Serana

Serana
Dirawat


__ADS_3

Setelah menunggu selama hampir dua jam, hasil laboratorium akhirnya keluar. Gavin diberitahu bahwa Kalea ternyata terserang demam berdarah. Dokter bilang Kalea beruntung karena itu masih dalam gejala awal dan Gavin segera membawanya ke rumah sakit. Karena kalau telat, keadaan Kalea bisa lebih parah dari itu.


Untuk sekarang, Gavin bisa bernapas lega karena demam Kalea sudah turun berkat obat penurun panas yang dokter berikan dan perempuan itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas satu. Tentu saja, Gavin mana mau membiarkan Kalea dirawat di kamar yang fasilitasnya biasa-biasa saja.


Orang tua Kalea juga sudah Gavin beritahu. Papa harus pergi ke kantor terlebih dahulu untuk serah terima pekerjaan dengan orang kepercayaan, Mama dan Bi Imah sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sementara Bunda yang sempat menelepon menanyakan keberadaan dirinya yang tidak ada di rumah kini sudah duduk manis di kursi sebelah ranjang pasien Kalea.


Gavin mengangkat pandangan dari ponsel, memperhatikan bagaimana Bunda dengan telaten menyuapi Kalea dengan bubur yang dimasak sendiri olehnya. Sesekali wanita itu tampak menyeka keringat yang menetes dari pepilis Kalea menggunakan punggung tangan, kemudian kembali menyuapkan sendok demi sendok sampai kini bubur di dalam mangkuk sudah hampir habis.


"Vin?" panggil Bunda pelan.


Gavin langsung bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Bunda. Sesekali dia melirik ke arah Kalea yang tampak pucat dan lemah di ranjangnya.


"Kenapa, Bun?" tanyanya.


"Bunda lupa belum kabarin Papa. Kamu telepon Papa gih, kasih tahu kalau Kalea dirawat."


Gavin menganggukkan kepala dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana. Karena tidak ingin berisik, Gavin memutuskan untuk menelepon Papa di luar saja.


Butuh lebih dari delapan kali suara sambungan sampai akhirnya Papa mengangkat teleponnya.


"Halo, Vin?" sapa Papa dari seberang telepon. "Ada apa?"


"Gavin cuma mau ngabarin kalau Kalea sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Bunda ada di sini, in case Papa mau tahu." Kata Gavin to the point. Memang sudah lama sejak hubungannya dengan ayahnya berangsur memburuk. Dan Gavin terlihat tidak berminat untuk memperbaiki apa pun di antara mereka.


Ada jeda cukup lama sampai Papa kembali bersuara, hanya untuk sekadar bertanya. "Kalea sakit apa?"


"Gejala demam berdarah." Lagi-lagi Gavin hanya menjawab seperlunya.


"Sampaikan salam Papa ke Kalea, semoga lekas sembuh. Sore nanti sepulang kerja, Papa akan sempatkan untuk berkunjung."


Gavin tidak menjawab. Dia terlalu malas untuk meladeni basa-basi tersebut. Apalagi saat dia menangkap kalimat kalau sempat yang menurutnya sama sekali tidak etis untuk dikatakan. Kalau memang tidak niat untuk datang, sebaiknya tidak perlu repot-repot berbasa-basi.

__ADS_1


Karena dasarnya memang sudah muak dengan ayahnya, Gavin pun segera mematikan sambungan telepon. Dia hendak kembali ke ruang rawat inap Kalea ketika matanya menangkap sosok laki-laki yang dikenalnya berjalan dari kejauhan.


Gavin memicingkan mata, hanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang salah lihat.


Lalu saat laki-laki itu semakin dekat dan tatapan mereka akhirnya bertemu, Gavin yakin kalau itu memanglah Taruna.


Gavin cukup terkejut dengan kehadiran Taruna, begitu juga dengan laki-laki itu yang terlihat sama terkejutnya. Saking terkejutnya, Taruna bahkan sampai mengehentikan langkahnya sebentar sebelum kembali berjalan mendekat.


"Lo ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanya Taruna setelah berada di depan Gavin. Laki-laki itu tampak berusaha mengintip ke balik pintu ruang rawat yang ada di samping mereka.


"Kalea." Gavin menjawab singkat.


