SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PENDAPAT


__ADS_3

Revin tersenyum mendengar ucapan calon mertuanya itu, lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Nanti kalau perlu, kami akan siapkan bulan madu kemana saja. Bahkan keliling negara pun juga akan kami siapkan kalau perlu," ucap Carlson membuat Carlos mengernyitkan alisnya.


"Lah, papa curang dong. Masa Carlos ngga!" ucap Carlos tidak terima, masa dia cuma dia yang harus beli tiket bulan madu sendiri, sementara Revin dan Vivian nanti akan diberikan tiket bulan madu.


"Kenapa? Kan kamu bisa beli sendiri," ucap Carlson membuat Carlos mengembulkan pipinya seperti anak kecil.


"Tapi kan beda, pa. Itu namanya pilih kasih," ucap Carlos semakin memasang wajah cemberutnya.


Revin yang melihat hal itu tersenyum kecil, sementara Revan menoleh kearah Vivian dan mengernyit melihat wajah Vivian yang terlihat berfikir keras.


"Kalian kan sudah bulan madu dikamar pengantin, dan juga sudah menyiapkan tiket bulan madu sendiri. Jadi tidak perlu lagi kami bantu," ucap Carlson dengan menatap Carlos yang juga menatapnya.


"Kami belum bulan madu dikamar pengantin, pa. Kami nunggu Revan selesai nikah dulu, baru bulan madu dikamar pengantin," ucap Carlos yang seperti pria polos.


Arian, Carlson dan Rafael terdiam mendengar hal itu, lalu menatap Carlos yang masih menatap ayahnya.


"Kamu serius, belum melakukan itu?" tanya Rafael penasaran dan langsung diangguki oleh Carlos.


Rafael terkejut, lalu menatap Reon yang terdiam dengan wajah meronanya. Ingin sekali rasanya dia memukul kepala Carlos yang bodoh itu.


"Kamu belum, Reon?" tanya Rafael dengan raut wajah tidak percayanya.


"Palingan udah yang di ba ...," belum selesai Carlos berucap, Felisia sudah memukul lengan suaminya itu.


"Aduh! Sakit sayang," ucap Carlos mengadu, meski sebenarnya tidak terlalu sakit.


Arian, Carlson dan Rafael semakin terdiam mendengar kejujuran Carlos.


"Hebat sekali kalian, kok kamu ngga gitu sih, Ran?!" ucap Rafael membuat Arian mengeryit.


"Maksudnya?" ucap Arian penuh tanda tanya.


"Maksud aku itu, kok kamu ngga nunggu kami malam pertama sih. Memang benar jika kamu malam pertama lebih dulu, tapi setidaknya tunggu kami menikah baru keluarin didalam," ucap Rafael membuat Arian terdiam dengan mata yang seolah ingin keluar dari tempatnya.


"Ogah!" jawab Arian cepat, membuat Rafael mengernyit.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Kalau nungguin kalian, entar kelamaan. Ngga ada untungnya juga," ucap Arian membuat Rafael mendegus kesal.


"Sialan!" umpatnya kesal lalu menyandarkan punggungnya disandarkan sofa.


Hening kembali melanda ruang tamu itu, sedang Ana, Sarah dan Fania saling bertukar pandang satu sama lain.


* * *


Pukul 1 siang.


Vivian tengah duduk disalah satu kursi didalam cafe yang terletak tidak jauh dari taman kota.


Vivian terdiam dengan lamunannya untuk mancari jawaban yang tepat tentang apa yang ia fikirkan, apakah keputusannya sudah tepat atau belum.


"Maaf, Vivi. Kamu jadi harus nunggu," ucap seseorang yang kini duduk dikursi dihadapan Vivian membuat gadis itu tersentak lalu mendogak dan menatap wajah pria kembaran kekasihnya.


"Iya, kak. Ngga apa-apa kok," ucap Vivian dengan tersenyum kecil.


"Aku benar-benar tidak menganggumu kan?" tanya Revan, merasa sedikit tidak enak karena meminta gadis itu untuk menemuinya dicafe itu.


"Ngga kok, santai aja," ucap Vivian dengan senyum diwajahnya.


Revan memanggil salah satu pelayan di cafe itu, untuk memesan minuman. Meksi sebenarnya ia hanya sebentar disana.


