
Kalau diibaratkan, pertemanan Karel dan Kalea itu seperti sepasang sepatu. Kalau salah satunya hilang, maka langkah yang diayunkan tidak akan seimbang. Sepatu kiri tidak akan bisa dipasangkan dengan sepatu kanan yang lain karena mereka sudah diciptakan sepasang.
Barangkali, karena kesadaran itu lah yang membuat Gavin kini sedikit berbesar hati ketika menyaksikan Kalea dan Karel sedang asik bermain bersama di halaman depan. Teriknya matahari yang bersinar tepat di atas kepala bahkan tidak menyurutkan dua anak manusia itu untuk tetap melanjutkan aktivitasnya.
Gavin membuang napas perlahan. Berusaha meyakinkan diri bahwa melihat tawa itu lolos dari bibir Kalea berkat Karel bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan seharusnya Gavin merasa tenang, karena jika nanti hal-hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang telah dia rencanakan, setidaknya masih ada Karel di sisi Kalea. Laki-laki itu pasti akan menjaga Kalea tanpa perlu dia minta. Menyediakan bahu dan pelukan dengan sukarela seperti hari-hari sebelum dia datang ke kehidupan mereka berdua.
Berbekal pemikiran itu, Gavin bangkit dari duduknya. Dia melangkah pelan menghampiri Karel dan Kalea yang kini asik menggelitiki perut Mumu sementara bocah bulu itu berguling-guling di tanah.
"Kal," panggil Gavin pelan.
Kalea mendongakkan kepala. Tawa yang semula menggema kini mereda dan perempuan itu sepenuhnya mencurahkan atensi kepadanya.
"Saya mau keluar sebentar, ada urusan. Boleh?" tanyanya setelah berjongkok di depan Kalea. Sesekali dia melirik Mumu untuk memastikan bocah bulu itu tidak akan tiba-tiba melompat ke arahnya.
"Boleh. Tapi, nanti pulangnya mampir Indomaret, nggak?"
"Mampir. Kamu mau beli apa?"
"Tolong beliin sampo yang biasa aku pakai, di sini habis."
"Oke, nanti saya belikan." Jawab Gavin sembari mengulas senyum.
"Makasih, Gavin." Kalea juga ikut mengulas senyum yang tak kalah manis.
"Anything for you, Boo." Kemudian Gavin melabuhkan tepukan pelan di kepala Kalea.
Karel yang menyaksikan itu cuma berkomat-kamit tanpa suara. Dia masih tidak terbiasa mendengar panggilan Boo yang Gavin sematkan untuk Kalea. Dia juga masih tidak terbiasa mendapati tanda kemerahan yang masih terlihat kentara di sekitar leher Kalea, yang dia jelas tahu itu apa.
Tadi, saat pertama kali dia datang dan menemukan leher perempuan itu penuh dengan tanda kemerahan, Karel meringis diam-diam. Dia merasa ada bagian di hatinya yang lebam-lebam saat menyadari bahwa Kalea sudah sepenuhnya dimiliki oleh Gavin.
Tapi Karel tidak bisa berbuat apa-apa akan hal itu. Dia cuma bisa membiarkan lebam itu semakin menjadi untuk akhirnya dia tinggalkan agar sembuh sendiri.
__ADS_1
"Titip Kalea, ya."
Karel mengangkat kepala, menatap Gavin yang sudah berdiri menjulang di hadapannya.
"Iye. Buruan sono jalan!"
Gavin terkekeh melihat Karel yang sewot. Kemudian dia betulan berlalu dari sana. Sepenuhnya meninggalkan kepercayaan kepada Karel untuk menjaga Kalea selama dia tidak ada.
...****************...
Mobil Gavin melaju membelah jalanan yang lengang. Minggu siang memang lebih cocok dihabiskan di dalam rumah dengan pendingin ruangan yang disetel pada suhu paling rendah, bukannya malah berkeliaran di jalanan dengan pikiran semrawut seperti yang dia lakukan sekarang.
Setengah jam lebih mobil itu berjalan, Gavin akhirnya sampai di komplek apartemen milik Irina. Tujuannya tentu saja untuk menemui perempuan itu dan memastikan bagaimana keadaannya. Gavin ingin tahu apakah penyusup yang mengirimkan teror ke rumahnya kemarin malam juga melakukan hal yang sama kepada Irina.
Mobil telah terparkir rapi di basement. Gavin melangkah ringan menuju lift tepat ketika pintu besi itu terbuka lebar. Ada satu orang di dalam, dan ketika Gavin melangkah masuk, orang itu menerobos keluar.
Mulanya, Gavin tidak merasa ada yang aneh. Sampai kemudian, tepat dua detik sebelum pintu lift kembali tertutup dan dia tidak sengaja beradu tatap dengan pemuda yang baru saja keluar dari lift itu, Gavin merasakan seluruh tubuhnya membeku.
