
Selama bermenit-menit setelah kepergian Irina, Gavin masih terdiam di mobilnya. Termenung memikirkan segala hal yang terjadi pada hidupnya dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Perjodohannya dengan Kalea bukan satu-satunya masalah, karena jauh sebelum itu, hidupnya memang sudah berantakan. Selama dua tahun ini ia terpaksa menjalin hubungan dengan Irina secara diam-diam karena ada banyak pihak yang akan merasa tidak senang bila mengetahui hubungan mereka. Terlebih saat itu Irina sedang memulai karirnya di dunia modeling, yang mengharuskannya fokus untuk membangun citra diri sehingga rumor sekecil apapun tidak boleh terkuak ke publik.
Menjalani hubungan secara diam-diam saja sudah melelahkan, kemudian masalah menjadi semakin rumit ketika Bunda datang padanya, menawarkan sebuah perjodohan yang tidak mungkin bisa dia tolak. Karena selama hidup, Bunda tidak pernah meminta apapun padanya. Wanita itu mengurusnya dengan sepenuh hati tanpa menuntut apapun di saat orang-orang lain di sekitarnya menaruh banyak tuntutan dan ekspektasi kepadanya. Bunda jadi satu-satunya orang yang setia berdiri di sampingnya, tak peduli sekalipun orang lain terus mencibir dan melemparkan kalimat-kalimat pedas kepada wanita itu. Gavin tidak bisa menolak perjodohan ini karena tidak ingin membuat Bunda kecewa. Tapi lebih dari itu, ia semakin tidak bisa menolak karena orangnya adalah Kalea.
Gavin mendesah, mengusap wajahnya kasar demi mengusir segala resah yang kembali memenuhi hatinya. Ia menoleh ke jok belakang tempat di mana ia meletakkan paperbag dari butik tadi siang. Seharusnya, paperbag itu ia berikan kepada Irina tadi. Tapi karena suasananya sama sekali tidak mendukung, paperbag itu terpaksa tinggal lebih lama di mobilnya.
Untuk beberapa saat Gavin hanya terdiam sembari memandangi paperbag itu, sampai kemudian ia menyadari bahwa ponsel yang ia letakkan di dashboard bergetar beberapa kali. Dengan alis yang bertaut, Gavin meraih ponselnya, memicingkan mata demi melihat siapa yang meneleponnya saat ini. Lalu napasnya tercekat ketika nama Kalea muncul di layar. Getaran di ponsel masih terasa, tapi Gavin tak kunjung mengangkat teleponnya karena kepalanya terlalu ribut sekarang. Ia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Kalea, tidak siap menerima pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan perempuan itu lontarkan kepadanya.
Sampai akhirnya, getaran di ponsel berhenti dan Gavin hanya bisa menghela napas panjang ketika beberapa menit setelahnya, tidak ada getar lain yang menyusul.
Memangnya, apa yang ia harapkan? Seorang Kalea Dimitria sudi meneleponnya lebih dulu adalah sebuah keajaiban, jadi ketika ia memutuskan untuk membiarkan telepon itu tak terjawab, maka ia tidak boleh berharap bahwa perempuan itu akan menghubunginya lagi untuk yang ke-dua kali.
Tahu tidak akan ada yang selesai jika ia hanya berdiam diri, Gavin pun memutuskan untuk melajukan mobilnya. Sejenak, ia tinggalkan segala perasaan bersalahnya kepada Irina, karena saat ini Kalea juga perlu untuk ditenangkan.
Mobil melaju dalam kecepatan penuh, membelah jalanan kota Jakarta yang macet dan dipenuhi suara klakson yang bersahutan-sahutan. Di saat seperti ini, Gavin teringat pada Kalea jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Perempuan itu tidak suka mendengar suara bising klakson yang bersahutan-sahutan, dan Gavin jelas tahu apa alasannya. Ia masih mengingat jelas awal mula mengapa perempuan itu memiliki ketidaknyamanan pada suara bising klakson. Hanya saja, Gavin belum menemukan waktu yang pas untuk menunjukkan pada Kalea bahwa ia tahu segalanya.
Saat pada akhirnya Gavin sampai di depan gerbang rumah Kalea, langit sudah sepenuhnya gelap. Kali ini ia tidak ingin membuang waktu lebih lama di dalam mobil, jadi dia langsung turun dan bergegas berjalan menuju gerbang. Nasib baik Pak Dadang sedang ada di pos jaga, baru hendak menyeruput kopi ketika matanya menangkap kehadiran Gavin dan pria paruh baya itu buru-buru meletakkan kembali gelas kopinya lalu segera membukakan gerbang untuk Gavin.
