Serana

Serana
Obrolan Rahasia


__ADS_3

Begitu langkahnya mencapai ruang tengah, Kalea mendengar bel dibunyikan beberapa kali. Kerutan yang muncul di keningnya jelas tidak bisa dihindari. Di dalam kepala, mulai penuh dengan pertanyaan tentang siapa yang bertamu sepagi ini? Mungkinkah seseorang yang mengantarkan paket misterius seperti tempo hari?


Dengan pertanyaan itu memenuhi kepala, Kalea berlarian menuju pintu depan. Sejenak dipandanginya pintu besar itu, kemudian dibukanya ketika bel dibunyikan sekali lagi.


"Kaleoooooo!" sapa seseorang yang berdiri di depan pintu, merentangkan tangan lebar-lebar dengan senyum yang tersungging sempurna. Orang itu, Karel, tampak berbinar saat menemukan Kalea muncul dari balik pintu yang terbuka.


Dalam sekejap, segala pertanyaan yang sedari tadi mengerubungi kepala Kalea menguap entah kemana. Dengan gerak yang sama antusiasnya dengan Karel, Kalea berlari ke arah lelaki itu, menghambur ke dalam pelukan hangat yang sudah lama tidak dia dapatkan dari sahabat terbaiknya itu.


"Karellllll, aku kangen." Adu Kalea dengan kepala sedikit mendongak. Lengannya masih memeluk erat pinggang Karel.


"Samaaaaa...gue juga kangen banget sama lo." Senyum Karel kian lebar. Apalagi, saat ia menemukan binar cerah terpancar dari manik boba Kalea. Sungguh, Karel merindukan sahabatnya yang cerewet ini. Sempat berkali-kali berpikir untuk datang berkunjung, tapi berkali-kali juga ia urungkan niat karena merasa takut kehadirannya akan mengganggu. Tapi berkat usulan Mama semalam, Karel bertekad untuk datang. Dan lihatlah sekarang, ia bisa bernapas lega karena kehadirannya disambut begitu baik oleh Kalea.


Dua sahabat yang sudah tidak bertemu selama berhari-hari itu saling melepas rindu. Memeluk erat satu sama lain tanpa sadar bahwa jauh di belakang sana, tepatnya di pembatas ruang tengah dengan ruang tamu, Gavin berdiri sambil memandang tidak suka ke arah mereka. Lelaki itu mendengus. Senyum yang memang sudah pudar sejak tadi tergantikan dengan sebuah raut wajah tidak menyenangkan saat matanya menangkap gerakan tangan Karel yang mengusap penuh sayang kepala Kalea.


Tidak. Jangan salah paham. Gavin dan Karel sudah berdamai. Mereka tidak lagi bermusuhan seperti dulu. Hanya saja, melihat bagaimana Karel memeluk Kalea begitu erat tetap membuat Gavin merasa tidak nyaman. Ia cemburu, tentu saja. Memangnya suami mana yang tidak akan cemburu jika melihat istrinya dipeluk oleh laki-laki lain tepat di depan matanya? Gavin jamin tidak ada.


Setelah membiarkan dua orang itu saling melepas rindu, Gavin bergegas menghampiri. Masih dengan mempertahankan raut wajah masam, ia berdiri di belakang Kalea. Sempat melirik sekilas ke arah Karel sebelum berdeham kencang.


Mendengar suara dehaman yang terasa tepat di belakang telinganya, Kalea pun menarik diri dari pelukan Karel. Tapi alih-alih berjalan mendekat ke arah Gavin, Kalea malah menggeser tubuhnya hingga kini perempuan itu berdiri di samping Karel. Sekarang, Gavin malah terlihat seperti orang ketiga yang sedang menginterupsi sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Menyebalkan.


"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya langsung pada Karel. Sama sekali tidak berniat basa-basi.


Mendengar pertanyaan itu, Karel mendecih. Rupanya, setelah mereka berdamai, tingkah Gavin justru semakin menyebalkan.


"Mau ketemu Kalea, lah!" ketus Karel. "Iya, nggak?" ekspresi dan nada suara Karel seketika berubah saat ia menoleh ke samping, menemukan Kalea yang sedang berdiri di sisi tubuhnya dengan raut wajah tenang.

__ADS_1


"Iya." Kalea menjawab santai. Diam-diam memerhatikan bagaimana raut wajah Gavin perlahan-lahan berubah menjadi semakin kesal. Lalu, Kalea tanpa sadar tersenyum. Apakah Gavin sedang merasa cemburu sekarang? Lucu sekali.


"Harus banget sepagi ini? Kamu nggak tahu kalau sebagai pengantin baru, kami butuh lebih banyak waktu untuk dihabiskan berdua?"


