Serana

Serana
Whenever It Hurts You, Please Let Me Know


__ADS_3

Kalea meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya yang terasa keram. Tadinya, ia pikir rasa sakit ini akan segera hilang setelah ia merebahkan diri dan diam tidak melakukan apa-apa. Tapi ternyata dugaannya salah. Seluruh tubuhnya justru terasa sakit, kepalanya pusing dan perutnya terasa seperti diremat-remat hingga menimbulkan perasaan tidak nyaman. Belum lagi rasa nyeri yang menyerang bagian bawah tubuhnya. Hari pertama datang bulan memang selalu berat, tapi Kalea tidak menyangka jika kali ini rasa sakitnya akan berkali-kali lipat lebih parah ketimbang bulan-bulan sebelumnya.


Kalea memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya demi menahan agar tidak meloloskan rintihan yang menyedihkan. Tadi, Gavin bilang akan segera pulang. Tapi sampai sekarang, lima belas menit setelah sambungan telepon terputus, lelaki itu masih belum menampakkan batang hidungnya.


Di saat-saat seperti ini, Kalea jadi merindukan Karel. Karena di balik sikap tengil dan menyebalkan yang kerap kali Karel tunjukkan, bocah tengik itu tetap menjadi orang pertama yang akan sigap membantu saat tamu bulanan ini datang menyiksa. Setiap kali Kalea mengeluh perutnya terasa tidak nyaman, Karel akan secepat kilat membawakan berbagai macam obat untuknya, mulai dari yang herbal sampai obat-obatan kimia yang harus dibeli dengan resep dokter. Selain obat, Karel juga akan menghujaninya dengan berbagai makanan manis demi membantu memperbaiki mood nya yang kacau. Sempat terbersit dalam benak Kalea untuk menelepon Karel karena ia yakin lelaki itu akan berlari menemuinya segera. Tetapi, Kalea tidak melakukannya. Karena biar bagaimanapun, ia telah menjadi istri Gavin. Kalea tidak ingin menyinggung perasaan Gavin jika ia lebih memilih untuk meminta bantuan kepada laki-laki lain ketimbang suaminya sendiri.


Di tengah rasa sakit yang semakin menjadi dan kepasrahan Kalea dalam menghadapinya, pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Gavin yang datang dengan raut wajah panik. Melihat napasnya yang ngos-ngosan, Kalea yakin lelaki itu pasti berlarian dari lantai bawah. Di tangan Gavin ada satu kantung kresek Indomaret yang entah apa isinya dan lelaki itu langsung menaruhnya di atas nakas kemudian buru-buru menghampiri Kalea yang menatapnya sayu. Wajahnya pucat pasi, bibirnya terlihat kering dan ada genangan air di pelupuk mata perempuan itu.


"Mana aja yang sakit, hmm?" Gavin yang sudah duduk di tepian kasur mengulurkan tangan, menyentuh dahi Kalea untuk memerika apakah perempuan itu juga demam.


"Perutnya, kepala, semuanya. Semuanya sakit, Gavin." Adu Kalea. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah juga. Kalea tidak lagi berusaha menahan rintihannya, apalagi saat Gavin menyentuh perut bagian bawahnya.


"Di bagian sini?" tanya Gavin.


Hanya sebuah anggukan yang bisa Kalea berikan. Karena demi Tuhan, rasa sakitnya sudah tidak bisa lagi ditahan.


Tadinya Kalea pikir Gavin akan mengusap-usap perutnya seperti yang biasa Karel lakukan. Namun ternyata lelaki itu justru bangkit dan berlarian keluar dari kamar. Untuk kembali tak lama kemudian sambil membawa botol kaca kecil dan sebuah handuk muka.


Kalea tidak tahu apa fungsi kedua benda itu, jadi dia hanya diam sambil memerhatikan apa yang akan Gavin lakukan selanjutnya.


"Sorry, boleh saya buka sedikit baju kamu?"

__ADS_1


Kalea agak terkejut saat Gavin menanyakan itu. Buka baju? Untuk apa? Tapi kemudian ia tidak punya pilihan selain menganggukkan kepala. Bukankah Gavin bilang hanya buka sedikit?


Tanpa menunggu lama, setelah mendapatkan ijin dari Kalea, Gavin kembali mendudukkan diri di tepi ranjang. Disingkapnya kaus yang Kalea kenakan sedikit, hingga menampakkan perut rata Kalea yang baru pertama kali Gavin lihat. Tidak ada pikiran buruk apapun yang terlintas di kepala Gavin ketika telapak tangannya bersentuhan denga kulit perut Kalea ketika ia kembali bertanya, "Di sini, kan?"


