
Senyum cerah Irina sepenuhnya luntur. Bukan karena dia harus berpura-pura kesakitan untuk membuat Gavin iba, melainkan munculnya sosok yang tidak diharapkan dari balik pintu kamar mandi.
Alih-alih mendapati Gavin, Irina justru menemukan Taruna muncul dari balik pintu dengan raut wajah datar yang seperti sudah menjadi template. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat khawatir ataupun iba kepada dirinya, meskipun jelas-jelas kondisinya saat ini terlihat memprihatinkan.
"Kenapa? Kecewa karena bukan Gavin yang dateng?" sindir Taruna ketika sadar ada kekecewaan yang begitu kentara terpancar dari raut wajah Irina.
"Kamu ngapain ke sini?" Irina bertanya balik. Agak ketus, karena tiba-tiba saja, dia merasa kesal.
"Nggak usah banyak nanya." Sinis Taruna. Lalu dia berjalan mendekati Irina, tanpa permisi menggotong tubuh perempuan itu, sepenuhnya mengabaikan segala protes yang keluar dari bibirnya.
"Turunin aku!" teriak Irina, berusaha berontak dari dalam gendongan Taruna.
Tetapi, seharusnya dia paham kalau Taruna itu juga keras kepala. Jadi, tidak peduli seberapa banyak dia memberontak, lelaki itu tetap akan melakukan apa yang dia kehendaki.
"Na!" Irina memukul lengan Taruna berkali-kali. Tetapi hal itu tetap tidak membuat Taruna goyah. Dia terus melangkahkan kaki, sampai akhirnya tiba di samping ranjang Irina.
Tahu apa yang lelaki itu lakukan setelahnya? Tubuh ramping Irina yang ada di gendongannya, dia lempar begitu saja ke atas kasur, membuat si empunya meringis kesakitan karena ada bagian kepalanya yang membentur headboard ranjang.
"Sakit!" pekik Irina, mengusap kepala bagian belakangnya yang nyeri.
Taruna tidak menanggapi, dan malah ngeloyor begitu saja keluar dari kamar, membuat Irina mengomel tanpa henti sampai akhirnya lelaki itu kembali dengan membawa handuk kecil dan baskom berisi pecahan es batu.
Taruna kemudian menarik kursi, duduk di sebelah kasur dan meletakkan dua benda yang dia bawa itu ke atas nakas lalu mengulurkan tangan ke arah kaki Irina.
"Kamu mau ngapain!" Irina menepis kasar tangan Taruna yang hendak menyentuh pergelangan kakinya.
Dibentak begiru, Taruna jadi kesal. Semena-mena saja dia saat menarik kaki jenjang Irina sehingga membuat si empunya berteriak kesakitan.
"Janga kasat!" protes Irina lagi, tapi sama sekali tak dihiraukan oleh Taruna.
Satu tangannya memegangi kaki Irina agar perempuan itu tidak kembali menariknya, sedangkan satu tangan lagi bergerak sebisanya meletakkan beberapa pecahan es batu ke atas handuk kemudian menggulungnya. Handuk berisi es batu itu kemudian dia bawa ke pergelangan kaki Irina, menggunakannya untuk mengompres bagian yang terlihat memerah dan sedikit bengkak.
__ADS_1
Irina meringis kala dingin menggerayangi kulit kakinya yang telanjang. Sesekali dia melirik ke arah Taruna yang masih tampak tenang dan begitu telaten menggeser kompres es batu itu ke bagian-bagian lain di sekitar pergelangan kakinya.
Selama hampir tiga puluh menit, Taruna melakukan pertolongan pertama itu kepada Irina. Sampai kemudian es baru mencari dan handu yang dia gunakan mulai basah.
Taruna melepaskan genggamannya di pergelangan kaki Irina, lalu bangkit membawa serta handuk dan baskom keluar dari kamar.
Irina cuma bisa terdiam menatapi punggung lebar Taruna yang menjauh. Rasa nyeri di pergelangan kakinya sedikit berkurang, tetapi dia masih merasa kesal karena bukan Gavin yang datang untuk merawat lukanya.
Tak lama berselang, Taruna datang lagi, kali ini sambil membawa perban elastis yang entah dia dapat dari mana. Mungkin saja lelaki itu membelinya saat dalam perjalanan ke sini. Entahlah, Irina sendiri tidak yakin.
