Serana

Serana
Terrors


__ADS_3

Mendengar suara gaduh tersebut membuat kepanikan Gavin naik berkali-kali lipat dari sebelumnya. Dengan dada yang bergemuruh khawatir, Gavin bergegas menghampiri suara gaduh yang berasal dari arah balkon.


Tadi, Gavin terlalu fokus untuk menemukan keberadaan Kalea di dalam kamar sehingga dia tidak sadar kalau pintu balkon sedikit terbuka dan gorden putih tulang yang menutupinya tersingkap tertiup angin.


"Kal?!" panggil Gavin dengan suara yang bergetar. Kepanikan sudah sepenuhnya menguasai dirinya sehingga ia tidak bisa lagi menggunakan otaknya untuk berpikir.


Saat kakinya berhasil menyentuh lantai balkon, Gavin merasakan badannya lemas kala menemukan Kalea sudah terduduk lemas di lantai dengan tubuh yang bergetar. Perempuan itu menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dan sayup-sayup terdengar suara isakan lolos dari belah bibirnya.


Tak jauh dari tempat perempuan itu terduduk, terdapat potongan tubuh hewan yang bercecer dan masih mengeluarkan darah segar. Melihatnya saja sudah berhasil membuat perut kosong Gavin bergejolak. Bau anyir yang menusuk hidung juga semakin memperparah keadaan. Ia mual, jujur saja. Tetapi sebisa mungkin Gavin melawan gejolak di dalam perutnya dan bergegas menghampiri Kalea.


Ditariknya tubuh Kalea ke dalam pelukan, kemudian dengan sisa-sisa kewarasan yang masih dia punya, Gavin berusaha menenangkan Kalea.


"It's ok, Kal. I'm here now." Bisiknya sembari mengusap-usap punggung Kalea demi meredakan getaran di tubuh perempuan itu.


Di dalam pelukannya, Kalea menangis. Gavin bisa merasakan tetesan air mata perempuan itu merembes membasahi bagian depan kaus yang dia kenakan. Tidak cuma itu, Kalea cuma meremas kausnya dan getar di tubuhnya semakin terasa buruk.


Akhirnya, Gavin menggotong Kalea. Membawanya ke dalam gendongan karena tidak yakin Kalea bisa berjalan di atas kakinya sendiri dengan kondisi yang seperti ini.


Kalea hanya menurut saja. Cengkeraman di kaus Gavin masih dibiarkan dan bahkan makin menguat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gavin, membiarkan air matanya tumpah sampai nanti berhenti sendiri.


"It's ok, Boo." Bisik Gavin lagi setelah mereka kembali masuk ke dalam kamar.


Gavin mendudukkan diri di atas kasur dan menempatkan Kalea di dalam pangkuannya. Dia biarkan perempuan itu menggunakan dadanya sebagai tempat persembunyian selagi dia sendiri masih berusaha untuk memeras otak demi mencerna situasi yang sedang mereka hadapi sekarang.

__ADS_1


Bermenit-menit kemudian, ketika hari tiba-tiba sudah berganti dan waktu menunjukkan pukul setengah satu dini hari, Gavin merasakan getar di tubuh Kalea sudah sepenuhnya mereda. Isakan sudah tidak lagi keluar dari belah bibirnya dan perempuan itu mulai berani mengangkat wajahnya.


Gavin meringis saat menemukan wajah Kalea sepenuhnya memerah. Matanya sembab dan bibirnya terlihat sangat pucat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, mengapa Kalea bisa ada di balkon dan dari mana datangnya bangkai hewan tadi. Namun niat itu ia urungkan karena tahu Kalea mungkin tidak akan sanggup untuk mengatakannya sekarang.


Jadi, Gavin perlahan menyelipkan helaian rambut Kalea ke belakang telinga, mengusap pipinya pelan sembari memaku tatap untuk meyakinkan perempuan di pangkuannya ini bahwa semua akan baik-baik saja.


"It's ok. Everything's gonna be fine." Gavin harap, ia bisa mengatakan itu kepada dirinya sendiri. Sebab jauh di dalam hati, ia sendiri tidak yakin bahwa hidup mereka betulan akan baik-baik saja.


Kalea tidak menjawab. Dengan sisa-sisa air mata yang mencetak jejak di pipi tirusnya, Kalea kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Gavin. Kali ini bukan untuk menangis, melainkan untuk menyesapi aroma maskulin yang menguar dari tubuh Gavin sebab Kalea telah menemukan bahwa menghirup aroma tubuh laki-laki itu ternyata mampu membantunya meredakan begitu banyak rasa takut yang mendera.


