Serana

Serana
Menolak Sadar


__ADS_3

"Lo udah gila, ya, Rin?" todong Taruna begitu dia kembali ke kamar rawat Sierra. Tangannya terkepal erat, otot-otot di sekitar lehernya menegang dan kepala bagian belakangnya mulai terasa berat.


Tadi, selama bermenit-menit, dia terpaksa menahan diri di tempatnya. Berusaha keras agar tidak berlari ke arah Irina dan Gavin lalu menarik tubuh yang laki-laki untuk menjauh setelah melabuhkan satu tinju ke wajah tampan itu.


Irina yang hendak mendudukkan diri di sofa praktis menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Taruna, menatap laki-laki yang berdiri menjulang di hadapannya itu dengan sebelah alis yang terangkat naik.


"Maksudnya?" tanyanya.


"Kenapa lo temuin Gavin di sini? Lo sengaja, biar ada yang liat kalian? Iya?!" Taruna agak ngegas saat menanyakan itu. Sebab dia benar-benar merasa kesal sekarang.


Tadinya Taruna pikir memberitahu Irina soal hubungan Gavin dan Kalea yang sesungguhnya akan membuat perempuan itu sadar dan mulai mempertimbangkan untuk melepaskan Gavin pelan-pelan. Tapi ternyata perkiraannya salah. Bukannya berusaha melepaskan, Irina malah jelas terlihat ingin menggenggam Gavin lebih erat.


Dan itu menyebalkan.


Selama beberapa saat, Irina mengabaikan pertanyaan Taruna. Dia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, bergerak santai menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di sana. Lalu, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dan memainkannya. Seolah lupa kalau Taruna masih berdiri di sana, menanti jawaban darinya.


Taruna kesal, jadi dia menyusul dan langsung mendudukkan dirinya di sebelah Irina. Tangan besarnya bergerak cepat merebut ponsel dari tangan Irina dan langsung menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya.


"Balikin." Pinta Irina sembari mengulurkan tangan.


Tetapi Taruna malah melemparinya dengan tatapan tajam sehingga membuatnya mendengus dan menyerah pada usahanya untuk mendapatkan kembali ponselnya.


"Gavin nggak akan ninggalin Kalea, lo jelas tahu itu." Kata Taruna dengan penuh penekanan. Rasanya, dia mulai ingin menato kalimat itu di otak Irina agar perempuan itu bisa mengingatnya setiap detik.


"Well, we never know." Kata Irina dengan entengnya. Lalu dia mengempaskan punggungnya ke sofa, melipat tangan di depan dada seraya mengukir senyum yang tampak asing di mata Taruna.


"Gavin is mine. Dia sendiri kok yang bilang kalau dia itu punya aku."

__ADS_1


"Lo cuma akan nyakitin diri lo sendiri, Rin."


"I don't care, Taruna." Sela Irina. "I don't fcking care." Irina mulai ikutan ngegas. Lama-kelamaan, dia mulai merasa bahwa Taruna terlalu banyak ikut campur dalam hubungannya dengan Gavin. Seolah laki-laki itu memiliki motif lain di balik kalimat 'gue nggak mau lo terluka, karena lo teman gue' yang sering laki-laki itu katakan kepadanya.


Taruna mendesah kasar, menyugar rambutnya dengan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. Kalau ada nominasi penghargaan untuk manusia paling keras kepala dan suka menyakiti diri sendiri, mungkin Irina akan langsung jadi pemenangnya tanpa perlu repot-repot mengadakan voting.


Sebab, seumur hidup, Taruna baru kali ini menemukan seseorang yang begitu kekeuh untuk mempertahankan sesuatu yang padahal menyumbang lebih banyak rasa sakit. Ibaratnya, Irina saat ini sudah terseok-seok dan hampir mati, tapi perempuan itu menolak untuk diselamatkan dan malah berkata bahwa dia lebih baik mati di tempatnya kini berada.


"Tadi aku minta Gavin to end our relationship. Dan kamu tahu dia jawab apa? Dia nggak mau putus sama aku." Irina menegakkan punggung. Senyum mengerikannya lenyap, bibir itu kini tertarik lurus dan tatapan matanya mulai berubah.


