SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
JANGAN BERITAHU


__ADS_3

Disinilah Vivian, didepan pintu apartemen Revan dan Revin, ia menatap punggung Revin yang basah kuyub karena terkena air hujan saat berkendara tadi, ia pun tidak jauh berbeda dengan Revin.


Revin membuka pintu apartemen dan mempersilahkan Vivian untuk masuk kedalam.


"Kamu pake baju aku aja dulu," ucap Revin tanpa menoleh pada Vivian dan terus berjalan ke kamarnya.


"Iya," ucap Vivian lirih dengan terus menatap punggung Revin dan memeluk erat tubuhnya sendiri.


Revin menoleh pada Vivian yang terlihat kedinginan.


"Vi ...," panggilnya membuat gadis itu menatapnya. "Masuk kesini dan mandi, aku akan mandi di kamar Brother," ucap Revin dengan tersenyum lembut pada Vivian.


Gadis itu berjalan menghampiri Revin lalu mengikuti pria itu masuk kedalam kamar. Vivian terdiam sejenak melihat kamar Revin yang begitu menangkan dengan aroma maskulin yang masuk kedalam Indra penciumannya.


"Kamu mandi gih, aku siapin bajunya," ucap Revin dan Vivian mengangguk dengan patuh dan berjalan kekamar mandi dikamar itu.


Revin segera menyiapkan baju dan celana miliknya yang akan Vivian kenakan. Setelah menyiapkan itu diatas tempat tidur, ia pun segera keluar dari kamar untuk mandi dikamar kakaknya, agar tidak masuk angin.


* * *


Dua puluh menit kemudian.


Revin keluar dari kamar Revan dengan memakai kaos hitam dan celana training panjang milik Revan. Ia menoleh kearah pintu saat bel apartemen berbunyi.


Revin tersenyum saat membuka pintu melihat seorang kurir mengantar pesanannya.


"Terima kasih," ucapnya singkat lalu memberi uang tip pada kurir tersebut.


Revin berjalan mendekat kearah pintu kamarnya untuk memberikan paperbag ditangannya pada Vivian.


* * *


Sementara itu, Vivian terus menerus mondar-mandir didalam kamar Revin. Ia sangat bingung sekarang, karena pakaian dalamnya telah basah, jadi tidak mungkin ia langsung memakai pakaian Revin tanpa memakai pakaian dalam.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu terdengar, membuat gadis itu berjalan mendekat untuk membuka pintu kamar itu.


Pintu terbuka menampilkan Revin yang sudah memakai pakaian dengan paperbag ditangannya.


"Ini," ucap Revin menyodorkan paperbag itu pada Vivian.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Vivian lalu membuka paperbag itu dan terkejut melihat isinya.


"Aku tidak tau ukuranmu, jadi aku memesan semua ukuran," ucap Revin dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Terima kasih," ucap Vivian dengan wajah meronanya.


"Sama-sama," ucap Revin lalu mengacak rambut gadis itu dan berbalik untuk kedapur.


Vivian terdiam melihat Revin yang berjala kedapur, ia tersenyum kecil lalu segera menutup pintu kamar untuk memakai pakaian.


Lima menit kemudian.


Revin keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisikan dua gelas coklat panas dan segera berjalan keruang tamu. Ia meletakkan nampan itu dimeja berniat untuk memanggil Vivian yang belum juga keluar dari kamar.


Saat Revin berbalik, ia terkejut melihat Vivian yang sudah berdiri dibelakangnya dengan memakai baju kaos berwarna biru tua yang begitu kebesaran dan celana training yang bahkan sangat besar.


Revin menelan salivanya dengan susah payah, sesuatu dibawah sana terbangun dan minta dipuaskan.


Revin mendekati Vivian lalu mengecup singkat kening gadis itu dan berlalu ke kamar mandi didapur.


Vivian menatap aneh pada Revin yang mendadak pergi setelah kedatangannya dari kamar dengan pakaian yang begitu kebesaran ditubuh mungilnya.


Gadis itu segera berjalan ke sofa lalu duduk dan mengambil satu gelas coklat panas itu, menghirup dalam-dalam aromanya dan meminumnya perlahan.


"Nikmat," ucap Vivian dengan tersenyum dan kembali menikmati coklat panas itu, yang sudah hangat.


