Serana

Serana
Langkah pertama


__ADS_3

Mungkin baru pukul setengah lima subuh saat Kalea mengerjapkan matanya pelan sembari tangannya meraba-raba tempat tidur demi mencari ponsel miliknya yang biasa ia dekap sampai terlelap. 


Dengan mata yang masih rapat bagai direkatkan dengan lem super, Kalea menatap layar ponselnya yang menampakkan pop up notifikasi dari sebuah nama yang masih asing.


Gavin 


Begitulah nama itu terpampang di layar ponselnya. Ini hari minggu, kalau Kalea tidak salah ingat. Jadi agak aneh mendapati laki-laki itu mengiriminya pesan subuh-subuh begini. Bukankah hari minggu adalah hari wajib bagi semua orang untuk bangun siang? Oh, atau hanya Kalea dan Karel saja yang begini?


Butuh setidaknya sepuluh detik sampai Kalea berhasil mengumpulkan kembali seluruh nyawanya yang berkeliaran ke sana kemari. Ia mendudukkan diri, menyandarkan punggung dalam posisi nyaman kemudian mulai membuka pesan yang ia terima.


Total ada tiga pesan dari orang sama.  Yang pertama hanya sesingkat ucapan selamat pagi. Yang ke-dua basa-basi mainstream tentang apakah tidurnya semalam nyenyak atau tidak. Sampai pesan yang ke-dua, Kalea masih tidak merasakan apa-apa. Ia pikir kalimat semacam ini sudah biasa sekali untuk digunakan sebagai langkah awal dalam proses pendekatan. Namun saat ia membaca pesan yang ke-tiga, Kalea terpaksa menahan napas.


Begini bunyi pesannya : Kata Mama, kamu jarang olahraga. Jadi mumpung ini hari minggu dan saya lagi nggak ada schedule lain, gimana kalau kita jogging bareng? Oh ya, karena saya tahu kamu nggak suka olahraga, saya pikir kamu mungkin nggak punya sepatu khusus lari. Jadi saya ada kirim sepatu khusus lari untuk kamu, warnanya biru muda, warna kesukaan kamu. Ada setelah olahraga juga, dua pasang, warna putih dan hitam. Saya tunggu kabar baiknya, ya, Kalea... See you.


Demi Neptunus! Laki-laki semacam Gavin ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantung para perempuan yang love languange-nya act of service. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak basa-basi, bahkan tanpa banyak bertanya ini itu, Gavin gercep sekali mencaritahu soal Kalea. Dan mencaritahunya langsung ke sumber yang terpercaya. Mama!


Kalea pikir laki-laki semacam ini cuma ada di novel-novel percintaan yang dulu sempat ia baca sewaktu remaja--sebelum ia beralih ke genre thriller karena lebih menantang dan membuatnya berdebar. Ternyata, laki-laki yang mirirp karakter utama novel romantis itu betulan ada. Gavin salah satunya. 


Well, Karel juga memperlakukannya seperti ini, sih. Sahabatnya itu juga selalu bertindak sat set untuk menyenangkan dirinya. Hanya saja, Karel itu berisik. Banyak bicara dan tingkahnya terlalu absurd untuk bisa dikategorikan ke dalam salah satu peran utama pria dalam novel romansa.

__ADS_1


Kembali pada pesan yang Gavin kirimkan. Kalea terdiam cukup lama sebelum jemarinya bergerak impulsif mengetikkan beberapa kata yang akhirnya ia hapus lagi. Hal itu berulang beberapa kali. Sampai saat ia hendak menuliskan balasan yang sudah ia pikirkan baik-baik, niatnya urung karena ponselnya tiba-tiba berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.


Gavin meneleponnya. Padahal Kalea tidak melihat tanda online di room chat lelaki itu. Kalea sempat terkejut, tapi beruntung ia bisa mengendalikan perasaannya sebelum menggeser layar ke kanan untuk menerima panggilan.


"Halo?" Yang laki-laki menyapa dari seberang. Suaranya berat dan terdengar sedikit serak. Seksi. Satu kata itu sempat hinggap di kepala Kalea sebelum akhirnya ditendang keluar begitu saja sebelum memancing kata-kata aneh lain untuk ikut berdatangan.


"Iya, Gavin. Kenapa?"


"Udah baca pesan saya?"


"Baru saya baca."


"Jadi, gimana?"


"Mau?"


