Serana

Serana
Pagi Bersama Gavin


__ADS_3

Matahari belum muncul saat Kalea berjalan keluar rumah dengan setelan olahraga warna putih dan sepatu lari warna biru pemberian Gavin. Di belakangnya, Mama masih mengoceh, memperingati untuk tidak lupa pemanasan sebelum mereka mulai lari. Katanya: kamu udah bertahun-tahun nggak olahraga. Jangan sampai niatnya mau sehat malah jadi sakit sekujur badan!


Haaa... Mama ada-ada saja. Memangnya dipikir dia dan Gavin akan benar-benar lari? Kan tidak. Kalea yakin Gavin hanya akan mengajaknya berlari-lari kecil kemduian dilanjutkan dengan jalan santai lalu diakhiri dengan kegiatan sarapan lontong sayur berdua. Bukankah memang selalu begitu? Dari FTV yang pernah dia tonton sewaktu SMP dulu, sih, adegannya memang begitu. 


"Halo, Kalea."


Kalea tersenyum sumringah pada Gavin yang sudah menunggunya di depan gerbang, sebelumnya asik berbincang dengan Pak Dadang. 


Lelaki itu terlihat semakin tampan dalam balutan setelan olahraga warna hitam yang pas di badan. Membuat otot dada dan perut lelaki itu tercetak jelas. Jangan lupakan otot lengan yang terlihat mengintimidasi itu. Tuhan, Kalea rasanya seperti sedang bermimpi bisa berhadapan dengan laki-laki ini. 


"Ready?"


Kalea hanya mengangguk. Ia pasrah saja saat Gavin meraih tangannya, menggenggam tangannya erat kemudian mereka berjalan beriringan keluar gerbang setelah Gavin berbasa-basi dengan Pak Dadang. Sebetulnya Kalea tidak tahu Gavin akan mengajaknya joging kemana. 


"Kita lari muterin kompleks aja, ya? Udah lumayan tuh buat bakar lemak." 


Kalea iya-iya saja. Mereka berdua mulai bergerak. Tangan Kalea masih berada dalam genggaman Gavin. Ia sesekali melirik pada lelaki jangkung yang berjalan pelan di sampingnya itu. Rasanya masih seperti mimpi saat ia memutuskan untuk memulai pendekatan dengan Gavin setelah sebelumnya ia begitu keras kepala untuk menolak perjodohan ini. Kalau Karel tahu bagaimana Kalea memandang kagum pada sosok Gavin sekarang ini, bocah itu pasti akan meledek Kalea habis-habisan.


Tapi Kalea tidak akan melawan. Dia tidak akan menimpali apapun jika nanti Karel meledeknya dan mengatainya plin plan. Karena Kalea pun tidak pernah menyangka ia akan bersedia memberi laki-laki ini kesempatan untuk masuk ke dalam hidupnya. Bukan karena parasnya yang tampan, Kalea pikir ia bisa menerima kehadiran Gavin karena lelaki itu terus-terusan menampakkan sisi keren di depannya. Kalea masih ingat betapa berdebarnya ia saat Gavin mengatakan bahwa Kalea menyenangkan.


"Sebetulnya, saya nggak biasa lari."


Kalea hampir mengumpat Karena Gavin tiba-tiba saja menolehkan kepala saat ia masih sibuk mengagumi pahatan sempurna di wajah lelaki itu. Ia tidak mau tertangkap basah sedang mengagumi laki-laki ini. Tidak dalam waktu sesingkat ini.


"Terus, kenapa tiba-tiba ajak saya lari pagi?" tanya Kalea. Walau sudah kepergok sedang memandangi Gavin, anehnya Kalea tidak berniat memalingkan wajahnya sama sekali. Ia masih terus saja bertatapan dengan lelaki itu.


"Karena saya nggak tahu gimana caranya pendekatan dengan seorang gadis. Saya suka olahraga, jadi cuma ini yang terpikirkan oleh saya." Kata Gavin diakhiri senyum yang luar biasa menawan.


Kalea tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat jemarinya bergerak sembarangan mengeratkan genggaman tangan mereka, mengabaikan kening Gavin yang perlahan mengerut karena ulah kurang ajarnya.


"Gavin," Kalea bersuara lirih. Langkah mereka sudah terhenti, tepat ketika matahari mulai tampak menyembul dari balik kumpulan awan berwarna putih.


Gavin tidak bersuara. Lelaki itu hanya menjawab melalui tatapan mata yang seolah berkata, "Apa? Katakan saja semuanya. Sama saya, kamu bisa mengeluarkan semua isi pikiran kamu tanpa perlu khawatir tentang apapun."


"Kenapa kamu setuju untuk bertemu dengan saya? Maksudnya, laki-laki seperti kamu biasanya nggak akan punya banyak waktu untuk hal-hal konyol semacam ini." Kalea tidak tahu dari mana datangnya pertanyaan itu. Sebab sebelum ini, ia sama sekali tidak terpikirkan tentang hal ini sama sekali.