"Sakit apa?" tanya Taruna lagi, kini sepenuhnya menaruh perhatian kepada Gavin.


"Demam berdarah."


Taruna menganggukkan kepala beberapa kali. Kemudian dia kembali menatap Gavin saat laki-laki itu bertanya balik, "Lo sendiri ngapain di sini? Siapa yang sakit?"


"Anak gue, bronkitis-nya kambuh. Kebetulan ruangannya persis di sebelah." Kata Taruna sembari menunjuk ruangan di sebelah kamar rawat Kalea.


Hening melingkupi dua anak manusia itu untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, perhatian mereka tercuri saat ponsel di dalam saku celana Taruna berdering nyaring.


Taruna segera merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari sana. Benda pipih itu kemudian ditempelkan ke telinga setelah sang empunya menggeser log hijau.


"Halo, Ma?" sapa Taruna.


Dari panggilannya, Gavin mengasumsikan bahwa yang menelepon adalah ibunya Taruna.


"Taruna udah di depan kok, sebentar lagi masuk."


"Iya, minta Sierra tunggu sebentar lagi."

__ADS_1


"Oke."


Setelah percakapan yang hanya bisa Gavin dengar satu sisi itu selesai, telepon pun tertutup. Taruna menyakui kembali ponselnya kemudian mengangkat pandangan sehingga tatapan mereka kembali bertemu.


"Gue harus masuk sekarang, Sierra udah rewel nyariin terus." Kata Taruna. "Titip salam buat Kalea, semoga lekas sembuh." Lanjutnya.


"Iya, salam juga buat Sierra."


Taruna cuma mengangguk, kemudian dia memutar badan dan segera masuk ke ruang rawat Sierra.


Tak lama berselang setelah Taruna menghilang di balik pintu, Gavin juga ikut kembali ke ruang rawat Kalea.


Saat pintu terbuka, Gavin tidak bisa menahan senyum ketika menyaksikan Bunda tengah bermain dengan rambut Kalea. Wanita itu sedang menyisir rambut Kalea dengan hati-hati, seperti sedang menyisir rambut putri kandungnya sendiri.


"Nggak usah disisirin Bun, dia juga biasanya jarang sisiran kalau di rumah." Goda Gavin begitu dia sampai di samping ranjang Kalea.


Yang diledek menoleh sambil memicingkan mata tidak suka. Bibirnya cemberut sehingga membuat pipi tirusnya sedikit menggembung.


"Enak aja! Aku selalu sisiran, tahu!" kesal Kalea, yang justru mengundang gelak tawa Gavin dan Bunda.


"Ih, Bunda kok malah ketawa, sih?! Nyebelin!"


Menanggapi protes itu, tawa Bunda malah semakin menjadi-jadi, begitu juga dengan Gavin yang kini sudah duduk di kursi samping ranjang. Saking puasnya tertawa, wajah Gavin bahkan sampai memerah.


"Lucu banget, sih, menantu Bunda." Kata Bunda setelah tawanya reda. Tangan wanita itu menyentuh pipi Kalea kemudian memberikan cubitan kecil di sana, membuat sang empunya meringis karena rasanya sedikit perih.


"Lucu, kan, Bun?" Gavin ikutan nimbrung. "Makanya Gavin suka." Sambungnya sembari menatap Kalea dan diam-diam mengedipkan satu matanya sehingga membuat pipi Kalea mulai terasa memanas.


Wah... Gavin memang suka tidak tahu tempat. Padahal Kalea sedang sakit, tapi bisa-bisanya dia masih menggoda perempuan itu.


Mendengar ucapan Gavin dan reaksi Kalea yang menggemaskan, Bunda cuma tersenyum. Tadinya, ada begitu banyak kekhawatiran yang mengerubungi benaknya soal pernikahan Gavin dengan Kalea. Dia khawatir pernikahan ini tidak akan berjalan baik, karena pada awalnya Gavin begitu keras menolak perjodohan ini.

__ADS_1


Tapi sepertinya kekhawatiran itu sudah tidak perlu lagi dia pikirkan. Sebab kini, dengan mata kepalanya sendiri, dia telah menyaksikan bagaimana Gavin dan Kalea saling jatuh cinta.


Bersambung


__ADS_2