
"Terimakasih, Papa Jo." Ucap Kalea kepada ayah mertuanya yang datang membawakan sebuket bunga Lily untuknya.
Kalea sedikit terkejut, sekaligus terharu karena orang sesibuk Jonathan masih mau meluangkan waktu untuk menjenguk dirinya. Padahal sakit yang dia derita juga tidak separah itu.
"Sama-sama, sayang." Jonathan membalas ucapan terima kasih Kalea dengan sebuah usapan yang didaratkan ke kepala perempuan itu.
Jonathan tentu tahu, bahwa saat dia menyentuh kepala Kalea, saat itu juga Gavin melemparinya tatapan tajam. Seolah putranya itu tidak ingin dia menyentuh Kalea meskipun hanya seujung rambutnya. Seolah dia berbahaya, dan Gavin tidak mau Kalea kenapa-kenapa.
"Kamu jadi mau mandi, Kal?" kali ini Bunda yang bersuara.
Kalea yang semula masih fokus memandangi bunga Lily di tangan pun mengangkat pandangan ke arah Bunda. Kemudian, dia mengangguk.
"Ya udah, ayo Bunda temani." Bunda meraih buket di tangan Kalea dan menyerahkannya kepada Gavin. Laki-laki itu menerimanya dengan mau tak mau. Karena kalau bisa, Gavin ingin sekali meremas buket bunga itu hingga menjadi kepingan kecil tak berarti.
Selagi Bunda membantu Kalea untuk turun dari ranjang, Karel agak menggeser tubuhnya agar bisa memberi akses yang lebih lebar untuk Kalea bisa lewat. Ketika tangannya terulur hendak membantu Kalea, dia melirik dulu ke arah Gavin untuk memastikan bahwa dia diijinkan.
Barulah saat dia melihat Gavin samar-samar mengangguk, Karel dengan sigap memegang kedua sisi bahu Kalea dan membantu perempuan itu berjalan hingga ke depan pintu kamar mandi.
Setelah Kalea dan Bunda masuk, Karel berjalan kembali ke arah Gavin dan ayahnya. Dia tersenyum basa-basi pada ayah Gavin sebelum melipir ke sofa dan mendudukkan dirinya di sana.
Sejujurnya, Karel merasa ada hawa aneh yang melingkupi sepasang ayah dan anak tersebut. Jadi, dia memutuskan untuk menarik diri.
Dia memang tidak tahu banyak tentang kuarga Gavin, tidak ada untungnya juga untuk dirinya tahu terlalu banyak tentang keluarga orang lain. Hanya saja, dalam sekali lihat, dia jelas merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan antara Gavin dan ayahnya.
Bahkan dia yang tidak terlalu dekat dengan Ayah karena lelaki itu terlalu sibuk menekuni pekerjaannya sebagai dokter bedah sekali pun, Karel tetap bisa bersikap selayaknya ayah dan anak kalau sedang bersama dengan Ayah.
Tapi Gavin dan ayahnya... entahlah, Karel bahkan tidak tahu bagaimana mendeskripsikan hubungan dua orang tersebut.
Karel masih terus memperhatikan gerak-gerik Gavin dan ayahnya, sampai kemudian dia dibuat ternganga saat Gavin dengan seenak jidatnya melempar buket bunga Lily yang dibawa oleh ayahnya ke atas nakas. Membiarkan bunga tak berdosa itu teronggok begitu saja di sana, lalu laki-laki itu berjalan menghampirinya.
Sementara ayah Gavin tampak pasrah saja melihat bunga yang telah dia bawa susah payah dicampakkan begitu saja oleh putranya sendiri.
__ADS_1
"Geser." Kata Gavin begitu tiba di depan Karel.
Karel yang memang tadinya duduk di tengah-tengah praktis menggeser posisi duduknya sehingga Gavin bisa bergabung dengannya.
Kemudian, untuk waktu yang cukup lama, keheningan melingkupi ruangan itu, melibas habis tanpa ampun. Karel juga jadi bingung sendiri. Dia hendak berbasa-basi menyuruh ayah Gavin untuk ikut duduk bersama mereka, tapi melihat ekspresi wajah Gavin yang mendadak tegang, Karel sepenuhnya mengurungkan niat tersebut.
Akhirnya, dia cuma bisa terdiam di tempat. Sesekali melirik Gavin yang sudah asik dengan ponselnya kemudian melayangkan tatapan pada ayah Gavin yang masih berdiri di samping ranjang sembari menyakui kedua tangannya. Tatapan lelaki itu jelas tertuju pada Gavin, meskipun kenyataannya, Gavin tidak sedikit pun punya niat untuk membalas tatapannya.
Jengah dengan suasana aneh yang melingkupi dirinya, Karel membuang napas keras-keras. Hal itu rupanya berhasil menarik perhatian Gavin yang langsung menoleh ke arahnya dengan satu alis yang terangkat.