Tanpa diduga, Gavin terkekeh. Ia menarik Kalea lebih dekat dengannya, menggenggam tangannya lebih erat. "Saya awalnya menolak." Kaya Gavin begitu terus terang.


"Sama seperti kata kamu, saya ini sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang harus saya tangani. Dan saya juga punya mimpi-mimpi kecil saya sendiri yang ingin saya raih--di luar tugas saya untuk membantu perkembangan perusahaan."


"Tapi, Kalea, ada satu waktu di mana saya berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Saya ini pengecut, kalau kamu mau tahu. Ketimbang takut orang yang akan saya temui tidak sesuai dengan keinginan saya, saya lebih takut kalau saya mungkin tidak bisa memenuhi ekspektasi orang itu."


"Tapi Bunda meyakinkan saya malam itu, bahwa kamu bukanlah orang yang akan menghakimi orang lain semudah itu. Bunda menceritakan banyak hal menarik tenang kamu. Tentang bagaimana kamu tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang tidak pernah takut untuk melakukan apa yang kamu mau. Saya suka orang yang seperti itu, Kalea. Saya suka orang-orang yang berani melakukan sesuatu yang ia sukai tanpa takut akan penilaian orang lain. Karena sejujurnya, saya bukan tipikal orang yang seperti itu. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya ini pengecut."

__ADS_1


Kalea bungkam. Mendadak kehilangan kemampuan mengolah kata. Tubuhnya beku saat ia temukan setitik kesedihan yang tersembunyi di balik manik kelam yang memabukkan itu. Walau saat ini Gavin tersenyum, tapi senyum itu sama sekali tak sampai di matanya. Mata kelam itu, perlahan-lahan tampak redup.


*****


Matahari sudah bersinar terik di atas kepala ketika Kalea menghentikan ayunan kakinya. Ia membungkuk dengan napas yang terengah-engah, masih tak habis pikir kalau dia yang mager nya minta ampun benar-benar bisa berlari keliling komplek perumahan yang luas.


"Nih,"


Kalea mendongak, mendapati Gavin yang berdiri menjulang di depannya sembari mengulurkan sebotol air mineral yang tutupnya sudah dibuka. Lelaki itu tampak bersinar di bawah terik matahari pagi ini. Keringat yang mengalir dari pelipisnya hingga turun membasahi baju--membuat otot dadanya semakin tercetak jelas--sama sekali tak mengganggu Kalea. Malahan Gavin terlihat seribu kali lebih tampan berkat buliran keringat itu.


"Thanks." Kalea meraih air mineral dari tangan Gavin dan langsung meneguknya hingga setengah habis. Tenggorokannya langsung terasa plong saat buliran air itu berjalan melewatinya.


"Kamu lapar, nggak?" tanya Gavin setelah merebut botol air mineral dari tangan Kalea, meneguk air yang tersisa.


Kalea melongo saat Gavin minum langsung dari botol yang sudah terkena bibirnya. Kalau begini, mereka seolah berciuman secara tidak langsung.


"Kalea?"


"Hah? Apa?"


"Bengong lagi?"


"Nggak bengong, kok. Cuma nggak denger aja kamu ngomong apa."


"Dikit."


"Bubur ayam, mau?" tawar Gavin.


Kalea hanya menganggukkan kepala. Ia masih terlalu syok karena tindakan Gavin sebelumnya. Masalahnya, mereka baru kenal kemarin dan rasanya aneh kalau Gavin tiba-tiba tidak keberatan untuk berbagi minuman dengannya.


"Yaudah, ayo. Kita makan bubur ayam yang dekat taman, ya?" botol air minum sudah kosong, tapi Gavin masih menggenggamnya di satu tangan saat tangan yang satunya bergerak meraih tangan Kalea. Barulah saat mereka menemukan tong sampah di pinggir jalan yang mereka lewati, botol kosong tadi Gavin buang. Sekali lagi Kalea dibuat takjub, sebab selain tampan, Gavin rupanya juga peduli lingkungan.


Kemudian Kalea menurut saja saat Gavin menuntunnya menuju taman tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Dari jarak beberapa meter, ia sudah bisa melihat gerobak bubur ayam langganan yang biasa dia beli dengan Karel--kalau mereka tidak sedang bangun kesiangan di hari minggu.


"Kamu tunggu di sini, biar saya yang pesan." Kata Gavin, mengisyaratkan pada Kalea untuk duduk di bangku plastik yang telah disediakan oleh si tukang bubur.


Setelahnya Gavin berjalan mendekati abang penjual bubur yang tengah sibuk membuatkan pesanan. Mata Kalea memicing saat mendapati dua orang perempuan muda--sepertinya lebih muda dari dirinya--tampak saling berbisik dan berkali-kali kedapatan mencuri-curi pandang ke arah Gavin. Sedangkan lelaki itu tampak tidak peduli sama sekali. Ia asyik memainkan ponsel, mungkin mengurusi beberapa pekerjaan yang terbengkalai selama aktivitas mereka lari tadi.


