
"Kal," Gavin menahan tangan Kalea ketika perempuan itu sedang memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.
Kalea menepis tangan Gavin kasar, enggan menoleh ke arah lelaki itu dan terus melanjutkan kegiatannya.
"Kal, kita harus bicara," ucap Gavin, masih berusaha mencuri perhatian Kalea walaupun usahanya berakhir sia-sia karena perempuan itu malah berjalan menuju pojok ruangan untuk memunguti baju-baju kotor milik mereka yang semula sempat dia campakan begitu saja di atas lantai.
"Kal, pelase." Gavin menahan tangan Kalea lagi saat perempuan itu akan berjalan menuju lemari untuk mengambil koper yang lain.
Kalea menghentikan gerakannya. Melemparkan baju-baju yang dia bawa ke atas kasur kemudian membalikkan badan dan menatap Gavin datar.
"Nanti, di rumah." Katanya.
"Kal,"
"Aku bilang nanti!" sergah Kalea. Nada suaranya tinggi, membuat Gavin seketika melepaskan genggaman tangannya dan menatap tak percaya.
"Nanti, Gavin." Ulang Kalea, dengan volume suara yang lebih rendah, tetapi dengan penekanan yang sama.
Setelah itu, Kalea kembali bergerak cepat membereskan pakaian mereka. Antara pakaian bersih dan pakaian kotor sudah dimasukkan ke dalam koper yang berbeda, siap untuk diangkut ke dalam mobil.
Lalu, sebelum dia berjalan keluar dari kamar, Kalea bergerak menuju nakas, membuka laci paling bawah di mana dia menyimpan dua amplop coklat yang mengusik suasana hatinya sejak beberapa hari yang lalu kemudian membawa amplop itu ke hadapan Gavin.
Tanpa berkata apa-apa, Kalea menyerahkan dua amplop itu kepada Gavin dengan gerakan yang sedikit mendorong ke dada laki-laki itu. Kemudian Kalea berjalan keluar dari kamar sembari menyeret dua koper di kedua tangannya.
Gavin menatapi dua amplop di tangannya nanar. Dia yakin, isi di dalam amplop ini pasti tidak jauh berbeda dari apa yang tersimpan di dalam flashdisk.
"Ya Tuhan ... saya harus bagaimana?"
...****************...
Di sepanjang perjalan pulang, Kalea tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju lurus ke depan dan dia memasang wajah datar, yang terasa begitu asing di mata Gavin.
Bukan cuma menolak bicara, Kalea juga menolak banyak bantuan yang dia berikan. Perempuan itu menolak dibukakan pintu, menolak dibantu mengenakan seatbelt dan bahkan menolak ketika dia berniat mengambil alih koper dari tangan-tangan kecil itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Kalea yang sekarang duduk di sampingnya ini, terasa begitu asing. Seolah apa yang perempuan itu lihat dari flashdisk sialan ini telah membawa pergi Kalea-nya yang dulu.
Sampai kemudian mobil Gavin tiba di rumah. Kalea bergegas membuka pintu lalu turun dan kembali menutup pintu dengan gerakan membanting kemudian bergegas menuju gerbang dan membukanya lebar-lebar agar mobil Gavin bisa masuk.
Kalea menyingkir ke sisi kanan, memberi akses untuk monil Gavin agar bisa lewat. Setelahnya, dia menutup kembali gerbang dan bergegas masuk ke dalam rumah, mendahului Gavin yang masih harus menurunkan koper-koper mereka dari dalam bagasi.
__ADS_1
Di dalam, Kalea langsung melesat menuju ke ruang tengah, mendudukkan dirinya di atas sofa sembari berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai kembalu goyah seiring dengan langkah kaki Gavin yang terdengar semakin mendekat.
"Ka-"
"Duduk." Potong Kalea, tanpa melihat ke arah Gavin sama sekali. Bukan karena dia ingin terlihat sangat marah, dia hanya takut keteguhan hatinya akan goyah kalau dia bertatapan langsung dengan lelaki itu.
Setelah mengembuskan napas keras-keras, Gavin mengambil posisi duduk di sebelah Kalea. Dua amplop yang tadi perempuan itu berkata kepadanya, dia letakkan di atas meja, disusul flashdisk yang sedari tadi dia simpan di saku celana.
"Explain." Todong Kalea langsung, tanpa basa-basi. Dia juga masih enggan menatap Gavin yang duduk di sebelah kanannya.
"Maaf," lirih Gavin.
"Aku nggak butuh kata maaf, Gavin!" sergah Kalea. Barulah dia mau menolehkan kepala, hanya untuk kembali mengalihkan pandangan beberapa detik kemudian. "Aku mau kamu jelasin sama aku. Tentang siapa Irina, dan kenapa kamu pura-pura nggak kenal sama dia waktu itu." Lanjutnya, setelah bersusah payah menurunkan kembali volume suaranya.
"Irina ... pacar saya, Kal. Udah dua tahun."
Kalea meremas ujung gaun yang dia kenakan. Memang, dia mau Gavin berkata jujur. Tetapi mendengar lelaki itu bisa dengan mudah mengakui semuanya, ternyata membuat dadanya semakin terasa sesak. Padahal, dia berharap Gavin akan mengelak. Setidaknya, dia ingin Gavin berusaha membela dirinya sendiri.
"Kenapa kamu menikahi aku, kalau kenyataannya kamu udah punya pacar?"
Gavin tidak menjawab. Entahlah, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Kalea. Karena, semuanya terlalu rumit. Terlalu panjang dan bisa memakan waktu seharian kalau dia ingin menjelaskan kepada Kalea secara rinci.
