
Malam panjang yang mereka lewati membawa Kalea terlelap lebih lama. Bahkan ketika matahari sudah meninggi dan sinarnya mulai menelusup masuk melalui celah ventilasi udara, perempuan itu masih enggan membuka matanya.
Gavin mengulum senyum, kembali mendudukkan dirinya di tepi ranjang seraya mengulurkan tangan untuk membelai pelan kepala Kalea. Sekarang, dia sudah rapi, sudah siap berangkat ke kantor untuk mengurus beberapa hal yang ternyata tidak kunjung membaik jika hanya dia urus dari rumah.
Kalea yang merasakan sentuhan di kepalanya menggeliat pelan, matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka lebar dan senyumnya pun ikut merekah kala menemukan Gavin tengah menatapnya dalam.
"Morning, Boo." Sapa Gavin.
"Morning," Kalea balik menyapa. Dia refleks memejamkan mata saat Gavin tiba-tiba mendekatkan wajahnya, hanya untuk mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
"Saya harus ke kantor hari ini, is it okay?" tanya Gavin setelah kembali ke posisi semula.
"Yeah," Kalea menjawab pelan.
"I'll see you as soon as I can. Saya usahakan nggak sampai malam."
"Iya, Gavin. I'll be waiting for you, tenang aja."
Gavin kembali tersenyum dan segera bangkit dari duduknya. Dia sudah hampir melangkah, ketika tangan Kalea tiba-tiba saja menahan lengannya.
"Kenapa? You need something?" tanyanya.
Kalea terlihat ragu-ragu selama beberapa saat. Sampai kemudian, perempuan itu berbicara dengan suara yang teramat pelan, nyaris tidak terdengar jika saja Gavin tidak memusatkan fokusnya hanya pada perempuan itu.
"Can I get my morning kiss first?"
Gavin terkekeh. Ini seperti dejavu, di mana jauh berhari-hari sebelum ini, dia pernah mengatakan hal yang sama dengan tujuan untuk menggoda Kalea, dan perempuan itu menolak mentah-mentah apa yang dia minta. Tapi sekarang, perempuan itu justru meminta hal yang sama kepada dirinya.
__ADS_1
Tahu apa yang lebih menggemaskan dan membuat jantung Gavin tiba-tiba berdebar? Kalea mengatakannya dengan raut wajah malu-malu dan semburat merah yang mengintip sebelum akhirnya memunculkan diri di pipi perempuan itu.
Entah sejak kapan pastinya, tetapi Gavin menemukan bahwa apa yang Kalea katakan adalah perintah mutlak bagi dirinya. Dia harus memenuhinya, sekalipun itu adalah hal-hal yang kadang terdengar tidak masuk akal.
Maka, tanpa membuang lebih banyak waktu, Gavin membungkukkan badan, menahan beban tubuhnya agar dia tidak tersungkur ke depan dan menindih tubuh Kalea yang masih terbaring di atas ranjang kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibir perempuan itu.
Hanya sebuah kecupan, seperti yang dia daratkan di kening Kalea sebelumnya. Karena kalau dia memberikan lebih dari sekadar kecupan, Gavin khawatir mereka akan menghabiskan waktu seharian di kamar ini untuk mulai mencoba sesuatu yang baru.
Walaupun cuma sebuah kecupan, apa yang Gavin berikan telah berhasil membuat Kalea merasa senang. Kalau morning kiss sudah didapat, dia baru bisa melepaskan Gavin untuk pergi bekerja. Karena mungkin, dia akan mulai merindukan lelaki itu tepat ketika sosoknya menghilang di balik pintu kamar.
Jangan tanyakan sejak kapan Kalea menjadi seperti ini, karena dia sendiri tidak tahu. Saat sadar, Kalea sudah menemukan dirinya jatuh sedalam ini untuk Gavin. Bahkan suara deru napas lelaki itu saja sudah secara tidak sadar menjadi candu untuknya.
"Put your clothes on, nanti masuk angin." Kata Gavin sembari menunjuk sebuah dres berwarna salem di bawah lutut yang sudah dia siapkan di atas nakas.
"Iya, iya. Udah, sana buruan berangkat, nanti telat." Kata Kalea sembari mendudukkan dirinya dan memegangi selimut yang membalut tubuh polosnya erat-erat.
"It's ... kinda weird. But I like it."
...****************...
Setengah jam setelah selesai makan siang, Kalea naik ke lantai tiga menuju studionya untuk menghabiskan waktu di sana sembari membaca beberapa koleksi buku yang sudah lama tersimpan di lemari. Otaknya sedang tidak memproduksi ide apa pun untuk dituangkan ke dalam tulisan, jadi dia pikir tidak ada salahnya untuk mulai membaca buku-buku itu sebagai bahan referensi.