"Ya wajar sih mereka liatinnya sampe kayak gitu, Gavin emang ganteng banget." Gumam Kalea. Ia akui Gavin memang tampan. Tapi lebih dari itu, Kalea merasa Gavin adalah seseorang yang hangat. Ya, ya, Kalea tahu maish terlalu dini untuk menilai karakter seseorang hanya dari dua kali pertemuan. Tapi setidaknya, memang begitulah penilaian Kalea terhadap Gavin sejauh ini.


Tak lama setelah dua orang perempuan itu berlalu pergi dengan bubur pesanannya--dan sempat mencuri pandang kepada Gavin sekali lagi--Kalea melihat Gavin berjalan ke arahnya dengan dua mangkuk bubur ayam. Asap tipis tampak mengepul dari mangkuk bergambar ayam jago itu, pertanda bubur yang ada di dalamnya masih cukup panas.


Gavin menyodorkan semangkuk bubur kepada Kalea sebelum menarik bangku plastik lain dan mulai duduk di atasnya. Tahu buburnya masih panas, Gavin sudah prepare dengan meminta abang penjual bubur menyediakan piring kecil sebagai tatakan agar Kalea tidak kepanasan saat memegangnya.

__ADS_1


"Tahu dari mana kalau saya nggak suka kacang?" tanya Kalea saat menyadari tidak ada taburan kacang di atas bubur ayamnya. Sebagai gantinya, ada lebih banyak daun bawang di sana.


Gavin yang sudah mengangkat sendoknya praktis berhenti. Sendok berisi bubur itu tertahan di depan mulutnya karena Gavin harus menjawab pertanyaan Kalea terlebih dahulu. "Mama kamu." Lalu sesendok bubur berhasil masuk ke dalam mulutnya.


Lagi-lagi Kalea dibuat terkagum oleh sikap Gavin. Lelaki ini tampaknya memang seniat itu untuk bisa dekat dirinya hingga rela mencaritahu segala hal tentang dirinya. Kalea jadi merasa bersalah karena sempat menolak mentah-mentah ide perjodohan ini. Kalau ia tahu yang akan dia temui adalah sosok yang gentle seperti ini, ia mungkin akan menyetujui perjodohan ini lebih cepat.


"Mama kasih tahu kamu apa aja?" tanya Kalea sebelum menyendok buburnya. Tiba-tiba ia khawatir kalau Mama akan berbicara hal-hal aneh kepada Gavin.


"Semua hal yang saya mau tahu."


"Memangnya apa yang kamu mau tahu soal saya?"


"Banyak."


"Salah satunya?"


"Rahasia."


Kalea mencebik saat Gavin menjawab dengan tampang menyebalkan. Lihat saja ekspresi wajahnya yang tengil itu, untung dia tampan, jadi Kalea tidak akan menyamakan Gavin dengan Karel walaupun ekspresi menyebalkan mereka sebenarnya mirip.


"Lihat aja, nanti kamu juga tahu."


Bubur di mangkuk mereka sudah habis. Gavin dengan cekatan mengambil alih mangkuk kosong dari tangan Kalea kemudian membawanya kepada si penjual. Setelah bercakap sebentar dengan si penjual dan membayar bubur mereka, Gavin kembali dengan raut wayah yang lebih cerah. Entah apa yang lelaki itu bicarakan dengan si penjual bubur sampai bisa merubah raut wajahnya sampai begitu.


"Ayo." Gavin menggandeng tangan Kalea, membawa jemari lentik itu untuk saling bertaut dengan jemari panjangnya.


"Kamu ngobrol apa sama si Abang?" tanya Kalea. Ia tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran ketika senyum terbit di wajah tampan Gavin.


"Mau tahu?" Gavin menoleh, sedikit menunduk untuk melihat Kalea yang tingginya hanya sebahunya.


"Saya nggak akan nanya kalau memang nggak mau tahu!" Kalea mendelik, hanya untuk membuat Gavin tergelak.


"Apa yang lucu, sih?" Kalea menghentikan langkahnya. Dan Gavin pun refleks ikut berhenti melangkah.


"Kamu." Ucap Gavin begitu entengnya.


"Tadi Abang penjual bubur bilang, kamu melototin dua perempuan yang antre beli bubur karena mereka curi-curi pandang ke arah saya. Katanya, kamu seolah bisa memakan mereka hidup-hidup saat itu juga."


"Kenapa? Kamu cemburu karena saya diliatin sama perempuan lain?"


"Nggak! Nggak ada!" Kalea merasa pipinya panas. Ia malu! Kok bisa penjual bubur itu mengadu seperti itu pada Gavin? Lagipula, bagaimana bisa orang itu melihat apa yang Kalea lakukan saat tangannya sibuk menyiapkan pesanan? Atau jangan-jangan si Abang penjual bubur itu punya mata di belakang kepalanya? Iiiiiihh seram.


Gavin memang tidak menyahuti, tapi dari tatapan mata lelaki itu, Kalea merasa Gavin sedang meledek dirinya. Jadi sebelum pipinya semakin panas dan semerah tomat busuk, Kalea melepaskan tangannya dari genggam Gavin. Ia berlari meninggalkan Gavin yang terkekeh puas melihatnya salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2