Serana

Serana
Blue Hydrangea


__ADS_3

Waktu berjalan cepat tanpa Kalea sadari. Sejak pertemuan terakhir mereka pagi itu (saat Gavin mengajaknya lari pagi dan berakhir ngobrol dengan Mama dan Papa) Gavin sama sekali belum menghubunginya lagi. Hari ini terhitung sudah enam hari. Tak ada satupun pesan yang masuk ke ponsel Kalea walau hanya sekadar basa-basi menanyakan kabar atau apakah ia sudah makan atau belum.


Kalea sendiri bukan tipikal orang yang suka berbalas pesan dengan orang lain. Ia tidak suka basa-basi, jadi pesan-pesan singkat seperti ucapan selamat pagi ataupun sebaris kalimat penyemangat untuk mengawali hari bukanlah sesuatu yang cocok dengannya. Tapi sekarang, entah kenapa, Kalea benar-benar berharap pesan semacam itu datang dari Gavin.


"Gini ya rasanya di ghosting?" tanyanya entah kepada siapa. Ia menatap nanar ponsel di tangan yang layarnya tampak redup. Tak ada satupun notifikasi yang masuk sejak berjam-jam yang lalu ia duduk di studionya ini. Bahkan sekadar notifikasi dari operator seluler yang menginfokan bahwa pulsanya sudah habis dan nomornya sedang dalam masa tenggang pun tidak ada. Seolah semua orang sedang bersekongkol untuk mengabaikan dirinya, membuatnya kesepian dan merasa ditinggalkan.


"Si Karel juga tumben nggak spam chat? Biasanya kan dia heboh banget pamer ini itu."


Entah kenapa Kalea malah membawa nama Karel di dalam omelannya. Bocah tengik itu sedang dalam perjalanan bisnis ke Bali sejak tiga hari yang lalu. Bilangnya sih perjalanan bisnis, untuk ketemu petani yang akan jadi supplier biji kopi untuk cafenya, tapi Kalea yakin bocah itu hanya mengada-ada. Karel pasti hanya menggunakan perjalanan bisnis sebagai alasan, padahal sebetulnya dia hanya ingin liburan. Mencuci mata dengan memandangi cewek bule yang bajunya kurang bahan. Karel kan memang seperti itu, doyan sekali memandangi body bohay perempuan, tapi selalu mengomel pada Kalea saat ia mengenakan celana pendek atau baju yang sedikit terbuka. Kalau Kalea protes, bocah menyebalkan itu akan mengatakan padanya bahwa body Kalea tidak bagus sehingga sebaiknya tidak dipamerkan. Hah! Omong kosong!


Perhatian Kalea kemudian beralih pada kanvas di hadapan yang sudah ia lukis setengah jadi. Itu adalah sebuah lukisan pemandangan alam yang settingnya di ambil di pinggir pantai, saat senja merayap naik dan matahari bergerak pelan kembali ke ufuk barat. Sejak lama, Kalea memimpikan untuk berada di situasi seperti itu dengan seseorang yang dia sayang. Bukan cuma Papa, Mama ataupun Karel, tapi Kalea ingin menghabiskan senja yang hangat seperti itu bersama seseorang yang mampu memberikan rasa nyaman. Seseorang yang ia cintai dan juga mencintai dirinya.


"Lagian kamu berharap apa, sih, Kal? Baru juga ketemu dua kali, udah berharap yang muluk-muluk ke Gavin."


"Inget, Kal. Berharap itu sama Tuhan, jangan sama manusia. Nanti akhirnya kecewa!" Kalea mengomeli dirinya sendiri. Karena suasana hatinya tak kunjung membaik, ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan lukisan yang sedang ia kerjakan. Biarlah lukisan itu ia selesaikan nanti ketika suasana hatinya sudah kembali baik.


Kalea melangkah keluar dari studio, memastikan sudah mengunci pintu dengan benar sebelum berjalan menuruni tangga. Sekarang jam satu lewat lima belas menit, ia mulai merasa lapar. Pagi tadi Mama pamit padanya untuk ikut dengan Papa dalam perjalanan bisnis singkat ke luar kota, jadilah tidak ada yang meneriakinya untuk makan. Sejak pagi, Kalea belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya selain air putih.


Saat sampai di dapur, ia menemukan Bi Imah sedang sibuk memotong buah apel. Ia dengan santai mencomot sepotong yang baru saja diletakkan ke atas piring kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Neng Kalea mau makan?" tanya Bi Imah, menyodorkan sepotong lagi apel ke depan mulut Kalea dan langsung disambar oleh si gadis, walau nyatanya di dalam mulutnya masih ada potongan apel sebelumnya yang belum selesai ia kunyah.