Sepuluh menit kemudian.


Sudah sepuluh menit gadis itu duduk dan menikmati coklat panas, ralat coklat hangat itu sendirian. Dan Revin belum juga kembali dari dapur membuat bibirnya cemberut.


Tiba-tiba pintu apartemen terbuka membuat Vivian mendogak dan menatap seorang pria yang juga menatapnya dengan tatapan terkejut.


Vivian menatap dari atas hingga bawah pria yang kini berjalan mendekat padanya. Jika saja ia tidak bersama dengan Revin, mungkin dia akan mengira jika Revan adalah Revin, sama seperti tadi.


"Halo, kak Revan," sapa Vivian dengan tersenyum dan kedua tangan yang memengang gelas coklat hangatnya.


"Halo juga, Vivian. Revin mana?" tanya Revan mencari keberadaan adiknya itu, karena tidak mungkin Revin meninggalkan Vivian sendirian diapartemennya tanpa membawanya ke apartemen Carlos.


"Tadi masuk kedapur, kak. Belum keluar sampai sekarang," ucap Vivian dan kembali menyeruput coklat hangatnya.


Revan hanya ber oh riah tanpa suara, lalu duduk disofa tunggal dihadapan Vivian. Revan mengambil gelas coklat panas itu, yabg kini sudah hangat.

__ADS_1


Revan meminum coklat hangat itu perlahan, tidak peduli siapa yang punya. Toh, dia haus jadi minum saja.


"Brother, kau sudah pulang?" tanya Revin yang baru saja keluar dari dapur dengan keringat dikeningnya, seperti habis lari maraton.


Revan dan Vivian menoleh kearah Revin, yang terlihat sedikit kacau dengan keringat diwajahnya. Revan terkekeh geli melihat hal itu dan kembali menyeruput coklat hangatnya.


"Brother, itu punyaku," ucap Revin yang tersadar melihat Revan meminum coklat panas yang ia buat untuk Vivian dan dirinya.


"Bikin lagi saja, susah banget," ucap Revan acuh dan kembali menyeruput coklatnya.


Revin menatap kesal kakaknya itu dan kembali kedapur untuk membuat coklat panas yang baru untuk dirinya.


Vivian hanya terdiam melihat Revin yang kembali masuk kedapur, padahalkan dua baru saja keluar, tapi malah masuk lagi.


"Sudah berapa kali dia kedapur?" tanya Revan memecah keheningan sesaat itu.


"Baru sekali, kak," ucap Vivian yang lagi-lagi hanya balas Revan dengan ber oh riah tanpa suara.


"Untung saja aku datang cepat, kalau tidak ... mungkin aku akan memotong miliknya," lirih Revan yang terdengar samar ditelinga Vivian.


"Kakak tadi bilang apa?" tanya Vivian yang penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Revan barusan.


"Tidak apa-apa, Vi. Kapan kau akan pulang lagi ke negara A?" tanya Revan mencoba mengalihkan pertanyaan Vivian.


"Besok lusa, kak. Kalau seminggu kelamaan," ucap Vivian dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


"Carlos tau kamu disini?" tanya Revan lagi.


Vivian mengelengkan kepalanya tanda jika kakaknya itu tidak tahu, jika dia ada diapartemen ini.


Revan mengangguk mengerti kemudian bangkit dari duduknya setelah coklat digelas telah habis, dan Revin juga sudah keluar dari dapur dengan segelas coklat panas ditangannya.


"Brother ngomong apa aja?" tanya Revin saat duduk disofa panjang yang diduduki Vivian.


"Tidak ada, hanya pertanyaan kecil," ucap Vivian menjawab pertanyaan Revin.


Vivian menaruh gelas coklatnya diatas meja, karena telah habis ia minum. Tiba-tiba tangan Revin berada dibibir Vivian, menyeka sisa coklat yang ada diatas bibir gadis itu dengan jempolnya.


Vivian terdiam mendapat perlakuan tiba-tiba itu, ia menatap Revin yang juga menatapnya dengan tersenyum.


"Jangan beritahukan hal ini pada Carlos ya," ucap Revin tiba-tiba membuat Vivian terdiam dengan menatap bingung pada Revin.

__ADS_1


__ADS_2