Serana

Serana
Teh dan Kopi


__ADS_3

Kalea tidak menyangka Gavin akan menyusulnya ke rumah. Saat ia kabur meninggalkan lelaki itu di taman tadi, ia pikir Gavin akan langsung pulang. Tapi ternyata ia salah. Lelaki itu justru kedapatan tengah duduk di ruang tengah bersama Papa ketika Kalea turun setelah mandi.


Mulanya Kalea turun untuk mengambil sebotol air dan beberapa camilan yang ia simpan di kulkas untuk dibawa ke kamar sebagai teman marathon drama Korea yang sudah beberapa hari tidak ia tonton. Tapi ia malah berakhir berdiri kaku di anak tangga terakhir saat Gavin menoleh dan menyunggingkan senyum manis madu kepadanya. Di tangannya, ada sekeping bakwan jagung yang kelihatannya menggoda selera sekali. Air liur di dalam rongga mulut Kalea seolah berebut untuk keluar saat lelaki itu membawa bakwan jagung itu ke depan mulutnya kemudian mengambil satu gigitan besar.


Ah... Mama benar-benar menyebalkan. Kenapa wanita itu harus menyediakan bakwan jagung yang notabene adalah camilan favoritnya di saat ada Gavin di sini? Apa Mama dengan sengaja menghidangkan camilan itu supaya bisa membuatnya duduk di sana bersama mereka? Karena Kalea tidak pernah bisa menolak bakwan jagung buatan Mama.


"Ngapain bengong di situ? Sini!" Mama semangat sekali saat melambaikan tangan kepadanya. Jadi karena sudah terlanjur tertangkap basah oleh Gavin, Kalea tidak punya pilihan lain selain berjalan gontai menghampiri mereka.


Kalea duduk di seberang Gavin, berdampingan dengan Mama yang sedari tadi tidak mau mengalihkan pandangan dari Gavin. Tangan Kalea bergerak mencobot sekeping bakwan jagung dari piring selagi matanya memandang Papa dan Gavin bergantian. Dua orang laki-laki itu tampak asik mengobrolkan sesuatu yang sama sekali tidak Kalea mengerti. Yang bisa Kalea simpulkan dari obrolan itu hanya satu: itu adalah obrolan tentang perusahaan yang sampai kapanpun tidak akan Kalea mengerti (karena ia memang tidak mau berusaha untuk belajar tentang bisnis dan segala macamnya).


"Bulan depan ulangan tahun perusahaan, kan?" tanya Papa setelah meletakkan kembali cangkir kopi sesudah menyesapnya sedikit.


"Iya, Om." Gavin mengangguk. Ia mencomot satu lagi bakwan dari atas piring kemudian melahapnya dengan semangat. Wah, Kalea sama sekali tidak menyangka laki-laki itu doyan juga bakwan jagung bikinan Mama.


"Biasanya ada acara perayaan, kan? Tahun ini mau bikin acara apa? Konser musik seperti biasa?" tanya Papa, tampak antusias.


"Iya, Om. Acara musik seperti tahun-tahun sebelumnya, sama nanti ada acara charity yang off cam. Biar nggak dikira pencitraan." Gavin terkekeh di akhir kalimat. Bakwan jagung yang terkahir dia ambil sudah habis dilahap.


"Hahaha dari dulu Jonathan memang nggak suka sesumbar kalau mau bikin acara begituan." Kata Papa. Kalea mengalihkan pandangan dari Gavin kepada Papa. Sejujurnya ia merasa heran karena Papa dan Mama kelihatannya tahu sekali tentang Gavin dan keluarganya. Tapi selama ini Kalea tidak pernah mendengar cerita apapun tentang mereka. Kalau bukan karena adanya agenda perjodohan ini, Kalea mungkin tidak akan pernah tahu kalau Papa dan Mama punya hubungan yang cukup dekat dengan orangtua Gavin.


Gavin hanya tersenyum menanggapi ucapan Papa. Kemudian ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Gavin bangkit dari duduknya, pamit undur diri.