Hati-hati, di sini banyak mata dan telinga. Tetap waspada, jangan pernah hilang fokus karena kalau sekali salah jalan, kamu nggak akan bisa kembali ke tempat di mana seharusnya kamu berada.
Tapi semuanya sudah terlambat. Gavin tidak bisa mencegah pemuda itu untuk bertanya lebih banyak karena pintu lift sudah terlanjur tertutup dan membawanya naik.
"Brengsek!" geram Gavin. Tangannya mengepal, otot-otot di sekitar lehernya menegang dan matanya mulai memerah menaha amarah.
Ketika pertama kali bertemu dengan pemuda itu dulu, Gavin pikir pemuda itu cuma orang random yang asal bicara kepada dirinya. Tetapi saat kini ia mendapati pemuda itu ada di area apartemen yang dia dan Irina sewa, Gavin yakin pemuda itu jelas ada kaitannya denga serangkaian teror yang mereka terima.
Ting!
Pintu lift terbuka, Gavin bergegas keluar dan berlarian menuju unit miliknya. Dia betulan takut kalau pemuda tadi telah berbuat macam-macam kepada Irina.
Alih-alih memasukkan kode keamanan di pintu unit miliknya, Gavin malah memasukkannya langsung di pintu unit milik Irina. Dia sudah tidak peduli lagi kalau ada yang memergokinya masuk ke dalam unit milik perempuan itu. Gavin kalut, dia benar-benar takut terjadi sesuatu terhadap Irina.
__ADS_1
Pintu berhasil terbuka. Gavin menerobos masuk dan membiarkan pintu itu tertutup dengan sendirinya. Matanya mengedar mencari keberadaan Irina di sana.
Dan dia bisa menghela napas lega saat menemukan Irina sedang duduk santai di atas kasur sembari menonton film dari televisi besar di hadapannya. Perempuan itu tampak terkejut karena dia membuka pintu secara tiba-tiba, tapi keterkejutan itu segera hilang dan tergantikan dengan senyum cerah yang berhasil membuat kekhawatiran Gavin sedikit mereda.
"Hai," sapa Irina. Seperti biasanya, perempuan itu selalu menyambutnya dengan antusias.
Tak menjawab, Gavin hanya terus berjalan mendekat. Kemudian, setelah dia mendudukkan dirinya di tepian kasur, Gavin langsung menarik tubuh Irina dan memeluk perempuan itu erat-erat.
"Loh? Kenapa, nih?" tanya Irina keheranan. Dia terkekeh saat Gavin menolak untuk menjawab dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu segitu kangennya sama aku?" ledek Irina. Tapi lagi-lagi Gavin tidak menjawab dan sama sekali tidak mau melonggarkan pelukannya.
Akhirnya, Irina membiarkan Gavin berbuat semaunya. Dia tidak lagi melayangkan pertanyaan dan pasrah saja membiarkan tubuhnya dipeluk walaupun kenyataannya dia mulai sedikit kesulitan bernapas.
Bermenit-menit kemudian, ketika Gavin mulai melonggarkan pelukan dan lelaki itu memaku tatap dengannya, senyum Irina seketika sirna. Dia mendapati laki-laki itu menatapnya sendu. Ada kabut tipis yang menyelimuti manik kelamnya.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Irina pelan. Tangannya terulur untuk menangkup wajah Gavin.
Pemandangan seperti ini mengingatkannya pada sosok Gavin bertahun-tahun yang lalu. Sosok Gavin yang lemah dan belum bisa bangkit berdiri di atas kakinya sendiri. Apa sekiranya yang membuat laki-laki ini kembali rapuh seperti sekarang?
"Vin?"
"You okay?"
Irina menaikkan sebelah alis saat Gavin justru balik bertanya. "Seharusnya aku yang nanya sama kamu, Vin. You okay? Kenapa raut wajah kamu kayak gini, hmm?" Irina menyibakkan rambut Gavin yang menutupi keningnya. Mengusap pelan pipi laki-laki yang dicintainya itu untuk sekadar menyalurkan ketenangan dan jaminan bahwa selama ada dia, semua akan baik-baik saja.
"I just... miss you so much." Kata Gavin setelah keterdiaman yang cukup lama.
Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya karena takut hal itu akan membuat Irina panik. Biar dia sendiri yang tahu. Biar dia yang mencari cara untuk menjauhkan Irina dan Kalea dari hal-hal buruk yang mengincar mereka. Biar dia yang bertarung, sebab segala kekacauan ini sumbernya memang dari dirinya.
"You miss me? Sampai bikin kamu sesedih ini?" tanya Irina.
__ADS_1
Gavin menganggukkan kepala. Dia tidak pandai berbohong, setidaknya di depan Irina. Jadi ketika perempuan itu mulai memaku tatap dengannya lagi, Gavin buru-buru menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Dia sembunyikan wajahnya di lekuk leher Irina, membiarkan kekhawatiran itu sejenak menyingkir seiring aroma parfum Irina yang mulai memenuhi rongga pernapasannya.
Bersambung