
"Malam itu, saat saya meninggalkan kamu sendirian, seseorang yang saya kenal hampir kehilangan nyawanya."
Kalea menoleh pada Gavin. Jejak air mata masih terlihat jelas di belah pipinya yang pucat. Setelah menghabiskan bermenit-menit menangis di pelukan lelaki itu, Kalea menarik diri. Memutuskan untuk gantian mendengarkan penjelasan Gavin. Bukankah dia telah berjanji untuk menyediakan telinga saat hatinya sudah siap? Dan Kalea tidak tahu apakah akan ada waktu lain yang lebih baik ketimbang hari ini.
"Sama seperti Karel yang ingin melindungi kamu, saya juga ingin melindungi orang ini. Jadi ketika saya mendapat kabar bahwa dia sedang dalam posisi bahaya, saya tidak bisa memikirkan hal lain selain segera pergi menyusul ke tempat dia berada." Pandangan Gavin lurus ke depan. Tapi dari samping, Kalea bisa melihat dengan jelas kegetiran yang terpancar dari manik kelam lelaki itu.
"Saya tahu tindakan saya salah, Kalea. Tidak seharusnya saya meninggalkan kamu sendirian malam itu." Kata Gavin lagi, kali ini menolehkan kepala dengan raut bersalah yang kentara.
Kalea masih diam. Dia tahu ada lebih banyak hal yang ingin Gavin sampaikan dan dia tidak keberatan untuk mendengarkan.
"Saya minta maaf. Karena kebodohan saya, kamu jadi berada dalam bahaya."
"Pagi itu, saya menerima pukulan yang Karel berikan dengan lapang dada. Saya nggak berniat membalas sedikit pun karena saya sadar sefatal apa kesalahan saya. Sebab jika saya berada di posisi Karel, saya akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih."
Kemudian tercipta hening untuk waktu yang cukup lama. Di dalam jeda itu, Kalea sibuk menelusuri manik kelam yang kini terpaku padanya. Berusaha mencari kebohongan dari setiap kalimat yang Gavin ucapkan kepadanya. Tapi, nihil. Kalea tidak berhasil menemukan setitik pun kebohongan di mata lelaki itu. Ada kesedihan yang begitu kentara di sana. Menggambarkan betapa rapuhnya seorang Mahesa Gavin Cakraditya. Sesuatu yang tidak akan dia perlihatkan di muka publik, malam ini Kalea menyaksikannya sendiri.
Kalea masih ingin menelisik lebih jauh, tapi saat tangan besar Gavin meraih tangannya yang dingin dan menggenggamnya erat, dia sepenuhnya kehilangan niatnya itu.
"Saya tahu kesalahan saya fatal. Kamu boleh memaki saya sepuas hati kamu kalau hal itu bisa membuat kamu merasa lebih baik. Tapi, Kalea," Gavin memberikan jeda sebentar untuk menarik napas dalam-dalam.
"Tolong jangan menarik diri dari perjodohan ini karena kesalahan yang udah saya perbuat."
"Anggap saja saya nggak tahu diri karena meminta hal seperti ini sama kamu setelah apa yang terjadi. Tapi saya benar-benar nggak bisa membiarkan perjodohan ini dibatalkan."
"Kenapa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tipis Kalea.
"Karena saya mau kamu." Gavin menjawab tanpa berpikir sedikitpun.
Mendadak Kalea kehilangan kemampuan untuk merespon sesuatu. Banyak file yang tengah diproses di kepalanya berhamburan, kacau balau hingga tidak satupun yang berhasil diwujudkan dalam sebuah tindakan. Karena saya mau kamu. Tidak pernah terpikirkan oleh Kalea bahwa kalimat itu akan terucap dari bibir Gavin.
"Saya mau kamu, bukan yang lain."
Lalu Kalea benar-benar seperti kehilangan dirinya sendiri.
******
Permintaan Gavin tidak Kalea jawab. Setelah hening menguasai selama beberapa saat, Kalea menarik tangannya dari genggaman lelaki itu sekaligus memutus kontak mata yang terjadi. Tubuh kecilnya bangkit, disusul Gavin yang ikut bangkit tidak lama setelahnya.
"Saya antar kamu ke depan." Kata Kalea. Kepalanya menunduk, memerhatikan bagaimana jemari kakinya yang telanjang telah berubah warna menjadi pucat dan sedikit keriput.
