
Malam sebelum pernikahannya dengan Gavin digelar, Kalea menghabiskan lebih banyak waktu di studionya. Berusaha menyelesaikan beberapa lukisan yang terbengkalai karena ia disibukkan dengan segala persiapan pernikahan.
Di sudut ruangan, tepatnya di atas salah satu kursi (yang biasa Kalea gunakan sebagai tempat istirahat sembari menyesap cokelat panas dan memandangi rintik-rintik hujan yang tampias ke jendela di hadapan) Karel duduk dengan tenang. Pandangannya lurus ke depan, pada sebuah lukisan yang baru Kalea selesaikan beberapa saat yang lalu. Sebuah lukisan anak laki-laki bermain di tengah di tengah taman penuh Hydrangea warna biru.
Sama seperti yang Karel lakukan, Kalea juga mencurahkan perhatiannya pada lukisan itu. Beberapa hari sebelum ini, ia sempat bermimpi bertemu kembali dengan anak laki-laki dalam lukisan itu. Di dalam mimpinya, anak laki-laki itu telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa berbadan tinggi tegap dan berparas tampan. Kalea tidak bisa mengingat dengan jelas seperti apa rupa lelaki itu, pokoknya ia merasa lelaki itu sangat tampan dengan garis wajah yang tegas dan manik mata kelam yang memabukkan. Oleh sebab mimpi itulah Kalea akhirnya mendapatkan ide untuk melukis apa yang ada di dalam mimpinya, walau pada kenyataannya ia tidak bisa melukiskan laki-laki dewasa dan menggantinya dengan sosok anak laki-laki yang dia rindukan setengah mati selama ini.
"Lo beneran nggak mau minta bantuan Papa buat cari anak itu?"
Kalea menoleh pada Karel, hanya untuk menemukan ekspresi asing di wajah lelaki itu. Sejenak Kalea terdiam, memikirkan kembali ucapan Karel yang sebenarnya bukan pertama kali ia dengar. Sudah sering Karel menanyakan ini, dan jawanan yang ia berikan akan selalu sama. Sama seperti sekarang ketika ia akhirnya menggelengkan kepala.
"Aku nggak punya modal yang cukup untuk minta bantuan Papa." Ucap Kalea sembari bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati Karel, mendudukkan diri di kursi sebelahnya kemudian kembali menatap lukisan anak laki-laki yang sedari tadi menyita perhatian mereka berdua.
"Sedikit informasi tentang dia pun lo nggak ingat?"
Kalea kembali menggeleng. Tersenyum miris saat fakta bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang anak laki-laki itu kembali menampar wajahnya keras-keras. "Selama ini aku cuma panggil dia Abang. Karena memang sejak awal ketemu, dia nggak pernah nyebutin namanya." Ketika Kalea menoleh, ia menemukan kening Karel berkerut. Ini kali pertama ia menceritakan tentang bagaimana hubungannya dengan anak laki-laki itu. Karena selama ini Kalea hanya sekadar memberitahu Karel bahwa ia punya seorang teman kecil yang ingin ditemui lagi.
"Di mana dia tinggal, di blok berapa, dia anaknya siapa?"
Lagi-lagi sebuah gelengan yang keluar sebagai jawaban, membuat Karel mendesah frustasi. Kalau sudah begini, kemana lagi mereka harus mencari jalan keluar? Kalaupun mereka punya informasi yang cukup, mencari seseorang dari belasan tahun silam tetaplah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Dan sekarang apa? Kalea bahkan tidak punya informasi apa-apa.
"Kita selalu ketemuan di area danau belakang komplek. Tiap ketemu cuma ditemani sama pengasuh dan kami cuma fokus main, nggak kepikiran untuk cerita banyak hal." Kalea berucap dengan pandangan menerawang, berusaha mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Abang yang kain hari kian memudar.
"Sesuatu yang lo atau dia tinggalin buat satu sama lain?" tanya Karel tiba-tiba sehingga Kalea kembali menoleh ke arahnya. "Ada nggak? Dalam bentuk barang, misalnya?"
__ADS_1
Kalea tampak berpikir sejenak. Berusaha mengingat-ingat kembali kalau-kalau ada yang terlewat dari potongan memori yang hinggap di kepalanya. Kemudian saat ada satu bagian yang berhasil ia temukan, Kalea menjentikkan jari dengan semangat.
"Ada, Rel!"
"Apa?" tanya Karel dengan antusiasme yang tak kalah besar.
"Dia pernah kasih aku ikat rambut warna biru muda yang ada hiasan boneka kecil bentuk kelinci."
"Sekarang ada di mana ikat rambutnya? Lo masih simpan?"
Kalea mengangguk. "Masih aku simpan. Tapi kayaknya ketumpuk di gudang sewaktu Papa renovasi rumah tiga tahun lalu. Seharusnya sih masih ada di box, barengan sama koleksi foto polaroid kita pas wisuda."
"Cari." Perintah Karel. Kemudian ia bangkit dari duduknya, berjalan mendahului Kalea yang masih tidak bisa mencerna maksud dari ucapannya.
Karel mengentikan langkah tepat di ambang pintu. Ia menolehkan kepala sambil tersenyum tipis. "Cari aja dulu. Gue bantu lo nemuin anak itu." Kemudian Karel melanjutkan langkah. Dalam sekejap tubuh tingginya menghilang dari pandangan Kalea, menyisakan keheningan yang bercampur dengan begitu banyak tanda tanya yang mulai mengerubungi kepala Kalea.
