
Sepulang dari kantor Papa, Kalea melipir ke rumah Karel, hanya untuk menemukan lelaki itu sedang bermain game di kamarnya, hanya mengenakan celana pendek di atas lutut sedangkan bagian atas tubuhnya terekspos sebab ia tak mengenakan baju.
Kalea berdecak, menggelengkan kepala seiring langkahnya mendekati Karel yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya karena terlalu fokus pada game yang sedang dimainkan, plus headphone yang menyumpal telinganya sehingga tidak ada suara yang bisa ia dengar kecuali suara yang berasal dari dalam game.
Sebuah pukulan Kalea daratkan ke kepala Karel, hanya untuk membuat lelaki itu memekik keras dan langsung melotot ke arahnya begitu kepalanya menoleh. Mendapat teriakan dan pelototan mata seperti itu tentu tidak cukup mampu untuk membuat Kalea takut, karena setelahnya, ia kembali mendaratkan pukulan lain yang kali ini mendarat mulus di bahu telanjang Karel.
"Apa-apaan sih, dateng-dateng KDRT!" seru Karel, namun Kalea tidak peduli. Ia malah ngeloyor begitu saja, dengan seenak jidat merebahkan diri di atas ranjang besar milik Karel yang kali ini dilapisi seprai warna biru muda.
"Wah, sinting ini anak." Sebal, Karel melepaskan headphone yang menyumpal telinganya dengan gerakan sewot kemudian membanting benda tak berdosa itu ke atas meja. Layar komputer yang masih menampilkan game yang sedang berlangsung seketika hilang dari perhatian Karel karena lelaki itu malah berjalan menghampiri Kalea dengan raut wajah yang kesal bukan main.
"Kamu diem dulu coba, kepala aku lagi mumet banget nih." Kata Kalea dengan mata yang sudah terpejam.
Mendengar itu, Karel tentu bertambah kesal. Memangnya siapa yang tiba-tiba datang dan memukulinya? Kenapa juga dia yang harus diam, padahal kepala Kalea yang mumet? Kadang-kadang ia memang suka tidak habis pikir dengan isi kepala Kalea yang agaknya sering konslet.
"Minum baygon, dijamin ilang tuh mumetnya." Karel berucap sarkas.
Dan tentu saja hal itu berhasil membangunkan singa betina yang sedang tidur di dalam jiwa Kalea. Karena tepat setelah Karel mendudukkan bokongnya ke tepian kasur, sebuah pukulan keras mendarat di kepalanya.
"Bajingan!" Karel memekik. Ia merasakan kepalanya nyeri dan dunia di sekitarnya terlihat berputar-putar.
"Rasain!" geram Kalea. Sebetulnya dia ingin mendaratkan satu pukulan lagi ke kepala Karel, tapi melihat bagaimana lelaki itu memegangi kepalanya dengan mata yang terpejam erat sembari meringis kesakitan, ia mengurungkan niat.
Lagipula bukan ini tujuannya datang ke rumah Karel. Ia hendak meminta bantuan bocah tengik ini untuk mencaritahu tentang gadis cantik yang tadi siang ia temui di kantor Papa. Siapa tadi namanya? Ah, Irina. Iya, Irina Ayu. Bagaimana Kalea bisa lupa kalau sejak pertama nama itu disebutkan, ia sudah mengulanginya di dalam kepala sebanyak yang ia bisa?
Maka setelah melihat mata Karel kembali terbuka, Kalea langsung menyuguhkan senyum manis madu yang seketika membuat kengerian tampak jelas di wajah Karel. Lelaki itu memundurkan tubuhnya ketika ia bergerak maju. Terlihat antipati sekali terhadap hal gila apapun yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Lo mau ngapain lagi anjir?!" Karel bergidik ngeri sewaktu senyum Kalea kian menjadi-jadi. Bibir-bibir tipisnya terangkat tinggi, sampai ia merasa bahwa Kalea kini sudah mirip sekali dengan karakter villain di film Batman, yaitu Joker.
"Aku butuh bantuan kamu." Ucap gadis itu.
"Bantuan apaan?" Karena Kalea masih terus bergerak maju, akhirnya Karel memutuskan untuk bangkit dari kasur. Dengan tangan yang masih memegangi kepala, ia bergerak mundur demi menciptakan jarak aman sebagai langkah antisipasi kalau-kalau Kalea sedang berencana untuk kembali melancarkan serangan.
"Bantu aku cari info tentang seseorang."
"Ogah." Karel menolak mentah-mentah. Lagipula dia tidak segabut itu untuk mencari informasi tentang orang lain. Hidupnya sudah cukup rumit dan dia tidak punya waktu untuk peduli tentang manusia lain, selama itu bukan Kalea, Ibun ataupun Ayah.
"Aku nggak nyuruh kamu buat nyuri data rahasia milik negara!" Kalea masih ngotot. "Cuma bantuin aku cari informasi seseorang di internet aja, Rel."