"Mau ketemu sama Mbak Kalea ya, Mas?" tanya Pak Dadang, ramah, seperti biasanya.
"Iya." Gavin menjawab singkat. Ia sudah akan mengayunkan kaki, namun niatnya terhenti ketika suara Pak Dadang kembali menginterupsi.
"Mbak Kalea nggak ada, Mas. Lagi pergi sama Mas Karel."
Ah, Karel. Gavin lupa kalau tadi siang Kalea sudah bilang akan pergi nonton bersama Karel. Pikirannya terlalu kacau hingga ia melewatkan terlalu banyak hal.
"Di rumah ada siapa?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
"Cuma ada saya sama Bi Imah, Mas. Bapak sama Ibuk lagi pergi, kayaknya nggak pulang malam ini. Kalau Mas Gavin mau nunggu Mbak Kalea, mending nunggu di dalam aja, Mas. Nanti biar saya yang ijin ke Ibuk." Tawar Pak Dadang, namun Gavin dengan cepat menggelengkan kepala.
"Saya tunggu di mobil aja."
"Loh, jangan, Mas. Nggak apa-apa, tunggu di dalam aja."
"Nggak apa-apa, saya tunggu di mobil aja. Makasih, Pak." Kata Gavin, berusaha memulaskan senyum tipis sebelum berbalik kembali ke mobilnya.
Di mobil, ia tidak melakukan banyak hal, hanya sesekali melirik ponselnya yang terdampar di jok penumpang dan layarnya tampak padam. Walau kemungkinannya kecil, tapi Gavin masih berharap bahwa Kalea akan mencoba menghubunginya sekali lagi.
******
Sepanjang film berlangsung, Karel sama sekali tidak bisa fokus pada layar besar di hadapan mereka. Ia malah sibuk memandangi Kalea, mencoba membaca setiap ekspresi yang perempuan itu tampakkan setiap film bergerak dari satu adegan ke adegan yang lainnya. Perempuan itu memang tampak fokus menonton film, sesekali memberikan reaksi dengan celoteh nyaring yang tak jarang membuatnya dihadiahi tatapan sinis oleh penonton yang lain. Tapi Karel tahu, Kalea tidak benar-benar hanyut dalam film yang sedang mereka tonton. Karel yakin, saat ini di dalam kepala perempuan itu pasti sedang berputar begitu banyak adegan dari hasil pemikiran-pemikiran acak yang ia tumpuk seharian.
Ketika Kalea mengatakan bahwa ia akan menerima perjodohannya dengan Gavin, Karel pikir ia hanya perlu mengurusi hatinya sendiri, mencari cara agar perih di dadanya bisa cepat sembuh karena perasaannya yang tak berbalas dan bahkan sama sekali tak punya kesempatan untuk diungkapkan. Tapi ternyata, tugas Karel jauh lebih berat dari itu. Ternyata, ia masih juga harus membantu Kalea mengurusi hatinya. Bahkan ketika hati perempuan itu sudah berisi nama laki-laki lain, Karel masih tetap harus membantu menjaganya.
"Telepon sekali lagi." Bisik Karel sembari merebut popcorn dari tangan Kalea. Sedari tadi, perempuan itu telah menguasai popcorn yang sejatinya diperuntukan untuk mereka nikmati berdua.
Kalea menoleh, melirik sebal ke arah Karel yang kini sudah memeluk erat popcorn yang tinggal separuh itu.
"Biar apa?" tanya Kalea setelah menyedot lemon tea milik Karel, miliknya telah habis sejak bermenit-menit yang lalu.
"Ya biar masalahnya clear, lah." Ucap Karel setengah Kesal. Ia tidak habis pikir kenapa Kalea masih bisa melemparkan pertanyaan semacam itu.
"Males. Ditelpon sekali nggak diangkat, berarti dia emang nggak niat ngomong sama aku." Kata Kalea santai, matanya kembali fokus menatap layar. Film yang mereka tonton sudah hampir selesai dan ia tidak ingin melewatkan apapun.
"Kok gitu? Ya siapa tahu aja Gavin lagi nyetir makanya nggak bisa angkat telepon lo."
"Nyetir dari mana ke mana? Dari Hongkong ke Dubai? Udah sejam lebih, ya kali dia nggak bisa telepon balik."
"Telepon sekali lagi, Kale."
"Nggak."
"Kenapa, sih? Nelepon Gavin sekali lagi nggak akan bikin lo keliatan murahan." Kali ini Karel betulan kesal. Ia tidak peduli lagi pada orang-orang di dekat mereka yang menatap sinis karena suaranya yang terlalu berisik.
