Serana

Serana
Terpisah


__ADS_3

Gavin segera menyusul Kalea ke dalam kamar. Begitu pintu dibuka, dia menemukan perempuan itu sudah terbaring dengan posisi memunggungi pintu, membiarkan selimut tebal membalut tubuhnya sampai ke batas bahu, padahal pendingin ruangan sama sekali belum dinyalakan.


"Kal?" panggilnya setelah mendudukkan diri di tepi ranjang.


Kalea tidak menyahut. Tapi Gavin jelas tahu kalau perempuan itu belum tidur. Maka, Gavin naik ke atas ranjang, bergerak cepat membalikkan badan sang istri. Hanya untuk dibuat membeku di tempat saat menemukan wajah Kalea sudah basah oleh air mata. Perempuan itu menangis, entah karena apa.


"Hei, kemau kenapa?" Gavin menangkup pipi Kalea, berusaha mengusap air mata di pipi perempuan itu tetapi sia-sia saja karena air mata Kalea masih terus mengalir, deras, bagaikan keran yang rusak.


"Kal, can you tell me what's happened to you? Supaya saya bisa bantu," lirih Gavin. Berusaha membuat Kalea bicara walaupun sepertinya akan sangat sulit.


"Nggak mau cerita sama saya? Terus, kamu mau cerita ke siapa? Mama? Karel? Mau saya panggilkan mereka?" cerocos Gavin yang sudah terlanjur panik. Pikirnya, tidak apa-apa kalau bukan dia yang jadi orang pertama untuk Kalea ajak cerita tentang masalahnya kali ini, asalkan perempuan itu bisa mencurahkan isi hatinya dengan bebas dan tangisnya bisa segera berhenti.


Namun Kalea malah menahan tangannya ketika dia hendak bangkit. Tiba-tiba saja, perempuan itu bangkit dan menghambur ke dalam pelukannya, membuatnya semakin membeku karena pelukan yang perempuan itu berikan kali ini terasa lain.


"Can you just leave me alone, Gavin? Aku mau sendiri dulu." Bisik Kalea dari dalam pelukannya.


Setelah mengatakan itu, Kalea menarik diri dari dalam pelukannya. Dengan wajah yang basah dan mata yang memerah, Kalea mendongak, menatapnya lekat-lekat.


"Boleh nggak kamu biarin aku tidur sendiri malam ini?"


Membiarkan Kalea tidur sendiri di saat kondisinya sedang seperti ini? Gavin pasti sudah gila kalau dia mengiyakan permintaan perempuan itu. Jadi, dia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Saya nggak bisa ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini," ucapnya. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, lalu kembali menyentuh pipi Kalea dan sekali lagi berusaha menghapus air matanya. "Kalau kamu nggak mau saya dekat-dekat sama kamu dulu, it's okay, saya bisa jaga jarak kayak dulu lagi. Tapi saya nggak bisa keluar dari ruangan ini, karena saya khawatir sama kondisi kamu." Lanjutnya, berharap Kalea mau mengerti kalau dia tidak bisa meninggal perempuan itu sendirian.


Gavin tidak menunggu sampai Kalea menjawab, dia langsung turun dari kasur dan berjalan menuju sofa panjang yang terletak di pojok kamar dekat balkon.


"Saya bisa tidur di sini," ucapnya.

__ADS_1


Kalea tidak memberikan tanggapan apa-apa. Lalu dia kembali membaringkan dirinya, kali ini menghadap ke arah pintu, membelakangi Gavin yang kembali sibuk menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya.


...****************...


Sampai beberapa hari setelah hari itu, Kalea masih enggan membuka mulutnya. Selama bermalam-malam Gavin juga harus rela tidur di sofa karena Kalea masih enggan untuk tidur bersama. Bukan cuma tidur bersama, Gavin juga menyadari kalau Kalea mulai menarik garis batas yang kentara. Perempuan itu beberapa kali menolak kontak fisik dengannya, bahkan untuk yang paling sederhana sekalipun, seperti saat dia mengulurkan tangan dengan niat untuk membantu perempuan itu turun dari mobil.


Gavin mengembuskan napas keras-keras. Ini hari minggu, yang dia pikir bisa dia gunakan untuk mengajak Kalea mengobrol dan bertanya tentang apa yang terjadi pada perempuan itu selama beberapa hari ini.


Tapi nyatanya, dia malah harus dipaksa menelan kecewa karena Kalea justru asik dengan Karel dan Mumu bahkan sejak perempuan itu pertama kali membuka mata.


