Serana

Serana
Berjarak


__ADS_3

Hari berikutnya ketika Mama dan Papa akhirnya kembali dari perjalanan bisnis, Kalea sudah sepenuhnya berhasil mengendalikan diri. Dia tidak lagi mengingat kejadian buruk yang menimpanya di hari lalu sebanyak sebelumnya. Ketakutannya masih ada, tapi Kalea berhasil meredamnya dan tubuhnya tidak lagi bergetar saat ingatan itu kembali menyapa. Kalea sudah meminta tolong pada Bi Imah untuk merahasiakan semuanya dari orangtuanya dan wanita itu menyetujui.


Gavin juga menepati ucapannya untuk tidak menganggunya dan memaksanya untuk bicara sebelum keadaannya benar-benar baik. Lelaki itu benar-benar menghilang dari jangkauannya, tidak berusaha menghubunginya walau beberapa kali Kalea dengar dari Papa kalau lelaki itu sempat bertandang ke kantor Papa.


Dan hari ini adalah hari ke-empat setelah kejadian malam itu, Kalea benar-benar yakin dia sudah baik-baik saja.


Tapi, ada masalah lain yang membuat Kalea lebih ketakutan. Soal Karel. Lelaki itu benar-benar membatasi diri seperti yang sudah dia katakan sebelumnya. Bahkan saat mereka berpapasan di depan gerbang pagi tadi, lelaki itu sama sekali tak menyapanya. Karel hanya menyapa Mama sekilas, menyunggingkan senyum palsu kemudian langsung melajukan mobilnya tanpa menoleh sedikitpun padanya. 


Apa yang salah? Kalea terus mengulangi pertanyaan itu di dalam kepalanya, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Dia tidak tahu mengapa Karel menarik diri sejauh itu, padahal semua orang terdekat mereka tahu bagaimana Karel tidak bisa hidup tanpa Kalea, begitu pula sebaliknya. Kalau ini soal permintaan Kalea kepada Karel untuk tidak membenci Gavin, mengapa lelaki itu harus bersikap sejauh ini? Bukankah cukup bagi Karel untuk tidak melibatkan diri dalam segala urusan yang berkaitan dengan Gavin? Kenapa lelaki itu justru menarik diri dari semua hal tentang Kalea? Apa pertemanan mereka memang akan berakhir sampai sini saja?


Tidak. Kalea tidak akan rela. Belasan tahun tumbuh bersama dan selama itu pula Kalea cuma punya Karel di sampingnya. Kalau laki-laki itu pergi, bagaimana Kaela akan melanjutkan hidupnya?


Maka dengan menurunkan segala gengsi, Kalea berjalan keluar dari kamar. Pukul setengah delapan malam, hari Jumat, Kalea yakin Karel sedang berkutat dengan perangkat komputer di kamar, memasang headphone untuk menyumpal telinga dan mulut lemesnya pasti sudah mengucapkan ratusan kalimat umpatan sejak game yang ia mainkan dimulai.


Tapi saat kaki kecilnya sampai di tembok pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu, langkahnya praktis terhenti. Di sana, di sofa panjang ruang tamu, ada satu sosok yang paling ingin ia hindari. Sedang duduk berdampingan dengan seorang pria paruh baya yang selama ini wajahnya hanya bisa ia lihat di layar kaca. Di seberangnya, Mama dan Papa duduk berdampingan, raut wajah mereka cerah dan senyum tak hentinya tersungging dari bibir-bibir mereka.


Kalea hendak memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya, namun urung saat Mama memanggilnya. Dan ketika menoleh, dia menemukan semua mata telah tertuju padanya. Kalea tidak bisa mundur lagi. Kabur dari situasi ini hanya akan membuat Papa dan Mama curiga karena setahu mereka, ia dan Gavin masih baik-baik saja.


Dengan perasaan yang campur aduk, Kalea berjalan menghampiri mereka. Ekor matanya sempat menangkap Gavin yang menatap ke arahnya dengan tatapan sendu yang agaknya lelaki itu coba sembunyikan dari semua orang.


"Sini, duduk." Mama menggeser duduknya, menarik tubuh kecil Kalea untuk duduk di tengah-tengah antara Mama dan Papa.


"Halo, Kalea."


Kalea menaikkan pandangan, pada sosok pria di samping Gavin yang kini tersenyum lembut ke arahnya.


