Serana

Serana
Dua Ponsel


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Kalea terdiam di meja makan, memandang tanpa minat pada sepiring nasi goreng dengan toping telur mata sapi yang sudah susah payah Mama buat. Di sebelahnya, Karel masih tidak berhenti mengoceh tentang banyak hal. Nasi goreng di piringnya sudah habis tak lama setelah disajikan, tapi entah kenapa bocah itu masih tidak mau beranjak dari meja makan dan malah terus nyerocos bagai burung beo.


Padahal Kalea sedang tidak ingin mendengarkan ocehan tidak penting Karel. Karena sejak tadi, yang berhasil mencuri perhatiannya adalah sebuah ponsel dengan layar yang redup di atas meja.


Iya, itu ponsel milik Gavin yang anehnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sejak semalam. Tidak ada satupun notifikasi yang masuk ke dalam ponsel tersebut, membuat Kalea keheranan karena rasanya mustahil ponsel seorang pebisnis seperti Gavin bisa sesepi ini. Tapi yang lebih aneh lagi adalah fakta bahwa Gavin sama sekali tidak berusaha mencari ponselnya. Sesibuk itukah Gavin sampai tidak sadar kalau ponselnya tidak ada?


"Mau lo pelototin sampe bola mata lo copot sekalipun, itu hape nggak akan berubah bentuk jadi dinosurus." Celetuk Karel yang sontak membuatnya menoleh.


"Lagian lo hobi banget sih nungguin kabar dari Gavin? Bukannya langsung gas telepon aja orangnya." Cibir Karel. Di tengah ocehannya yang menyebalkan, bocah tengik itu masih sempat-sempatnya mencomot telur mata sapi dari piring Kalea kemudian melahapnya dalam satu kali suapan.


"Siapa juga yang nunggu kabar dari Gavin!" elak Kalea, hanya untuk membuat Karel berhentilah mengunyah dan menatapnya julid.


"Siipi jigi ying ninggi kibir diri givin! Bacot, ai sia!" cerocos Karel setelah menyelesaikan kunyahan dan telur mata sapi itu telah berpindah ke perutnya. "Orang buta juga bisa lihat kali kalau lo tuh lagi nunggu kabar dari Gavin."


"Sok tahu banget!" Kalea mendengus. Punggungnya ia hempas kasar ke sandaran kursi sementara tangannya terlipat di depan dada. Ia sempat melirik sekilas pada ponsel Gavin di atas meja sebelum beralih menatap tajam ke arah Karel. "Lagian Gavin nggak akan bisa hubungin aku."


Sebelas alis Karel terangkat sebagai pertanda kebingungan.


"Hapenya ada sama aku, tuh." Kalea menunjuk ponsel Gavin menggunakan dagunya.


"Lah, kok bisa?"


"Ya nggak tahu! Tanya aja sama orangnya." Entah kenapa Kalea merasa kesal. Ekspresi menyebalkan di wajah Karel juga semakin membuat kekesalannya kian menjadi-jadi.


Karel mendengus sebal. Salah apa dia sampai harus menerima kemarahan Kalea sepagi ini? "Begini nih kalo pas pembagian kesabaran nggak hadir, jadinya emosian mulu." Gerutunya, namun tak urung ia mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel milik Gavin.


Sejenak, Karel menatap ponsel itu dengan berbagai asumsi di kepala. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuka kunci layar, mengabaikan Kalea yang mulai mengoceh agar dia tidak berbuat macam-macam pada ponsel Gavin.


"Kamu mau ngapain, sih?!" Kalea berusaha merebut kembali ponsel Gavin, tapi Karel buru-buru mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi hingga Kalea tidak bisa meraihnya.

__ADS_1


"Diem dulu kenapa, sih? Jangan rempong jadi manusia." Ucap Karel sembari bangkit dari duduknya. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel sementara jemarinya mulai sibuk menggulir layar.


Tak lama berselang, Karel menempelkan benda pipih berwarna hitam itu ke telinga. Mengundang kerutan samar muncul di kening Kalea karena perempuan itu masih tidak mengerti apa yang sedang Karel lakukan. Siapa yang sedang ditelepon oleh lelaki itu?


"Halo." Sapa Karel pada seseorang di seberang.


Kalea tidak diberi kesempatan untuk mendengarkan percakapan setelahnya karena Karel buru-buru pergi dari hadapannya, berjalan cepat menuju halaman belakangan selagi mulutnya berbicara.


Bisa saja Kalea pergi menyusul Karel, tapi ia tidak melakukannya. Karena sejujurnya ia tidak punya kekuatan untuk bangkit dari posisi duduknya. Entahlah, ia merasa lemas sejak bangun tidur pagi tadi.


