
Irina pikir, saat ia selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi, Gavin betulan sudah pergi. Ternyata ia salah. Lelaki itu masih ada di sana, berbaring santai di atas kasur seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka sebelumnya. Seolah perdebatan soal ada di mana posisi Kalea di hati Gavin tidak pernah menjadi sesuatu yang mereka bahas. Seolah mereka masih dalam keadaan baik dan air mata yang ia tumpahkan sebelumnya tidak pernah ada. Dalam sekejap, Gavin telah berubah menjadi sosok yang dulu Irina kenal. Sosok kekasih hati yang suka menghabiskan waktu berbaring di atas kasurnya sembari menyesapi aroma parfum miliknya yang tertinggal di bantal, persis seperti yang lelaki itu lakukan sekarang.
Dalam beberapa kesempatan, perjodohan ini telah membuat hubungannya dengan Gavin berada di titik abu-abu yang memuakkan. Irina bukannya tidak pernah mencoba untuk mengikhlaskan Gavin agar lelaki itu bisa menjalani perjodohannya dengan tenang tanpa dibayangi rasa bersalah terhadap dirinya, dan ia tidak harus berakhir menjadi orang ke-tiga di dalam rumah tangga kekasih hatinya ini. Demi Tuhan, Irina pernah mencoba berbagai macam cara sejak pertama kali rencana perjodohan ini Gavin sampaikan kepada dirinya.
Pernah satu waktu, ia meminta Taruna untuk membawanya kabur ke luar negeri agar bisa lebih mudah melupakan Gavin dan perasaannya terhadap lelaki ini. Tapi, tidak peduli seberapa keras ia berusaha, pada akhirnya Irina akan kembali ke titik awal di mana ia telah terbiasa hidup dengan Gavin di sampingnya. Ditambah dengan kekeras kepalaan Gavin yang tidak mau hubungan mereka berakhir dan lelaki itu selalu mengatakan padanya bahwa tidak akan pernah ada yang berubah, Irina jadi semakin sulit untuk melepaskan diri.
"Kamu beneran nggak mau pulang? Emang Kalea nggak akan nyariin?" tanyanya setelah terdiam cukup lama di ambang pintu kamar mandi. Ia kemudian berjalan menuju lemari pakaian, hanya untuk dibuat terpaku pada beberapa potong kemeja milik Gavin yang tersusun rapi di dalam lemarinya.
Dulu, sebelum adanya agenda perjodohan ini, keberadaan kemeja-kemeja itu tidak terlalu berarti bagi Irina. Karena hampir setiap malam Gavin akan ada di sini bersamanya, memeluknya erat hingga terlelap untuk kemudian mengendap-endap keluar sebelum matahari terbit. Tetapi sekarang, kemeja-kemeja itu seolah menjadi pengingat baginya bahwa keadaan sudah sepenuhnya berubah. Kini, hanya dari kemeja-kemeja itu Irina bisa menyesapi aroma parfum milik Gavin, karena sang empunya tidak akan punya banyak waktu untuk bertandang sesering dulu.
Puas meratapi kesedihannya yang membawanya berakhir tersenyum miris, Irina menarik kaus dan celana training dari dalam lemari kemudian membawanya ke dalam pelukan.
"Nanti." Hanya itu yang Gavin ucapkan. Ketika Irina berbalik, ia menemukan Gavin sudah duduk bersandar sambil memeluk bantalnya erat. Lelaki itu menatapnya lekat.
__ADS_1
Irina memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan kembali tak lama kemudian dengan setelan yang berbeda. Setelah itu, Irina duduk di depan meja rias. Mengabaikan keberadaan Gavin dan mulai mengoleskan berbagai macam produk kecantikan ke wajahnya sesuai dengan urutan pemakaian.
Di atas kasur, Gavin masih tidak bisa melepaskan pandangan dari punggung Irina. Dulu, punggung itu menjadi satu-satunya yang akan ia pandangi sampai sebegininya. Punggung yang akan ia tunggu sampai benar-benar menghilang di balik belokan sebelum ia membalikkan badan dan pergi. Tapi sekarang, ada punggung lain yang ia perlakukan sama. Dan Gavin masih ingin bertindak serakah untuk tidak melepaskan salah satunya.
