pelan. Maka, dia mendekatkan telinganya ke bibir lelaki itu, hanya untuk dibuat membeku ketika satu nama meluncur bebas dari belah bibir Gavin.
"Irina ...."
Bersambung
__ADS_1
Yailah, baru melek yang lu cari Irina 🙄🙄 gelut ajalah kita, Vin!