
Pukul setengah satu dini hari. Ketika gerimis yang semula turun tipis-tipis mulai berubah menjadi hujan deras disertai petir yang menyambar-nyambar, Kalea memutuskan untuk beranjak dari kasur dan berjalan pelan menuju pintu kaca besar di kamarnya. Ia menyibakkan gorden, hanya untuk menemukan langit yang sepenuhnya gelap dan tetesan air yang tampias ke pintu kaca di hadapannya. Di seberang, pohon-pohon tinggi yang ditanam di sepanjang jalanan komplek perumahannya tampak bergoyang, menandakan betapa dahsyatnya angin yang menerpa mereka.
Kalea memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan keributan di kepalanya yang tak kunjung mereda meski berbagai cara telah ia lakukan. Ia tajamkan indera pendengarannya, berusaha mencerna suara gemericik air hujan yang memecah keheningan malam dan berharap hal itu bisa membantunya mengalahkan kebisingan di dalam kepalanya yang kian menjadi-jadi.
Setelah merasa lebih baik, Kalea membuka matanya. Ia tutup kembali gorden lalu berjalan pelan ke meja rias. Ia mendaratkan bokongnya di kursi, menyalakan lampu kecil berwarna kekuningan untuk menerangi kamarnya yang gelap gulita karena lampu tidurnya sedang rusak dan ia tidak punya waktu untuk memperbaiki. Kemudian, ia menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin kecil di hadapan. Mengamati bagaimana lingkaran hitam di sekitar matanya mulai tampak lebih jelas ketimbang beberapa hari yang lalu. Sebetulnya Kalea sudah berusaha untuk menghindari tidur hingga larut malam, tapi karena satu dan lain hal, ia selalu berakhir kesulitan tidur.
Seperti malam ini misalnya. Walaupun sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur sejak satu setengah jam yang lalu, namun Kalea masih tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus bergerak gelisah, berkali-kali merubah posisi tidurnya dengan harapan bisa menemukan posisi tidur yang nyaman agar ia bisa segera terlelap. Namun usahanya tersebut berakhir sia-sia, karena bukannya mengantuk, ia malah semakin terjaga.
Padahal hari ini ia sudah menguras banyak energi untuk meladeni tingkah absurd Karel dan Gavin yang tiba-tiba berubah menjadi sepasang buddies, yang ternyata hal itu jauh lebih buruk ketimbang menyaksikan dua manusia itu saling berkelahi. Belum lagi tingkah kurang ajar Karel yang menjadikannya tukang pijit dadakan dan terus-menerus bertingkah aneh hanya untuk membuktikan bahwa Mama lebih menyayanginya ketimbang Kalea. Setelah semua yang ia lalui, seharusnya Kalea kelelahan dan bisa tidur lebih cepat. Tapi kenyataannya tidak begitu.
Sebetulnya ada banyak hal yang biasanya membuat Kalea jadi susah tidur. Salah satunya adalah ketika ia tahu esok paginya ia akan memiliki acara penting atau ia akan bepergian jauh bersama Mama dan Papa. Semangat dan antusiasme yang menggebu-gebu selalu membuat energi Kalea terkumpul banyak dan ia jadi susah untuk terlelap. Alasan lain biasanya tidak jauh dari Karel. Ketika mereka terlibat pertengkaran sengit yang tak berhasil mencapai kata damai sampai mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, Kalea juga akan mengalami gangguan tidur yang lebih parah. Di mana sepanjang malam bisa ia habiskan untuk menangisi pertengkaran mereka, kemudian dilanjutkan dengan marah-marah karena merasa Karel menyebalkan dan tidak mau mengalah. Kalau sudah begitu, Kalea cuma akan jatuh tertidur ketika ia sudah benar-benar lelah menyumpahi Karel.
Tetapi malam ini, alasannya agak lain.