"Gue tuh heran sama lo, Kale. Kenapa sih hobi banget overthinking? Padahal kalo lo mau turunin gengsi lo dikiiiiittttt aja, nggak akan ada tuh yang namanya praduga-praduga yang nggak berdasar, yang cuma bakal bikin capek hati dan kepala."
Kalea menoleh, hanya untuk menemukan Karel tengah menatapnya serius. Kemudian, film di depan sana sudah tidak lagi penting ketika Karel tiba-tiba bangkit, menarik lengannya kemudian menuntunnya berjalan keluar dari bioskop, diiringi suara gaduh dari orang-orang yang merasa terganggu karena mereka tiba-tiba keluar di tengah-tengah film yang masih terputar.
Kalea menurut saja saat Karel menyeret tubuh kecilnya ke basement mal tempat lelaki itu memarkirkan mobilnya. Bahkan saat pintu mobil dibuka dan kepalanya didorong pelan agar ia segera masuk ke dalam mobil, Kalea masih tidak berontak. Karena sejujurnya energinya sudah habis terkuras untuk memikirkan hal-hal acak yang datang silih berganti memenuhi kepalanya.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanyanya kemudian, setelah Karel duduk di balik kemudi dan bergerak serabutan memasang seatbelt sebelum menginjak pedal gas dengan begitu bersemangat.
"Pulang." Jawab Karel singkat. Pandangan lelaki itu lurus ke depan, fokus melajukan mobil yang dalam waktu singkat sudah berhasil keluar dari basement dan berbaur dengan kendaraan lain di jalananan.
"Lo mau telepon Gavin sekali lagi, atau gue anterin lo ke rumahnya?"
Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu sontak membuat Kalea menolehkan kepala. Ia menatap Karel tidak percaya, tidak mengerti mengapa ide gila itu bisa tercetus oleh seorang Karelino Gautama. Mengantarkannya ke rumah Gavin? Hah, yang benar saja. Apa yang akan lelaki itu pikirkan tentang dirinya kalau Karel sampai betulan melakukannya? Bisa-bisa lelaki itu akan besar kepala dan merasa telah berhasil memenangkan hatinya. Kalau sudah begitu, Gavin akan lebih mudah untuk bersikap semaunya. Bukankah laki-laki memang biasanya begitu?
"Jangan macem-macem. Kalau sampai kamu nekat anterin aku ke rumah Gavin, aku lompat dari mobil." Ancam Kalea, hanya untuk membuat Karel mendengus sebal.
"Kalau nggak mau gue anterin ke rumah Gavin, ya buruan telepon Gavin lagi!" Karel setengah berteriak. Kesabarannya sudah benar-benar habis. Kalea dan isi kepalanya yang terlalu acak itu sudah membuat energinya terkuras habis hanya dalam waktu singkat.
"Rel,"
"Buruan, Kalea. Jangan sampai masalahnya jadi semakin berlarut-larut." Karel menoleh, suaranya kali ini jauh lebih pelan. "Seminggu lagi kalian nikah, jadi nggak boleh ada ganjalan apapun. Semuanya harus clear. Dengan begitu, baru gue bisa rela lepasin lo untuk menikah sama Gavin." Lanjutnya penuh kesungguhan.
Merasa tidak punya lagi cara untuk mengelak, Kalea pun mengalah. Ia mengembuskan napas berat sebelum merogoh ponsel dari dalam saku jaket. Namun belum sempat ia mencari nomor Gavin untuk kemudian ia telepon, nama lelaki itu sudah lebih dulu muncul di layar ponselnya.
"Malah bengong, buruan telepon." Desak Karel yang mulai tidak sabaran.
"Kale,"
"Ini orangnya udah nelepon aku duluan." Kata Kalea dengan polosnya. Ia tunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Karel, hanya untuk membuat lelaki itu memekik dan marah-marah tidak jelas.
"Ya buruan diangkat dong, Kaleoooooooo! Astaga, lo tuh bener-bener ya!" oceh Karel yang merasa gemas pada Kalea yang terkesan lemot dalam merespon sesuatu.
"Ya sabar!" Kalea malah ikut-ikutan mengomel. Kemudian setelah berdeham beberapa kali demi melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering tanpa alasan, ia menggeser log hijau. Telepon pun tersambung.
"Halo, Kalea?" sapa Gavin dari seberang.
Kalea hanya menjawabnya dengan sebuah dehaman, membuatnya dihadiahi tatapan tajam oleh Karel yang sempat-sempatnya menolehkan kepala di tengah kegiatannya menyetir.