Jadi Kalea cuma bisa menunggu sampai Karel kembali sembari menyadarkan kepalanya di atas meja makan. Ia dorong piring nasi goreng menjauh kemudian mulai memejamkan mata. Mungkin ini efek karena ia tidur menjelang pagi, sekarang kepalanya terasa begitu berat dan sedikit pusing.


"Si Gavin makin ke sini makin ke sana, sebel banget." Gerutunya dengan mata terpejam sehingga ia tidak sadar kalau ternyata Karel sudah berdiri di belakangnya, berkacak pinggang dengan kepala yang menggeleng pelan.


"Perkara hape ketinggalan doang aja sampe bikin lo lemah letih lesu kayak orang habis ditinggal mati sama pasangannya." Sinis Karel.


"Tungguin aja, bentar lagi orangnya dateng buat ambil hapenya." Ucap Karel sembari meketakkan kembali ponsel Gavin ke atas meja makan. Lalu setelah itu Karel berlalu begitu saja, meninggalkan Kalea yang masih terdiam dengan penuh tanda tanya di kepala.


******


"Vin,"


Gavin mengangkat kepala dari mangkuk sup ayam di hadapannya. Di seberang meja, Papa menatapnya dengan kerutan di kening yang terlihat begitu kentara. Sementara di sebelah Papa, Bunda terlihat begitu tenang saat membawa sesendok nasi ke depan mulutnya dan langsung melahapnya.


"Hape kamu ketinggalan di rumah Kalea."


Sejenak, Gavin pikir itu adalah sebuah pertanyaan. Tapi setelah ia cerna lagi ucapan Papa, ia sadar kalau itu bukanlah sebuau pertanyaan melainkan pernyataan.


"Hape?" tanya Gavin ke kebingungan. Ia kemudian melirik ke atas meja, pada sebuah benda pipih berwarna biru tua yang layarnya tampak redup. Kemudian ia kembali mengangkat wajahnya, menatap Papa. "Hape Gavin ada, tuh."

__ADS_1


"Yang satu lagi, yang baru kamu beli. Tadi Karel telepon Papa, kasih tahu kalau hape kamu ada sama Kalea."


Gavin mengeluarkan sebuah oh panjang ketika ia mulai bisa menangkap maksud pembicaraan Papa. Memang, sejak pulang dari rumah Kalea kemarin malam ia sama sekali tidak mengecek ponsel itu. Ia terlalu kalut, terlalu fokus untuk menyelesaikan urusannya dengan Irina perihal Taruna. Ia baru pulang dari apartemen Irina setelah matahari sepenuhnya naik, jadi ia tidak punya waktu untuk menyadari bahwa ponsel itu tidak ada bersamanya.


"Abang punya dua hape?"


Gavin mengalihkan pandangan ke Bunda yang tampak mengerutkan kening. Sendok berisi nasi yang hendak disuap ke mulut menggantung di udara.


"Iya." Gavin menjawab singkat. Kemudian setelah menyeruput air putih dari gelas, ia kembali bersuara. "Sengaja, biar kepisah antara kontak bisnis sama kontak personal."


Bunda hanya menganggukkan kepala kemudian melanjutkan kegiatan makannya. Berbanding terbalik dengan Papa yang kini menatapnya penuh selidik. Gavin jelas menyadari kalau Papa punya banyak kecurigaan yang ditujukan kepadanya, tapi ia memutuskan untuk tidak peduli.


"Nanti kalau kamu mau ambil hape ke rumah Kalea, bilang sama Bunda. Bunda mau nitip sesuatu untuk Kalea." Kata Bunda setelah menyelesaikan makannya.


"Iya, nanti Gavin bilang. Palingan agak sore Gavin ke rumah Kalea." Kata Gavin sembari bangkit dari duduknya. Ia menyambar ponsel dari atas meja kemudian segera berlalu dari meja makan.


Langkahnya sama sekali tidak terkesan buru-buru saat ia berjakan menaiki tangga menuju kamarnya. Kemudian langkah kakinya terhenti di anak tangga terakhir ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Papa


Kamu lagi sembunyiin apa, Vin?


Gavin memutuskan untuk tidak membalas pesan itu dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di kamar, Gavin langsung melompat naik ke atas kasur, merebahkan diri dan memejamkan mata. Pertanyaan yang Papa kirimkan melalui pesan teks tadi kembali muncul di kepalanya. Kalau saja kebenaran tentang dirinya tidak pernah terungkap, ia pasti akan dengan senang hati menjawab pertanyaan Papa itu. Karena ia memang selalu terbuka pada Papa dan Bunda. Tapi sekarang keadaannya sudah beda. Sejak ia tahu betapa bajingannya Papa di masa lalu, Gavin telah memutuskan untuk membangun tembok pembatas yang tinggi dengan ayah kandungnya itu. Entah, Gavin hanya telah melihat Papa dengan cara yang berbeda sekarang.


"Hah...bajingan." gumamnya pelan seiring emosi yang tiba-tiba naik tanpa sebab.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2