
Revin, Reon dan Carlos menghentikan motor mereka didepan cafe dipusat kota S, Revin membuka helmnya kemudian mengacak rambutnya kesal, kemana lagi ia harus mencari kakaknya itu, terlebih lagi ia lupa untuk memasang penyadap diponsel baru kakaknya itu.
"Revin, kemana kita harus mencari Revan? Aku semakin khawatir saja," ucap Reon setelah membuka helmnya.
Carlos membuka helmnya, lalu menoleh kearah cafe, menatap kedalam cafe dan sedikit mengernyit ketika melihat seseorang yang begitu familiar.
Carlos mengucek matanya, lalu kembali menatap ke dalam cafe itu yang hanya berdinding kaca transparan yang membuat seseorang diluar cafe, bisa melihat kedalam cafe meski tidak terlalu jelas.
"Revin, Reon," panggil Carlos tidak mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang tengah duduk dengan seorang gadis didalam cafe itu.
"Apa?" ucap Revin dan Reon bersamaan, malas jika harus meladeni sahabatnya yang kadang tidak waras itu.
"Bukankah itu Revan?!" ucap Carlos dengan menunjuk kearah pria yang ia lihat.
Revin dan Reon mengikuti arah telunjuk Carlos dan mencoba menajamkan penglihatan mereka.
"Seperti iya, tapi dia duduk dengan seorang gadis," ucap Reon yang membuat mereka bertiga seketika terdiam, lalu menatap satu sama lain.
"Gadis?!" ucap mereka bersamaan lalu segera turun dari motor masing-masing dan berlari kecil kearah cafe.
Mereka mengenakan topi jaket mereka, lalu berjalan santai memasuki cafe dan duduk di kursi dibelakang Revan.
Revin mengernyit melihat wajah gadis yang duduk dihadapan kakaknya itu, karena Revan duduk membelakangi meja mereka bertiga.
"Bukankah itu anak paman Kimso?" bisik Carlos pada kedua sahabatnya itu, dengan sedikit memajukan kepalanya.
Reon mengangguk, membenarkan ucapan Carlos. Sedang Revin mencoba mempertajam pendengarannya.
* * *
"Makan pelan-pelan sayang, 'kan jadi belepotan begini," ucap Revan lalu menyeka makanan dibibir Rania mengunakan tisu.
Revin, Reon dan Carlos mematung mendengar seorang Revan mengatakan kata romantis seperti 'sayang.'
Rania hanya tersenyum manis mendapat perlakuan romantis Revan padanya.
__ADS_1
"Kak Revan, apa aku boleh bertanya?" ucap Rania sedikit malu.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak memanggilku kakak, panggil dengan sebutan sayang saja, itu akan terdengar romantis," ucap Revan membuat wajah Rania bersemu merah.
"Uhuk! emh ....," Revin dan Reon segera membekap mulut Carlos, karena tiba-tiba sahabatnya itu tersedak salivanya sendiri.
Revan mengernyit mendengar hal itu, tapi kemudian mengabaikannya.
"I-I-iya sa-sayang," ucap Rania tergagap mengatakan hal yang dipinta Revan, dan itu justru membuat Revan tersenyum geli, tidak menghiraukan keributan dibelakangnya yang seperti orang meronta minta dilepaskan.
Carlos memukul tangan kedua sahabatnya itu yang masih berada mulutnya membuat ia susah bernafas, Revin dan Reon yang melihat hal itu justru memengang masing-masing tangan Carlos agar tidak memberontak.
Carlos sudah tidak tahan karena Revin dan Reon justru menahan tangannya bukannya melepaskan tangan mereka yang membekap mulutnya. Jika terus seperti ini, ia akan mati kehabisan nafas.
"ADUH!" jerit Reon saat Carlos mengigit telapak tangannya, membuat ia segera menarik tangannya, begitupun dengan Revin yang terkejut bukan main.
Revan dan Rania terkejut mendengar suara teriakan dimeja dibelakang mereka, begitupun dengan beberapa pengunjung cafe itu dan para pelayan cafe itu.
"Gi*a! Kenapa kau mengigitku sia**n!" ucap kesal Reon yang sudah berdiri dari duduknya dan menatap tidak percaya pada Carlos yang mengigit telapak tangannya hingga sedikit berbekas.