"Kamu lagi sama Karel, ya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Saya di depan rumah kamu sekarang."
"Ngapain?"
"Nungguin kamu, lah. Kita harus ngobrol soal yang tadi siang."
Kalea diam sebentar, melirik Karel yang kembali fokus menyetir sebelum menjawab. "Harus banget diobrolin sekarang?"
"Harus."
"Kalau aku nggak mau?"
"Harus mau."
"Kok maksa?"
"Kalau nggak dipaksa, kamu nggak akan mau kasih saya kesempatan untuk bicara."
Kalea dibuat terdiam dengan pernyataan Gavin barusan. Ucapan Gavin terasa begitu menohok untuknya. Ia memang cenderung membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan suatu masalah karena dia perlu untuk menenangkan isi kepalanya terlebih dulu sebelum berdiskusi dengan orang lain. Tapi agaknya, Gavin adalah kebalikannya. Sepertinya Gavin adalah tipikal yang tidak suka membuat masalah menjadi berlarut-larut dan semakin kusut.
Maka, tidak ada hal lain lagi yang bisa Kalea katakan selalin "Sebentar lagi aku sampai." kemudian segera menutup telepon.
Berbarengan dengan telepon yang ditutup, lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Seperti yang sudah bisa ia duga, Karel menggunakan kesempatan itu untuk menolehkan kepala dan langsung menghujaninya dengan tatapan berisi banyak pertanyaan yang hanya menunggu waktu untuk disampaikan secara lisan.
"Lampunya udah hijau lagi, tuh, buruan jalan." Ucap Kalea pada Karel, kemudian ia menyandarkan kepala di jendela, sibuk menatapi benda-benda di jalanan yang bergerak seiring dengan mobil yang kembali melaju. Kalea memejamkan matanya sebentar, sekadar untuk meredam keributan yang terjadi lebih parah daripada sebelumnya.
********
Lima belas menit setelah telepon ditutup, Gavin menemukan mobil Karel melaju dari kejauhan. Ia yang semula bersandar di kap mobil pun segera menegakkan badan ketika mobil itu berhenti tepat di depannya. Jarak antara tubuhnya denga body mobil bagian depan mungkin hanya tiga jengkal, seolah Karel sengaja memberhentikan mobilnya di jarak sedekat itu agar lelaki itu bisa langsung menabraknya kalau ia hendak berbuat macam-macam pada Kalea.
Gavin tidak akan kaget kalau Karel betulan akan melakukannya. Karena sejauh ini, ia memang melihat Karel bisa melakukan apapun untuk melindungi Kalea. Sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dia lakukan di masa depan.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, Karel keluar dari mobil lebih dulu. Gavin mengerutkan kening saat Kalea tidak turut turun dan malah berdiam diri di dalam mobil dengan pandangan yang sengaja dilayangkan entah kemana, terlihat sekali sedang berusaha menghindari kontak mata di antara mereka walau terhalang kaca mobil yang tidak terlalu gelap.
"Yeu, ini anak bukannya turun, malah diem aja!"
Gavin mendengar Karel mengoceh. Kemudian ia melihat lelaki itu berjalan ke sisi mobil yang satunya dan segera membukakan pintu. Butuh waktu lebih lama untuk membawa Kalea keluar karena agaknya perempuan itu masih enggan untuk beranjak dari dalam mobil. Tapi pada akhirnya Karel berhasil menyeret tubuh kecil itu ke hadapannya, walau Kalea masih enggan menatap wajahnya.
"Nih, lo selesaikan masalah kalian malam ini juga. Males banget gue ngeliat bocah ini overthinking nggak jelas." Karel mendorong pelan tubuh Kalea mendekat ke arah Gavin. "Terserah deh gimana cara lo buat bujuk dia, gue nggak akan bantu, karena perlu lo tahu, gue udah nggak tahu lagi gimana caranya ngomong sama bocah satu ini." Lanjut Karel, melirik sinis ke arah Kalea yang tampak ogah-ogahan berdiri di depan Gavin.
"Udah sana ngobrol berdua, gue cabut duluan." Kata Karel lagi, kemudian segera masuk ke dalam mobil dan langsung memundurkan mobilnya sebelum mengendarainya masuk ke halaman rumahnya, meninggalkan Gavin dan Kalea yang berdiri saling berhadapan dalam diam.
Lama sekali keduanya hanya diam. Baik Gavin maupun Kalea sama-sama tidak mau mulai membuka suara lebih dulu. Sampai akhirnya, Kalea dibuat terkejut saat tubuh kecilnya tiba-tiba ditarik dan dalam sekejap sudah berada di dalam dekapan Gavin.