"Iya." Gavin tidak menolak. Setelah menurunkan kembali celana yang dia gulung dan memakai sepatu, dia menyusul Kalea yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
Gavin masih terus mengekor di belakang, sampai saat mereka tiba di perbatasan ruang tengah dan ruang tamu, dia dengan cepat menyejajarkan langkah dengan Kalea.
"Sampai sini aja. Kamu sebaiknya naik dan ganti baju. Kamu pasti kedinginan. Lagipula Papa saya juga udah pulang, jadi kamu nggak perlu berpamitan." Cegah Gavin. Lelaki itu berjalan ke hadapan Kalea, menghalau langkahnya.
"Saya antar sampai depan." Kalea dengan keras kepalanya.
"Kalea,"
"Saya antar sampai depan, Gavin." Kata Kalea penuh penegasan. Dia mendongak, menantang Gavin untuk beradu tatap dengannya. "Sampai depan." Ulangnya.
Gavin mengalah. Akhirnya menggeser tubuhnya agar Kalea bisa lewat. Dia masih terdiam di tempat saat tubuh kecil itu berjalan menjauh. Hingga sebelum Kalea sampai di ambang pintu depan, barulah Gavin menyusul.
"Kamu tadi ke sini naik apa?" tanya Kalea saat tak menemukan mobil lain yang terparkir di halaman rumahnya.
"Taksi bandara."
"Kalau gitu pesan taksi online sekarang. Jam segini susah cari taksi konvensional yang lewat depan komplek perumahan saya." Kata Kalea. Mereka sejenak berhenti di dekat pos satpam tempat Pak Dadang biasa berjaga. Pria itu tidak ada di tempatnya, entah pergi kemana.
"Saya nggak bawa hp."
Kalea praktis menoleh. Omong kosong apa lagi ini? Jaman sekarang memangnya ada orang yang bisa bepergian tanpa membawa serta ponselnya? Agaknya Gavin memang tidak pandai berbohong.
"Saya serius." Kata Gavin yang sadar bahwa Kalea tengah menatapnya penuh curiga.
"Kok bisa?"
"Ya buktinya bisa."
Kalea memutar bola mata kesal. "Terus gimana kamu pulangnya?"
Gavin hanya mengangkat bahunya. Seolah perkara dengan apa dan bagaimana dia akan pulang bukanlah suatu masalah yang serius.
"Yaudah, pakai mobil saya aja." Kata Kalea. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya.
Tak lama kemudian, dia kembali membawa kunci mobil dan jaket kulit milik Papa yang dia sambar dari jemuran.
"Nih." Kalea mengulurkan kunci mobil dan jaket kulit itu kepada Gavin.
__ADS_1
"Jaketnya nggak perlu." Kata Gavin. Hanya meraih kunci mobil dan mendorong jaket kulit yang Kalea sodorkan kembali ke arah si gadis.
"Baju kamu basah kena cipratan air kolam." kata Kalea. Diletakkannya jaket kulit yang dia bawa ke bahu tegap Gavin.
"It's not a big deal. But still, thank you." Pada akhirnya Gavin pasrah. Dia kenakan jaket kulit yang ukurannya sedikit lebih kecil dari ukuran tubuhnya itu agar Kalea senang.
"Sana pulang." Kalea memutar tubuh Gavin, mendorongnya menuju garasi di mana mobilnya diparkirkan.
"Tunggu." Gavin menghentikan langkah tiba-tiba, membuat wajah Kalea bertabrakan dengan punggung lebarnya.
"Gavin!" Kalea memekik, namun bibirnya terkatup rapat saat Gavin tiba-tiba berbalik dan sedikit membungkuk, mencondongkan wajah ke arahnya.
"Saya...udah dimaafin belum?" tanyanya dengan suara rendah yang membuat Kalea bergidik.
"Belum." Kata Kalea setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Gavin tampak terkejut dengan jawaban yang Kalea berikan. Tubuhnya mendadak ditegakkan dan dia benar-benar kehilangan kata-kata.
"Ada syaratnya kalau kamu mau saya maafin." Kata Kalea, lengkap dengan tampang usil yang baru pertama kali Gavin lihat.
"Apa?"
"Beliin saya kinderjoy. Sebelas."
