
Gavin terdiam cukup lama di dalam mobil, sibuk berdebat dengan diri sendiri tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. apakah ia harus turun dan segera menemui Kalea atau menunggu sedikit lebih lama sampai ia yakin suasana hatinya sudah benar-benar baik dan tidak akan melakukan kesalahan lagi terhadap gadis itu. ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Kalea, beberapa kali memandang ke luar jendela untuk melihat kalau-kalau Kalea keluar dari rumah dan bisa saja melihat keberadaannya. Tadi dia juga sempat mengeluarkan ponselnya, mengetikkan beberapa kalimat yang akhirnya ia hapus dan tidak jadi dikirimkan kepada Kalea.
Sampai pada akhirnya ia lelah sendiri. Setelah menarik napas beberapa kali, Gavin memutuskan untuk turun dari mobil. Ia berjalan cepat menuju gerbang rumah Kalea, hanya untuk kembali terdiam selama bermenit-menit selanjutnya. Dari luar, Gavin tidak mendapati keberadaan Pak Dadang. Dan ia agak bersyukur karena kalau pria paruh baya itu ada di pos jaga, maka Gavin tidak akan punya waktu untuk menyiapkan diri sebelum benar-benar menemui Kalea.
"Mas, ngapain?"
Sebuah suara perempuan menyapa, Gavin refleks menolehkan kepala dan menemukan asisten rumah tangga Karel sedang berdiri di depan gerbang rumah lelaki itu sambil menenteng kantung kresek berukuran besar warna hitam.
"Mau ketemu Mbak Kalea, ya?" tanya perempuan itu lagi setelah melempar kantung kresek yang ditentengnya ke bak sampah di depan gerbang.
"Iya." Gavin menjawab singkat. Ia berjalan ke sisi kiri, mendekat ke arah Mpok Nuriah yang kini menatapnya serius.
"Mbak Kalea ada di rumahnya Mas Karel, lagi ngobrol di halaman belakang. Mas mau nyusul?" tawar Mpok Nuriah.
Gavin tampak berpikir sebentar. Ia belum pernah menginjakkan kaki di rumah Karel, karena lelaki itu juga pasti tidak akan mengijinkannya. Tapi, saat ini, ia benar-benar harus bertemu dengan Kalea sebelum hubungan mereka kembali memburuk. Pernikahan mereka hanya tinggal seminggu dan Gavin sudah mengorbankan banyak hal untuk sampai di titik ini, jadi dia tidak akan membiarkan apapun menghalangi jalannya pernikahan mereka.
"Boleh?" tanyanya kemudian.
"Boleh, Mas. Kebetulan ibuk lagi nggak di rumah, jadi cuma ada Mas Karel sama Mbak Kalea aja. Mari, Mas." Mpok Nuriah berjalan lebih dulu dan Gavin mengekor di belakang.
Sesekali Gavin mengedarkan pandangan ketika mereka sampai di ruang tamu. Perhatiannya langsung tertuju pada sebuah bingkai foto berukuran besar yang dipajang di dinding ruang tamu. Alih-alih menemukan foto keluarga seperti yang umumnya ditemukan di rumah orang-orang kebanyakan, ia justru menemukan bingkai foto itu berisi potret Karel dan Kalea yang tengah mengenakan seragam putih abu-abu. Foto itu sepertinya diambil di hari kelulusan mereka, terlihat dari baju seragam keduanya yang sudah penuh dengan begitu banyak tanda tangan dari orang yang berbeda-beda. Kalea tampak tersenyum begitu lebar, memeluk lengan Karel erat dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Dari foto itu saja, Gavin sudah bisa tahu sedekat apa Kalea dengan Karel. Senyum cerah itu, Gavin sama sekali belum pernah melihatnya sejak mereka bertemu dua bulan yang lalu. Tatapan mata yang penuh binar kebahagiaan itu juga tampaknya hanya tertuju untuk Karel seorang.
Gavin tersenyum miris saat fakta bahwa ada laki-laki lain yang telah menghabiskan waktu bersama Kalea, memahaminya dengan baik dan telah menjadi sumber keceriaan gadis itu lebih daripada dirinya menyeruak memenuhinya kepala. Kemudian hal itu membuatnya kembali mempertanyakan jalan takdir yang terasa begitu rumit untuk dirinya. Mengapa harus dia? Pertanyaan itu kembali hadir memenuhi kepala, hanya untuk membuatnya memaki takdir hidupnya lebih banyak daripada sebelumnya.
