
Suara tangis dari seorang bayi mungil telah berhasil meluruhkan harap-harap cemas yang sedari tadi menyelimuti orang-orang yang berjaga di depan ruang bersalin. Jonathan dan istrinya saling berpelukan, bersama-sama mengucap syukur atas kelahiran cucu pertama mereka yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga.
Tidak jauh berbeda dengan orang tua Gavin, orang tua Kalea pun melakukan hal yang sama. Papa dan Mama juga saling berpelukan. Tangan Papa mengusap-usap punggung Mama sambil terus membisikkan kalimat syukur yang tidak ada habisnya.
Selain para orang tua, ada pula Karel yang memang setia berjaga di sana sejak semalam ketika Kalea dilarikan ke rumah sakit ini setelah mengeluh mulas yang teramat. Pemuda yang biasanya selalu bertingkah konyol itu mendadak jadi sosok yang serius, dan sama sekali tidak berhenti merapalkan doa agar bayi yang ada di dalam kandungan Kalea bisa dilahirkan dengan sehat dan selamat.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter yang telah membantu jalannya proses persalinan muncul dari dalam ruang bersalin. Meksipun wajahnya tertutup masker, tetapi semua yang ada di sana bisa melihat bahwa dokter itu tengah tersenyum. Terlihat jelas melalui matanya yang berkerut.
"Bayinya perempuan, lahir dengan selamat dan sehat. Ibunya juga dalam kondisi baik, sehingga hanya butuh waktu untuk pemulihan pasca melahirkan." Tutur si dokter perempuan.
Semuanya bernapas lega. Pelukan kian dieratkan bahkan sampai si dokter pamit undur diri untuk kembali mengurus Kalea dan si bayi mungil yang telah resmi bergabung ke dalam keluarga besar.
Di antara para anggota keluarga yang menunggu, Karel mungkin jadi orang yang paling bersemangat untuk segera bertemu dengan si bayi. Ia ingin segera melihat wujud Choco, yang selama ini telah ia jaga seperti anaknya sendiri.
"Kita kapan boleh ketemu sama Choco?" tanyanya kepada Mama.
Mama menarik diri dari pelukan Papa, menatapnya Karel kemudian terkekeh geli saat melihat betapa wajah pemuda itu berseri-seri. "Sabar, Sayang. Baby-nya harus dibersihkan dulu. Biar nanti pas kita jenguk, baby-nya udah wangi." Ucap Mama.
"Ih, nggak sabar. Mau masuk sekarang aja boleh nggak sih?" rengek pemuda itu sambil mengentak-entakkan kakinya seperti bocah.
"Sabar." Tegur Papa. Sejenak, raut wajah lelaki itu tampak serius sehingga membuat Karel yang berulah tiba-tiba saja diam membisu. Tapi, tak lama setelahnya, lelaki itu malah memukul lengan Karel sambil terkekeh pelan. "Nanti kita ajakin dia nonton bola, ya?" celetuk lelaki tua itu, membuat Karel terbengong-bengong dengan rahang yang terjatuh.
"Papa, ih! Anak cewek, mana boleh nonton bola?" Mama gantian memukul lengan Papa, tapi lelaki itu malah semakin terkekeh.
Ketegangan yang semula masih melingkupi perlahan-lahan mencair dengan lebih banyak gelak tawa yang timbul dari lelucon-lelucon aneh yang Papa dan Karel saling lontarkan kepada satu sama lain.
...****************...
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akhirnya tiba juga. Bayi mungil yang mereka ingin lihat seperti apa rupanya, kini berdiam anteng di gendongan Kalea. Bayi itu benar-benar mirip dengan sang ibu. Mematahkan stigma bahwa anak-anak perempuan yang lahir biasanya lebih mirip dengan sang ayah.
"Mau gendong." Pinta Karel. Dia menjulurkan kedua tangan ke arah Kalea. Sedari saat dia diijinkan masuk ke dalam ruang rawat Kalea, pemuda itu memang sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari bayi mungil yang belum diketahui siapa namanya itu.
__ADS_1
Alih-alih Kalea, sebuah jawaban menyebalkan malah keluar dari bibir Gavin, membuat Karel mendengus sebal. "Nggak. Saya dulu. Saya aja yang ayahnya belum gendong, masa kamu mau duluan."
"Dih, gue juga ayahnya ya! Ayah Karel!" tegas Karel dengan muka tengil abis.
Gavin tidak mau kalah. Setelah sembuh dari koma, lelaki itu juga jadi tidak kalah tengilnya dengan Karel. Mungkin efek dari benturan keras di kepalanya, yang membuat otaknya menjadi gesrek. Ditambah dengan kehadiran Karel yang selalu dan setiap saat datang hanya untuk menimbulkan keributan.
"Saya dulu!"
"Gue dulu!"
"Saya!"
