
Revin membuka pintu kelas mencari untuk mencari Vivian.
"Hey, apa yang kamu lakukan, ini namanya melanggar ...," ucap security itu yang terhenti ketika Revin mulai berteriak padanya.
"MELANGGAR APA! HAH! JIKA SAMPAI TERJADI SESUATU PADANYA, MAKA AKAN KU PASTIKAN SEMUA GURU DI SEKOLAH INI MENYESAL!" teriak Revin membuat security itu terdiam seribu bahasa, terkejut sekaligus takut.
Revin mengacak rambutnya saat membuka pintu kelas 3 dan sama sekali tidak ada orang didalam sana.
'Vivian, kamu dimana sih,' ucap Revin dalam hati dengan perasaan yang begitu gelisah.
Revin mengacak rambutnya frustasi harus mencari Vivian kemana lagi, karena tidak mungkin Vivian diculik karena sedari tadi dia sudah menunggu didepan gerbang dan jelas jika gadis itu tidak akan mengikuti orang asing.
Tiba-tiba terlintas difikiran Revin, tentang gudang sekolah itu.
'Apa mungkin Vivian ada digudang sekolah,' ucap Revin dalam hati kemudian segera berlari mengelilingi area sekolah itu untuk mencari keberadaan gudang sekolah.
Revin berlari mengelilingi sekolah itu hingga melihat salah satu pintu bercat putih yang berada dihalaman belakang sekolah itu.
Revin segera berlari kearah pintu itu dengan security yang mengekorinya dibelakang.
Revin memengang gagang pintu itu kemudian mencoba membukanya.
"Terkunci," ucap Revin membuat security itu menatapnya.
Revin memundurkan tubuhnya kemudian mendobrak pintu itu berulang-ulang hingga membuat security itu terkejut.
Dobrakan ke 3, akhirnya pintu itu terbuka, Revin membuka pintu itu dan terkejut ketika melihat seorang gadia tengah memeluk lututnya dengan erat dengan mata yang tertutup.
Security itu terkejut ketika melihat Vivian yang berada didalam gudang sekolah dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, dengan seraham yanh sedikit robek dilengan kanannya dan rambut yang sedikit acak-acakan.
Revin berjalan mendekat pada Vivian yang masih memeluk lututnya dengan kepala yang ia tundukkan dan juga tubuh yang gemetar ketakutan.
"Vivian ...," ucap Revin lembut saat sudah berada beberapa centi dari Vivian.
Vivian tersentak mendengar hal itu, kemudian mendongak dan menatap Revin yang juga menatapnya.
Vivian berdiri seketika dan berlari kepelukan pria itu dan memeluknya erat.
Revin terkejut saat Vivian tiba-tiba memeluknya dan tidak lama itu, Vivian menangis tersedu.
"Aku takut, aku fikir aku akan tinggal digudang ini sampai besok, aku takut," ucap Vivian dengan nada suara bergetar, karena ketakutan.
Revin terdiam mendengar perkataan gadis itu, Revin mengepalkan tangannya kemudian membalas pelukan Vivian dan mencium puncuk kepala Vivian.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu takut lagi, aku ada disini," ucap Revin lembut dengan mengelus rambut Vivian dengan sesekali mengecup singkat puncuk kepala Vivian.
Perlahan-lahan Vivian mulai tenang dan sudah tidak gemetar lagi dan juga mulai berhenti menangis.
Revin melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Vivian dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Kita pulang sekarang, oke," ucap Revin dengan menatap iris mata Vivian yang berwarna sedikit hitam.
Vivian menatap iris biru safir milik Revin yang begitu menenangkan baginya.
Vivian menganggukkan kepalanya pelan dan Revin pun tersenyum kemudian membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Vivian.
Revin memapah Vivian untuk keluar dari gudang itu dan berjalan keluar dari sekolah.
Security itu hanya bisa terdiam melihat Revin dan Vivian yang berjalan menjauh dari gudang meninggalkannya sendiri.
"Siapa yang sudah berbuat seperti itu pada siswi itu ya," ucap security itu dengan sesekali mengerjap bingung.
Revin dan Vivian kini sudah berada disamping motor Revin. Revin menarik res jaketnya yang dikenakan oleh Vivian.
Vivian hanya terdiam tanpa berniat berbicara sepatah kata tidak seperti biasanya, Revin menatap Vivian dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan ataukah sedih.
'Siapa pun yang melakukan hal ini, akan aku beri pelajaran yang lebih buruk dari hal yang dialami Vivian,' ucap Revin dalam hati dan kemudian mengecup singkat kening Vivian.
