Serana

Serana
The Day After The Sad Night


__ADS_3

Kalea masih setengah sadar saat pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Susah payah ia menarik diri dari kasur, berjalan sempoyongan dengan kepala yang berat bukan main. Semalam setelah Karel mengantarnya sampai ke kamar dan lelaki itu berlalu pergi, Kalea kembali menangis. Ia menghabiskan malam dengan air mata yang terus menetes, seolah matanya adalah sebuah keran yang bocor dan air di dalamnya menyembur tanpa henti. Entah kapan persisnya ketika ia kelelahan menangis dan jatuh tertidur, yang jelas itu sudah menjelang pagi. Kalea menangisi banyak hal. Tentang Gavin yang pergi begitu saja dan sampai sekarang masih belum memberi kabar, tentang kejadian buruk yang menimpa dirinya dan nyaris membawanya ke dalam masalah yang lebih serius, juga tentang Karel yang terpaksa menjauhkan diri sementara waktu.


Saat pintu di depannya terbuka, Kalea menemukan Bi Imah berdiri dengan tangan yang saling bertaut, raut wajahnya tampak cemas.


"Kenapa, Bi?" tanya Kalea. Keningnya berkerut samar karena ini baru pertama kali dia melihat Bi Imah datang dengan raut wajah seperti ini.


"Anu, Neng..." Bi Imah tampak meremas tangannya. Jelas sekali ragu-ragu untuk mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya.


"Bilang aja, Bi, nggak apa-apa." Kalea mencoba meyakinkan.


Bi Imah terdiam beberapa saat dan Kalea masih sabar menunggu. Pening di kepala kian terasa, namun Kalea berusaha menahannya. Satu tangan ia tumpukan ke tembok demi membantunya menahan beban tubuhnya sendiri, matanya terpejam sejenak.


"Itu... ada Mas Gavin di bawah."


Mata Kalea praktis terbuka. Tubuhnya terasa berputar saat nama itu disebut. Bayangan kejadian buruk yang menimpanya semalam kembali datang menghantui hingga membuat kepalanya kian ribut dan perutnya mendadak mual.


"Semalam Mas Karel bilang sama Bibi untuk nggak kasih masuk kalau Mas Gavin datang, tapi Mas Gavin maksa, Neng. Katanya ada yang perlu diomongin sama Neng Kalea." Suara Bi Imah bergetar. Kalea paham perasaan Bi Imah. Wanita ini pasti merasa serba salah. Di satu sisi tidak ingin menerima amukan Karel, tapi di sisi lain tak bisa menolak permintaan Gavin.


"Bibi suruh pulang aja, Neng, Mas Gavin nya?" tanya Bi Imah yang mulai panik melihat raut wajah Kalea yang berubah drastis.


Kalea hendak membuka mulut ketika terdengar suara gaduh dari lantai bawah. Ia sontak menegakkan badan, menerobos keluar kamar dan berlarian menuruni tangga meski harus menahan pening di kepalanya yang kian menjadi. Tak digubrisnya teriakan Bi Imah yang memeringatinya untuk berjalan hati-hati. Kalea terus melangkah dengan sudah payah sampai akhirnya ia tiba di ruang tamu. Di sana, ada Gavin sudah tersungkur di lantai dengan Karel yang berdiri menjulang di hadapan Gavin. Kedua tangan Karel mengepal di samping tubuh, bahunya naik turun.


"Lo nggak tahu kan kalau Kalea hampir celaka gara-gara lo tinggalin dia sendirian?!" Karel berteriak.


"Orang yang gue sayang nyaris celaka gara-gara manusia nggak bertanggungjawab kayak lo dan lo masih punya muka buat datang kesini bermodal kata maaf? Kalau gue jadi lo, gue bahkan udah nggak akan berani menampakkan wajah gue di depan Kalea lagi!"


"Rel!!!" Kalea berteriak histeris saat Karel membungkuk, meraih kerah baju Gavin dan hendak melayangkan satu tinju lagi ke wajah lelaki itu.


Pening di kepala sudah tak dihiraukan lagi, Kalea berlarian menghampiri Karel yang kini menoleh dengan kilat marah yang memenuhi matanya.


"Stop!" Kalea menarik tubuh Karel, memeluk lengannya erat agar lelaki itu tak melanjutkan niatnya menghajar Gavin.


"Stop, Rel. Please." Lirihnya. Matanya melirik sekilas pada Gavin yang sedang berusaha bangkit.