Spot yang selalu menjadi favorit Kalea ketika nongkrong di studionya dan sedang tidak ingin melukis adalah kursi kayu yang menghadap ke jendela. Di mana dia bisa sekalian memandangi pohon-pohon tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya.
Kalea mendudukkan dirinya di atas kursi, mengambil satu buku di antara enam buku yang tertumpuk rapi di atas meja. Buku berjudul The Alchemist karya Paulo Coelho itu telah dia beli beberapa bulan sebelum pertemuannya dengan Gavin atas rekomendasi dari salah satu pacar nya, yaitu Mark Lee NCT.
Sebenarnya, Kalea sudah sempat membaca beberapa bab awal di buku tersebut sejak hari pertama buku itu sampai di tangannya. Di mana dia menangkap bahwa secara garis besar, buku itu bercerita tentang kisah perjalanan hidup seorang Alkemis yang berjuang mengejar mimpi dan cinta sejati dalam hidupnya. Buku itu telah berhasil membuat Kalea jatuh cinta bahkan sebelum dia sampai di bab pertengahan. Tetapi karena dia cukup sibuk waktu itu, baru sekarang buku ini bisa kembali dia baca.
__ADS_1
Sebelumnya, Kalea sudah memberi tanda sampai di mana dia membaca, jadi dia tidak kesulitan untuk melanjutkan ke bab berikutnya.
Hanya dalam hitungan detik sejak matanya mulai menatapi deretan tulisan di buku itu, Kalea sudah menjadi sangat fokus. Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Sesekali bibirnya berkomat-kamit saat dia menemukan sebaris kalimat yang menurutnya menarik.
Halaman demi halaman di balik, bab demi bab berhasil dia baca dan semakin banyak kosakata dan pengetahuan baru yang dia dapat dari sana.
Sampai ketika dia tiba di bagian akhir bab, Kalea terpaksa menghentikan aktivitasnya ketika rungunya menangkap suara ketukan yang dilabuhkan berkali-kali ke pintu studio.
Kalea menarik pandangan dari buku di tangan, menoleh ke arah pintu di mana Bi Imah muncul dengan sebuah amplop berwarna coklat di tangan. Wanita itu lalu berjalan mendekat, kemudian menyodorkan amplop tersebut ke hadapan Kalea.
Meskipun bingung, Kalea tetap mengambil alih amplop coklat itu dari tangan Bi Imah dan segera memeriksa bagian luarnya untuk mencari tahu siapa pengirim dan kepada siapa amplop coklat itu ditujukan.
Di bagian pojok kanan bawah amplop itu tertulis Kalea Dimitria. Namun di bagian pojok kiri atas kosong, tidak ada nama pengirimnya.
"Yang antar amplop coklat ini, kurir yang biasa antar barang belanjaan saya di online shop atau bukan?" tanya Kalea. Mulai agak curiga kalau jangan-jangan isi di dalam amplop ini adalah sesuatu yang aneh seperti kotak kado itu yang dia terima beberapa hari lalu di rumahnya dan Gavin.
"Bukan, Neng." Bi Imah menjawab dengan perasaan takut yang mulai timbul. "Yang antar cowok, naik motor gede pakai helm full face. Katanya isinya dokumen penting dan harus cepat disampaikan ke Neng Kalea, makanya Bibi langsung antar ke sini."
Bukannya menjawab, Kalea malah melamun sembari memikirkan soal ciri-ciri orang yang telah mengantarkan amplop ini. Laki-laki? Naik motor besar dan menggunakan helm full face? Siapa?
Bi Imah yang menyadari bahwa reaksi Kalea terlihat tidak wajar pun semakin merasa takut. Firasatnya mengatakan kalau amplop coklat itu tidak seharusnya sampai ke tangan Kalea. Tetapi, Bi Imah tidak berani bertanya apa-apa sampai akhirnya Kinara kembali dari lamunannya dan langsung menyunggingkan senyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa.
"Makasih, Bi, saya memang lagi nungguin dokumen ini." Bohong Kalea, yang sadar bahwa Bi Imah mulai khawatir.
Mendengar jawaban Kalea membuat Bi Imah bisa sedikit mengembuskan napas lega. Wanita itu kemudian pamit undur diri dan Kalea langsung mengiyakannya.
Pintu studio kembali ditutup, berbanding terbalik dengan pintu di otak Kalea yang terbuka lebar-lebar, siap menerima tugas baru untuk mencerna apa pun yang akan dia temukan di dalam amplop coklat itu.
__ADS_1
Bersambung