Setelah Kalea menganggukkan kepala, Gavin membungkus botol kaca berisi air panas yang tadi ia bawa menggunakan handuk. Kemudian ia gunakan untuk mengompres perut Kalea. Mulanya hanya dibiarkan saja terdiam di titik di mana rasa sakitnya berada. Lalu Gavin mulai menggulirkan botol itu ke atas dan ke bawah dengan pelan sambil memerhatikan ekspresi wajah Kalea, takut-takut kalau pergerakannya akan semakin menyakiti perempuan itu.


Selagi satu tangannya masih menggerakkan botol di perut Kalea, satu tangan Gavin yang lain bergerak mengusap keringat yang mulai membasahi wajah Kalea. Dengan telaten Gavin mengusap bulir-bulir keringat itu agar tidak ada setetes pun yang merembes masuk ke mata Kalea agar perempuan itu tidak merasakan perih.


"Setiap bulan selalu separah ini sakitnya?" tanya Gavin di sela-sela kegiatannya.


Kalea hanya menggeleng pelan. Perutnya memang suka terasa sakit dan kembung dari hari pertama sampai ke-tiga datang bukan. Tapi biasanya tidak sesakit ini. Kalea selalu bisa menahannya dan rasa sakit itu tidak akan terlalu menganggu aktivitasnya, hanya sedikit membuatnya merasa tidak nyaman saja. Namun kali ini, entah mengapa rasa sakit itu terasa begitu menyiksa.


"Saya udah beli obat pereda nyeri yang kamu minta. Kalau setelah ini memang sakitnya nggak tertahan, kamu boleh minum. Tapi kalau masih bisa tahan, jangan diminum, ya. Kasihan ginjal kamu kalau terlalu banyak konsumsi obat-obatan." Seolah tidak merasa lelah, Gavin masih terus menggerakkan tangannya.


"Masih sakit nggak? Kalau masih, biar saya ganti airnya dengan yang baru terus saya kompres lagi." Gavin sudah hendak bangkit dari duduknya, namun Kalea dengan cepat menahan lengannya.


"Udah mendingan kok." Kata Kalea dengan suara pelan. Walau keadaan perutnya sudah jauh lebih baik, tapi tenaganya yang terkuras demi menahan sakit ini sedari tadi belum sepenuhnya pulih. Rasanya seperti energinya telah diserap habis dan ia menjadi tidak berdaya. "Makasih, ya." Lanjutnya, memaksakan seulas senyum agar Gavin berhenti melayangkan tatapan khawatir.


"Kamu yakin?"


"Iya, Gavin."

__ADS_1


Gavin menghela napas pelan. Lalu diletakkannya botol dan handuk ke atas nakas kemudian meraih kantung kresek Indomaret yang ia tinggalkan di sana sebelumnya. Di dalam plastik itu ada banyak makanan manis. Mulai dari berbagai jenis cokelat, es krim, cookies sampai beberapa kue basah yang ia beli dari toko di seberang Indomaret yang ia kunjungi. Pilihannya kemudian jatuh kepada satu bungkus cokelat dengan taburan kacang almond. Dengan cekatan Gavin membuka bungkus cokelat itu dan menyodorkannya kepada Kalea.


"Saya nggak terlalu suka makanan manis, jadi saya nggak tahu merk cokelat mana yang kamu suka. But, I hope you like this one."


"Makasih." Kalea menerima cokelat itu. Tapi ia tidak kunjung mengambil potongan dan membawanya ke depan mulut sehingga membuat Gavin mengerutkan kening kebingungan.


"Kenapa? Kamu nggak suka merk yang ini? Mau yang lain? Tadi saya beli beberapa merk." Gavin sudah sibuk mengubek-ubek isi jantung plastik di pangkuannya, namun gerakannya terhenti saat Kalea menyentuh tangannya.


Gavin mengangkat pandangan hingga tatapan mereka bertemu. Ada segaris senyum yang terbit menghiasi wajah Kalea yang pucat. Perempuan itu jelas berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan hal itu justru membuat Gavin semakin merasa khawatir.


"Gavin?" panggil Kalea pelan.


"Hmm?"


"Boleh minta peluk, nggak?"


"Sure." Gavin segera menyingkirkan semua benda yang ada di pangkuannya kemudian bergerak mendekat ke arah Kalea. Ia raih tubuh kecil Kalea dan memeluknya erat. Memberikan usapan pelan di punggung perempuan itu berharap apa yang ia lakukan bisa membantu Kalea merasa lebih nyaman.


"Kal, can you promise me something?" tanya Gavin pelan.


"Apa?"

__ADS_1


"Whenever It Hurts You, Please Let Me Know. Apapun itu, kalau ada yang menyakiti kamu, tolong bilang sama aku."


Ada keterdiaman yang cukup lama sebelum Kalea berkata, "I will." Kemudian lengannya memeluk pinggang Gavin semakin erat.


__ADS_2