"Lo jangan belain dia, Kale." Suara Karel terdengar tegas, membuat tubuh Kalea bergetar hebat. Ia tidak terbiasa melihat sisi Karel yang ini. Lelaki ini terlalu menakutkan saat sedang dikuasai emosi.


"Aku nggak belain dia, Rel." Pelukan di lengan Karel kian dieratkan.


"Aku cuma nggak mau kamu buang-buang tenaga untu--"


"Kita harus bicara, Kalea." Kata Gavin. Lelaki itu berjalan mendekat, namun Karel buru-buru menarik tubuh Kalea dan menyembunyikan tubuh kecil itu di belakang tubuhnya.


"Selangkah lagi lo maju, gue hajar lo sampe mampus!" Karel memeperingatkan dengan suara penuh penekanan di setiap kata yang diucapkan.


"Saya perlu bicara sama Kalea."


Dari balik tubuh Karel, Kalea bisa melihat sosok Gavin yang menatap lurus ke arahnya. Lelaki itu sama sekali tak menatap Karel saat berbicara. Benar-benar fokus hanya pada Kalea.


"Nggak perlu." Karel berkata tegas.

__ADS_1


"Ini urusan saya sama Kalea, tolong jangan ikut campur."


Kali ini, Kalea melihat Gavin menatap nyalang ke arah Karel. Sebuah tatapan yang baru pertama kali Kalea lihat dari manik kelam itu.


"Ini jadi urusan gue karena lo udah nyakitin Kalea."


"Saya bisa jelaskan. Hal ini perlu diluruskan supaya nggak menimbulkan salah paham."


"Gue nggak peduli sama semua omong kosong dan alasan basi lo. Yang gue tahu, lo udah ninggalin Kalea dan itu adalah kesalahan yang fatal."


"Gue jagain anak ini susah payah dari belasan tahun lalu, jadi gue nggak akan biarin lo nyakitin dia senenak jidat lo!" Karel menunjuk tepat di depan wajah Gavin.


"Kalea, tolong..." kali ini, tatapan Gavin kembali tertuju pada Kalea yang mengintip dari balik bahu Karel.


"Dengerin penjelasan saya dulu. Ya?"


"Rel..." Kalea berbisik pada Karel.


"Nggak." Kata Karel tegas. Lelaki itu menoleh dari balik bahu, hanya untuk menemukan Kalea menatapnya sendu.


"Sebentar aja. Aku mau ngomong sama dia sebentar." Kata Kalea lagi dengan suara yang teramat pelan.


"Buat apa, sih?"


"Cuma sebentar. Please?"


Karel menghela napas. Setelah memejamkan mata sejenak untuk meredam emosi yang kian naik, Karel akhirnya menggeser tubuhnya. Ia membiarkan tubuh kecil Kalea berhadapan dengan Gavin. Tapi Karel tidak benar-benar menjauhkan diri. Ia berdiri di samping Kalea, menggenggam tangan Kalea erat dan gadis itu sama sekali tidak menolak.


"Saya mau sendiri dulu, Gavin."


"Kalea,"


"Saya mau dengar penjelasan kamu, tapi nggak sekarang." Kalea meremas tangan Karel yang berada di dalam genggamannya. Untuk beberapa saat, ia menunduk, tidak sanggup bertatapan langsung dengan Gavin.


"Saya butuh waktu untuk mendinginkan kepala, jadi sebaiknya kamu pulang. Kita bicara nanti saat keadaan saya udah jauh lebih baik."


"Kalea," lirih Gavin. Sesak perlahan menggerayangi rongga dadanya saat ia melihat bagaimana tubuh kecil Kalea sedikit bergetar. Ada kabut bening yang menyelubungi dua bola mata coklat milik gadis itu.


"Oke, saya akan pulang sekarang." Akhirnya Gavin mengalah. Percuma dia memaksakan diri karena Kalea jelas tidak akan mau mendengarkan perkataannya saat ini. Mungkin memang dia harus memberi Kalea lebih banyak waktu. Dan Gavin tidak keberatan menunggu karena ini memang salahnya. Dia tidak seharusnya meninggalkan Kalea sendirian dan membuat gadis itu terlibat masalah.


"Kabari saya kalau kamu sudah merasa baikan, ya?" ucap Gavin terakhir kali sebelum melangkah keluar dari rumah Kalea.


Air mata Kalea menetes setelah sosok Gavin sepenuhnya menghilang dari pandangan. Sesak merambat naik hingga terasa mencekik. Kalea menghambur ke dalam pelukan Karel, menangis sejadinya di dada bidang lelaki itu.