"Kamu tahu apa artinya? Iya, itu berarti Gavin masih cinta sama aku." Kata Irina mantap.


"Terus mau sampai kapan lo mengandalkan perasaan cinta Gavin yang seberapa besar wujudnya aja lo nggak tahu?" Taruna mengatakan itu setelah mengembuskan napas keras-keras.


"As you know, hati manusia itu berubah-ubah, Rin. Terus, apa yang bakal lo lakukan kalau perasaan Gavin yang lo sebut-sebut itu tiba-tiba hilang, dan di saat itu, lo masih jatuh terlalu dalam buat dia?"


Irina menarik kursi, mendudukkan dirinya di sana kemudian menyandarkan kepala di tepian ranjang Sierra lalu mulai memejamkan mata.


Sedangkan Taruna cuma bisa terdiam, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak memuntahkan begitu banyak kata umpatan yang mulai berjubel di tenggorokan.


...****************...


Karel masih tidak berkata apa-apa sejak kembalinya Gavin ke ruang rawat Kalea. Meskipun Gavin sempat terlihat terkejut saat menemukan dirinya tahu-tahu muncul dari balik pintu kamar mandi, tetapi Karel masih menahan diri untuk tidak menanyakan apa yang sudah lelaki itu lakukan di luar tadi.


"Kamu nggak mau lanjut tidur?"


Karel menoleh, menemukan Gavin sedang serius menatapi layar ponselnya. Kini mereka duduk bersebelahan di sofa, saling diam dan sama sekali tidak berinteraksi sejak bermenit-menit lamanya.

__ADS_1


"Lo sendiri, nggak mau tidur?" Karel balik bertanya.


Ditanya begitu, Gavin langsung menarik diri dari kegiatannya. Ponsel yang masih ada di tangan itu seketika terlupakan dan dia kini sepenuhnya menatap Karel.


"Saya udah sempat tidur tadi, kamu juga tahu itu."


"Cuma sejam. Manusia dewasa butuh setidaknya tujuh jam dalam sehari buat tidur supaya kualitas hidupnya tetap terjaga." Tiba-tiba saja, Karel menjadi bijaksana. Padahal dia sendiri sadar kalau apa yang dia katakan barusan sama sekali tidak pernah dia terapkan ke dalam hidupnya.


"Saya banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Begadang sesekali nggak akan bikin saya mati, kok." Kata Gavin dengan entengnya. Kemudian, dia kembali menekuri ponselnya.


Tetapi belum ada sepuluh detik dia menatap benda pintar itu, Gavin kembali menoleh ke arah Karel. "Anyway, thank you karena kamu udah mau repot-repot mengingatkan saya untuk nggak begadang." Katanya diakhiri senyum tipis, yang menurut Karel justru tampak menyebalkan.


Lalu Gavin kembali fokus pada layar ponselnya dan sepenuhnya melupakan eksistensi Karel di sebelahnya.


Malam kian larut, kantuk yang datang sudah tidak bisa lagi Karel tahan meskipun niatnya untuk mengawasi Gavin sampai pagi menjelang masih begitu besar di dalam hati.


Karena Karel hanya manusia biasa yang tetap butuh tidur, dia akhirnya menyerah juga. Dengan langkah gontai, dia berjalan mendekati ranjang pasien Kalea dan segera merebahkan diri di kasur lantai yang memang sudah dia persiapkan sejak tadi.


Tak butuh waktu lama, Karel segera terlelap.


Sementara itu, Gavin mulai kembali dilanda resah. Dia khawatir kalau Karel mungkin sudah memergokinya sedang mengobrol dengan Irina tadi. Karena itulah dia bersikeras untuk tidak segera pergi tidur supaya dia bisa mengecek apakah Karel sedang mencoba mengawasinya atau tidak.


Melihat Karel yang akhirnya jatuh tertidur (melihat dari napasnya yang mulai teratur) barulah Gavin bisa sedikit bernapas lega. Kemudian, dia ikutan merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan mata.


Dalam hati, dia terus berdoa : semoga, semoga saja Karel tidak memergoki dirinya agar keadaan tidak semakin rumit.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2