"Mas jalan aja lurus sampe keluar pintu, saya mau beres-beres dapur."
Gavin menghentikan langkah, menoleh pada Mpok Nuriah yang sudah lebih dulu berhenti mengayunkan kaki di ambang pintu dapur.
"Terimakasih." Ucapnya kemudian kembali melanjutkan langkah.
Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan tempo yang lebih cepat saat sayup-sayup suara Kalea terdengar olehnya. Gavin berjalan lebih dekat ke arah pintu untuk bisa mendengar percakapan antara Kalea dan Karel dengan lebih jelas. Namun saat ia betulan bisa mendengar apa yang Kalea katakan, ia seketika menyesali keputusannya. Mungkin memang lebih baik dia tidak datang ke sini, karena sekarang perih di dadanya terasa semakin menyiksa.
"*Tadi pas di hotel, aku nggak sengaja ketemu sama Irina."
"Irina? Model yang kemarin lo minta tolong gue untuk caritahu informasinya di internet?"
"Iya."
"Terus?"
"Ya aku basa-basi sebentar sama dia, terus karena ada Gavin dan aku rasa mereka belum saling kenal ya aku kenalin mereka. Tapi, Rel, ada yang aneh."
"Apa?"
"Sejak ada Gavin, Irina sama sekali nggak lepas pandangan dari dia. Seolah-olah mereka itu orang yang udah saling kenal dan lama nggak ketemu. Aku ngeliat ada kerinduan dari tatapan yang Irina tujukan ke Gavin, tapi pas aku coba periksa ekspresi Gavin, dia malah kelihatan biasa aja. Gavin natap Irina ya selayaknya orang asing yang baru pertama kali ketemu."
"Anehnya di mana?"
"Ya aneh lah, Rel. Kalau ada dua orang di mana yang satunya bersikap kayak udah kenal dan satunya lagi bersikap kayak orang asing, itu artinya mereka lagi pura-pura nggak kenal dan ada yang mereka lagi coba buat sembunyiin."
"Sembunyiin? Sembunyiin apa coba?"
"Ya nggak tahu, Rel. Yang jelas, habis ketemu sama Irina, Gavin jadi aneh. Dia lebih banyak diem bahkan sering melamun. Aku aja sampai mutusin buat nggak jadi makan saking bingungnya dia lagi kenapa. Makanya aku tadi pulang sendiri, soalnya aku bingung, Rel. Aku nggak tahu Gavin lagi kenapa karena dia nggak mau bilang, jadinya aku nggak bisa bantu apa-apa*."
__ADS_1
Kemudian percakapan selanjutnya tidak lagi bisa Gavin cerna karena kepalanya kembali ribut. Lagi-lagi Gavin telah salah mengambil langkah. Seharusnya, saat ia melihat mobil itu di basement hotel, ia segera membawa Kalea pergi dari sana, bagaimanapun caranya. Bukan malah nekat membawa Kalea masuk ke dalam hotel dan membuat pertemuan ini terjadi. Lagi pula, dari mana datangnya kepercayaan dirinya itu? Bagaimana bisa dia yakin mampu menggenggam dua tangan sekaligus dalam satu waktu? Gavin memang bodoh, dan berkat kebodohannya, ia mungkin akan kehilangan lebih banyak hal yang seharusnya bisa dia jaga sampai akhir.
Tak ingin sesak semakin memenuhi dadanya, Gavin pun memutuskan untuk beranjak dari sana. Ia tidak ingin mendengarkan apapun lagi, tidak untuk saat ini.
Di dapur, Mpok Nuriah sedang sibuk dengan berbagai peralatan memasak. Mulanya Gavin berniat untuk melewati perempuan itu begitu saja tanpa pamit, tapi kemudian dia teringat sesuatu hingga akhirnya memutuskan untuk menyempatkan diri menghampiri Mpok Nuriah, hanya untuk berkata. "Tolong jangan kasih tahu Kalea kalau saya datang ke sini."