Karel tidak banyak bicara. Dia membiarkan Kalea menangis semaunya. Tangannya bergerak mengusap punggung Kalea pelan dan sesekali juga mengusap kepala gadis itu. Bi Imah yang berdiri di dekat tangga cuma bisa terdiam menyaksikan keributan yang sama sekali tidak ia mengerti sebab musababnya. Dalam benak wanita itu telah berkeliaran banyak hal, namun tak satupun yang berhasil mendapatkan titik terang.


"Tolong buatkan teh hangat untuk Kalea, Bi." Ucap Karel pelan.


Bi Imah mengangguk dan langsung melesat pergi menuju dapur. Lalu tak lama kemudian wanita itu kembali dengan secangkir teh hangat di tangan. Diletakkannya teh itu di atas meja ruang tamu kemudian mengisyaratkan pada Karel untuk membawa Kalea duduk di sofa sebelum wanita paruh baya itu pamit undur diri.

__ADS_1


Setelah Bi Imah pergi, Karel tak lantas membawa tubuh Kalea beranjak dari tempat mereka berdiri. Ia biarkan saja gadis itu menumpahkan air matanya hingga membasahi kaus yang ia kenakan. Barulah saat tangis Kalea sedikit reda, Karel mendorong pelan tubuh Kalea hanya untuk menciptakan jarak yang tak terlalu berarti. Sekadar bisa membuatnya menatap wajah gadis yang disayanginya itu dengan jelas.


"Udah dulu nangisnya, mata lo udah bengkak banget." Kata Karel. Ia menangkup pipi Kalea, mengusap jejak air mata gadis itu menggunakan jempolnya.


"Lo jelek banget kalau nangis." Karel berusaha membuat lelucon, tapi tentu saja lelucon basi itu tidak sampai pada Kalea yang tidak sedang baik-baik saja.


"Is it worth it? Layak nggak sih lo nangis sampai segininya cuma karena laki-laki bajingan kayak dia?"


"Rel,"


"Baru seminggu kalian kenal dan Gavin udah bikin lo nangis sampai segininya. Gue nggak bisa bayangin apa yang bisa dia lakuin ke lo kalau rencana perjodohan ini tetap dilanjut."


"Aku nggak nangisin Gavin, Rel." Kata Kalea dengan suara seraknya.


Alis Karel terangkat sebelah. Dia tidak menangkap maksud perkataan Kalea barusan.


"Aku nangis bukan karena Gavin ninggalin aku gitu aja. Aku...aku cuma masih syok karena kejadian semalam, dan lihat wajah Gavin bikin aku keinget kejadian itu lagi. Aku cuma butuh waktu untuk nenangin diri."


"Jadi, Rel, tolong jangan benci Gavin.."


Karel menghela napas panjang. Untuk waktu yang cukup lama, dia terdiam. Sejujurnya Karel tidak mengerti mengapa Kalea masih terus membela lelaki bernama Gavin itu setelah apa yang menimpanya semalam. Padahal Kalea yang Karel kenal tidak begini. Kemana perginya si gadis keras kepala yang selama belsan tahun tumbuh bersama dirinya? Mengapa Kalea-nya berusah drastis hanya dalam hitungan hari setelah pertemuannya dengan Gavin? Apa yang sudah Gavin lakukan pada Kalea sehingga membuat gadis ini seperti kehilangan dirinya sendiri?


Akhirnya karena sudah lelah berperang dengan emosinya sendiri, Karel menarik tangannya dari wajah Kalea. Barangkali dia memang terlalu over dalam hal mengkhawatirkan Kalea dan hal itu bisa jadi membuat Kalea tidak nyaman. Karel mungkin harus sadar kalau mereka sudah bukan lagi bocah remaja belasan tahun silam. Barangkali, Karel memang harus mulai membatasi diri dan belajar mengendalikan emosinya lebih baik lagi.


"Oke," kata Karel pasrah. "Gua nggak akan ikut campur lagi sama urusan perjodohan kalian. Mungkin udah waktunya gue sadar diri untuk nggak melewati batas." Lanjutnya sebelum pergi dari hadapan Kalea dengan hati yang ngilu bukan main. Sesak perlahan menguasai diri saat kaki panjangnya melangkah keluar dari rumah Kalea, menyisakan keheningan yang merayap di tengah-tengah ributnya isi kepala.


Sadar, Rel. Selamanya, lo cuma akan jadi sebatas teman. Teman yang nggak punya porsi untuk ikut campur sama kehidupan yang Kalea inginkan.