"Bi Imah masak apa?" tanya Kalea dengan mulut penuh potongan apel.


"Cumi rica. Kalau Neng mau makan sekarang, biar Bibi siapin." tawar Bi Imah yang sudah selesai memotong semua apel.


"Nggak usah disipain, Bi, makasih. Kalea ambil sendiri aja." Kalea berjalan menuju meja makan, mencomot sepotong apel lagi sebelum mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan mulai mengisi piring yang sudah tersedia di sana dengan nasi dan cumi rica.


"Bi Imah udah makan?" tanyanya, berniat mengajak asisten rumah tangganya itu untuk makan bersama.

__ADS_1


"Udah, tadi barengan sama Pak Dadang." Bi Imah menjawab dengan senyum lembut yang khas.


Kalea manggut-manggut kemudian mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia menikmati makanan itu dalam keheningan karena Bi Imah tampak sibuk membereskan belanjaan yang sebelumnya berserak di konter untuk kemudian di pindahkan ke lemari es.


Baru tiga suap Kalea makan, bel di rumahnya berbunyi beberapa kali, mengundang kerutan di dahinya yang semakin lama semakin kentara. Siapa yang datang siang-siang begini? Dan kenapa suara belnya berasal dari pintu depan, bukannya gerbang? Kenapa Pak Dadang membiarkan orang asing masuk sampai ke pelataran rumahnya?


Lalu Kalea meletakkan sendoknya dan buru-buru bangkit dari kursi saat ia sadar bahwa Pak Dadang tidak akan pernah melakukannya. Pria paruh baya itu tidak akan membiarkan orang asing masuk melewati gerbang, apapun yang terjadi. Maka seseorang yang telah membunyikan bel di rumahnya pastilah seseorang yang telah mereka kenal.


"Biar Bibi aja yang buka pintunya, Neng. Neng Kalea lanjut makan aja." Cegah Bi Imah. Namun Kalea justru menggeleng. Toh ia sudah terlanjur berdiri.


"Nggak apa-apa, Kalea aja. Bi Imah lanjut aja beresin kulkas." Kata Kalea kemudian ia melenggang pergi meninggalkan dapur. Langkahnya terkesan terburu-buru saat ia berjalan menuju ruang depan. Bel berbunyi beberapa kali lagi sebelum ia sampai di depan pintu.


"Iya, sabar!" Teriaknya. Padahal dia tahu seseorang di luar sana tidak akan bisa mendengar teriakkannya.


Sebelum bel ditekan kembali, Kalea menarik pintu besar di hadapannya. Hanya untuk terdiam mematung dengan rahang yang jatuh dan ekspresi wajah melongo yang sama sekali tidak cantik.


"Halo, Kalea."


Kalea menatap Gavin yang duduk di sofa ruang tamu dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Sejak bermenit-menit yang lalu, ia hanya membiarkan Gavin duduk di sofa tanpa mengajak laki-laki itu bicara sama sekali. Teh yang disuguhkan oleh Bi Imah juga sama sekali tak disentuh oleh Gavin karena lelaki itu malah sibuk mengerutkan kening mendapati dirinya ditatap sampai sebegitunya oleh sang tuan rumah.


Pandangan Kalea kemudian beralih pada bucket bunga Hydrangea warna biru yang ada di atas meja. Gavin yang membawa bunga itu kemari. Rupanya, sudah sampai sejauh itu Gavin tahu tentang dirinya. Padahal soal dia yang menyukai bunga Hydrangea warna biru benar-benar hanya Mama yang mengetahuinya. Karel si bocah tengik yang kemana-mana selalu berdua dengannya pun tidak tahu soal ini. Ah, Mama sepertinya ingin sekali menjadikan Gavin sebagai anak mantu, sampai-sampai wanita itu rela membagikan informasi sebanyak yang ia bisa kepada lelaki ini.


"Saya...ganggu waktu kamu, ya?" tanya Gavin, mulai merasa tidak enak karena dia datang begitu tiba-tiba tanpa mengabari sebelumnya.


Kalea mengalihkan pandangan kembali ke arah Gavin. "Ganggu sih enggak, cuma saya bingung kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini--plus bawa bunga itu." Kalea menunjuk bucket bunga di atas meja itu menggunakan dagunya karena tangannya sudah terlipat di depan dada entah sejak kapan.


Gavin ikut melirik bucket bunga yang dia bawa, kemudian tersenyum. "Mama bilang kamu suka Hydrangea warna biru." Kemudian kembali menatap Kalea dengan senyum yang masih terpatri.