"Halo, Om." Sebuah senyum palsu terukir di wajahnya. Dia berusaha keras untuk tidak melarikan pandangan ke arah Gavin.


"Apa kabar, Kalea?"


Dan usahanya gagal. Kalea terpaksa mengalihkan pandangan pada Gavin. Satu lagi senyum palsu diukir. Susah payah dia menahan segala gejolak tidak nyaman yang mendera. Bayangan kejadian malam itu kembali menyambangi kepalanya, tapi Kalea berusaha keras agar hal itu tidak berpengaruh banyak terhadapnya.


"Saya baik." Ucapnya singkat.


"Saya dan Gavin baru pulang dari perjalanan bisnis ke Singapura, benar-benar baru sampai dari bandara dan anak ini merengek kepada saya untuk diantarkan kemari." Jonathan terkekeh di akhir kalimat. Dia menoleh sekilas ke arah Gavin yang duduk di sampingnya, kemudian kembali memfokuskan pandangan pada Kalea di depannya. "Sepertinya Gavin rindu sekali sama kamu."


Rindu? Omong kosong. Kalea membatin. Namun pada akhirnya dia tetap kembali mengulaskan senyum.


"Gavin ini sepertinya tipikal yang nggak suka basa-basi, ya? Langsung sat-set sat-set gitu." Itu suara Mama. Masih sama seperti hari sebelumnya, wanita itu akan selalu bicara dengan nada semangat jika itu berkaitan dengan Gavin dan agenda perjodohan mereka.

__ADS_1


Kalea akui Gavin memang tidak pernah berbasa-basi kepadanya. Saking tidak pernahnya basa-basi, lelaki itu bahkan sampai meninggalkannya begitu saja malam itu, benar? Kalea hampir menertawakan dirinya sendiri saat fakta itu menamparnya.


"Anaknya memang begini. Saya harap itu tidak mengganggu Kalea, ya?" lagi-lagi Jonathan menyunggingkan senyum yang membuat Kalea mau tidak mau membalasnya.


"Sama sekali nggak mengganggu." Bohong Kalea.


Kemudian percakapan lain berlanjut hanya antara Papa, Mama dan Jonathan. Kalea menarik diri sejauhnya dari obrolan yang tidak dia mengerti. Sesekali matanya melirik Gavin yang masih menimpali beberapa obrolan yang dia tahu, dan ketika laki-laki itu merasa obrolannya tidak sampai pada porsinya, Gavin akan melayangkan tatapan kepada Kalea. Hanya untuk menemukan Kalea tengah menatapnya dengan dua mata boba yang binarnya sudah tak secerah biasanya.


Entah sudah berapa lama mereka berlima duduk di ruangan ini. Topik obrolan terus berganti dan Kalea mulai merasa kepalanya penuh. Maka setelah membisikkan beberapa kalimat pamit di telinga Mama, Kalea bangkit dari duduknya. Dia tahu Gavin menatapnya dengan pandangan kecewa sebelum kaki kecilnya dia ayunkan menjauhi ruang tamu.


Suara-suara obrolan mereka masih terdengar di telinga Kalea sampai akhirnya tubuh kecil itu menghilang di balik tembok pembatas ruang tamu dengan ruang tengah. Kalea berniat menuju halaman belakang, duduk di pinggiran kolam renang sembari menghirup udara malam yang dingin demi melegakan dadanya yang perlahan-lahan kembali terasa sesak.


Angin berembus menerpa tubuh kecilnya yang terbalut kaus dan celana pendek, namun Kalea tidak mengurungkan niatnya untuk tetap melakukan rencana awal. Dia bawa tubuhnya mendekati pinggiran kolam. Tubuhnya bergetar pelan saat kaki-kakinya dia masukkan ke dalam air kolam yang ternyata lebih dingin dari dugaan.


Hal yang selanjutnya Kalea lakukan hanya diam. Pandangannya melayang jauh ke depan, pada hamparan pohon tinggi yang di tanam di pinggir halaman belakang. Kemudian beralih pada meja bundar dekat kolam ikan di pojok halaman, sebuah meja kayu dengan tiga kursi. Di meja itu, Kalea biasa menghabiskan sore untuk berbincang dengan Mama tentang banyak hal. Sesepele tentang perdebatan tidak pentingnya dengan Karel yang berujung pada lelaki itu yang harus mengalah dan menyogoknya dengan kinjerdoy. Sampai hal-hal serius seputar keinginannya untuk memperlihatkan lukisannya kepada lebih banyak orang. Tapi beberapa hari ini, Kalea kehilangan momen itu. Selama beberapa hari sejak kejadian malam itu, Kalea sibuk membenahi kondisi diri hingga tak punya waktu untuk berceloteh ria seperti yang biasa dia lakukan pada sore-sore sebelumnya.