******


Gerimis datang lagi. Padahal hujan baru reda kurang dari setengah jam lalu. Di kamar, Kalea duduk bersimpuh di pojok ruangan, memeluk lututnya sendiri sedang kepalanya bersandar di tembok. Pandangannya melayang jauh menembus pintu kaca di depannya, menerawang pada gumpalan awan pekat yang berarak mengikuti kemana takdir membawanya pergi. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, angin berembus masuk menerpa wajah Kalea yang kini sudah sepucat mayat. Ada lingkaran hitam di bawah kelopak matanya yang membengkak akibat dipakai menangis semalaman.


Kalea mengembuskan napas panjang. Setelah Karel angkat kaki dari rumahnya, Kalea telah menghabiskan tiga jam mengurung diri di studio. Sibuk merenungi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya dan berusaha mencari bagian mana yang salah. Apakah permintaannya untuk tidak membenci Gavin? Atau kalimat lain yang tanpa disadari sudah melukai hati Karel? Tapi Kalea tak berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia tujukan kepada dirinya sendiri.


Tentu saja Kalea paham kalau sikap yang ditunjukkan oleh Karel adalah bentuk rasa sayang dan peduli lelaki itu terhadap dirinya. Hanya saja, Kalea merasa lelaki itu terlalu banyak mencurahkan perasaannya sehingga membuat keadaan tidak jauh lebih baik. Kalea tahu Karel kesal, tapi memukul Gavin dengan membabi buta seperti yang dilakukan lelaki itu pagi tadi bukanlah sesuatu yang bisa Kalea terima. Bagaimana kalau Gavin merasa tersinggung dan melaporkan Karel ke polisi atas dugaan penganiayaan? Bagaimana kalau Karel harus terlibat masalah serius hanya karena ingin melindungi dirinya? Kalea hanya tidak ingin Karel kesusahan, tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk menyampaikan kepada lelaki itu tentang niatnya itu?


"Neng, makan dulu."


Kalea menoleh ke arah pintu, hanya untuk menemukan Bi Imah berjalan ke arahnya dengan nampan berisi makan siang dan segelas air putih. Sejujurnya Kalea lapar, tapi sama sekali tak berselera untuk memasukkan apapun ke dalam mulutnya sejak peristiwa semalam terus menerus datang kepada dirinya, membuat tubuhnya bergetar ketakutan setiap kali adegan paling buruk terputar di kepalanya.


"Neng Kalea mau Bibi teleponin Bapak sama Ibu?" tanya Bi Imah setelah meletakkan nampan di atas nakas lalu berjalan menghampiri Kalea. Wanita paruh baya itu berjongkok di hadapan Kalea, tangannya terulur untuk menyelipkan helaian rambut Kalea yang keluar dari ikatannya yang terkesan asal.


"Jangan." Kalea menggeleng pelan. Tentu saja dia tidak mau Mama dan Papa tahu soal ini. Dia tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir.


"Kalea nggak apa-apa, kok." Kalea memaksakan senyum meskipun dia tahu senyum palsu itu tidak akan membuat Bi Imah percaya bahwa dia memang baik-baik saja.


Karena kenyataannya memang Kalea tidak sedang baik-baik saja.


"Bibi boleh tahu nggak apa yang terjadi semalam? Soalnya Mas Karel nggak akan sampai semarah itu kalau masalahnya cuma sepele." Kata Bi Imah.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Kalea terdiam. Dia tidak yakin bisa menceritakan kejadian yang telah menimpanya semalam. Tapi kalau disimpan sendirian, ingatan tentang peristiwa itu hanya akan semakin menumpuk di kepala dan membuatnya kian tersiksa. Maka setelah mengumpulkan keberanian dan keyakinan dari dalam dirinya, Kalea mulai membuka mulutnya. Dia ceritakan semuanya tanpa ada satu detail pun yang terlewat. Dan Bi Imah hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya saat tubuh Kalea kembali bergetar dan air mata mulai menetes membasahi pipi pualamnya yang pucat.


Bi Imah menarik Kalea ke dalam pelukan, menepuk-nepuk punggung sempit gadis yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu pelan demi menengkan tangisnya yang semakin pecah. Bi Imah tahu sekali bagaimana takutnya Kalea sekarang, karena dulu sekali, ia hampir mengalami hal yang serupa. Agaknya, di dunia ini, wanita memang tidak akan pernah bisa hidup tenang tanpa dibayangi ketakutan akan menjadi korban para laki-laki bajingan yang selalu memandang rendah kaum hawa. Dengan Kalea berada di dalam pelukan, Bi Imah ikut meneteskan air mata.


__ADS_2