Taruna masih tidak mengatakan apa-apa ketika dia kembali duduk di kursi dan mulai membalut pergelangan kaki Irina menggunakan perban yang dia bawa. Bahkan, ketika dia selesai dengan pekerjaannya, lelaki itu masih bungkam.
Ketika Irina bergerak pelan menyamankan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung di headboard, barulah Taruna buka suara.
"Kenapa lo senekat ini menyakiti diri sendiri cuma untuk mendapatkan perhatian dari Gavin?" Taruna menanyakan itu dengan tatapan yang tertuju lurus pada pergelangan kaki Irina yang terbalut perban.
Sialan. Taruna jelas tahu kalau luka ini dia buat sendiri. Sungguh menyebalkan saat dia menyadari bahwa Taruna tahu lebih banyak hal tentang dirinya ketimbang Gavin. Fakta yang selalu membuatnya uring-uringan karena sedari dulu, dia selalu berharap jika semua yang Taruna lakukan kepadanya, akan dilakukan oleh Gavin.
Taruna tersenyum miris saat mendengar jawaban Irina. Perlahan, dia mengangkat kepala, menatap Irina dengan banyak sekali kebencian dan kekesalan yang begitu kentara dari sorot matanya.
"Sinting," ucapnya datar.
Irina tidak menyahut. Karena dia memang sinting. Gavin dan segala hal yang terjadi dalam hubungan medeka telah berhasil membuat kewarasannya perlahan-lahan tergerus sampai akhirnya tak lagi bersisa.
"Lo jelas tahu kalau Gavin sudah mulai menarik garis batas. Itu artinya, tinggal menunggu waktu sampai dia beneran ninggalin lo." Sekali lagi, Taruna berusaha menyadarkan Irina.
"Selagi belum ada kata putus, aku masih punya hak atas Gavin." Irina si keras kepala.
Taruna terbahak-bahak. Irina sungguh lucu. Di mana-mana, biasanya perempuan akan langsung pergi kalau tahu kekasihnya memiliki perempuan lain. Tapi perempuan ini malah rela melakukan apa saja untuk mempertahankan kekasihnya yang jelas-jelas sudah tidak berminat untuk melanjutkan apa-apa lagi.
"Tapi dia nggak datang buat nolongin lo, dan malah nyuruh gue buat menggantikan tugasnya." Taruna sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Irina mengepalkan tangan di samping tubuh. Kekesalannya semakin menjadi-jadi saat Taruna menatapnya tajam, memperlihatkan raut wajah menyeramkan yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
"Malam ini, dia boleh nggak datang." Irina masih berusaha tenang. Ditegakkannya punggungnya, kemudian membalas tatapan Taruna dengan tidak kalah sengit.
"Tapi lihat aja nanti, aku akan bikin dia mendatangi aku dengan begitu frustrasi." Irina tersenyum miring setelahnya. Sebab di dalam kepalanya kini, sudah tersusun rencana yang begitu apik. Dan ... itu semua juga berkat bantuan Taruna. Karena kalau malam itu Taruna tidak menyerangnya, Irina tidak akan memiliki senjata ini untuk membuat Gavin tetap berada di sisinya.
"Just wait and see, Na. Aku bakal buktikan ke kamu kalau Gavin nggak bisa melepaskan diri dari aku."
...****************...
Yang terjadi sebelumnya...
Setah terdiam cukup lama di carport, Gavin akhirnya mengambil langkah yang menurutnya paling baik untuk diambil sekarang.
Jemarinya bergerak pelan menggulir layar ponsel, mencari-cari nomor Taruna, kemudian segera men-dial nomor tersebut.
"Halo?" sapa Taruna.
"Gue mau minta tolong." Kata Gavin tanpa basa-basi.
"Apa?"
"Irina bilang dia jatuh di kamar mandi, kakinya keseleo. Gue nggak bisa datang ke sana sekarang, Na. Jadi, bisa gue minta tolong sama lo untuk cek kondisinya?" Gavin berusaha menjelaskan sesingkat mungkin.
"Oke." Seperti biasa, Taruna tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan permintaannya. Dan tentu saja Gavin bersyukur karena hal itu.
"Makasih, Na."
"No prob."
Telepon pun terputus, Gavin memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana kemudian segera melajukan mobilnya untuk memenuhi keinginan Kalea.
__ADS_1
Bersambung