SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
HARI PERTAMA MASUK


__ADS_3

Pukul 1 siang.


Revan menghentikan motornya saat tiba digarasi rumah, dan bergegas untuk masuk setelah mematikan mesin motornya.


Revan berjalan melewati ruang tamu, dimana tidak ada orang sama sekali, ia merasa sedikit aneh dengan situasi sekarang.


Ia berjalan mendekat kearah kamarnya, untuk segera beristirahat karena dirinya benar-benar lelah.


Revan membuka pintu kamarnya lalu melangkah masuk dan terkejut melihat tiga orang yang tengah duduk ditempat tidur, dan menatapnya dengan tatapan introgasi.


"Darimana Brother?" tanya Revin dengan tangan menyilang didepan dada, dan kedua sahabatnya tidak jauh berbeda.


"Dari jalan-jalan, kenapa?" ucap Revan santai tanpa beban, lalu berjalan kearah kamar mandi.


"Jalan-jalan dengan pacarmu kah?" tanya Revin yang diangguki oleh kedua sahabatnya itu.


"Dengan mantanmu," ucap Revan santai membuat ketiga pria itu terdiam dan sedetik kemudian ....


"HAH!" teriak mereka terkejut.


Revan tersentak dan menatap ketiga pria itu dengan tatapan aneh, lalu beralih menatap Carlos.


"Ingat untuk melakukan tugasmu besok," ucap Revan pada Carlos, mengingatkan sahabatnya itu lalu dengan sengaja menunjuk kearah tumpukan pakaian kotor miliknya.


Revin dan Reon bersiul ria lalu bangkit dari duduk mereka dab berjalan keluar dari kamar Revan.


"Aku menyesal dengan perjanjian itu," lirih Carlos dan segera bangkit dari duduknya, melupakan hal yang ingin mereka tanyakan pada Revan.


* * *


Beberapa hari sebelumnya, saat Daenji mengatakan jika mereka harus mencuci pakaian mereka sendiri.


"Ini tidak adil! aku sama sekali belum pernah menyentuh yang namanya mesin cuci!" ucap Revin dengan kesal pada ketiga orang yang duduk dihadapannya, lebih tepatnya dikamar Revan.


"Mau bagaimana lagi, kita harus melakukan itu, bukankah hal itu mudah," ucap Reon membuat ketiga sahabatnya, menoleh dan menatapnya.


"Apa? aku hanya mengatakan kenyataan," ucapnya membela diri.


Kenapa Reon mengatakan hal itu dengan mudah? Karena ia sudah merasakannya. Karena didalam keluarganya tidak ada anak perempuan dan hanya ia dan Dion, maka Sarah dengan tanggap mengajari putra-putranya itu, untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan mencuci pakaian sendiri.


Hampir setiap hari minggu Reon, Dion dan Rafael yang tidak pergi kekantor, selalu membantu pekerjaan rumah, dan hal itu sudah menjadi kebiasaan Reon setiap minggu pagi bersama dengan Dion.


"Aku tidak masalah jika itu menyangkut dapur, tapi kalau pakaian, aku menyerah," ucap Revin mengangkat tangan ke udara.


Mereka berempat terdiam, hingga tiba-tiba menatap Reon bersamaan, membuat pria yang lahir ditengah-tengah itu, mendapat firasat buruk.

__ADS_1


"Ekhem," dehem Revan lalu kembali berbicara, "Karena kau lahir ditengah antara kami berdua dan Carlos. Maka ... kamu yang akan memulainya duluan," lanjut Revan yang diangguki oleh Revin dan Carlos.


"Hah! Kenapa ada peraturan seperti itu?" ucap Reon tidak terima.


"Aku baru saja membuatnya dan setelah kau, Carlos yang selanjutnya, kemudian Revin dan setelah itu aku," ucap Revan panjang lebar yang diangguki oleh Revin dan Carlos, hingga mendadak mereka terdiam dan menatap tidak percaya pada Revan.


"Kok kamu yang terakhir?" tanya Revin dan Carlos bersamaan pada Revan.


"Tentu saja. Karena aku yang paling tua diantara kalian," ucap Revan santai, "Dan titik tidak pake koma! Sekarang keluar dari kamarku!" lanjutnya mengusir ketiga orang itu.


* * *


Esoknya.


Pukul 8:30 pagi.


Hari ini adalah giliran Carlos mencuci pakaian ketiga sahabatnya, dan juga pakaiannya.


Ia melirik malas pada ketiga orang yang tengah asyik meminum jus dengan menatap kearahnya, setelah tadi selesai lari pagi sebanyak 25 putaran, membuat Carlos sesekali menghembukan nafas lelah.


Carlos tengah memeras pakaian lalu menjemurnya diuntaian jemuran yang panjangnya minta ampun, entah berapa meter, Carlos tidak tahu.