...****************...
Sementara itu, di bagian bumi yang lain, Gavin menghabiskan waktunya di unit apartemen Irina. Sedari sore ia sudah merebahkan diri di ranjang besar itu, menyesapi aroma mawar yang menguar dari lekuk leher Irina ketika perempuan itu ikut membaringkan diri di sebelahnya. Tidak banyak yang mereka lakukan, hanya berbaring sambil sesekali mendaratkan kecupan-kecupan ringan di bibir atau pipi masing-masing.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tidak banyak waktu yang tersisa sampai pagi menjelang di mana kehidupan mereka berdua akan berubah banyak. Gavin akan resmi menjadi suami orang lain, sementara Irina harus berlapang dada menyaksikan kekasih yang dicintainya bersanding dengan perempuan lain demi melindungi hubungan mereka.
"Vin," panggil Irina pelan. Sedikit mengangkat wajahnya yang semula disembunyikan di dada bidang Gavin.
__ADS_1
Gavin hanya berdeham. Bergerak pelan mengeratkan pelukannya di pinggang Irina sehingga membuat perempuan itu harus lebih ekstra mendongakkan kepala.
"Kalau udah menikah nanti, kamu masih bisa sering ketemu sama aku nggak?"
"Sure. Kita udah sering ngobrolin ini." Gavin menunduk, membuat tatapan mereka bertemu dan manik-manik mata mereka saling berkejaran selama beberapa saat ketika hening sempat merayap.
Seharusnya, jawaban itu sudah bisa membuat Irina lega. Tetapi perempuan itu justru menghela napas panjang sebelum menarik pandangan dari Gavin. Tidak cuma pandangan saja, perempuan itu juga menarik diri dari pelukan Gavin. Bergerak pelan membelakangi Gavin yang kini menatapnya dengan kening yang berkerut.
Cukup lama Irina terdiam. Pandangannya terlempar jauh ke jendela kaca yang mengarah ke balkon, menatapi pekatnya malam yang semakin merangkak naik, mengikis habis sisa-sisa senja yang padahal bagi Irina baru bertandang beberapa saat lalu. Resah kembali memenuhi hatinya. Entah kenapa, waktu jadi gemar sekali berlarian ketika ia berharap untuk bisa menikmati lebih banyak momen dengan Gavin. Seolah semesta dan seluruh isinya tidak pernah sudi membiarkannya mengisi kepala dengan kenangan-kenangan manis bersama laki-laki yang ia cintai itu.
Terkadang, kalau kepalanya sedang dalam keadaan kacau dan ia diberi kesempatan untuk memaki takdir Tuhan, Irina akan lebih banyak meratapi tentang hubungannya dengan Gavin. Tentang bagaimana hal-hal tidak pernah berjalan mudah untuk mereka berdua. Tentang perbedaan yang membentang, juga tentang nama lain yang seolah melompat keluar dari mesin pengundi kehidupan dan tidak sengaja masuk ke dalam wadah yang seharusnya hanya berisi ia dan Gavin. Entahlah, dari sekian banyak kesialan yang menimpa hidupnya, Irina paling membenci yang satu ini. Sebuah kenyataan bahwa ia tidak bisa memiliki Gavin untuk dirinya sendiri.
"I'm yours. Apa yang perlu kamu takutkan lagi?"
Irina merasakan tangan besar Gavin memeluk pinggangnya dari belakang. Hangat yang tercipta dari kontak antara punggungnya dengan dada bidang Gavin nyatanya sudah tidak bisa lagi menenangkan kegelisahan yang mulai menguasai hatinya. Sebab ia sadar bahwa pelukan ini mungkin tidak akan jadi miliknya seutuhnya. Gavin bisa saja berjanji tidak akan menyentuh Kalea. Tapi, Irina jelas sadar kalau Gavin tetaplah seorang laki-laki normal. Setelah menikah, Gavin dan Kalea akan tinggal di satu atap yang sama, tidur di ranjang yang sama dan bahkan akan berbagi lebih banyak hal berdua. Jadi bohong kalau Irina bilang ia tidak khawatir.
"Rin?"
Irina masih tidak merespon. Tanpa ia sadari, air matanya merembes, membasahi lengan Gavin yang kini ia jadikan sebagai bantal. Hal itu tentu menarik perhatian Gavin dengan cepat, tanpa banyak bicara lagi, lelaki itu membalikkan tubuh Irina, menangkup pipi tirusnya kemudian mengusap air mata yang mulai deras berjatuhan.
"Don't cry, Rin. I beg you. It hurts me." Suara berat Gavin bagaikan larutan air garam yang diteteskan di atas lukanya yang basah, membuatnya semakin terasa perih dan menyesakkan. Tangis Irina semakin menjadi saat mata kelam itu menyelami manik kelabunya, mengorek kembali luka lama yang menggores dadanya.
"Rin, please..." Lirih Gavin. Namun hal itu masih tidak mampu untuk membuat tangis Irina mereda. Akhirnya yang bisa Gavin lakukan cuma membawa tubuh ramping Irina ke dalam pelukan, mendekapnya erat seolah tidak akan ada hal apapun di dunia yang akan bisa merenggut Irina darinya.
__ADS_1