
Dua puluh menit kemudian.
Revan menghentikan motornya tepat diparkiran didekat danau, dimana sudah cukup banyak pasangan yang menikmati hari yang bahagia ini.
Rania melepas pelukannya dipinggang Revan, lalu segera turun dari motor dan melihat sekeliling, yang cukup ramai menurutnya.
Revan membuka helmnya lalu segera turun dari motornya dan menarik lembut tangan Rania menuju kebangku taman yang tidak terlalu jauh dari danau, sehingga membuat mereka bisa melihat pemandangan indah danau buatan itu.
Revan mendudukkan diri dibangku taman, diikuti oleh Rania yang sedikit gugup mendudukkan dirinya disamping Revan.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Revan tiba-tiba, memecah keheningan diantara mereka berdua.
Rania menoleh sekilas dan menatap wajah Revan dari samping, meski hanya dari samping saja, tapi sudah begitu tampan. Apalagi jika bertatapan langsung.
Wajah Rania merona dan berbicara dengan gugup, "Baik-baik saja, ha-hanya saja terlalu banyak tugas," ucap Rania malu.
Revan menoleh lalu tiba-tiba menyentuh rambut Rania, dan menarik ikat rambut yang digunakan Rania, hingga membuat rambut gadis itu tergerai.
Rania terdiam dengan rona merah di pipinya, ia menatap tidak percaya pada Revan yang membuka ikat rambutnya. Dan lagi, jarak mereka sekarang sangat dekat, bahkan Rania dapat merasakan hembusan nafas Revan yang hangat.
"Aku lebih suka jika tergerai," ucap Revan lalu menyentuh ujung rambut Rania dan menciumnya, membuat wajah gadis itu semakin memerah.
Revan tersenyum lembut melihat wajah Rania yang memerah bak tomat matang akibat ulahnya.
"Jangan perlihatkan wajah malu-malumu ini pada pria lain. Karena mereka pasti tidak akan tahan untuk tidak menerkammu saat itu juga," ucap Revan lalu mencium kening Rania lembut.
Rania semakin mematung saat merasakan bibir Revan menyentuh keningnya, lalu berpindah pada pipi kanan dan kirinya, kemudian ke matanya, membuat Rania memejamkan matanya.
"Hanya aku yang boleh melihat wajah malu-malumu itu," ucap Revan saat selesai mengecup kening, pipi dan mata Rania.
Revan kembali menjauhkan wajahnya dan duduk seperti semula, sedang Rania berusaha untuk mencerna ucapan pria tampan dihadapannya itu.
"Apakau menyukai seseorang?" tanya Revan tiba-tiba, berusaha untuk menenangkan jantungnya yang memompa dengan cepat menanti jawaban Rania.
Revan ingin mengetahui isi hati Rania, apakah masih sama seperti satu tahun yang lalu, ataukah sudah berpindah ke orang lain.
__ADS_1
"Iya," ucap Rania membuat Revan mematung, lalu perlahan menoleh kearah gadis itu.
"Siapa? Apa Revin? Reon? atau Carlos?" tanya Revan berturut-turut, tersirat nada cemasnya saat menyebut nama sahabat dan adiknya.
Rania menggelengkan kepalanya membuat pria itu memasang raut wajah sendu yang begitu menyayat hati.
"Oh, jadi teman pria di sekolahmu kah?" ucap Revan dengan menunduk dan tersenyum pedih, menertawai kemirisan nasib dirinya.
"Tidak juga. Aku tidak bisa menyukai siapapun disekolah, karena hatiku sudah menetap pada seseorang," ucap Rania dengan tersenyum lembut pada Revan, dan tak lupa dengan rona merah di pipinya.
"Oh, maaf karena aku sudah terlalu memaksakan kehendakku padamu, padahal kau menyukai seseorang," ucap Revan dengan wajah sendunya, ia merasa sudah gagal mengejar cinta pertamanya.
Tiba-tiba Rania mencium pipi Revan, membuat pria itu terdiam lalu menoleh pada Rania yang tersenyum lembut padanya.
"Kenapa minta maaf, kak Revan tidak pernah memaksakan kehendak kakak padaku, jadi tidak perlu minta maaf. Lagipula orang yang aku sukai itu adalah kak Revan," ucap Rania tersenyum dengan menahan rasa senang dihatinya, karena telah berhasil mengucapkan kata-kata yang ia pendam selama setahun.