Pandangan Kalea beralih lagi, kali ini tertuju pada kolam ikan yang suara airnya bergemericik menenangkan hati. Kolam ikan kecil itu adalah ide Karel. Seminggu setelah kelulusan SMP, bocah laki-laki itu datang ke rumahnya dan merengek pada Papa untuk dibuatkan kolam ikan di halaman belakang rumah Kalea. Saat ditanya mengapa harus dibuat di halaman rumah Kalea, mengapa tidak dibuat di halaman rumahnya sendiri, Karel menjawab bahwa ayahnya alergi ikan. Sebuah alasan tidak masuk akal yang dulu hanya bisa Kalea tertawakan. Tapi kini, dia akhirnya paham mengapa Karel bersikeras memaksa Papa untuk membuat kolam ikan itu. Karena sejak keinginannya dikabulkan oleh Papa, Karel jadi lebih sering datang dengan dalih ingin memberi makan ikan.


Dingin yang dihasilkan dari kontak antara kulit dengan air kolam sudah tidak lagi Kalea rasakan. Sebab kenangan manis itu telah menghasilkan kehangatan yang mampu mengusir dingin dari tubuhnya, sekaligus mengikis resahnya sedikit demi sedikit.


"Udah berhari-hari kamu nggak dateng buat kasih makan ikan, Rel." Gumam Kalea, tersenyum miris meratapi hubungannya dengan Karel yang entah bagaimana berubah menjadi seperti ini.


Namun belum sampai dia pada jawaban atas pertanyaannya sendiri, sebuah suara lebih dulu menginterupsi. Membuatnya menolehkan kepala dan mengembuskan napas berat.


Gavin berdiri menjulang di samping tubuhnya. Menunduk menatapnya sendu yang kali ini kentara sekali dia perlihatkan.


"Boleh saya duduk di sini?" tanya lelaki itu.


Kalea punya banyak alasan untuk menggelengkan kepala. Dia punya hak untuk menolak kehadiran Gavin sekarang ini. Tapi, alih-alih melakukan seperti apa yang otaknya perintahkan, Kalea malah menganggukkan kepala. Dia persilahkan lelaki itu untuk mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Terimakasih." Ucap Gavin sebelum mencelupkan kakinya ke dalam kolam (setelah sebelumnya melepas sepatunya dan menggulung celana panjang warna hitam yang dia kenakan sampai ke batas lutut).


Gavin meringis saat dingin menyentuh kulitnya, dan Kalea yang menyaksikan perubahan ekspresi itu hanya bisa memperhatikan dalam diam. Kalau hubungan mereka sedang baik, Kalea mungkin akan menertawakan Gavin sekencang yang dia bisa. Meledek lelaki itu seperti yang biasa dia lakukan kepada Karel. Sayang sekali mereka bahkan belum sampai di tahap untuk bisa saling menertawakan dan harus berakhir dalam sebuah kecanggungan semacam ini.


Selama beberapa menit, mereka hanya diam. Hanya ada suara gemerisik angin yang menerpa dedaunan dari pepohonan tinggi di seberang. Juga suara gemericik air kolam yang bersahutan dengan hela napas berat Kalea yang terkesan dipaksakan.


Sampai akhirnya, Kalea mengalah. Karena pada dasarnya dia adalah tipikal orang yang cerewet, maka keheningan semacam ini bukanlah sesuatu yang cocok dengannya.


"Kamu betulan baru sampai dari Singapura?" tanya Kalea dengan pandangan lurus ke depan. Dia tidak akan tahu kalau saat ini Gavin menoleh ke arahnya dengan gurat perih yang kentara di wajah tampannya.

__ADS_1


"Iya."


Kalea mengangguk. Dia masih enggan untuk menolehkan kepala. Di dalam otaknya sudah ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Gavin, tapi dia masih terlalu ragu dan sibuk memilah mana yang ingin dia tanyakan lebih dulu.