"Gue!"
"Saya, Karel." Gavin menggeram. Sudah hampir habis kesabarannya menghadapi si Karelino Gautama ini.
"Gue, Gapin. G a Ga p i n Pin. Gapin."
"Nama saya Gavin!"
Eits... tapi tidak semudah itu untuk mengalahkan dirinya. Dengan segala kelicikan yang dia punya, Karel mencetuskan ide untuk menentukan siapa yang lebih dulu boleh menggendong bayi mungil mereka.
Apa itu?
Yup! Bocah tengik itu mengajak Gavin suit. Katanya, siapapun yang memang, dia lah yang berhak mendekap sang bayi. Soal para orang tua yang juga menunjukkan wajah-wajah berharap ingin mendapatkan giliran untuk menggendong si bayi sih, dia tidak peduli. Itu urusan mereka. Yang terpenting, dia ingin jadi orang pertama yang menggendong bayi itu setelah Kalea.
"Ayo, buruan!" Gavin sewot. Karena tahu perdebatan ini tidak akan selesai, dia akhirnya setuju saja dengan usulan Karel. Walaupun ujung-ujungnya mereka jadi terlihat lebih kekanak-kanakan di mata semua orang yang ada ruangan itu.
Lenguhan kecewa datang dari satu pihak ketika proses suit selesai dilakukan. Kalea tidak sanggup menahan gelak tawa ketika lenguhan itu ternyata datangnya dari Gavin, sedangkan Karel sudah melompat-lompat kegirangan karena berhasil memenangkan undian.
"Minggir anda." Ucapnya seraya menarik tubuh Gavin agar manjauh dari ranjang. Sekali lagi kedua tangannya diulurkan, dan kali ini, dia menarik kembali tangannya dengan seorang bayi yang berada dalam pelukan.
__ADS_1
"Uuuuhhhh .... lucu banget anak Ayah." Katanya pada bayi lucu yang sedang tertidur lelap itu. Sang bayi menggeliat, membuat Karel semakin gemas ingin melahap hidungnya yang kecil mungil seperti upil. Eh, salah. Bukan upil, terlalu jelek. Itu seperti ... seperti apa, ya? Ah, entahlah! Yang pasti, bayi mungil ini benar-benar menggemaskan!
Selagi Karel menikmati waktunya dengan sang bayi dan Gavin menunggu giliran sambil cemberut, Bunda melipir ke arah Kalea. "Udah siapin nama?" tanyanya.
Kalea tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepala. "Gavin yang siapin."
"Oh, ya? Siapa?"
Semua orang praktis menolehkan kepala ke arah Gavin, begitu juga dengan Karel yang semula asyik sendiri.
"Buruan, ih. Si Choco mau lo kasih nama siapa?" tagih Karel, sewot sendiri seperti hanya dia satu-satunya yang ingin tahu.
Gavin berkomat-kamit tanpa suara sebagai bentuk protes karena Karel terus bertingkah menyebalkan. Tapi kemudian, karena sadar bahwa semua orang sedang menunggu jawabannya, ia pun berdeham pelan sebelum berkata, "Eliana Dimitria."
Nama yang kedengaran cantik itu membuat seluruh anggota keluarga kembali bersukacita. Kini, mereka tidak lagi harus memanggil anggota keluarga baru mereka dengan sebutan bayi.
"Eliana Dimitria." Karel bergumam pelan, mengulangi nama si bayi sebanyak enam kali sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke wajah Elianan yang merah. "Halo, El, anak Ayah yang cantik jelita." Sapanya, yang lantas disambut dengan gelak tawa seluruh anggota keluarga, termasuk Gavin yang semula masih cemberut menunggu gilirannya.
Melihat putrinya dicintai oleh begitu banyak orang, jelas membuat Kalea bahagia. Rasanya, kesakitan yang dia lewati selama ini terbayar tuntas hanya dengan melihat orang-orang yang dia sayangi ini menerima kehadiran Eliana dengan penuh sukacita.
Selagi orang-orang sibuk mengerumuni Eliana, Kalea diam-diam memandangi Gavin. Ia hanya merasa, keputusannya untuk mempertahankan rumah tangga dengan lelaki itu adalah keputusan yang tepat. Tidak terbayang olehnya kalau waktu itu dia tetap bersikeras untuk bercerai. Mungkin kelahiran Eliana tidak akan disambut semeriah ini.
Di tengah euforia yang ada, Kalea merasa hatinya kembali penuh.
*Yuhuuuuuu
Ada yang kangen nggak sih ngeliat Karel sama Gavin gelut?
Nggak ada?
Oke, baiklah. Cuz I write this chapter berdasarkan rasa rinduku pada pergelutan mereka berdua.
__ADS_1
Well, gitu doang si sebenernya.
Bye! Stay healthy and happy everyone*!!!