Sementara Gavin semakin merasa hatinya teriris saat merasakan lengan Kalea semakin erat melingkar di pinggangnya.


...****************...


Usai memastikan Kalea terlelap, Gavin berjalan mengendap-endap menuju ruang kerjanya.


Setelah beberapa detik menunggu, layar laptop akhirnya menyala. Gavin langsung menggerakkan jemarinya di atas papan ketik dan matanya langsung sigap meneliti setiap potongan dari kamera cctv yang terpasang di sekitar rumahnya.


Gavin memutar satu persatu rekaman cctv yang ada, menontonnya berulang-ulang kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat oleh matanya. Sampai kemudian dia menemukan sesuatu dari video rekaman yang terakhir.


Gavin menangkap sosok berpakaian serba hitam yang berlari ke seberang jalan, menghampiri sebuah mobil yang terparkir di tengah kegelapan malam. Tidak ada rekaman yang menunjukkan sosok itu berada di sekitar rumahnya, karena agaknya cctv itu memang sudah sempat disabotase dan si pelaku barang kali tidak menyangka bahwa sosoknya masih tertangkap kamera ketika hendak melarikan diri.


"Who the f*ck trying to touch my wife?!" geram Gavin. Karena, hanya bermodalkan rekaman ini saja tidak akan cukup membantunya untuk mencaritahu siapa pelakunya. Dia bahkan tidak akan bisa memastikan apakah orang ini adalah orang yang sama dengan yang mengirimkan teror kepada Irina.

__ADS_1


Merasa menemukan jalan buntu, Gavin cuma bisa mendesah kasar berulang-ulang kali sembari mengusak rambutnya sendiri.


...****************...


Beberapa jam sebelumnya.


Seorang pria berpakaian serba hitam mengendap-endap memasuki area rumah Gavin dan Kalea setelah berhasil memanjat pagar dengan mudah. Di tangannya terdapat sebuah kotak kado berukuran sedang berwarna merah muda sedangkan di satu tangan yang lain ada tali tambang dengan pengait di bagian ujungnya.


Pria itu celingukan, memastikan tidak akan ada yang memergoki dirinya di tengah kegelapan malam. Lalu setelah yakin bahwa aksinya akan aman, pria itu mulai melemparkan tali tambang di tangannya ke pagar pembatas balkon di kamar Gavin dan Kalea. Kotak kado yang semula dia pegang diikatkan ke perut dan pria itu mulai mendaki tali tambang yang berhasil dia kaitkan tanpa sedikit pun kesulitan.


Tak membutuhkan waktu lama bagi pria itu untuk sampai di balkon kamar Gavin dan Kalea. Ia kemudian meletakkan kotak kado itu di lantai, tepat di depan pintu kamar yang tertutup rapat.


Kemudian, dia mengetuk pintu itu berkali-kali setelah mengintip dari celah yang ada guna memastikan situasi. Pas sekali yang ada di dalam kamar itu cuma Kalea, jadi rencana ini bisa berjalan dengan mulus dan seseorang yang mengirimnya kemari pasti akan tersenyum senang.


Ketukan yang dia labuhkan berhasil memancing Kalea untuk berjalan mendekat ke arah balkon. Sebelum perempuan itu sampai di pintu, dia buru-buru turun menggunakan tali tambang dan segera membereskan kembali tali itu agar tidak meninggalkan jejak.


Setelah urusan membereskan tali selesai, pria itu berlarian meninggalkan area rumah. Sekali lagi memanjat pagar tanpa kesulitan dan buru-buru berlari ke seberang jalan di mana mobilnya di parkirkan.


Di sana, tepatnya di dalam mobil, seseorang sudah menunggunya untuk memastikan bahwa rencana mereka berjalan lancar. Ini kali pertama laki-laki itu ikut terjun langsung memantau bagaimana caranya dia bekerja, jadi dia jelas tidak mau mengecewakan.


"Gimana?" tanya laki-laki yang duduk di kursi penumpang bagian depan.


"Aman." Sahut si pria berpakaian serba hitam.

__ADS_1


Kemudian tidak ada lagi percakapan karena mereka langsung tancap gas meninggalkan lokasi.


Bersambung.


__ADS_2