Semuanya terjadi sangat cepat, sampai Kalea tidak punya waktu untuk berontak ataupun melayangkan protes karena Gavin memeluknya tanpa ijin. Kepalanya yang semula ribut mendadak kosong, seiring dengan jantungnya yang bersangsur berdetak dengan tempo yang lebih cepat.
"Maaf udah bikin kamu overthinking seharian." Kata Gavin pelan. Tangan besarnya kini bergerak pelan, mengusap kepala Kalea yang bersandar nyaman di dada bidangnya.
"Ada sesuatu yang nggak mengenakkan terjadi setelah dari hotel, dan hal itu bikin suasana hati saya jadi buruk."
"Sesuatu apa?" tanya Kalea, ia berusaha menarik diri dari pelukan Gavin, tapi lelaki itu menahannya sehingga ia hanya bisa pasrah saat tangan besar itu memeluknya kian erat.
"Ada. Saya nggak bisa cerita sama kamu sekarang. Nanti kalau waktunya udah tepat, saya akan ceritakan semuanya."
"Ada hubungannya sama Irina?"
Gavin tersenyum miris saat akhirnya nama Irina disebut oleh Kalea. Ia tahu nama itu memang akan sering disebut di antara mereka, hanya saja, Gavin tidak menyangka waktunya akan secepat ini. Bahkan sebelum pernikahan mereka berlangsung.
"Irina? Siapa?" tanyanya pura-pura bodoh. Tentu saja. Dia tidak akan dengan sukarela berterus terang tentang hubungannya dengan Irina kepada Kalea, benar?
"Perempuan yang tadi siang ketemu sama kita di hotel."
"Oh..."
"Kamu betulan nggak kenal sama Irina, atau cuma pura-pura nggak kenal aja?"
"Nggak kenal."
"Beneran?"
"Iya."
"Serius? Yakin? Nggak bohong?"
"Iya, Kalea."
"Tapi Irina kayaknya kenal sama kamu."
"Udah pasti dia kenal sama saya." Celetuk Gavin yang membuat Kalea memaksakan diri untuk mendongak.
"Kamu nggak lupa, kan, kalau saya ini putra tunggal dari pemilik stasiun tv terbesar di Indonesia? Nama sama muka saya ada di mana-mana, jadi nggak heran kalau perempuan yang tadi siang itu kenal sama saya." Kata Gavin sembari cengengesan, plus muka tengil menyebalkan yang seketika membuat Kalea merasa ingin menjitak kepala lelaki ini sekeras yang ia bisa.
"Darimana datangnya kepercayaan diri kamu itu? Kamu lupa, aku bahkan nggak tahu siapa kamu kalau bukan karena perjodohan ini." Kata Kalea sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Gavin. Dan kali ini lelaki itu membiarkannya lepas, tapi tidak benar-benar bisa menciptakan jarak yang nyaman untuk mengobrol dengan lebih leluasa karena tangan lelaki itu masih berada di pinggangnya, sengaja menahannya agar tidak mundur semakin jauh.
"Itu karena kamu yang terlalu nggak peduli sama dunia sekitar." Kata Gavin, dan anehnya Kalea langsung mengamini perkataan lelaki itu.
"Aku nggak tahu kalau kamu ternyata senarsis ini." Kalea mencebik, mengundang tawa renyah lolos dari belah bibir Gavin.
"Gavin," panggil Kalea pelan setelah tawa Gavin mereda.
"Hmmm?"
"Kalau ada apa-apa, tolong cerita sama aku, ya? Jangan bikin aku bingung dengan sikap diam kamu, karena aku juga mau bantu. Aku mau bantu kamu sebisa aku." Kata Kalea dengan suara pelan, tatapan matanya tampak sendu. Jelas sekali ada begitu banyak kekhawatiran yang tersembunyi dibalik manik boba itu.
"Ada satu hal yang selalu bisa kamu lakukan untuk bantu saya." Kata Gavin sembari memulaskan senyum tipis.
"Apa?"
Gavin menjawab pertanyaan itu dengan tindakan. Tangan besarnya kembali menarik tubuh Kalea ke dalam pelukan, membiarkan perempuan itu merasakan bagaimana jantungnya berdetak dengan tempo yang acak.
"Kapanpun kamu menemukan saya dalam keadaan yang buruk, tolong beri saya sebuah pelukan, Kalea. Karena cuma itu yang bisa membantu saya merasa lebih baik." Seperti yang biasa kamu lakukan kepada saya dulu.
__ADS_1