Tidak mendengar jawaban apapun yang keluar dari bibir Gavin membuat Kalea lembu menolehkan kepala. "Kenapa diam? Kamu nggak berani ngaku sama aku, kalau tujuan kamu nikahin aku sebenarnya itu supaya kamu tetap bisa mempertahankan posisi kamu di perusahaan? Supaya kamu nggak ditendang keluar karena ternyata kamu bukan anak kandung Bunda, iya?!"
"Apa?!" Kalea balas berteriak. Selama hidupnya, ini adalah kali pertama dia berteriak dengan volume kencang dan penuh emosi seperti sekarang ini. Bahkan ketika Karel membuat ulah yang keterlaluan sekalipun, Kalea tidak pernah merasa begitu marah seperti sekarang.
"Apa? Jelasin sama aku kalau memang itu semua nggak benar! Jelasin!" emosi Kalea mulai tidak bisa dikendalikan.
Tetapi, Gavin masih saja diam. Bibir laki-laki itu seolah terkunci, dan hal itu membuat Kalea semakin merasa kesal. Padahal, dia berharap Gavin akan segera membuka mulutnya. Tidak apa-apa kalau seandainya apa yang laki-laki itu katakan tidak sepenuhnya benar, tidak apa-apa jika ada satu atau dua hal yang dilebih-lebihkan. Sungguh, Tidak apa-apa.
"Apa lagi yang bohong dari kamu?" tanya Kalea pada akhirnya, karena Gavin masih tak kunjung mau membuka suara. Lelaki itu hanya terus menatapnya, yang dia sendiri bahkan tidak tahu apa arti dari tatapan itu.
"Selain fakta bahwa kamu bukan anak kandung Bunda dan Irina adalah pacar kamu, apa lagi yang bohong? Kamu juga bohong waktu bilang kalau kamu cuma mau aku? Kamu juga bohong waktu bilang sayang sama aku? Kamu bohong soal apapun yang kamu bilang ke aku? Iya, kan?!"
Gavin menggeleng keras-keras. "Saya nggak pernah bohong waktu bilang cuma kamu yang saya mau, Kal. Saya juga nggak bohong waktu bilang sayang sama kamu."
"Dan kamu berharap aku percaya?"
"Kal...."
__ADS_1
Kalea kembali mengalihkan pandangan, mengusap wajahnya kasar sebelum berucap lirih. "Aku mau cerai," yang tentu langsung ditentang oleh Gavin.
"Nggak!"
Kalea menoleh lagi. "Kenapa? Kami takut bakal langsung didepak dari perusahaan kalau udah nggak berstatus sebagai suami aku? Iya?!" sindir Kalea dengan senyum mengejek yang kentara.
"Kal! Udah saya bilang, saya menikahi kamu bukan karena itu!"
"Terus apa?! Kamu menikahi aku karena apa?!"
Karena kamu adalah teman masa kecil yang selama ini saya cari-cari, Kal. Karena kamu adalah alasan saya untuk tetap hidup sampai sekarang. Gavin cuma bisa mengatakan itu di dalam hatinya, karena dia tidak punya keberanian untuk mengaku. Dia tidak berani menghadapi respon Kalea yang tahu kalau ternyata teman masa kecil yang sudah meninggalkannya tanpa kata pamit bertahun-tahun lalu ini kembali datang ke hadapannya membawa masalah yang baru. Gavin terlalu takut, dan malu.
"Kamu nggak bisa jawab?"
"Saya nggak mau cerai."
"Aku mau." Kekeuh Kalea. Sebenarnya, dia sendiri masih ragu pada keputusan gila ini. Dia takut keputusan ini akan membuat Mama dan Papa sedih. Lebih dari itu, dia tidak ingin membuat Mama dan Papa merasa bersalah karena sudah membuatnya menikah dengan Gavin.
"Nggak akan."
"Egois!"
"Terserah! Yang jelas, saya nggak akan menceraikan kamu. Nggak akan pernah, Kal."
Kalea sepenuhnya kehilangan kata-kata atas respon Gavin barusan. Dia sungguh tidak mengerti, apa yang sebenarnya ada di dalam kepala Gavin saat ini?
"Kasih saya waktu sedikit lagi. Saya akan bereskan semua urusan saya dengan Irina, saya mohon."
"Nggak." Kata Kalea tanpa berpikir panjang.
"Kal, please..."
"Aku tetap mau cerai." Finalnya. Urusan Mama dan Papa, biar dia pikirkan nanti. Sekarang, dia cuma mau melepaskan diri dari Gavin selagi pikiran rasionalnya masih berfungsi. Karena sejujurnya, dia takut hatinya akan luluh dan keinginannya untuk berpisah akan perlahan-lahan sirna jika dia terus menunda-nunda.
Kalea tidak ingin menyakiti dirinya lebih dalam. Mumpung perasaannya terhadap Gavin juga belum sebesar itu, bukankah masih mudah baginya untuk melepaskan lelaki ini?
"Aku akan urus semuanya, kamu nggak perlu keluarin tenaga atau uang sepeser pun untuk proses perceraian kita." Kata Kalea terakhir kali sebelum dia beranjak dari sofa dan langsung melesat pergi menaiki tangga menuju lantai dua.
"Tunggu, Kal! Dengerin saya dulu!" teriak Gavin, namun sia-sia karena Kalea sudah sepenuhnya menulikan telinga.
__ADS_1
Setiap anak tangga yang perempuan itu daki bagaikan suplai tekad yang membuat keputusannya untuk berpisah semakin bulat.
Berdasarkan