
Arian, Ana dan Reana saling bertukar pandang satu sama lain kemudian menghembuskan nafas mereka bersamaan.
Revin berteriak keras saat Revan membangunkannya dengan seember air dingin dan langsung menyiramnya diatas tempat tidur
"BROTHER SIA**N," Teriak Revin lagi pada Revan.
Revan hanya menatap datar kemudian kembali masuk ke kamar mandi dengan membawa ember yang ia bawa tadi.
Revin mulai merasakan firasat buruk kemudian segera turun dari tempat tidur dan benar saja, Revan keluar dari kamar mandi dengan membawa seember air siap untuk menyiram Revin sekali lagi.
Revin yang melihat hal itu, membelalakkan matanya dan segera lari keluar dari kamar.
Revin berlari kencang menurini anak tangga dengan cepat dan berlari ke arah meja makan.
Arian, Ana dan Reana terkejut melihat Revin yang berlari mendekati mereka dengan baju yang basah kuyub.
"Revin kamu kenapa?" tanya Ana bingung dengan putra keduanya itu.
"Ada iblis masuk ke dalam kamarku lalu menyiramku dengan air, mommy," ucap Revin kemudian berdiri di belakang kursi sang ayah dengan menatap takut kearah Revan yang baru saja turun dari lantai atas.
Revan mendekati meja makan dengan ember kosong di tangannya lalu berjalan masuk ke dapur.
Revan keluar dari dapur kemudian dengan santay duduk di kursinya membuat Revin menatap tidak percaya.
"Revin, bukankah kamu harus mandi," ucap Ana menyadarkan putra keduanya itu.
Revin tersadar dari keterkejutannya lalu menoleh ke arah sang ibu yang menatapnya.
Revin perlahan berjalan menaiki tangga dengan melirik sang kakak yang dengan santaynya memakan sarapan seolah yang tadi tidak pernah terjadi.
Sepuluh menit kemudian.
Revin kini duduk di meja makan dengan menatap kearah kakaknya yang sudah selesai memakan sarapannya.
"Aku berangkat dulu, Mom," ucap Revan kemudian berjalan keluar di ikuti oleh Reana.
Revin memakan sarapannya dengan malas membuat Arian dan Ana menatapnya heran.
"Revin ... Motor kamu mana? daddy tidak melihatnya di garasi," ucap Arian membuat Revin mendongak dan menatap sang ayah yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Aku menyelamatkannya dari maut, Dad." ucap Revin santay membuat Ana mengernyit heran.
Arian yang mendengar hal itu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putra keduanya itu.
Lima menit kemudian.
"Aku pergi dulu, Dad, Mom," ucap Revin kemudian keluar dari rumah setelah mendapat anggukan dari kedua orang tuanya.
Revin berjalan keluar gerbang menuju kediaman Carlson dimana motornya berada.
"Sia**n, sadis banget jadi saudara! baru juga di bilangin bibirnya udah ngga suci lagi, eh, malah disiram pake air satu ember, basah deh tempat tidurku, ah brother sia**n," ucap Revin dalam perjalanan ke rumah Carlos dengan sesekali mengumpat kesal pada kakaknya.
Revin masuk kedalam kediaman Carlson setelah di bukakan gerbang oleh Security.
Revin berniat untuk memencet bel rumah, tapi sebelum tangannya memencet bel, pintu sudah terbuka.
Vivian berniat untuk keluar dari rumah dan segera naik ke mobil sang ayah tapi terkejut saat melihat Revin berdiri di depan pintu.
"Kamu ngapain disini?" tanya Vivian dengan nada suara kesal.
Revin menghembuskan nafasnya perlahan agar tidak kesal dengan gadis di hadapannya itu.
Vivian mengernyit bingung melihat Revin yang terus menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Eh, Revin, ada apa?" ucap Carlson yang berniat untuk keluar dari rumah dan segera mengantar Vivian ke sekolah lalu ke kantornya.