"Loh, kenapa Mas?"
"Saya ada urusan mendadak, jadi nggak bisa ketemu sama Kalea sekarang. Saya nggak mau Kalea ngambek kalau tahu saya datang ke sini tapi nggak nemuin dia." Bohongnya, dan Mpok Nuriah percaya.
"Oh, gitu. Oke, deh, Mas."
"Terimakasih." Gavin memaksakan seulas senyum, kemudian berjalan cepat keluar dari rumah Karel.
Gavin buru-buru kembali ke dalam mobilnya, secepat kilat memasang seatbelt dan langsung menginjak pedal gas setelah mengirimkan pesan kepada seseorang.
Kalau dia tidak bisa bicara dengan Kalea sekarang, maka dia harus bicara dengan gadisnya.
*****
Sekitar dua puluh menit kemudian, Gavin sampai di hotel tempat pernikahannya dan Kalea akan digelar. Ia menunggu cukup lama di basement, sengaja memarkirkan mobil di tempat yang tidak terjangkau kamera cctv demi menghindari masalah baru yang lebih serius. Ia meraih ponsel di dashboard sekadar untuk memeriksa apakah pesan yang ia kirimkan sudah sampai kepada penerimanya atau belum. Namun belum sempat layar ponsel itu ia nyalakan, pintu mobilnya lebih dulu diketuk beberapa kali dan ia terpaksa menyimpan kembali ponselnya.
Di luar mobil, ada seorang perempuan yang tengah membungkuk, berusaha mengintip melalui kaca mobil yang gelap. Gavin bergerak cepat membuka kunci sehingga perempuan itu bisa masuk ke dalam mobil.
"Hai." Sapa perempuan itu singkat sembari menutup kembali pintu mobil dengan gerakan cepat.
"Hai." Gavin balik menyapa, tersenyuk sekilas sebelum sebuah kecupan mendarat di pipinya.
"Aku pikir kamu nggak akan ketemu sama aku lagi sampai hari pernikahan kamu." Kata perempuan itu, menyunggingkan senyum miris yang membuat Gavin meringis.
Perempuan itu, Irina, tidak menjawab. Ia justru mengalihkan pandangan, jauh ke depan pada jajaran mobil yang terparkir rapi di basement yang sunyi. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa khawatir ketika ia memutuskan untuk menerima ajakan Gavin bertemu di sini, mengingat bisa saja ada seseorang yang melihat mereka dan menimbulkan gosip baru yang akan memperkeruh suasana. Namanya sedang tidak terlalu baik akibat rumor kencannya dengan Gabriel Permana, jadi kalau sampai ada rumor lain yang muncul, ia mungkin betulan harus merelakan karinya di dunia modeling selesai sampai di sini.
"Rin," panggil Gavin pelan.
Irina hanya berdeham sebagai jawaban. Ia masih enggan untuk mengalihkan pandangan, membuat Gavin menghela napas frustasi.
"Can you look at me?" Gavin memohon dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan, membuat Irina merasa tidak tega dan akhirnya menolehkan kepala.
Detik ketika mata mereka bertemu, keduanya sama-sama membisu untuk waktu yang cukup lama. Sibuk menyelami manik masing-masing, menyalurkan kerinduan yang terbungkam dan menumpuk dalam dada karena mereka sama-sama tidak punya kesempatan untuk menyampaikan rindu itu selama beberapa hari belakangan.
"You still remember our promises, right?" tanyanya setelah puas menyelami manik kelabu Irina.
"Jangan muncul di hadapan Kalea, Rin. Dia nggak boleh tahu soal kita."
"Kamu ngajak aku ketemu cuma untuk ngomongin soal ini? Vin, are you serious? I thought you miss me." Ada kekecewaan yang jelas terlihat nyata di mata Irina.
"Rin,"
"Aku nggak sengaja ketemu dia." Sela Irina cepat. Dia tidak bodoh, jadi bagaimana mungkin Gavin berpikir ia akan senekat itu untuk menemui Kalea dan membongkar hubungan mereka di saat apa yang harus dia lakukan adalah diam demi menyelematkan hubungan mereka dan juga karirnya yang sedang di ujung tanduk? Mengapa Gavin sekhawatir itu Kalea akan tahu soal hubungan mereka? Mengapa Gavin justru membuatnya merasa seperti seorang perempuan jahat yang diam-diam berkencan dengan calon suami orang lain, saat faktanya, dialah yang ditinggalkan supaya Gavin bisa menikahi perempuan lain?