"Malam itu, sesuatu yang buruk hampir menimpa saya, Gavin." Pada akhirnya, semua pertanyaan yang hinggap di kepala terusir begitu saja, tergantikan dengan keinginan Kalea untuk menceritakan kepada Gavin alasan mengapa dia sampai mendiamkan lelaki itu untuk waktu yang cukup lama.


"Ini nggak sesederhana saya marah sama kamu karena kamu tinggalin saya gitu aja. Nggak seperti itu, Gavin." Kalea menoleh, hanya untuk menemukan sepasang mata Gavin yang terlihat lelah.


"Tell me everything, Kalea. I'm all ears." Hanya itu yang bisa Gavin katakan.


Setelah menarik napas panjang, Kalea memulai ceritanya dengan pandangan yang kembali dilayangkan lurus ke depan.


"Malam itu, sewaktu kamu tinggalin saya gitu aja, saya kebingungan. Saking bingungnya, saya sampai nggak bisa berpikir apa yang harus saya lakukan selanjutnya." Kata Kalea mengawali ceritanya. Ada senyum miris yang terukir di wajah ayunya.


"Sopir taksi yang malam itu kamu mintai tolong untuk antar saya pulang, saya suruh pergi. Dan apa yang terjadi selanjutnya bikin saya sadar betapa bodohnya saya jadi manusia."


Gavin masih diam mendengarkan. Tidak sedikitpun berniat untuk memotong ucapan Kalea walau niat awalnya duduk di sini adalah untuk menjelaskan alasannya pergi malam itu.


"Ada dua orang preman yang menghadang langkah saya, Gavin. Mereka menyentuh saya dengan tangan-tangan kotor yang entah sudah mereka pakai untuk melecehkan berapa banyak perempuan."


"Satu di antara mereka bahkan berkata kalau saya tidak punya harapan untuk lepas, karena mereka punya kuasa yang lebih daripada saya." Suara Kalea mulai terdengar bergetar. Gavin ingin meraih tangan kecil yang kini jemarinya saling bertaut itu dan membawanya dalam sebuah genggaman yang hangat. Namun Gavin urungkan niatnya karena dia tidak punya keberanian sebanyak itu.


"Saya sudah pasrah. Malam itu, saya pikir hidup saya akan berakhir menyedihkan." Saat Kalea menoleh ke arahnya, Gavin merasakan dadanya seperti disayat dengan belati berulang-ulang kali. Perih.


"Tapi agaknya Tuhan masih sayang sama saya, jadi Dia kirimkan Karel untuk menyelamatkan saya dari situasi menakutkan itu." Ajaibnya, Kalea tampak lebih baik saat nama Karel disebut.


"Gavin, saya minta maaf karena Karel udah pukul kamu pagi itu. Saya tahu dia salah, tapi tolong, maafin dia. Tolong jangan bawa masalah pagi itu ke tahap yang lebih serius. Saya--"


Kali ini, Gavin tidak ingin mendengar apapun. Dia tidak ingin mendengar Kalea memohon padanya untuk apapun. Jadi, setelah mengumpulkan semua keberanian yang dia punya, Gavin meraih tangan Kalea dan menggenggamnya erat.


"Saya minta maaf." Kata Gavin, yang sontak membuat bibir Kalea terkatup rapat.


"Maaf udah buat kamu berada dalam situasi yang buruk, Kalea. Dan soal Karel, kamu nggak perlu khawatir. Saya tahu apa yang dia lakukan pagi itu semata-mata karena dia mau melindungi kamu. Saya paham betul apa yang Karel rasakan." Karena saya juga merasakan hal yang sama. Saya juga punya seseorang yang ingin saya lindungi sampai sebegitunya, Kalea.


"Makasih." Kalea hendak menarik tangannya dari genggaman Gavin, tapi lelaki itu menahannya.


"Kalea, can I hug you?" pertanyaan tiba-tiba itu tentu membuat Kalea terdiam seribu bahasa.


"I know you want to cry right now. You just don't want me to see you cry. Let me hug you, so you can cry."

__ADS_1


Sesak yang susah payah Kalea tahan seketika berubah menjadi tetes-tetes air mata saat tubuh kecilnya direngkuh oleh Gavin. Untuk pertama kalinya, Kalea merasakan betapa bahu lebar itu terasa nyaman untuknya menumpahkan air mata yang berhari-hari dia tahan. Di dalam pelukan Gavin, Kalea menangis tanpa suara.


__ADS_2