"Iya, mau." 


"Oke. Orang suruhan saya lagi on the way ke situ. Tunggu, ya."

__ADS_1


"Iya."


"See you, Kalea." 


Panggilan terputus. Kalea masih tidak bisa mengatur degup jantungnya bahkan setelah bermenit-menit kemudian. Barulah saat pintu kamarnya diketuk, kesadarannya seolah ditarik kembali. 


Kalea turun dari ranjang, sedikit sempoyongan dan tangannya agak bergetar saat bergerak memutar kenop pintu. Di depan pintu, Bi Imah (asisten rumah tangga) beridiri dengan satu kotak sepatu di tangan kanan dan dua paper bag di tangan kiri. Wanita paruh baya itu tampak kesusahan membawa benda-benda itu. Maka dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang tinggi, Kalea segera meraih bawaan itu dari tangan Bi Imah. Bukan, Kalea bukan sedang bersemangat untuk memeriksa isi di dalam kotak dan juga paper bag ini. Toh dia sudah tahu apa isinya. Sekali lagi ia melakukannya karena tidak tega melihat Bi Imah kesusahan. Tolong percaya itu.


"Makasih, Bi." Katanya bahkan sebelum Bi Imah membuka mulut. Setelahnya pintu ditutup begitu saja. Kalea tentu tidak tahu bagaimana ekspresi kebingungan yang nampak di wajah Bi Imah setelah pintu di depannya tertutup begitu saja.


"Ai si eneng teh kenapa?" Gumam Bi Imah sembari garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.


Di dalam kamar, Kalea memandangi kotak sepatu yang ia letakkan di atas kasur untuk beberapa lama. Ia kemudian duduk kembali di kasur, membuka kotak sepatu di hadapan hanya untuk dibuat terpana dengan warna sepatu yang begitu cantik dan menyegarkan mata. Warnanya didominasi biru muda dengan selingan warna putih di bagian tali dan juga sol bagian pinggir. Itu merupakan sepatu brand lokal yang beberapa kali Kalea temui saat berselancar di marketplace untuk berbelanja online.


Tadi saat Gavin bilang akan mengiriminya sepatu lari, Kalea pikir lelaki itu akan mengiriminya sepatu merk terkenal semacam Nike atau Adidas. Ternyata yang datang malah sepatu brand lokal yang namanya mungkin masih asing telinga orang-orang. Apakah Kalea kecewa? Tentu tidak! Ia justru merasa senang karena rupanya Gavin tidak hanya mementingkan gengsi. Kalea akui merk-merk terkenal yang sering dibeli orang-orang sebagai ajang pamer dan tempat membuktikan status sosial itu memang memiliki kualitas yang bagus(sebanding dengan harganya yang tidak murah) tapi brand lokal seperti ini juga tidak kalah bagus kualitasnya, dan Kalea senang Gavin bersedia membelinya. Hitung-hitung membantu usaha anak dalam negeri, benar?


Kekaguman Kalea tak berhenti sampai di sepatu saja. Dua setelan olahraga yang Gavin kirimkan juga ternyata milik brand lokal yang sudah Kalea beli beberapa kali (walau yang ia beli bukan setelan olahraga melainkan kaus oversize dan beberapa sweater). 


Tapi lebih dari itu, Kalea paling dibuat tersentuh dengan sebuah post it yang yang menempel di salah satu paper bag. Di post it berwarna biru muda itu tertulis : semoga kamu suka :) yang membuat Kalea senyum-senyum sendiri bak orang gila. Tiga kata itu aja sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang, apalagi ditambah emot senyum sebagai akhiran. Ugh! Kalea tidak tahan. Gavin benar-benar manis.

__ADS_1


Belum hilang senyum di wajahnya, ia kembali dibuat salah tingkah oleh pesan yang baru saja dikirimkan oleh Gavin. Isinya begini: I'll be there in 30 minutes. But if you need more than 30 mins, don't worry, I can wait."


30 menit. Harusnya waktu segitu cukup untuk Kalea bersiap-siap. Tapi dia jadi membuang banyak waktu karena terlalu sibuk berguling-guling di kasur. Ah... Entah kemana hilangnya Kalea yang terkenal galak dan judes itu. Karena sekarang yang ada di dalam kamar ini hanyalah seorang gadis berusia 25 tahun yang kelakuannya mirip remaja baru puber. 


__ADS_2