Kalea sedang menyuapkan gigitan terakhir bakwan jagung ke dalam mulutnya ketika Mama menarik lengannya, menyuruhnya untuk mengantarkan Gavin ke pintu depan. Dengan mulut penuh dan gigi yang sibuk mengunyah, Kalea berjalan mendahului Gavin yang tak kuasa menahan kekehan saat melihat pipi tirus Kalea berubah jadi gembil dalam sekejap.


"Udah, sampai sini aja, nggak usah sampai gerbang depan." Kata Gavin kemudian berjalan mendahului Kalea.


Gavin berhenti, menatap Kalea yang mulutnya masih penuh dengan bakwan jagung kemudian mendaratkan tangan besarnya di kepala gadis itu. Ia mengacak rambut Kalea, membuat sang empunya mengumpat dalam hati karena perlakuannya yang tiba-tiba. Tidak ada yang pernah menyentuh kepala Kalea selain kedua orangtuanya dan Karel. Tidak ada yang berani. Tapi si Gavin ini benar-benar sudah melakukan banyak hal kepadanya untuk ukuran orang yang baru kenal sehari.


"Makan yang banyak. Saya lihat-lihat, kamu makin cantik kalau pipinya gembil." Kata Gavin.


Kalea nyaris tersedak saat tangan besar Gavin beralih mencubit pipinya.

__ADS_1


"Saya pulang, ya. Sampai jumpa lagi." Kemudian Gavin berlalu dari hadapan Kalea. Meninggalkan Kalea sendirian dengan degup jantung yang menggila.


Wah... Si Gavin ini memang benar-benar.


******


Malamnya, sekira pukul delapan, Kalea berjalan mengendap-endap menuju balkon Karel. Kali ini ia tidak terlalu bersuyah payah untuk menyeberang karena sudah tahu tekniknya. Saat kakinya berhasil menapak di lantai balkon Karel, Kalea berteriak dengan suara yang nyaring, memanggil-manggil nama Karel.


Yang dipanggil muncul tak lama kemudian. Dengan raut kesal dan rambut yang acak-acakan, Karel berjalan menghampiri Kalea yang berteriak bagai orang kesetanan.


"Apaan, sih? Lo ganggu gue lagi main game!" omelnya. Tangannya bersedekap, matanya memicing menatap Kalea yang kini justru cengengesan.


"Mau ngeteh, nggak?"


Dengan begitu saja raut kesal Karel seketika menghilang. Ajakan ngeteh yang Kalea tawarkan bukan sekadar ajakan untuk minum teh bersama di beranda rumah seperti yang orang-orang kebanyakan lakukan. Ajakan ngeteh dari Kalea berarti gadis itu sedang punya banyak hal yang ingin diceritakan dan Karel harus menyiapkan telinga. Mengapa teh? Karena Kalea tidak bisa minum kopi. Pencernaannya memburuk sejak beberapa tahun terkahir dan gadis itu memilih untuk tidak mengambil resiko dengan menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari minuman mengandung cafein itu.


”Ini soal apa?" tanya Karel sembari membuka pintu balkonnya lebih lebar, membiarkan Kalea menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Rasanya sesak saat Karel mendengar nama itu diucapkan oleh Kalea dengan begitu lancarnya. Seolah Kalea memang sudah mengenal lelaki itu sehingga tak ada lagi kecanggungan dalam menyebutkan namanya.


"Dia kenapa?"


"Kita ke dapur dulu, bikin teh sama kopi." Kalea menarik lengan Karel. Yang laki-laki menurut saja saat tubuhnya ditarik oleh yang perempuan. Kaki panjangnya begitu sabar mengikuti langkah kecil di depannya.


Malam ini rumah sepi. Ayah masih ada jadwal operasi di rumah sakit dan mungkin tidak akan pulang ke rumah, Ibun sedang pergi ke rumah Oma dan Mpok Nuriah ijin mengantarkan ibunya ke terminal, hendak pulang kampung.


Sesampainya di dapur, Kalea langsung bergerak cepat membuat secangkir teh dan secangkir kopi. Setelah dua cangkir minuman itu jadi, Kalea menoleh pada Karel yang duduk di salah satu kursi.