"Kamu nggak perlu takut, aku nggak akan macam-macam. Kalau kamu mau aku pergi dari hidup kamu sekalipun, akan aku turutin." Kesal Irina. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menyembunyikan perasaan kesalnya yang selama ini hanya ia pendam sendirian. Gavin mana tahu betapa ia tidak bisa tidur setiap malam memikirkan lelaki yang dicintainya akan menikah dengan perempuan lain? Gavin mana tahu betapa takutnya ia kalau lelaki itu akan betulan jatuh cinta pada perempuan yang dinikahinya dan pada akhirnya dia akan ditinggalkan sendirian? Gavin tidak tahu. Karena kalau lelaki itu tahu, dia tidak akan menempatkan Irina di situasi sulit seperti sekarang ini.
"Jangan ngomong gitu, Rin. Kamu bikin hati aku sakit."
__ADS_1
Aku lebih sakit, Vin.
Irina mengalihkan pandangan, tepat ketika satu tetes air mata turun ke pipinya, dan ia dengan cepat menyekanya. Ia tidak ingin jadi cengeng sekarang. Mereka sudah sepakat untuk membiarkan perjodohan ini terjadi demi menyelamatkan banyak hal. Dan semuanya sudah berjalan sejauh ini, ia tidak boleh goyah.
"Rin," Gavin menyentuh tangan Irina, namun gadis itu tetap bergeming.
"Maaf. Aku nggak bermaksud untuk nyakitin kamu lagi. Aku cuma khawatir kalau-"
"Kalau aku akan bongkar semuanya dan bikin pernikahan kalian gagal, kan? Kenapa sih, Vin, kamu nggak bisa percaya sama aku? Apa selama ini aku pernah nggak nepatin janji aku ke kamu? Pernah?" Irina menepis tangan Gavin kasar, menatap tajam lelaki yang kini mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahnya itu.
"Nggak gitu, Rin,"
"Terus apa?!" Irina berteriak kesal, meluapkan semua emosi yang sudah ia tahan selama ini.
"Apa, Vin? Kamu khawatir apa?" kini suara Irina melemah. Air mata yang tadi ia tahan agar tidak jatuh kini sudah mengalir deras bak sebuah keran yang bocor. Irina sesenggukan, bahunya naik turun dan napasnya terasa sesak sebab beban di dadanya terasa begitu berat.
Sementara Irina menangis, Gavin sibuk merutuki dirinya sendiri. Dalam satu hari, ia telah membuat dua orang perempuan sakit hari. Satunya ia buat kebingungan hingga dihantui resah tak berujung, satu lagi ia buat menangis sampai sesenggukan di depan matanya. Agaknya, takdir sialan yang mengikutinya selama ini telah berhasil membuat Gavin menjadi laki-laki brengsek yang sesungguhnya. Kini, ia bukan lagi cuma membenci takdir hidupnya, tapi Gavin juga mulai membenci dirinya sendiri.
Gavin meraih tubuh Irina yang bergetar hebat akibat tangis. Ia dekap tubuh itu erat, mengusap punggung perempuan itu pelan dan membiarkan air mata Irina jatuh membasahi kemejanya. Bermenit-menit ia diam dalam posisi itu, sampai akhirnya isakan Irina mulai mereda dan ia mendorong pelan tubuh perempuan itu hanya untuk menciptakan jarak yang tak berarti. Ia pandangi wajah cantik yang kini dipenuhi jejak air mata itu, ia usap sisa air mata yang tertinggal di pipi pualam Irina menggunakan ibu jarinya. Gavin menatap manik kelabu yang kini sedikit memerah itu dalam-dalam, menyelaminya dengan sungguh-sungguh sebelum mendararkan sebuah kecupan di bibir tipisnya yang dipulas dengan lipstik merah terang.
"Maaf," bisiknya pelan.