Karel hanya menanggapi pertanyaan Gavin itu dengan memutar bola mata malas. Setelahnya, ia menggandeng tangan Kalea, mengajak perempuan itu duduk di sofa dan mengabaikan Gavin yang mulai mengeraskan otot-otot di sekitar lehernya.


"Nanti kita jemput Mama jam berapa?" tanya Kalea begitu berhasil mendudukkan diri di samping Karel.


"Habis makan siang deh kita jalan. Lalu lintas di Jakarta kan nggak bisa diprediksi, takutnya macet."


Kalea manggut-manggut saja. Setelah itu, ia melirik sekilas ke arah Gavin yang tahu-tahu sudah berdiri di seberang meja, memerhatikan dirinya dan Karel dengan sepasang mata yang memicing tidak suka.


"Oh, ya, gue ada kabar terbaru soal rencana kita waktu itu." Karel berkata dengan antusias tinggi.


"Rencana apa?" tanyanya polos.


Karel berdecak, kemudian berkata. "Jepit rambut."


Mendengar kata jepit rambut, ingatan Kalea seolah ditarik mundur, sampai akhirnya ia menangkap maksud Karel dan tersenyum sumringah. "Oh, iya! Jadi, gimana?" tanyanya begitu bersemangat.


"Jadi...bentar, kayaknya kita nggak bisa ngobrolin ini di sini deh." Karel melirik ke arah Gavin. Membuat yang dilirik semakin memicingkan mata. "Kita ke kamar lo aja, gimana?" kata Karel setengah berbisik.


Tanpa banyak berpikir, Kalea mengiyakan usulan Karel. Secepat kilat ia bangkit dari sofa, menarik lengan Karel dan menggenggam tangannya erat.


Gavin yang disuguhi pemandangan semacam itu sontak semakin kesal. Dengan gerakan sewot, ia berjalan mendekati Kalea dan Karel. Lalu, tanpa aba-aba, ia menarik lengan Kalea hingga genggaman tangan perempuan itu dengan Karel terlepas.

__ADS_1


Kalea terkejut atas perlakukan Gavin yang tiba-tiba. Sedangkan Karel hanya menatap Gavin datar karena jauh sebelum ini, ia telah memperkirakan akan seperti apa respon Gavin nantinya. Karel sudah tidak terkejut lagi mendapati tatapan tidak suka itu.


"Gavin, ih!" Kalea memukul bahu Gavin hingga membuat si empunya meringis. Tapi anehnya, walau pukulan itu lumayan keras dan berhasil membuat Gavin mengaduh kesakitan, genggaman tangan lelaki itu masih tidak lepas juga.


"Lepasin! Aku mau ngobrol penting sama Karel." Kalea berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin, namun lelaki itu bersikeras untuk tetap mempertahankannya.


"Gavin." Panggil Kalea penuh penekanan. Ia bahkan melotot pada lelaki itu.


"Nggak mau." Gavin menggeleng. "Saya mau ikut."


"Dih, ya nggak bisa gitu dong. Ini obrolan rahasia, cuma boleh didengar sama gue dan Kalea. Lo tuh nggak diajak, Gavin." Cerocos Karel yang hanya dianggap bagai angin lalu oleh Gavin.


"Pleaseeeee...saya mau ikut." Gavin memasang tampang memelas. Berharap Kalea mau berubah pikiran dan mengijinkannya ikut dalam obrolan yang katanya rahasia itu.


Namun Kalea tetap teguh pada pendiriannya. Lagipula, sepertinya ini adalah kesempatan yang bagus untuk membalas Gavin. Hitung-hitung sebagai penebusan karena lelaki itu telah mengerjainya semalam dan tadi. Itu adalah bayaran yang setimpal untuk mencuri ciuman pertamanya. Bukankah begitu?


"Nggak boleh. Lagian kamu kan harus jaga jarak dua meter dari aku!" setelah mengatakan itu, Kalea berhasil melepaskan genggaman tangan Gavin.


Tidak ingin tangannya kembali dikunci, Kalea buru-buru menggeret lengan Karel dan membawa lelaki itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kaaaaallllll." Rengek Gavin dari tempatnya berdiri. Namun Kalea sama sekali tidak peduli. Perempuan itu terus berlarian dengan Karel mengekor di belakang. Sebelum tubuh keduanya menghilang di balik belokan, Gavin sempat melihat Karel menjulurkan lidah dan mengejeknya habis-habisan.


Gavin kesal. Seharusnya, dia memang tidak pernah berdamai dengan manusia bernama Karel itu. Lihat saja, setelah obrolan rahasia itu selesai, Gavin pasti akan melancarkan aksi balas dendam terhadap Karel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2