"Kenapa?" tanya Gavin dengan nada suara yang datar.
"Nggak apa-apa." Karel mejawab asal. Kemudian, dia mengempaskan punggungnya ke sofa. Berusaha memejamkan mata dan menulikan telinga dari suara apa pun yang akan keluar dari bibir Gavin ataupun ayahnya.
Tapi Karel lagi-lagi dibuat meringis saat tidak terdengar suara apa pun setelahnya. Benar-benar tidak ada obrolan yang tercipta meski dia sudah berbaik hati menarik diri dari sana.
Ini suasana macem apa, anjir? Gue harus gimana?! Teriak Karel di dalam hati. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Sungguh, dia ingin segera melarikan diri.
Beruntungnya, sebelum kecanggungan dan ketidaknyamanan ini menelannya hidup-hidup, Karel bisa menghela napas lega ketika mendengar pintu kamar mandi akhirnya terbuka.
Kalea yang muncul dari balik pintu tampak bersinar, persis seperti seberkas cahaya yang akhirnya menyelematkan Karel dari jebakan lorong gelap tak berujung.
Karena dia sudah tidak tahan dengan keheningan yang diciptakan oleh dua orang beda usia tadi, Karel pun segera bangkit dan berlarian menghampiri Kalea yang kini sudah duduk di tepian ranjang.
"Ngapain?" tanya Kalea heran saat Karel tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Nggak apa-apa. Emangnya nggak boleh gue berdiri di sini?"
"Dasar aneh." Cibir Kalea. Kemudian, dia naik ke atas ranjang dengan bantuan Bunda.
Karel cuma bisa berkomat-kamit tanpa suara mendengar cibiran Kalea. Andai saja perempuan itu tahu apa yang barusan dia lewati, Karel bertaruh Kalea tidak akan berani mencibirnya begini.
__ADS_1
"Gue mau keluar cari jajan, lo mau nitip nggak?" tawar Karel setelah selesai berkomat-kamit. Setelah melewati suasana tidak enak tadi, Karel merasa perutnya mendadak terasa lapar.
"Mau kinderjoy, sebelas." Kata Kalea diakhiri cengiran.
"Oke." Jawab Karel kemudian berjalan menjauh. Sebelum langkahnya mencapai pintu, dia berhenti sebentar di dekat Gavin. "Lo mau nitip apa?"
"Nggak usah, makasih."
Karel mengangguk, kemudian segera berjalan keluar dari sana.
Setelah Karel pergi, Bunda berjalan menghampiri Papa dan mengarahkan laki-laki itu untuk duduk di sofa bersebelahan dengan Gavin.
Namun seperti sudah diatur secara otomatis, Gavin langsung bangkit tepat ketika bokong ayahnya berhasil mendarat di atas sofa.
Bunda yang melihat reaksi Gavin sontak menatap putranya itu lekat-lekat, berusaha memberi kode kepada Gavin untuk menjaga sikap, setidaknya di depan Kalea.
Tapi seolah sudah tidak peduli, Gavin tetap berbuat semaunya sendiri. Laki-laki itu kemudian berjalan menghampiri Kalea dan langsung mendudukkan diri di kursi. Dengan tangan besarnya, Gavin membantu Kalea menyisir rambutnya.
"Aku bisa sendiri." Cegah Kalea sembari berusaha merebut kembali sisir dari tangan Gavin.
"Kamu jangan banyak gerak, nanti infusannya copot."
"Cuma sisiran doang, nggak akan copot."
"Jangan ngeyel."
Kalea memberengut. Akhirnya, dia pasrah saja membiarkan Gavin menyisir rambutnya. Tanpa diduga, laki-laki itu ternyata juga cukup jago dan telaten menyisir helaian rambutnya yang sedikit kusut karena tidak sengaja tersiram air saat mandi tadi.
Sementara itu, di sofa, Jonathan dan Mutiara cuma bisa terdiam seribu bahasa menyaksikan dua anak manusia yang seolah sedang berada di dunia mereka sendiri itu.
"Gavin sedang berusaha mencari kebahagiaannya, Mas. Tolong maklumi kalau dia masih belum bisa bersikap baik sama kamu. Tapi aku yakin, lambat laun dia akan berubah." Mutiara membisikkan kalimat penghiburan itu kepada sang suami, berharap Jonathan bisa sedikit lebih berbesar hati menerima perlakuan Gavin yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
Mutiara tidak akan pernah tahu, bahwa kalimat penghiburan semacam itu sama sekali tidak pernah mempan untuk Jonathan. Karena meskipun dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi, Jonathan tahu dia tidak akan pernah bisa membawa Gavin kembali menjadi sosoknya yang dulu lagi.
Bersambung