Irina tidak menjawab, tapi melalui tatapan matanya, Gavin tahu perempuan itu akan selalu menerimanya. Maka dengan gerak lambat, ia kembali mendekatkan wajahnya, membawa dirinya lebih dekat pada perempuan yang telah mengisi hatinya selama dua tahun itu. Tangannya yang masih berada di pipi Irina kembali bergerak pelan, mengusap pipi yang tampak lebih tirus itu sebelum bibir-bibir mereka kembali bertemu. Awalnya hanya sebuah kecupan ringan, namun lama kelamaan kecupan-kecupan ringan yang Gavin berikan berubah menjadi *******-******* halus yang sarat akan kerinduan, bercampur dengan rasa penyesalan yang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari benak Gavin. Mereka bergerak perlahan, tidak saling menuntut dan hanya ingin menyampaikan perasaan masing-masing melalui sentuhan halus bibir-bibir mereka. Keduanya terpejam, perlahan-lahan mengosongkan kepala saat ciuman itu semakin dalam dan intens. Mereka berusaha melupakan segala pelik yang mendera, memutuskan untuk sejenak menikmati rasa manis dari bibir masing-masing sebelum jarak di antara mereka akan kembali terbentang dan kesempatan semacam ini mungkin tidak akan sering datang.
"I love you, Rin." Bisik Gavin di sela pagutan mereka yang sempat terlepas ketika mereka memberi jeda untuk mengambil napas.
"I know." Irina membalas, kemudian ia mengulurkan tangannya ke belakang leher Gavin, menelusupkan jemarinya untuk menyisir helaian rambut Gavin yang halus lalu membawa kepala lelaki itu lebih dekat dengannya. Kembali ia sesap bibir tebal Gavin, kali ini lebih rakus, seperti seorang musafir yang akhirnya bertemu dengan mata air di padang gurun yang tandus.
Gavin membiarkan Irina berbuat semaunya, memimpin permainan tanpa berniat untuk menghentikan apapun yang perempuan itu lakukan. Tapi saat jemari lentik Irina bergerak pelan meraba dadanya dan berusaha menelusup masuk ke balik kemeja yang dia kenakan, Gavin terpaksa menghentikan pergerakan tangan kecil itu. Pagutan mereka pun terlepas, Irina menjauhkan wajahnya hanya untuk menciptakan jarak yang tidak terlalu berarti.
"I want you so bad, Vin." Bisik Irina, ia mengusap dada Gavin menggunakan telapak tangannya, merasakan jantung lelaki itu berdetak kencang persis seperti miliknya.
"Not now." Gavin meraih tangan Irina yang ada di dadanya, menggenggamnya erat kemudian membawa tangan itu ke hadapannya dan mengecupnya pelan. Ia biarkan bibirnya berdiam di punggung tangan Irina selama beberapa detik sebelum tatapan mereka kembali bertemu.
"Vin," panggil Irina pelan.
"Hmmm?"
"Don't ever do this to Kalea."
"*Do what?"
"This*." Irina mengecup singkat bibir Gavin, kemudian meraih tangan besar lelaki itu dan mengecup punggung tangannya persis seperti yang Gavin lakukan padanya tadi. "And this." Karena sumpah demi apapun, Irina tidak akan rela untuk berbagi kecupan ini dengan perempuan manapun, termasuk Kalea. Gavin memang akan menikahi perempuan lain, tapi Irina tidak akan membiarkan siapapun menyentuh miliknya.
Gavin tidak kunjung menjawab, membuat Irina terpaksa menarik dagu lelaki itu agar kembali menatapnya.
"Vin?"
"I promise." Gavin menjawab cepat. "I won't do this to Kalea." Kata Gavin, kembali mendaratkan kecupan di bibir Irina yang telah lama membuatnya candu.
"*You're mine, right?"
"Yeah, I'm yours*." Kemudian Gavin menarik tubuh itu ke dalam pelukan. Mendekapnya sangat erat dan mulai berharap waktu sudi berhenti barang sejenak. Ia ingin menikmati waktu bersama Irina lebih banyak, sebelum hari pernikahannya dengan Kalea tiba dan banyak hal yang akan berubah.
__ADS_1
"I'm yours, Rin. I'm yours." Ucapnya sekali lagi, berusaha meyakinkan Irina, dan juga dirinya sendiri.