__ADS_1
Kalea tidak kunjung bisa memejamkan matanya karena pikirannya masih tertuju pada Gavin. Lebih tepatnya pada pertemuan mereka dengan laki-laki asing bernama Taruna siang tadi yang masih menyisakan banyak tanda tanya di kepala.
Entah mengapa, Kalea merasa Gavin sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Berbanding terbalik dengan Taruna yang tampak santai dan lebih bisa mengendalikan diri, Gavin selalu terlihat gelisah saat bertemu tatap dengan Taruna hingga membuatnya merasa curiga. Apalagi Gavin terus berusaha untuk memutuskan obrolan antara mereka dan terkesan ingin buru-buru mengajaknya pergi dari hadapan Taruna dan Sierra. Seolah pertemuan mereka tidak seharusnya terjadi dan Gavin sedang berusaha untuk mencari jalan keluar agar pertemuan itu tidak berlanjut semakin jauh.
Sungguh, Kalea masih tidak bisa mengenyahkan rasa curiga itu dari benaknya walau Gavin telah mengatakan padanya untuk tidak berpikir terlalu jauh tentang Taruna. Karena seberapa keras pun ia berusaha menyerap kata-kata positif yang Gavin sampaikan kepadanya, ia masih tetap merasa ada yang tidak beres di antara dua lelaki itu.
Soal Gavin dan kebenaran di balik hubungannya dengan Taruna saja sudah membuat kepala Kalea terasa penih, ditambah lagi laki-laki itu masih belum juga menghubunginya sampai sekarang sejak kepulangannya berjam-jam yang lalu.
Kalea menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat opsi yang ke-dua muncul. Tidak boleh begini. Kepalanya sudah terlalu ribut sekarang, jadi tidak boleh ada hal lain yang menambah keributan di kepalanya. Atau kepalanya akan meledak dan ia berakhir mati mengenaskan.
Tidak ingin hatinya semakin gelisah, Kalea pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kasurnya. Bukan untuk tidur, melainkan untuk meraih ponselnya yang tertimbun di bawah bantal.
Seperti yang sudah ia perkirakan sebelumnya, layar ponselnya tampak redup ketika ia bawa ke hadapan. Saat kunci layar terbuka pun Kalea tidak menemukan notifikasi dari Gavin. Yang ada Kalea malah menemukan beberapa baris pesan yang dikirimkan oleh Karel sekitar satu jam yang lalu. Isinya sama sekali tidak penting, jadi Kalea memutuskan untuk tidak membalasnya dan mengabaikan pesan itu begitu saja setelah membacanya dari pop up notifikasi.
__ADS_1
Lama sekali Kalea terdiam, memandangi layar ponselnya yang kini telah menunjukkan nomor telepon Gavin. Hanya perlu satu sentuhan dan ia betulan akan menelepon lelaki itu.
Malam sudah larut dan menelepon lelaki itu sekarang bukanlah sesuatu yang sopan untuk dilakukan. Tapi demi Tuhan, ia tidak akan tenang sebelum mendapatkan kabar bahwa laki-laki itu sudah sampai di rumah dengan selamat. Kalea tidak butuh percakapan panjang lebar, ia hanya perlu mendengar suara Gavin selama beberapa detik kemudian ia akan pergi tidur dengan hati yang tidak lagi gelisah.
Maka setelah menimbang cukup lama, Kalea pun betulan menelepon Gavin.
Kalea mengigiti kuku tangannya dalam upaya untuk meredam kegugupan selagi menunggu telepon tersambung. Ia berjalan mondar-mandir, harap-harap cemas saat telepon masih tak kunjung tersambung meski sudah belasan detik berlalu.
Sampai akhirnya, gerakan gelisah itu terhenti saat sebuah suara menyahut dari seberang. Tapi bukannya merasa lega, Kalea justru merasa kepalanya kosong saat yang ia dengar bukanlah suara Gavin, melainkan suara perempuan yang ia kenal.
Bersambung
Sumpah, part ini aneh banget. Feel nya sama sekali nggak dapet huhu i'm so sorry everyone
__ADS_1