Revan terdiam dan menatap Rania lekat, hingga tiba-tiba Revan menarik tengkuk Rania dan melu**t bibir tipis gadis itu.
Cukup lama mereka berciuman, akhirnya Revan melepaskan pagutannya dengan nafas yang tidak beraturan.
Revan kembali mengecup sekilas bibir Rania dan tersenyum. Revan menempelkan keningnya ke kening Rania.
"Aku selalu mengawasimu, awas saja jika aku melihatmu bersama laki-laki lain. Jika aku sampai melihat hal itu, maka aku tidak akan memaafkan laki-laki itu," ucap Revan lalu mengecup pipi Rania.
"I Love you," ucap Revan, membuat Rania terdiam sesaat lalu tersenyum bahagia.
"I Love you too," ucap Rania dengan senyum diwajahnya.
Revan menjauhkan wajahnya dari wajah Rania, karena jika terus menatap wajah Rania dari dekat, bisa saja ia akan kambali mencium bibir gadis itu.
Ia masih harus menahan diri, ia akan memiliki Rania sepenuhnya saat sudah menikah nanti.
"Masih ada dua tahun lebih untuk lulus di universitas. Aku akan menikahimu saat lulus nanti. Soal kuliah, aku tidak akan melarangmu untuk melanjutkannya," ucap Revan lalu mengusap lembut pipi Rania yang merona karenanya.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya bidan Rania dan Revan hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain, karena hanya kamu yang boleh menyandang status sebagai istriku nanti," ucap Revan dengan menatap lekat wajah Rania.
Rania menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum pada Revan.
Tiba-tiba Revan berdiri dari duduknya dan dengan terburu-buru memeriksa saku celana, lalu kesaku jaketnya.
Ia tersenyum saat menemukan benda yang ia cari, ia menatap Rania lalu kembali duduk ditempatnya.
Rania terdiam melihat liontin ditangan Revan, ia menatap pria itu penuh tanda tanya.
"Ini hadiahku untukmu, anggap saja sebagai pengikat antara kamu dan aku," ucap Revan dengan tersenyum manis pada Rania, dan meminta gadis itu untuk berbalik agar dirinya bisa memakaikannya dileher putih gadisnya.
"Ingat untuk tidak melepaskannya, mengerti!" ucap Revan pelan lalu mengecup singkat tengkuk Rania, membuat gadis itu meremang seketika.
"A-Aku janji tidak akan melepaskannya," ucap Rania dengan wajahnya yang semakin memerah.
Rania berbalik dan mendadak Revan memeluk erat tubuhnya, menyembunyikan wajah Rania didada bidangnya.
Rania terkejut lalu membalas pelukan Revan, tanpa tahu jika pria itu sedang menyembunyikan wajah cantiknya dari para penganggu.
Revan menatap tajam kedepan, pada seseorang yang tengah berdiri dibalik pohon dan memotretnya.
Pria itu mematung ditempatnya, ia tahu jika Revan sudah mengetahui keberadaannya. Pria berjas hitam itupun segera berlari menjauh dari sana, Revan mengangkat tangannya diudara memberi isyarat pada bawahannya yang bersembunyi untuk segera mengejar pria itu.
"Aku tidak bisa bernafas," rintih Rania menyadarkan Revan, lalu segera merubah raut wajahnya dan melepaskan pelukannya.
"Maaf, sayang. Aku seakan tidak ingin melepaskan pelukan kita," ucap Revan membuat wajah Rania bersemu merah.
"Ya sudah, kita pergi makan siang ya, aku lapar," ucap Revan dengan tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Rania menganggukkan kepalanya, dan mereka pun beranjak dari sana menuju keparkiran dan terlihat dari kejauhan seorang pria sedikit membungkukkan badan pada Revan, tanda apa yang ia perintahkan telah terlaksana dengan baik.
Revan tersenyum melihat hal itu, dan kemudian menautkan tangannya dengan tangan Rania, dan berjalan dengan mesra keparkiran, membuat beberapa pasangan iri pada mereka.
* * *
__ADS_1
Ditempat lain dikediaman Su, lebih tepatnya dikamar Carlos.
"Hah! Jangan bercanda kak, kau sudah tidak waras ya?" ucap seorang gadis diseberang telfon, membuat Carlos mendegus kesal.