"Ya kalau informasinya ada di internet, kenapa nggak lo sendiri aja sih yang cari? Harus banget minta tolong sama gue?" Karel berjalan menuju lemari, menarik sebuah kaus warna hitam dan langsung mengenakannya selagi Kalea masih terus mengoceh.
"Aku males ngetik." Keluh gadis itu, hanya untuk membuat Karel mendengus sebal.
"Pake google voice."
"Males ngomong juga."
__ADS_1
Karel praktis melongo saat kalimat itu mengudara. Seorang Kalea Dimitria malas bicara? Karel lebih percaya kalau Upin Ipin itu aslinya anak Kak Ros. Karena tidak ada sejarahnya seorang Kalea Dimitria berkeinginan untuk puasa bicara.
"Ayolah, Rel, bantuin aku." Rengek Kalea lagi. Kini ia turun dari kasur, bergerak mendekati Karel dan langsung bergelayut manja di lengan lelaki itu.
"Nggak mau." Karel masih menolak. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari Kalea, tapi gadis itu kini sudah menjelma bak lintah yang enggan melepaskan diri dari kulit manusia yang sudah menjadi mangsanya.
"Pleaseeeeee."
"Nggak!"
"Pleaseeee Karel, bantuin aku. Pleaseeeee."
"Nggak!"
"Rel..."
"Nggak, Kalea. Awas ih, lo kayak lintah anjir nempel-nempel begini." Karel mendorong muka Kalea yang tahu-tahu sudah nyosor hingga nyaris menyentuh pipinya. Tapi gadis itu masih tidak menyerah, tangannya masih melingkar posesif di lengannya.
"Bantuin." Kalea masih terus merengek.
Lelah melayangkan penolakan yang berujung sia-sia, Karel akhirnya mengembuskan napas berat. Setengah hati ia menganggukkan kepala, membuat Kalea yang masih nemplok di lengannya praktis berteriak kegirangan.
Detik selanjutnya ketika gadis itu akhirnya melepaskan diri dari lengannya, Karel bisa melihat betapa wajah ayunya begitu berseri-seri, seolah baru saja mendapat kabar baik paling membahagiakan seumur hidupnya. Sebuah pemandangan yang membuat Karel bertanya-tanya, siapa yang ingin Kalea cari informasinya sampai gadis itu begitu bersemangat?
Setelah rentetan pop up notifikasi itu berhenti muncul, Kalea menolehkan kepala ke arah Karel yang tak kunjung menyusulnya. Ia berdecak sebal sewaktu mendapati Karel masih berdiri di posisi semula dengan ekspresi wajah yang terlalu sulit untuk dibaca.
"Relllll...buruan." Panggilnya. Menghentak-hentakkan kaki bagai bocah yang mendesak ibunya untuk membelikan mainan yang diinginkan.
Tak lama, Karel berjalan mendekat. Dengan ogah-ogahan lelaki itu menarik kursi lain yang semula ada di pojok kamar kemudian duduk di samping Kalea.
"Lo mau caritahu soal siapa?" tanya Karel saat tangannya sudah standby di atas keyboard, matanya fokus menatap layar komputer yang sudah menampakkan tampilan mesin pencarian google.
"Irina Ayu." Kata Kalea dengan semangat yang menggebu-gebu.
Karel menoleh dengan kerutan samar di keningnya. "Itu siapa?" tanyanya.
"Udah, ketik aja namanya."
Karel menurut. Jemari panjangnya bergerak lincah di atas keyboard, mengetikkan nama yang Kalea minta dan dalam sekejap ratusan artikel tentang nama yang bersangkutan muncul di layar, membuatnya mengerti bahwa seseorang yang sedang mereka caritahu informasinya ini bukanlah orang sembarangan.
"Coba klik yang ini." Perintah Kalea sembari menunjuk sebuah artikel di urutan paling atas.
Karel menurut saja. Ia pencet mouse hingga artikel itu terbuka. Seketika itu juga, ia memekik sewaktu di bagian awal artikel muncul foto seorang gadis cantik dengan bentuk tubuh yang aduhay. Hey, Karel itu laki-laki normal. Bukankah wajar kalau dia merasa tertarik dengan pemandangan indah semacam itu?
Tapi pekikannya itu membuatnya dihadiahi satu pukulan ringan di kepala.
__ADS_1
"Giliran lihat yang cantik aja, langsung bening itu mata." Kalea mengomel. Tapi tak urung menyuruh Karel untuk menggulir mouse agar ia bisa membaca artikel tersebut.
Di bagian judul tertulis : Rumor kencan model cantik Irina Ayu dengan aktor Gabriel Permana.
Kurang lebih isi artikel itu membahas tentang rumor kencan yang melibatkan seorang model cantik top Indonesia bernama Irina Ayu dengan aktor pendatang baru, Gabriel Permana yang namanya baru-baru ini melejit berkat film yang dibintanginya sukses besar di pasaran.