"Selamat pagi, uncle Carlson. aku kesini ingin mengambil motorku yang aku titip pada Carlos," ucap Revin sopan dengan senyum kecil di wajahnya.
Vivian terdiam melihat hal itu, entah mengapa Revin terlihat berbeda dimatanya. Vivian segera mengelengkan kepalanya membuang semua fikiran aneh yang singgah dikepalanya.
"Oh kalau begitu apakah paman bisa minta bantuanmu untuk mengantar Vivian ke sekolah karna Carlos harus berboncengan dengan Felisia," ucap Carlson panjang lebar menjelaskan dan juga meminta bantuan pada Revin.
Revin terdiam sementara Vivian terkejut bukan main.
"Papa, bukannya papa sudah janji akan mengantarku ke sekolah! lalu kenapa malah meminta bantuan dia," ucap Vivian menunjuk Revin.
Revin hanya menatap datar pada Vivian yang menunjuknya sedang Carlson menghembuskan nafasnya perlahan.
"Maaf, Vi. Papa tidak bisa mengantarmu untuk hari ini, lagi pula Revin satu arah dengan sekolahmu 'kan, papa akan mengantarmu besok, untuk hari ini Revin saja ya," ucap Carlson mencoba membujuk putrinya.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Vivian dengan menundukkan kepalanya.
"Saya titip Vivian ya, Revin." ucap Carlson dan Revin pun mengangguk dengan senyum paksa di bibirnya.
'Oh Uncle, kamu sangat baik, tapi kenapa putrimu itu memiliki sifat seperti singa betina,' ucap Revin dalam hati menatap Carlson dan Vivian secara bergantian kemudian mrngelengkan kepalanya tanda tidak percaya.
* * *
Saat ini Revin dan Vivian tengah dalam perjalanan ke sekolah Vivian. Vivian hanya terdiam sedang Revin fokus pada jalanan.
'Coba aja dia ngga playboy, mungkin aku akan menyukainya,' ucap Vivian dalam hati dengan memeluk pinggang Revin agar tidak terjatuh.
Revin menghentikan motornya di depan gerbang sekolah Vivian. Vivian turun dari motor lalu membuka helmnya dan menatap Revin yang berniat untuk menancap gas ke sekolahnya.
"Terima kasih," ucap Vivian singkat padat dan jelas.
Vivian berbalik dan segera masuk ke dalam gerbang sekolah yang tidak lama lagi akan tertutup.
"Dia barusan bilang apa?" ucap Revin bertanya pada dirinya sendiri tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
Revin mengelengkan kepalanya kemudian segera melajukan motornya meninggalkan sekolah Vivian.
Sepuluh menit kemudian.
Revin menghentikan motornya saat sudah tiba di parkiran sekolah setelah tadi merayu security untuk membukakan gerbang untuknya karna bel sekolah sudah berbunyi sedari tadi.
Revin segera berlari menuju ke kelasnya, Revin menghentikan larinya lalu berjalan perlahan mendekati pintu kelas.
Revin mengintip sedikit ke dalam kelas lalu menaruh jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan untuk teman sekelasnya diam.
Revin berjalan pelan melewati guru yang begitu fokus pada buku yang ia baca. saat Revin hampir tiba di kursinya, tiba-tiba terdengar suara yang membuatnya mengumpat kesal.
"Maaf pak, saya telat!" ucap seseorang di ambang pintu yang tidak lain adalah Carlos.
'Sia**n, Carlos bodoh,' umpat Revin kesal dengan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
"Revin ...," ucap guru itu membuat Revin menoleh dan kemudian cengegesan.
"Kalian berdua, lari keliling lapangan sebanyak 10 putaran!" ucap guru itu membuat Revin berdecak kesal.
__ADS_1
"Kamu itu ya ... ngapain pake bilang kayak gitu ... 'kan aku jadi ketahuan!" ucap Revin pada Carlos sambil berlari keliling lapangan sekolah.
"Mana aku tau, ini semua gara-gara tuh cewek gila!" ucap Carlos kesal akibat ulah Felisia tadi.