"Taruna jemput kamu jam berapa?" tanya Gavin setelah keterdiaman yang cukup lama.
"Harusnya dia udah jalan sekarang. Kenapa?" Irina memutar tubuhnya, menatap Gavin selagi tangannya mengoleskan lip balm ke bibir.
"Aku tunggu kamu sama Taruna berangkat dulu, baru aku pulang."
"Desember." Ucap Gavin tiba-tiba, tidak terdengar terlalu jelas namun Irina masih bisa memahaminya. "Pengirimnya pakai nama Desember, Rin."
Sejenak, Irina berpikir. Memeras otaknya yang berkapasitas rendah untuk mencerna apa yang berusaha Gavin sampaikan. Kemudian, saat kerja keras otaknya membuahkan hasil, Irina tersenyum miring. "That's why you thought it was me."
__ADS_1
Gavin mengangguk dengan dagu yang masih bersandar di bahu Irina. Pelukannya semakin mengerat, seiring dengan keributan di dalam kepala yang semakin menjadi. "Karena di antara orang-orang terdekat kita, cuma kamu yang lahir di bulan Desember. Lebih dari itu, isinya adalah set perhiasan yang pernah aku kasih ke kamu." Kata Gavin kemudian menjauhkan dirinya dari Irina. Ia menatap Irina lekat sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi, aku tahu bukan kamu pelakunya. Aku cuma...how can I say it..."
"I know." Sela Irina cepat. "Aku tahu kamu nggak bermaksud menuduh aku. Maaf karena reaksi aku berlebihan."
Gavin menggeleng. "Kamu nggak berlebihan. Kalau ada di posisi kamu, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Nggak dipercaya sama orang yang kita sayang adalah hal yang menyakitkan, dan aku udah bikin kamu ngerasain itu. Maaf, Rin. Tapi..." Gavin kembali menggantungkan kalimatnya. Untuk beberapa saat, ia terdiam. Sibuk memilah diksi mana yang lebih tepat untuk ia ucapkan mewakili keresahan yang mengganggunya selama beberapa hari belakangan.
"Sepertinya ada seseorang yang berusaha ikut campur ke dalam rencana kita, Rin." Akhirnya, kalimat itulah yang meluncur dari mulut Gavin. "Waktu aku dalam perjalanan ke sini, aku benar-benar dalam kebingungan. Di satu kesempatan, aku berharap memang kamulah yang mengirim paket itu untuk melampiaskan kekesalan kamu atas pernikahan aku dan Kalea. Aku pikir itu lebih baik, karena kalau ternyata bukan kamu pelakunya, maka itu pasti seseorang yang berniat jahat."
Irina berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Gavin. Memahaminya satu persatu dengan keadaan kepala yang ribut.
"Dan ternyata memang bukan kamu." Gavin tersenyum miris di akhir kalimat. Tatapannya berubah sendu dan hal itu berhasil membuat Irina merasakan sesak yang lain di dadanya. Sisi Gavin yang rapuh seperti ini adalah salah satu kelemahannya. Setiap manik kelam ini kehilangan binarnya, Irina selalu ingin mendekap tubuh tegap ini erat-erat, merawat lukanya sampai sembuh hingga binar itu kembali dan punggung lebar ini bisa kembali tegak.
"Aku takut dia bukan cuma ganggu Kalea, tapi juga kamu."
__ADS_1
Saat Gavin mengatakan itu, Irina tahu bahwa lelaki ini berkata jujur. Karena dari sedikit orang yang hadir dalam kehidupannya, hanya ada dua orang yang Irina tahu benar-benar tulus menjaganya. Dua orang itu adalah Gavin dan Taruna. Sisanya hanya orang-orang munafik yang akan bersikap baik kepadanya ketika mereka bisa mendapatkan keuntungan. Jika tidak, maka ia akan ditendang dan tidak lagi dipedulikan.
"Aku takut, Rin. Aku--" Ucapan Gavin terputus saat rungunya menangkap suara seseorang yang sedang memasukkan kode keamanan di pintu. Gavin mengangkat pandangan, menatap Irina dengan tanda tanya besar di kepala. Siapa? Siapa selain dirinya yang punya akses masuk ke apartemen Irina?