Banyak pro dan kontra yang dihasilkan dari rumor kencan tersebut. Di sisi penggemar Gabriel, yang rata-rata merupakan remaja tanggung yang emosinya masih labil, mereka beramai-ramai menghujat Irina karena dinilai tidak pantas bersanding dengan Gabriel. Pekerjaan Irina sebagai model yang seringkali membuatnya harus tampil dalam balutan busana yang seksi dan terbuka dinilai terlalu jomplang jika dibandingkan dengan Gabriel yang memiliki image polos dan bersahaja.Lebih dari itu, para penggemar menjuluki Irina sebagai tante girang yang mengencani cowok yang umurnya 7 tahun lebih muda. Sedangkan di sisi yang lain, para penggemar Irina juga tak mau tinggal diam. Mereka beramai-ramai menghujat Gabriel karena dinilai hanya numpang tenar saja pada Irina yang sudah lebih dulu terjun di dunia entertainment dan karirnya juga tidak bisa disepelekan.
Kalea kenal siapa Gabriel Permana ini, karena beberapa kali Papa sempat membicarakannya saat mereka sedang makan malam di rumah. Papa bilang, si Gabriel ini masih muda, baru berumur 19 tahun tapi sudah sukses mencuri perhatian sejak debutnya dua tahun belakangan dan Papa berniat untuk mengajak pemuda itu bergabung dengan agensi Papa, mengingat ia masih belum bergabung dengan agensi manapun dan bekerja secara mandiri.
Tapi soal Irina Ayu yang ternyata merupakan model, terlebih adalah model di agensi milik Papa, Kalea benar-benar tidak tahu. Papa sama sekali tidak pernah menyebut nama gadis itu. Padahal setelah Kalea teliti lebih lanjut, ternyata Irina ini merupakan salah satu model paling berpengaruh di perusahaan Papa. Dia jadi model pertama di perusahaan Papa yang berhasil dikontrak oleh brand pakaian terkenal dunia, sekaligus sosok yang sudah membawa perusahaan Papa menjadi lebih berkembang seperti sekarang.
"Lo ngapain mau caritahu tentang cewek ini?" pertanyaan dari Karel itu sukses membuat Kalea mengalihkan pandangan.
"Tadi siang aku ketemu dia di kantor Papa, terus dia suruh aku cari informasi dia di internet karena aku bilang nggak kenal siapa dia. Aku terpesona karena dia cantik banget, terus juga ramah sama aku. Makanya aku mau caritahu soal dia." Jelas Kalea apa adanya.
"Anjirlah. Emang cakep gini anaknya. Ini dia beneran model di perusahaan Papa?" tanya Karel lagi, matanya kini kembali fokus menatapi sosok Irina di layar komputernya.
"Aku juga baru tahu." Kata Kalea denga suara pelan. "Cantik banget ya, Rel?"
Pergerakan Karel praktis terhenti. Ia menolehkan kepala, hanya untuk mendapati Kalea sedang menatapi layar komputer dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.
"Lah, lo kenapa?" tanya Karel keheranan. Padahal tadi Kalea begitu bersemangat untuk mencaritahu tentang Irina, tapi kenapa setelah dapat bocah ini malah memasang raut waja seperti ini?
"Aku kenapa? Kan cuma bilang kalau dia cantik."
"Tapi nada suara lo kayak orang yang lagi minder."
"Minder?"
"Hmm." Karel mengangguk. Tangannya bergerak cepat menutup semua tab yang semula terbuka, membuat beberapa artikel dan foto-foto yang tampil di layar seketika lenyap, tergantikan dengan wallpaper desktop bergambar motor sport milik Karel.
"Kok ditutup?" tanya Kalea dengan kerutan di kening.
"Ya ngapain diliatin terus kalau itu cuma bikin lo jadi minder?"
"Ih, aku nggak minder." Kilah Kalea. Tapi tentu Karel tidak percaya. Jelas sekali terlihat di mata gadis itu bahwa sekarang ia sedang merasa rendah diri. Karel yakin, di dalam kepala, Kalea kini sedang sibuk membandingkan diri dengan sosok Irina. Kalea memang suka begitu. Mudah sekali mencari kelebihan yang ada di diri orang lain, tapi sulit sekali mengapresiasi dirinya sendiri.
"Lo sama dia beda. Nggak ada gunanya membandingkan dua hal yang jelas-jelas berbeda segalanya. Dia cantik, lo juga cantik. Jadi stop bandingin diri lo sama orang lain, ata sama siapapun. Gue nggak suka." Titik. Karel tidak mau mendengar Kalea membantah ucapannya, maka ia segera menarik tangan Kalea, membawa gadis itu untuk beranjak dari sana.
"Kita mau kemana?" tanya Kalea yang pasrah saja saat Karel menuntunnya keluar dari kamar dan mulai berjalan menuruni tangga.
"Indomaret. Jajan es krim."
Kemudian tidak ada percakapan lagi. Mereka melangkah dalam diam, bahkan tidak menyahuti ketika Ibun berteriak dari dapur menanyakan kemana mereka akan pergi sore-sore begini.
__ADS_1