Untuk beberapa saat, Gavin terdiam. Tubuhnya mematung dan kepalanya sibuk memproses informasi yang barusan telinganya dengar. Kinderjoy, sebelas. Kinderjoy, sebelas. Kinderjoy? Sebelas? Lalu saat otaknya sudah sepenuhnya paham, Gavin praktis tergelak.
Saat mendengar Kalea bilang ada syarat yang harus dia penuhi untuk bisa gadis itu maafkan, Gavin berpikir Kalea akan meminta hal-hal yang sulit. Hanya untuk menguji kesabarannya dan membuatnya menggertakkan gigi kuat-kuat serta menyunggingkan senyum palsu dalam kesanggupannya memenuhi syarat itu. Tapi rupanya, Kalea memang gadis yang unik. Kinderjoy berjumlah sebelas bukanlah sesuatu yang sulit bagi Gavin. Jangankan sebelas, kalau Kalea minta dibelikan pabriknya sekalipun, Gavin mampu.
"Sanggup nggak?" tanya Kalea yang mulai jengah menunggu Gavin berhenti tertawa. Walau diam-diam dia mengulum senyum melihat betapa lepas lelaki itu mengekspresikan perasannya.
"Sanggup." Gavin berkata mantap setelah menuntaskan tawanya. "Besok, saya datang kesini bawa kinderjoy sebelas. Kamu jangan pergi kemana-mana, oke?" lanjutnya. Mengusak pelan rambut coklat Kalea sebelum masuk ke dalam mobil.
"See you tomorrow, Kalea." Pamitnya, kemudian mobil dia kemudian menjauhi area perumahan Kalea.
Kalea masih berdiri di tempatnya bahkan bermenit-menit setelah Gavin dan mobilnya menghilang dari pandangan. Mulai sibuk memikirkan hal lain saat suara tawa Gavin perlahan-lahan pudar dari dalam ingatan. Karel. Kalea masih harus memperbaiki hubungannya dengan Karel.
"Mbak Kalea ngapain di luar?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Dadang sontak membuat lamunan Kalea buyar. Dia menoleh dan menemukan Pak Dadang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan keheranan.
"Abis nganterin Gavin pulang." Jawab Kalea seadanya.
"Pantesan tadi Mas Karel cuma sebentar, ternyata karena masih ada Mas Gavin toh?" lanjut pria paruh baya itu yang sontak membuat Kalea terkejut.
"Karel tadi ke sini?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, Mbak. Semangat banget jalannya, mungkin karena udah berhari-hari nggak main ke sini. Tapi nggak lama Mas Karel keluar lagi, mukanya keliatan sedih. Kirain berantem lagi sama Mbak Kalea." Jelas Pak Dadang panjang lebar.
Kalea sudah tidak mendengar lagi apa yang Pak Dadang katakan selanjutnya sebab saat itu juga dia langsung berlari keluar gerbang menuju rumah Karel. Sesampainya di depan gerbang rumah Karel yang tinggi menjulang, Kalea secara impulsif menekan bel berkali-kali. Bibirnya juga tak tinggal diam, sibuk memanggil-manggil nama Karel.
"Karellllllll!!!" teriaknya entah sudah yang ke-berapa kali.
"Karelllll bukain pintunya!!!!"
"Relll!!! Kita harus ngomong!!!"
"Karelino Gautama!!!!!"
Kalea masih terus berteriak hingga tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Bel masih terus dipencet, tak peduli jika hal itu bisa mengganggu kenyamanan tetangga yang lain. Yang Kalea pikirkan saat ini hanya dirinya perlu segera bertemu dengan Karel untuk meluruskan masalah mereka. Kalea tidak tahan untuk berlama-lama dalam kondisi seperti ini dengan Karel. Dia juga harus menjelaskan pada Karel tentang keberadaan Gavin di rumahnya tadi agar lelaki itu tak semakin salah paham.
"Relll!!!!!!!!!" teriaknya untuk terakhir kali sebelum seseorang berlarian ke arahnya, membukakan pagar secara terburu-buru.
Harapan Kalea pupus saat yang muncul dari balik gerbang bukanlah Karel, melainkan Ibun yang sudah mengenakan baju tidur dan menatapnya heran.
"Kenapa sayang?" tanya Ibun khawatir saat menemukan mata Kalea mulai berair.
"Ibun, Karel mana? Kalea mau ketemu sama Karel." Kata Kalea dengan suara bergetar. Matanya terasa panas dan sesak di dadanya perlahan membuat napasnya tercekat.
