Serana

Serana
Enemy


__ADS_3

Di kantor, Gavin sudah menghabiskan tenaga untuk marah-marah sejak pagi. Ada beberapa project yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal dan dia terpaksa melayangkan protes pada karyawan-karyawan di divisi terkait. Padahal project itu merupakan salah satu langkah untuk membawa stasiun televisi milik mereka semakin berkembang dan tidak terlalu terbawa arus dengan stasiun televisi yang lain. Gavin selalu ingin statiun televisi mereka mempertahankan ciri khasnya.


"Saya nggak mau undang orang-orang bodoh ini untuk tampil di acara kita." Ucapnya tegas pada seorang karyawan perempuan yang merupakan perwakilan dari tim kreatif.


Adhisty, karyawan perempuan berseragam serba hitam dengan logo stasiun televisi di bagian saku bajunya itu menatap Gavin sejenak kemudian menghela napas berat. "Tapi seluruh tim sudah menyiapkan semuanya, Pak. Bintang tamu sudah dihubungi dan kita sudah sepakat mengenai fee yang akan kita berikan." Kata Adhisty masih berusaha untuk bernegosiasi dengan atasannya itu.


"Saya bilang nggak ya nggak, Dhis." Tegas Gavin. "Saya nggak mau citra stasiun televisi kita jadi jelek cuma karena mengundang orang-orang bodoh seperti mereka." Gavin menunjuk layar tablet yang Adhisty serahkan. Di layar itu tampak sepasang suami istri yang sedang menjadi perbincangan hangat netizen karena kelakuan mereka yang terbilang absurd dan menyebalkan.


Gavin tahu stasiun televisi lain memang sedang berlomba-lomba untuk mendatangkan mereka sebagai bintang tamu. Karena memang jaman sekarang stasiun televisi hanya mementingkan rating dengan mengundang orang-orang yang sedang viral tanpa peduli pada nilai moral apa yang bisa mereka suguhkan kepada masyarakat.


Sebagai seseorang yang mencetuskan slogan mendidik melalui siaran televisi, Gavin tentu tidak mau stasiun televisi milik keluarganya ini terbawa arus dan menghilangkan identitasnya hanya demi meraup keuntungan yang tidak seberapa.


"Batalkan, Dhis. Toh saya nggak akan tandatangani berkas persetujuannya." Gavin tetap teguh pada pendiriannya.


"Tapi, Pak-"


"Batalkan, atau kontrak kerja kamu di perusahaan ini yang saya batalkan." Ancam Gavin sembari menatap tajam ke arah Adhisty.


Dihadapkan pada pilihan tersebut, Adhisty tentu kebingungan. Dua-duanya sama-sama berat. Membatalkan sebuah acara yang sudah dirancang sedemikian rupa dan melibatkan kerja keras banyak pihak bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tetapi Adhisty juga tidak mau mempertaruhkan pekerjaannya sendiri.


Jadi, Adhisty segera membereskan berkas-berkas pengajuan yang berserak di meja Gavin dan langsung membawanya pergi meninggalkan ruangan Gavin.

__ADS_1


Selepas kepergian Adhisty, Gavin mengempaskan punggungnya ke kursi dan mulai memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berat dan nyaris akan meledak. Baru ditinggal beberapa hari saja karyawan di bawah kepemimpinannya sudah bertindak semaunya sendiri. Bagaimana kalau nanti Gavin betulan didepak dari perusahaan dan tidak punya lagi wewenang untuk tetap mempertahankan prinsip yang telah diterapkan di perusahaan ini?


Belum selesai kemelut itu menyelimuti hati dan kepala Gavin, pintu di ruang kerjanya kembali diketuk. Tak lama setelahnya muncul sosok perempuan berambut pendek sebahu dengan pakaian kasual berjalan ke arahnya sembari mengulaskan senyum manis madu.


"Hai, Vin." Sapa perempuan itu.


Gavin tidak membalas senyum perempuan itu karena dia tahu senyum itu hanyalah senyum palsu yang sudah biasa dilayangkan kepadanya. Gavin menegakkan badan, menatap perempuan di hadapannya itu tanpa minat sembari menunggu hal apa lagi yang akan perempuan itu katakan selanjutnya.


"Gue cuma mau kasih hadiah pernikahan untuk lo. Sorry karena gue nggak bisa datang di hari pernikahan lo, you know i'm bussy, right?" kata perempuan itu sembari meletakkan sebuah amplop berwarna putih ke meja kerja Gavin.


Gavin cuma melirik amplop itu tanpa minat. Kemudian kembali menatap datar ke arah perempuan itu. "Makasih niat baiknya, tapi gue nggak butuh apa pun dari lo."