Revin memakaikan helmnya dikepala Vivian, kemudian menuntunnya naik ke motor. Revin naik ke motor diikuti oleh Vivian.
Revin melajukan motornya dengan kecepatan sedang untuk segera tiba ke kediaman Carlson.
Lima belas menit kemudian.
Revin menghentikan motornya didepan gerbang rumah Vivian, Vivian pun turun dari motor diikuti oleh Revin.
Revin membuka helm yang Vivian kenakan kemudian menaruhnya diatas motornya lalu merapikan rambut Vivian layaknya kekasih.
Vivian hanya terdiam dengan menatap Revin yang begitu lembut padanya. Revin kembali memapah Vivian untuk masuk kedalam rumahnya.
Revin memencet bel rumah dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka.
Fania tersenyum pada Revin dan kemudian menatap Vivian yang hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya.
Fania sedikit bingung dengan Vivian yang mengenakan jaket Revin ditubuhnya.
"Revin, makasih ya, sudah menjemput dan mengantar Vivian sampai dirumah," ucap Fania berterima kasih pada remaja didepannya.
__ADS_1
Revin hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kemudian melepaskan tangannya yang memengang bahu Vivian.
Vivian kemudian masuk setelah tersenyum kecil pada sang ibu, Revin yang melihat hal itu hanya bisa menatap sayu pada Vivian.
'Vivi kenapa?' ucap Fania dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu, aku pamit, Bibi," ucap Revin kemudian tersenyum pada Fania yang juga tersenyum padanya.
Revin segera keluar dari gerbang kemudian naik ke motornya dan segera memakai helmnya kemudian menyalakan mesin motornya dan segera melajukannya menuju rumah.
Sementara itu, Vivian terus berjalan menaiki tangga untuk segera kekamarnya dan menenangkan diri.
Carlos menuruni anak tangga untuk segera ke dapur dan mengambil camilan sebelum bermain game. Carlos terkejut ketika melihat Vivian menaiki tangga dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh Carlos.
Carlos mengernyit bingung saat melihat adiknya itu mengenakan jaket Revin ditubuhnya.
"Eh, Vivi, kamu dari mana?" tanya Carlos pada adiknya.
Vivian tidak menjawab membuat Carlos semakin bingung.
Vivian segera berlari memasuki kamarnya kemudian mengunci pintu dan perlahan-lahan tubuhnya kembali gemetar ketakutan.
Carlos memasuki dapur dan bertemu dengan Felisia yang tengah menuang jus kegelas dan tidak menyadari jika Carlos berada didekatnya.
Carlo tersenyum licik dan segera mengendap mendekati Felisia, Felisia masih belum menyadari jika Carlos berada didekatnya.
Felisia membuka lemari pendingin untuk kembali menaruh botol jus ketempatnya, Felisia menutup lemari pendingin itu dan berniat untuk mengambil jus digelas yang ia tuang tadi.
Felisia mengernyit bingung saat jus digelas yang tadi ia tuang tidak ada dan hanya gelas kosong saja.
"Perasaan tadi udah aku tuang deh, tapi kok kosong, apa aku belum menuangnya tadi ya," ucap Felisia bingung dan kemudian menghembuskan nafasnya lalu kembali membuka lemari pendingin untuk kembali mengambil botol jus dan menuang kegelas.
Sementara itu, Carlos berjalan berniat naik kekamarnya dengan segelaa jus ditangannya, jus yang tadi dituang oleh Felisia dan kemudian ia mengambilnya dan menukarnya dengan gelas kosong.
(Sungguh pintar sekali😂)
Carlos menghentikan langkahnya, yang bersiap untuk menaiki tangga saat sang ibu memanggilnya membuatnya menoleh.
"Carlos ...," ucap Fania berjalan mendekati Carlos.
"Iya, Ma. ada apa?" tanya Carlos bingung.
"Coba kamu bicara dengan Vivi, tadi mama lihat sepertinya dia dalam keadaan yang tidak baik, dan kamu, kalau disaat perasaannya seperti itu, hanya kamu yang bisa berbicara dengannya," ucap Fania sedikit khawatir pada putrinya itu.
__ADS_1
"Oke, Ma. tanpa mama minta aku akan melakukannya," ucap Carlos dengan tersenyum pada sang ibu yang juga tersenyum padanya.
'Sebenarnya apa yang terjadi, Revin tidak mungkin berbuat hal yang buruk pada Vivian, tapi kenapa Vivian terlihat aneh tadi,' ucap Carlos dalam hati dengan terus berjalan menaiki anak tangga berniat untuk berbicara dengan adiknya itu.