"Ngobrolnya mau di balkon atau halaman belakang?" tanyanya.


"Di kamar gue. Sambil nonton Netflix kan seru." Jawab Karel asal yang lantas ditanggapi dengan decakan sebal oleh Kalea.

__ADS_1


"Anak perempuan sama anak laki-laki tuh nggak boleh berduaan di dalam kamar, nanti takutnya khilaf."


"Idih, pede gila lo. Siapa juga yang doyan sama modelan kayak lo?"


"Yang namanya khilaf mah nggak ngeliat modelannya harus gimana, Karel!"


"Iya, serah deh." Karel memutuskan mengalah. Lagipula memang tidak ada faedahnya meneruskan perdebatan ini.


"Ayo!" seru Kalea yang sudah berjalan duluan ke arah tangga dan sedikit sewot saat tahu Karel masih duduk anteng di kursi.


Karel berdecak, tapi ia tetap berjalan mengikuti Kalea. Awalnya dia pikir anak itu akan mengajaknya ngobrol di balkon karena nyatanya mereka kembali melangkah menuju kamar Karel. Tapi saat sudah sampai depan pintu balkon, Kalea malah meletakkan dua cangkir yang dia bawa ke atas nakas samping ranjang. Ia lalu menggeser pintu pembatas kamar dan balkon hingga pintu kaca itu tertutup sempurna. Karel yang melihatnya praktis mengerutkan kening.


"Ini gimana sih maksudnya?" tanyanya makin bingung saat Kalea malah melompat ke atas kasur. Duduk bersila dan tangannya meraih remot tv dengan gesit. Dalam sekejap layar televisi yang semula gelap kini mulai menampakkan gambar-gambar yang bergerak.


"Katanya mau sambil nonton Netflix?" kata Kalea dengan tampang polos.


"Katanya takut khilaf!"


"Ya kan kamu bilang nggak doyan sama modelan kayak aku! Udah ah, buruan sini duduk!" Kalea menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.


Karel berjalan menuju kasur sambil menggerutu. Ia melirik sekilas ke arah komputer yang berada di sudut ruangan. Layarnya masih menyala dan dari jauh Karel bisa melihat ada banyak pop up notifikasi dari game online yang sedang ia mainkan. Notifikasi itu pasti berasal dari teman-temannya yang tadi mabar dengannya. Mereka pasti tengah protes karena Karel tiba-tiba menghilang di tengah-tengah permainan. Kalea benar-benar mengacaukan agenda mabar nya.


"Buruan, Karelllll."


"Sabar!"


Karel melompat naik ke atas kasur tepat saat televisi menayangkan drama Korea kesukaan Kalea yang sering gadis itu bicarakan akhir-akhir ini.


"Jadi, gimana?" tanya Karel.


Kalea menegakkan punggungnya. Ia mulai bercerita kepada Karel tentang kejadian-kejadian yang terjadi selama ia bersama Gavin kemarin dan pagi tadi. Malam itu di Indomaret, Kalea hanya menceritakan sebagin kecil peristiwa. Hanya sebatas identitas Gavin dan basa-basi apa yang mereka bicarakan sebagai formalitas di pertemuan pertama. Tapi malam ini, Kalea menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana Gavin memperlakukan dirinya, cara lelaki itu memuji dirinya dengan kalimat yang lain daripada orang-orang kebanyakan, hingga keputusan Kalea untuk mencoba membuka hati untuk lelaki itu.

__ADS_1


Teh dan Kopi dalam cangkir diseruput sesekali di tengah jeda yang Kalea buat, hingga akhirnya dua cangkir itu kosong bersamaan dengan cerita yang habis dibagikan. Kini, cangkir-cangkir kosong itu menjadi saksi betapa ngilunya hati Karel saat Kalea mengatakan padanya tentang kemungkinan untuk menerima perjodohan ini. Cangkir teh dan kopi itu jadi saksi, bahwa sejak malam ini, hubungan mereka mungkin tidak akan berjalan sama lagi.


__ADS_2