"Loh, Karel kan tadi ke rumah kamu. Kalian nggak ketemu?" tanya Ibun kebingungan dan mulai panik.
Kalea menggeleng. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, maka dia menangis. Bahunya bergetar naik turun dan dia mulai terisak-isak. "Kalea mau ketemu Karel." Lirihnya yang membuat Ibun semakin panik.
"Duh, kemana anak itu. Kalea, dengerin Ibun dulu...kamu jangan nangis. Biar Ibun coba telepon Karel dulu, oke?" Ibun meraih bahu Kalea, mengusapnya pelan untuk membantu gadis itu meredakan tangisnya. Namun sia-sia karena yang ada tangis Kalea malah semakin pecah.
"Cup cup, kita masuk dulu, ya? Kita coba telepon Karel dulu ya, sayang?" Ibun masih berusaha membujuk Kalea. Tapi gadis itu menggeleng kuat.
"Ibun, Kalea boleh pinjam mobilnya Karel?" tanya Kalea yang sontak membuat Ibun mengerutkan kening.
"Buat apa sayang? Jangan aneh-aneh."
__ADS_1
"Kalea kayaknya tahu Karel ada di mana. Boleh, ya, Ibun?" rengek Kalea sembari menyeka air matanya yang masih terus berjatuhan.
Ibun tampak berpikir sejenak. Lalu setelah satu hela napas panjang, Ibun akhirnya menganggukkan kepala.
"Tunggu bentar, Ibun ambilin kunci mobilnya."
Kalea mengangguk. Lalu Ibun berlarian ke dalam rumah dan Kalea sibuk berusaha menghentikan tangisnya. Dia tidak boleh lemah. Tidak boleh cengeng karena dia harus mendatangi Karel dan menyeret bocah itu untuk pulang.
Beberapa saat kemudian, Ibun kembali membawa kunci mobil milik Karel dan langsung menyerahkannya kepada Kalea.
"Kamu mau cari Karel di mana? Ibun ikut."
"Jangan. Kalea aja. Ibun di rumah aja." Tolak Kalea. Buru-buru berjalan ke garasi, meninggalkan Ibun di belakang yang masih sibuk bernegosiasi.
"Tapi, Kal, Ibun mau ikut."
"Ibun jangan ngeyel." Kalea menghentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu mobil. Dia berbalik, menatap Ibun dengan tatapan galak.
"Oke, oke. Ibun nggak jadi ikut." Ibun memundurkan langkah sembari mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah.
"Good." Kata Kalea kemudian segera masuk ke dalam mobil. Dia abaikan teriakan Ibun yang menyuruhnya untuk mengemudi dengan hati-hati dan tidak ngebut, karena begitu kakinya menyentuh pedal gas, mobil praktis melaju dalam kecepatan di atas rata-rata.
******
Dari luar, Algara masih terlihat sama seperti kali terakhir Kalea menginjakkan kaki di sini. Dua security berbadan gempal ditugaskan untuk menjaga pintu masuk. Wajahnya garang, seolah bisa mengintimidasi siapapun agar tidak berbuat macam-macam.
Kalea melangkah pelan, sedikit meringis saat hawa dingin menerpa bagian tubuhnya yang terbuka. Sampai di depan pintu masuk, dua security itu tampak menatapnya dari atas sampai bawah. Benar-benar meneliti penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajar saja mereka begitu. Karena orang macam yang akan datang ke klub malam hanya menggunakan setelan Jisung kaus oblong, celana pendek dan sendal jepit? Kalaupun ada, kemungkinannya mungkin hanya 1:1000.
"Kartu identitas." Ucap si security.
Kalea menepuk dahinya saat itu juga. Salahnya karena terlalu bersemangat untuk menyusul Karel hingga lupa membawa kartu identitasnya.
"Nggak punya kartu identitas, nggak boleh masuk." Ucap security satunya dengan tampang meremehkan. Barangkali, pria itu berpikir Kalea adalah gadis di bawah umur yang sedang coba-coba untuk mengenal dunia malam.
"Gini, Pak," kata Kalea mencoba menjelaskan. "Saya tadi buru-buru, jadi lupa nggak bawa dompet."
"Alasan kayak gitu udah basi, Dek. Kalau kamu nggak bisa kasih lihat kartu identitas, silahkan pergi." Security yang pertama kali berbicara mengarahkan Kalea untuk pergi dari sana.
