
Untuk pertama kalinya setelah menjalin hubungan, Irina mengabaikan telepon Gavin. Padahal biasanya, perempuan itu tidak pernah sekalipun melewatkan telepon dan pesan-pesan yang Gavin kirimkan. Sesibuk apapun jadwalnya, perempuan itu akan selalu menanggapi Gavin secepat yang ia bisa, walau Gavin tidak bisa melakukan hal yang sama.
Di dalam kamar mandi, Gavin menggigiti kuku tangannya dengan gerak gelisah. Apa yang terjadi pada kekasihnya itu sehingga tidak menjawab panggilannya? Jam baru menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh enam menit, mustahil kalau perempuan itu sudah tidur. Di dunia ini, Gavin rasa ia lah yang paling tahu seperti apa kebiasaan Irina setiap harinya.
Gavin hendak menelepon sekali lagi, tetapi urung saat menyadari dirinya sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi dan hal itu bisa saja membuat Kalea merasa curiga. Jadi, dengan berat hati, Gavin memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku celana dan berjalan pelan menuju pintu.
Ketika pintu kamar mandi dibuka, dari celah yang hanya sedikit, Gavin bisa melihat Kalea yang sedang tengkurap di kasur, matanya begitu fokus menatap layar televisi yang menampilkan sebuah drama yang mereka tonton sejak sehabis maghrib. Melihat betapa serius raut wajah Kalea, Gavin pun berjalan keluar dari kamar mandi dengan gerakan pelan. Masih sambil memerhatikan Kalea, ia berjalan menuju nakas untuk menyimpan kembali ponselnya di laci paling bawah setelah memastikan ponsel itu dalam keadaan mati.
Ketika hendak berbalik dan bergabung kembali dengan Kalea, Gavin dibuat terkejut saat Kalea tiba-tiba saja menangis. Perempuan itu terisak-isak seperti baru saja ada yang menyakitinya. Gavin panik, buru-buru melompat naik ke atas kasur untuk menenangkan Kalea.
"Hei, kamu kenapa?" tanyanya pelan. Ditariknya pelan tubuh Kalea hingga perempuan itu duduk menghadapnya.
"Kenapa, Kal?" ulangnya. Namun alih-alih menjawab, tangis Kalea malah semakin pecah. Perempuan itu tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya, membuatnya terdiam tak bisa berkata apa-apa.
Selama berpuluh-puluh detik membiarkan Kalea menikmati kesedihan yang entah apa penyebabnya, Gavin pun bergerak pelan menjauhkan tubuh perempuan itu darinya. Hanya sampai batas di mana ia bisa menatap manik boba itu dengan jelas, berniat mencaritahu sendiri jawaban atas pertanyaan yang timbul di kepala.
Tapi bukannya mendapat jawaban, Gavin malah dibuat semakin kebingungan karena tahu-tahu air mata sudah membuat seluruh wajah Kalea memerah. Dari lubang hidung perempuan itu bahkan mengalir cairan bening, yang kemudian tanpa rasa jijik sama sekali Gavin usap menggunakan ibu jari.
"Kamu kenapa, Kal? Tell me?" ucapnya pelan, bagai sedang bicara dengan bocah berusia lima tahun.
Setelah susah payah menahan agar isakannya tidak semakin menjadi, Kalea mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya menggunakan punggung tangan. Tapi karena dirasa punggung tangannya tak cukup mampu untuk membuat jejak air mata itu menghilang, Kalea tahu-tahu menarik kaus Gavin dan menggunakannya sebagai lap. Gavin tidak keberatan, hanya sedikit terkejut saat Kalea tiba-tiba menarik kausnya sehingga membuat jarak mereka menjadi kembali dekat.
__ADS_1
Puas menuntaskan tangis, barulah Kalea mulai bercerita. Gavin nyaris kehilangan kata-kata saat perempuan itu menceritakan kronologi mengapa air matanya menetes tanpa henti. Setengah isi kepala Gavin menguap ke udara, setengahnya lagi berubah menjadi hal-hal yang terlalu sulit untuk dicerna saat satu sel di kepala berhasil menerjemahkan cerita Kalea menjadi satu kalimat singkat yang lebih mudah dipahami. Intinya, perempuan itu menangis karena merindukan ibunya, setelah menonton satu adegan dari drama yang menyita perhatiannya sejak tadi.
Gavin ingin tertawa, meledek betapa cengengnya seorang Kalea Dimitria yang bisa-bisanya menangis histeris cuma karena sebuah adegan di dalam drama. Tetapi mengingat mood perempuan itu memang sedang tidak stabil karena pengaruh hormon selama haid, Gavin akhirnya menelan kembali tawa yang sudah siap meledak itu, mengurungnya jauh di tenggorokan akan tidak lolos ketika ia tidak sengaja memberi kesempatan.