"Hey! Apa yang kau lakukan!" tegur Reon lalu berjalan menghampiri Carlos yang menatapnya malas.


Sementara kedua saudara itu, semakin asyik meminum jus digelas mereka dengan posisi duduk menatap kedua sahabat mereka.


"Tidak seharusnya kau menjemurnya seperti ini tau!" tergur Reon dan kemudian merapikan bentuk pakaian yang dijemur oleh Carlos.


"Terus bagaimana?" tanya Carlos yang seperti mendapat cela untuk beristirahat.


Reon menghembuskan nafas kasar, lalu menatap Carlos yang terlihat seperti orang bodoh.


"Pergi sana! Biar aku yang melakukannya, kau hanya akan membuat pakaian ini tidak kering tau," ucap Reon lalu menjemur pakaian yang berada diwadah sedang berwarna hitam itu.


Revan dan Revin yang melihat hal itu, mengelengkan kepalanya.


'Bodoh!' ucap mereka berdua dalam hati bersamaan dengan menatap Reon.


Carlos segera pergi dari sana dan menghampiri Revan dan Revin, lalu duduk ditempat Reon tadi, dan meminum jus milik Reon hingga tandas.


"Leganya ...," ucapnya setelah meminum jus itu hingga tandas.


Revan dan Revin melirik sekilas kearah Carlos, lalu menatap Reon yang hampir menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Carlos.


Mereka berdua bertukar pandang, lalu kembali mengeleng.

__ADS_1


'Ia akan menyadarinya sebentar lagi,' ucap Revan dan Revin bersamaan dalam hati.


Reon menjemur pakaian terakhir dijemuran dan menyaka keringatnya dengan punggung tangannya, dan sedetik kemudian tersadar.


'Tunggu! Inikan pekerjaan Carlos, kenapa aku yang menyelesaikannya?' tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri, kemudian menoleh pada Revan dan Revin, dan melihat Carlos yang tengah memakan buah apel dengan menatapnya.


Reon mengepalkan tangannya, sedang dua saudara itu segera beranjak dari duduknya, berniat masuk kekamar masing-masing.


"CARLOSS!" teriak Reon dan segera berlari menghampiri Carlos dengan membawa wadah tempat pakaian tadi, berniat untuk memukulkannya pada kepala Carlos.


Carlos segera berlari menjauh, hingga terjadilah aksi kejar-kejaran yang entah kapan akan berakhir.


* * *


Pukul 5:50 pagi.


Tidak terasa sudah satu bulan mereka berada dinegara S, dan hari ini adalah hari pertama masuk ke universitas tempat mereka akan melanjutkan pendidikan.


Revan baru saja keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk memakai pakaiannya.


"AAAAA!" suara teriakan yang mengema pagi ini, dam sudah menjadi hap biasa yang terjadi dirumah itu, kini bukan Carlos, melainkan Revin.


Reon yang baru saja selesai memakai bajunya, hanya mampu menghembuskan nafas pelan.


Revan dan Reon keluar secara bersamaan dari kamar masing-masing, sedang Carlos baru saja masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, terbangun karena suara teriakan Revin yang mengema menjadi alarm dipagi ini.


Lima belas menit kemudian.


Mereka kini sudah berkumpul dimeja makan, siap untuk sarapan sebelum berangkat ke kampus.


Daenji mengernyit melihat penampilan keempat remaja itu, ia lalu menatap kearah Franco dan memberi isyarat pada Franco untuk mendekat padanya.


"Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku minta untuk ditaruh dikamat mereka?" bisik Daenji pada Franco.


"Sudah tuan," jawab Franco membuat keempat remaja itu mendongak dan menatap penuh tanda tanya pada kedua orang yang tengah berbisik dihadapan mereka.


"Kenapa kalian tidak memakai apa yang sudah aku siapkan untuk kalian!" tegas Daenji membuat keempat remaja itu terdiam.


"Setelah sarapan, naik kekamar kalian dan ganti pakaian kalian dengan pakaian yang sudah aku siapakan untuk kalian, jangan lupa memakai semuanya," ucap Daenji penuh penekanan.


Keempat remaja itu hanya mengangguk pasrah, entah apa yang sudah disiapkan oleh kakek mereka itu.


Setelah sarapan, mereka pun kembali naik kelantai 2 untuk melihat apa yang kakeknya itu siapkan untuk mereka gunakan.


Dengan malas, mereka memasuki kamar masing-masing dan mengernyit saat melihat sesuatu diatas tempat tidur mereka.

__ADS_1


Mereka berjalan mendekat ketempat tidur dikamar masing-masing, lalu meraih sesuatu diatas tempat tidur mereka da sedetik kemudian .....


"APA-APAAN INI!" teriak mereka bersamaan membuat Daenji tersenyum senang diruang tamu.


__ADS_2