"Kamu ke sini cuma untuk anterin bunga itu ke saya? Cuma karena Mama bilang saya suka?" tanya Kalea. Entah mengapa nada bicaranya jadi terkesan seperti orang yang sedang kesal. Atau mungkin, dia memang sedang kesal karena Gavin tidak mengabarinya selama berhari-hari. Tapi, apakah dia berhak? Memangnya sudah sejauh apa hubungannya dengan Gavin sampai ia boleh merasa kesal pada Gavin yang tidak menghubunginya? Entahlah, Kalea juga pusing dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Bunga itu cuma alasan, saya sebetulnya ke sini untuk ketemu sama kamu." Senyum Gavin masih tidak luntur.


"Ketemu saya? Buat apa?" Ah, Kalea benar-benar tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa kesal tanpa alasan yang jelas.


"Cuz I miss you."


Gavin memang sialan! Bisa-bisanya lelaki ini mengatakan kalimat semacam itu dengan santai, seolah tidak tahu bahwa efeknya bisa membuat Kalea kalang kabut.


Kalea berdeham untuk melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa serak dan kering. Seperti ia baru saja menelan butiran-butiran pasir hingga rasanya tidak nyaman.


"Kamu sibuk akhir-akhir ini?" tanya Kalea berusaha menutupi fakta bahwa ia sedang salah tingkah.


"Iya, saya sibuk mengurusi beberapa hal. Maaf karena saya jadi nggak punya waktu untuk sering ketemu kamu."


"Jaman udah canggih, nggak harus ketemu secara langsung untuk bisa ngobrol atau sekadar bertukar kabar." Kalea tidak tahu ia bisa seterus terang ini kepada orang yang baru dikenalnya beberapa hari. Selama ini ia cukup tertutup dan banyak berpikir sebelum mengatakan sesuatu kepada orang lain. Tapi dengan Gavin, kenapa dia bisa seterus terang ini mengungkapkan hal yang mengusik hatinya?


Gavin malah terkekeh dan itu menyebalkan. Lelaki dalam balutan kemeja warna putih yang lengannya di gulung hingga ke bagian siku itu kini tampak seperti laki-laki brengsek yang senang bermain-main dengan hati perempuan. Kalea kesal, jadi dia melemparkan tatapan tajam ke arah Gavin yang justru membuat lelaki itu tergelak.


"Saya nggak tahu kamu akan merindukan saya sampai sebegininya." Ucap Gavin, sontak membuat pipi Kalea memanas.


"Maaf, saya nggak tahu kalau kamu tipikal yang suka bertukar pesan se-intens itu. Saya pikir kita sama-sama nggak suka basa-basi lewat chat karena umur kita udah nggak muda lagi. Saya pikir, udah nggak jaman pendekatan dengan modal ketikan doang, jadi saya cuma bisa meluangkan waktu untuk ketemu kamu secara langsung seperti hari ini. Ternyata saya salah, ya?"


"Saya nggak akan tahu kamu punya niat seperti itu kalau nggak ada komunikasinya, Gavin."


"Saya jugga nggak tahu kalau kamu menunggu pesan saya, Kalea. Kamu nggak pernah bilang, dan nggak pernah coba hubungi saya duluan."


Kalea terdiam. Apa yang Gavin katakan tidak sepenuhnya salah. Dia memang bisa saja mengirimi Gavin pesan lebih dulu supaya lelaki itu tahu Kalea ingin adanya interaksi yang lebih intens di antara mereka. Tapi, masalahnya, Kalea tidak merasa mereka sudah sedekat itu untuk membuatnya mengirimi pesan lebih dulu. Dia takut Gavin akan mengira dirinya terlalu agresif.


"Kalau kamu pikir saya akan risih dan mulai berpikiran yang buruk tentang kamu kalau kamu hubungi saya duluan, maka kamu bisa mengenyahkan pikiran itu dari kepala kamu sekarang. Saya suka orang yang berani jujur dengan perasaannya. Saya ini nggak peka, Kalea. Jadi saya nggak akan tahu apa mau kamu kalau kamu diam saja."

__ADS_1


"Mulai sekarang, kapapanpun kamu mau, hubungi saya sesuka hati kamu. Saya pasti akan meluangkan waktu untuk membalas semua pesan kamu. Lagipula saya yakin kamu tahu kapan waktu yang pas untuk mengirimi saya pesan, benar?"


Kalea sudah tidak sanggup berkata-kata saat Gavin menyelesaikan kalimatnya. Ia cuma bisa diam membisu menyaksikan bagaimana sudut-sudut bibir Gavin terangkat ke atas membentuk sebuah senyum hangat yang menenangkan. Resah yang sejak berhari-hari ini menguasai hatinya perlahan-lahan menepi. Dari sorot mata Gavin saat ini, Kalea seolah diajak untuk menyelam lebih dalam, tenggelam kemudian hilang.


__ADS_2