Tapi Kalea tentu tidak akan menyerah semudah itu. Matanya memicing untuk memeriksa name tag si security yang berbicara dengannya itu. Suryana. Begitu yang tertulis di sana. Lalu Kalea mendongakkan kepala.
"Gini, Pak Suryana," katanya mengawali. "Saya ke sini bukan mau clubbing. Bapak saya punya gudang wine di rumah, jadi saya nggak perlu datang ke klub kalau cuma mau mabok." Lanjutnya, agak memberikan terlalu banyak informasi mengenai gudang wine milik Papa yang belum tentu dua security ini ingin tahu.
"Ini klub, tempat orang mabok. Kamu mau ngapain ke sini kalau bukan untuk mabok? Udahlah nggak usah banyak alasan, sana pergi." Kata security satu lagi yang setelah Kalea cek namanya Hadi.
"Saya ke sini mau jemput temen saya, Pak Hadi." Kata Kalea kepada pria itu.
"Temen kamu udah gede, ngapain pake acara dijemput segala?" Pria bernama Hadi itu masih ngotot.
"Masalahnya dia kalau mabuk suka rese, Pak. Suka cium-ciumin orang sembarangan. Biasanya sih yang paling sering kena cium tuh security kayak Bapak berdua gini. Yang badannya keker dan berotot macem binaragawan."
"Temen kamu cewek?"
"Cowok."
Dua security itu terdiam dan saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Lalu saat keduanya kembali menoleh kepada Kalea secara berbarengan, keduanya praktis bergidik ngeri.
"Gimana, Pak? Boleh nggak saya masuk? Ini demi kenyamanan bersama loh." Kalea dengan segala keahliannya merayu.
"Kamu nggak lagi bohongin kami, Kan?" tanya si Suryana.
"Nggak." Kalea menggeleng. "Kalau Bapak berdua nggak percaya, ikut saya aja ke dalam, nanti Bapak lihat sendiri deh gimana kelakuan teman saya. Tapi ya gitu, saya nggak bisa jamin kalau Bapak berdua bakal aman dari serangan teman saya."
"Sana masuk. Bawa teman kamu keluar sebelum dia bikin onar." Kata si Hadi, menggerakkan tangan dengan gestur seolah mendorong tubuh Kalea untuk segera masuk ke dalam klub.
Tidak ingin membuang waktu, Kalea pun betulan berjalan masuk ke dalam klub sembari cekikikan. Masih terbayang jelas bagaimana ekspresi geli di wajah dua pria berotot tadi saat ia mengarang cerita soal kebiasaan mabuk Karel.
Tawanya sudah reda, seiring dengan langkahnya yang kian dekat dengan bagian paling dalam klub. Kalea tidak perlu bersusah payah untuk menyapu satu persatu meja di sana untuk menemukan keberadaan Karel karena dia tahu Karel akan selalu memilih untuk duduk di meja bar.
Maka dengan langkah yakin, dia berjalan menuju meja bar. Ada empat pengunjung yang duduk di sana, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dan salah satunya adalah Karel.
Kalea tidak tahu sudah berapa gelas alkohol yang Karel tenggak, tapi melihat kepala bocah itu yang terkulai di atas meja bar dan pandangannya yang nanar, Kalea tahu Karel sudah mabuk berat. Sebentar lagi bocah itu pasti aka kehilangan kesadaran.
"Enough, Rel. You've gone too far. Ayo kita pulang." Katanya, berusaha menarik tubuh Karel agar kembali tegak.
Ketika tubuh Karel akhirnya bisa kembali tegak dan mata mereka bertemu, Kalea merasakan sesak kembali berdatangan memenuhi rongga dadanya. Ada kesedihan yang mendalam dari sorot mata Karel yang kini sudah memerah. Kesedihan yang barang kali tidak cukup bila hanya digambarkan dengan kata-kata. Kesedihan yang Kaela tidak tahu apa, tapi dia sangat ingin membantu Karel mengenyahkannya.
Kemudian, sebelum Karel kehilangan kesadaran dan tubuh besar itu ambruk di pelukannya, Kalea tahu kesedihan itu ternyata berasal dari dirinya ketika dari belah bibir laki-laki itu keluar satu kata.
"Kalea."
__ADS_1
Bersambung