Kemudian, Gavin mengambil ponsel lain di atas nakas. Ponsel ke-dua yang hanya ia gunakan untuk menghubungi Kalea dan keluarganya. Setelah menggulir layar sebentar, Gavin menarik Kalea untuk duduk bersandar di sebelahnya sembari menunggu panggilan yang tengah ia lakukan tersambung.
Kalea menurut saja. Ia menyandarkan kepala dengan nyaman di lengan Gavin sementara satu tangan lelaki itu menepuk-nepuk bahunya pelan dan satu tangan lagi memegangi ponsel yang diarahkan ke depan wajah mereka berdua.
Setelah menunggu selama beberapa saat, panggilan pun tersambung. Di layar, muncul wajah Mama yang tampak lelah dan mengantuk. Walau begitu, wanita itu tetap menyunggingkan senyum sumringah ketika matanya menangkap eksistensi Kalea di sebelah Gavin. Di balik tubuh Mama, Papa tampak sudah terlelap di ranjang besar. Pencahayaan di kamar hotel yang Mama dan Papa tempati tampak redup, namun hal itu tidak cukup mampu untuk menghalau binar cerah dari kedua mata Mama.
"Halo anak Mama!" sapa Mama dengan suara riang. "Kok belum tidur jam segini? Itu kenapa mukanya merah? Habis nangis?"
"Ya ampun, bayi Mama kangen ternyata. Sabar ya sayang, besok sore Mama udah sampai di Jakarta lagi kok." Saat mengatakan itu, Mama mengulaskan senyum keibuan yang seketika membuat hati Kalea perlahan-lahan terasa menghangat.
Gavin yang sedari tadi cuma diam pun ikut-ikutan tersenyum kemudian berkata, "Mama sampai di bandara jam berapa? Biar Gavin jemput."
"Mungkin sekitar jam 3 sore. Nggak usah dijemput deh, takutnya kamu sibuk. Biar nanti Mama minta tolong sama Karel aja. Anak itu biasanya paling rajin kalau disuruh jemput orang di bandara." Mama terkekeh di akhir kalimat. Barangkali wanita itu tengah membayangkan raut wajah girang Karel saat dimintai tolong menjemput ke bandara.
Gavin cuma tersenyum tipis saat lagi-lagi nama Karel dibawa, bahkan dilantunkan oleh ibu mertuanya dengan suara yang riang. Ada sedikit kecemburuan yang menyelinap masuk ke dalam hati Gavin saat menyadari posisinya masih jauh di belakang Karel, yang sudah lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kalea dan keluarganya. Dan perasaan cemburu yang awalnya cuma sedikit itu perlahan-lahan menjadi semakin besar saat di sampingnya, Kalea tiba-tiba bersuara dengan nada girang.
"Kalea mau ketemu sama Karel juga."
__ADS_1
Entah kemana hilangnya raut sedih Kalea tadi. Sebab saat menyebutkan nama Karel, perempuan itu mendadak berseri-seri.
Sementara Gavin tidak punya banyak hal untuk dikatakan. Jadi dia hanya diam mendengarkan obrolan Kalea dengan ibunya sambil sesekali menanggapi dengan sebuah senyuman ketika namanya dibawa-bawa dalam obrolan tersebut.
"Boleh, nanti Mama minta Karel jemput kamu ke rumah buat jemput Mama di bandara, ya? Oh, iya, Mama bawain kamu album NCT yang baru rilis, dua versi sekaligus."
"Mama emang the best!" Kalea mengacungkan dua jempol ke arah Mama, membuat Gavin terkekeh dibuatnya.
Kemudian di tengah percakapan itu, Kalea tiba-tiba menoleh ke arah Gavin, membuat yang laki-laki gelagapan. "Kenapa?" tanya Gavin penuh selidik ketika mendapati Kalea tengah tersenyum aneh ke arahnya.
"Besok aku jemput Mama di bandara, ya? Aku mau ketemu sama pacar-pacar aku."
Pacar? Gavin terdiam selama beberapa saat. Berusaha mencerna omongan Kalea dengan susah payah. Kemudian, dari seberang telepon Mama membantu menjelaskan.
"Itu loh, Gavin, yang Kalea maksud itu semua member NCT." Jelas Mama sambil mengulum senyum.
"Semua?" tanya Gavin tidak percaya.
"Iya, semua. Katanya, kalau bisa 23 kenapa cuma milih satu." Selesai mengatakan itu, Mama tergelak. Sedangkan Gavin menoleh pada Kalea dengan tatapan tak percaya. Kini, perempuan itu tersenyum begitu sumringahnya, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi dan wajahnya tampak berseri-seri.
Gavin mulai bertanya-tanya, sebenarnya, yang dia nikahi ini perempuan dewasa berusia 25 tahun, atau bocah berusia sembilan tahun yang ia temui bertahun-tahun lalu?
__ADS_1