"Kalian berdua yang g*la! Membekap mulutku hingga membuatku hampir kehabisan nafas!" ucap Carlos yang tidak kala kesalnya dengan Reon.
'Teman-teman bodoh!' umpat kesal Revin dalam hati, ia harus menyiapkan jiwa dan raganya untuk amukan kakaknya nanti.
"Kalian bertiga!" ucap Revan penuh penekanan membuat Reon dan Carlos menoleh kearahnya, mereka berusaha menelan saliva mereka dengan susah payah, sedang Revin berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.
"Hehe, Hay Revan dan halo Rania," sapa Reon dan Carlos, dengan canggung pada kedua orang yang berdiri dibelakang mereka.
"Halo," Rania menyapa kembali pada Reon dan Carlos dengan senyum ramah, membuat Revan tersadar dan mencoba menahan emosinya yang sudah siap untuk memberi pelajaran pada tiga penguntit itu.
"Maaf, tidak sengaja," ucap mereka bertiga, dengan kepala yang menunduk.
* * *
Kini mereka berlima telah duduk berhadap-hadapan dimeja Revan dan Rania, setelah tadi meminta maaf pada para pengunjung cafe karena menganggu kenyamanan.
__ADS_1
Revan menatap datar pada ketiga pria yang duduk dihadapannya, sedang Rania duduk disampingnya.
"Em, apa kalian sudah makan siang?" tanya Rania pada Revin, Reon dan Carlos, berusaha untuk memecah keheningan yang melanda.
Tiga pria dan itu mendogak, dan menatap Rania lalu menatap Revan, sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Rania menunggu jawaban ketiga pria itu dengan sabar, Revan yang melihat hal itu mengerakkan kakinya menginjak salah satu kaki dibawah meja, yang ternyata kaki Reon-lah yang kena.
"Aduh!" pekik Reon saat kaki Revan menginjak kakinya dibawah meja, membuat Revin dan Carlos menatapnya dengan wajah polos tanpa tahu apapun.
"em, kami belum makan siang," ucap Reon dengan tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kalau begitu, kita pesan makan lagi ya? Soalnya kalau cuma ini tidak akan cukup," ucap Rania dengan tersenyum manis pada ketiga pria itu.
"Em, tapi kami tidak bawa uang," ucap Carlos jujur, karena mereka memang tidak membawa uang.
Rania terdiam mendengar hal itu, sedang Revin, Reon dan Carlos menatap Revan penuh harap. Rania mengikuti arah pandang tiga orang itu, yang jatuh pada pria disampingnya.
Revan menoleh kearah Rania yang juga menatapnya, ia menghembuskan nafas lalu menganggukkan kepalanya.
"Kak Revan yang akan bayar kok," ucap Rania dengan tersenyum pada ketiga pria dihadapannya.
'Oh, bidadari penyelamat,' ucap Revin, Reon dan Carlos dalam hati dan menatap wajah Rania dengan tatapan sulit diartikan, membuat Revan berdehem menyadarkan ke tiga orang itu.
Mereka segera mengalihkan padangan kearah lain, sedang Rania memanggil pelayan untuk memesan makanan lagi.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Revan sembari menunggu pesanan datang.
Reon dan Carlos menatap Revin yang duduk ditengah-tengah antara mereka berdua. Revin menghembuskan nafasnya, ia tahu jika kedua sahabatnya itu meminta dirinyalah yang berbicara.
"Kami khawatir karena Brother belum pulang juga, jadi kami memutuskan untuk mencari, takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," ucap Revin panjang lebar menjelaskan pada kakaknya itu.
Revan terdiam mendengar ucapan Revin, ia tahu jika mereka berdua pasti khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya.
"Aku baik-baik saja, hanya pergi keluar untuk menumui calon istriku," ucap Revan mantap membuat Revin, Reon dan Carlos terkejut.
__ADS_1
Mereka bertiga bertukar pandang satu sama lain, lalu tatapan mereka jatuh pada Rania yang kini wajahnya telah memerah bak tomat matang.
"APA!" teriak mereka bertiga yang terkejut bukan main.