"Mas, Bibi ijin masuk kamar, ya, mau ambil baju-baju kotor buat dicuci."


Gavin menoleh ke arah Bi Imah yang muncul dari balik pintu dapur. Dia berpikir sejenak, kemudian menggelengkan kepala pelan.


"Saya aja yang cuci, Bi."


"Loh, jangan, Mas. Kan, sudah tugas saya." Kata Bi Imah tidak enak.


Akhirnya, Bi Imah mengalah. Wanita itu kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


Gavin melirik sekilas ke arah Kalea dan Karel yang masih asik bermain di ruang tengah, kemudian dia bergegas naik ke kamar mereka.


Gavin berjalan menuju keranjang pakaian kotor di pojok dekat pintu kamar mandi, kemudian mengeluarkan baju-baju dari sana untuk dia periksa saru persatu sebelum dibawa ke bawah untuk dicuci. Sekadar memastikan tidak ada benda apapun yang tertinggal di saku.


Sampai ke beberapa potong baju miliknya dan Kalea, masih aman. Gavin tidak menemukan apa-apa ketika merogoh kantong. Tetapi saat sampai pada pakaian yang Kalea kenakan malam ketika perempuan itu mulai menjaga jarak, Gavin menemukan sebuah benda yang mencurigakan.


Gavin membawa benda kecil itu ke depan wajahnya, memperhatikannya dengan saksama. Itu adalah sebuah flashdisk, yang sepertinya isi di dalam benda itu lah yang telah membuat Kalea menangis malam itu. Mengingat perempuan itu menangis setelah keluar dari ruang kerja Papa.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Gavin melemparkan pakaian Kalea ke sembarang arah lalu bergegas menuju ke ruang kerja Papa dengan membawa serta flashdisk tersebut.


Setelah mendudukkan diri di kursi dan menyalakan laptop, Gavin segera menancapkan flashdisk ke slot untuk memeriksa apa isi di dalamnya.


Baru saja laptop selesai membaca data dan menampilkan semua isi di dalam flashdisk itu ke hadapannya, Gavin sudah dibuat menahan napas. Sebab, tanpa memutar satu persatu video yang ada di sana sekalipun, dia sudah tahu kalau video-video itu berisi momen kebersamaanya dengan Irina. Dan kalau benar Kalea telah menontonnya, maka wajar jika sikap perempuan itu tiba-tiba berubah.


Sekarang, Gavin punya satu pertanyaan yang begitu mengganggu di kepalanya. Siapa? Bajingan mana yang sudah mengirimkan file ini kepada Kalea, dan membuat perempuan itu mengetahui kebenarannya, padahal sedikit lagi dia akan menyelesaikan semuanya?


Kenapa? Padahal tinggal sedikit lagi dia bisa menjalani kehidupan yang normal bersama Kalea. Tapi kenapa bencana ini harus datang?


Tidak mau membuang waktu untuk menerka-nerka, Gavin segera mencabut flashdisk itu kemudian berlarian tunggang-langgang keluar dari ruang kerja Papa.


Gavin menuruni tangga dengan tergesa, dan ketika dia sampai di ruang tengah, sudah ada Mama dan Papa yang bergabung dengan Karel dan Kalea.


"Nggak mau nginep semalam lagi, Kal?"


Gavin melirik Mama yang duduk di sebelah Kalea, kebingungan karena pertanyaan yang wanita itu lontarkan barusan.


"Iya, kan Gavin bisa pakai ruang kerja Papa. Selama beberapa hari ini juga begitu, kan?" sahut Papa.


Gavin semakin tidak mengerti situasinya. Saat dia mengalihkan pandangan ke arah Karel untuk meminta penjelasan, pemuda itu juga hanya mengendikkan bahunya tanda bahwa dia juga tidak mengerti.


"Nggak bisa. Kerjaan Gavin banyak, dan ada beberapa berkasnya yang ketinggalan di rumah. Lagian, pasti lebih nyaman kalau Gavin bisa kerjain pekerjaannya di ruang kerjanya sendiri."


Gavin beralih menatap Kalea, yang kebetulan menoleh ke arahnya. "Iya, kan, Gavin?" tanya perempuan itu dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.


Tidak menunggu jawabannya keluar, Kalea bangkit dari sofa. "Kalea mau beres-beres dulu, rencananya kita mau pulang sebelum maghrib." Kemudian perempuan itu berjalan melewatinya begitu saja dan naik ke lantai dua.

__ADS_1


Sementara Gavin, dibuat tergugu mendapati tatapan semua orang yang di sana tertuju lurus ke arahnya.


Bersambung


__ADS_2