Seharusnya perempuan di hadapannya ini merasa tersinggung dengan apa yang Gavin katakan. Tetapi alih-alih marah dan mengamuk, perempuan itu malah tertawa terbahak-bahak, membuat Gavin semakin muak dengan sikapnya yang benar-benar persis Medusa si ratu ular.


Claretta adalah sepupu Gavin, putri ke-dua dari Om Arya yang selama ini membencinya. Hubungan Gavin dan Claretta memang tidak pernah akur bahkan sejak mereka masih balita dan fakta tentang asal-usul Gavin belum terungkap kepada seluruh anggota keluarga.


"Gue nggak pernah minta untuk diterima sebagai anggota keluarga Cakraditya." Kata Gavin dengan emosi yang mulai perlahan naik. Ia selalu menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif ketika seseorang menyinggung tentang keluarga Cakraditya dan statusnya yang tidak jelas.


"Oh, ya?" tanya Claretta dengan senyum mengejek. "Tapi lo menikah dengan putri tunggal keluarga Pradipta. Bukankah itu merupakan salah satu usaha lo untuk mempertahankan posisi lo di keluarga Cakraditya?" sindir Claretta yang berhasil membuat Gavin mengeraskan otot-otot di sekitar lehernya.


"Gue menikahi Kalea karena gue mau."

__ADS_1


"Munafik." Tukas Claretta. Senyum menyindirnya sudah hilang. Tatapan matanya kini menusuk tajam tepat ke manik kelam Gavin. "Kita semua tahu gimana tamak dan bajingannya lo dan bokap lo itu."


"Kesalahan yang Papa perbuat itu sama sekali bukan tanggungjawab gue." Ketus Gavin. Sebenarnya, butuh waktu bertahun-tahun untuk membawanya pada titik ini. Dulu, setiap ia mendengar kalimat menyakitkan apa pun dari Claretta dan Om Arya, Gavin hanya akan menerimanya dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Tapi sekarang, dia menjadi lebih berani untuk melawan karena ada dua perempuan yang harus dia lindungi.


"Dasar nggak tahu diri." Ejek Claretta lagi. "Lo harusnya nggak datang ke dalam hidup Tante Mutiara, anak haram." Claretta sengaja menekankan kata anak haram untuk menyulut emosi Gavin.


Dan itu berhasil.


Gavin mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dan gigi-giginya mulai bergemeletuk di dalam rongga mulutnya. Ada begitu banyak kalimat yang ingin ia muntahkan tepat di depan wajah Claretta. Namun tiba-tiba saja ia kehilangan keberanian saat Claretta kembali membuka mulut dan menyebutkan satu nama yang tidak pernah Gavin duga.


"Irina." Kata Claretta. Perempuan itu menatap Gavin lekat untuk memeriksa perubahan ekspresi di wajahnya. Kemudian senyum meremehkan terbit saat ia menemukan wajah Gavin berubah tegang dan perlahan-lahan menjadi pucat.


"Kira-kira, apa yang akan terjadi kalau istri lo tahu soal Irina?"


"Jangan sentuh Kalea!" Gavin mengatakan itu dengan bibir yang nyaris terkatup rapat. Ia menatap tajam ke arah Claretta. Bertanya-tanya dari mana perempuan itu tahu tentang Irina dan mulai curiga kalau jangan-jangan Claretta lah yang menjadi dalang dari semua teror yang menimpa Irina sekaligus pelaku pengirim hadiah kepada Kalea waktu itu.


"Wow... santai aja dong, Vin." Claretta tertawa puas melihat respon Gavin. Tadinya dia pikir Gavin akan menyuruhnya untuk tidak menganggu Irina. Tapi apa? Laki-laki itu justru menyuruhnya untuk tidak menggangu Kalea? Apakah Gavin benar-benar telah jatuh cinta pada perempuan yang dinikahi hanya untuk mempertahankan posisinya di keluarga Cakraditya itu?


Kalau benar, maka ini adalah berita menarik yang harus segera dia bagikan kepada ayahnya. Siapa tahu saja, dengan berbekal fakta ini, mereka bisa mencari jalan yang lebih baik untuk menyingkirkan Gavin dari posisinya.


Maka, setelah puas tertawa, Claretta melenggang pergi meninggalkan ruangan Gavin. Tidak dibawanya kembali amplop yang tadi dia bawa. Sungguh Claretta tidak peduli akan Gavin apakan amplop itu.

__ADS_1


Sementara itu, di kursinya, Gavin mulai digerayangi perasaan was-was yang tak terkira. Bagaimana kalau Claretta dan Om Arya berbuat macam-macam kepada Kalea dan Irina?


Bersambung


__ADS_2