Hening masih melanda diantara Revan dan Vivian, gadis itu masih bingung harus mengatakan apa. Karena yang mengundangnya ke sini adalah Revan, tapi pria itu belum juga berbicara.


Tidak lama kemudian, pelayan mendekat dan menaruh pesanan Revan dimeja, lalu kemudian pergi.


"Kamu yakin meminta Revin untuk menunggu tiga tahun lagi?" tanya Revan tiba-tiba, membuat Vivian tersentak dan menatapnya.


Vivian menundukkan kepalanya, sementara Revan terus meminum jusnya dengan menatap lurus pada Vivian.


"Iya," ucap Vivian singkat dengan menundukkan kepalanya, ia takut jika melihat wajah Revan. Karena merasa seperti berbicara dengan Revin.


"Kalau menurutku, akan baik jika hanya satu tahun, Vivian," ucap Revan, membuat gadis itu mengernyit lalu mendogak dan menatapnya.


"Maksudnya, kak?" tanya Vivian tidak mengerti dengan ucapan Revan.


"Aku tidak akan memaksamu, Vi. Aku hanya mengatakan pendapatku saja. Menurutku, akan lebih baik jika kamu meminta Revin menunguu satu tahun, tiga tahun itu terlalu lama, Vi," ucap Revan membuat Vivian terdiam.

__ADS_1


"Kau bisa seperti Rania. Dia baru menyelesaikan semester dua, dan menikah denganku. Aku tau apa yang difikirkan oleh Revin, Vi. Dia mungkin tidak akan sanggup jika harus menunggu selama itu, bibirnya bisa berkata baik-baik saja. Tapi hatinya sakit, hal yang paling tidak pernah ia lakukan adalah menunggu, Vi. Tapi demi dirimu dia rela menunggu, dan kamu sudah bisa melihat ketulusan disana" jelas Revan panjang lebar, membuat Vivian seakan bungkam seketika, tidak mampu mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.


"Adikku juga manusia, Vi. Dia bukan robot yang punya ketahanan hati dari rasa sakit, akupun juga begitu. Makanya aku melamar Rania setelah lulus, mungkin memang terlalu cepat. Tapi semua itu demi kebaikan kita bersama, membangun semua dari awal bersama, soal cita-citanya masih bisa dia raih setelah menikah denganku," ucap Revan panjang kali lebar.


"Fikirkan lagi, Vi. Meskipun menikah, kau masih bisa meraih cita-citamu dengan Revin yang akan mendukungmu. Tapi semua keputusan ada ditanganmu, aku tidak berhak memaksamu. Anggap saja yang tadi itu pendapat seorang saudara yang menasehati adik perempuannya," ucap Revan lalu mengusap puncuk kepala Vivian yang hanya terdiam.


"Oh iya, Vi. Apa kamu tahu, kenapa Revin tidak menyukai Dion?" tanya Revan membuat Vivian tersentak, lalu mendogak dan menatap pria dihadapannya.


"Tidak, kak. Mungkin saja masalah sesama pria, jadi Revin tidak menceritakannya padaku," ucap Vivian membuat Revan mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku pergi dulu ya. Rania menungguku di taman," ucap Revan lalu mengacak poni gadis itu dengan gemas.


Vivian hanya terdiam dan menatap Revan yang keluar dari cafe dengan tatapan yang sendu. Apa yang dikatakan oleh Revan ada benarnya, dan hal itu membuat Vivian dilema.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri, dengan kepala yang menunduk dan mengigit bibir bawahnya.


Tiba-tiba seseorang memanggil namanya, dan ia sangat mengenal suara itu.


"Vi, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Revin yang sudah berdiri disamping Vivian.


Vivian mendogak dan menatap Revin yang juga menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin menikmati waktu disini," ucap Vivian dengan tersenyum kikuk, membuat Revin mengernyit.


Revin mendudukkan diri dikursi disamping Vivian, sedang Vivian mengeryit melihat seorang wanita yang berdiri disamping Revin dengan pakaian nan seksi menurutnya.


Revin menatap Vivian, yang menatap penuh selidik pada wanita yang berdiri disampingnya itu.


"Rara, duduk dulu. Kita akan menunggu mereka disini," ucap Revin dan wanita itu mengangguk patuh dan duduk dikursi dihadapannya.


Vivian masih menatap kearah wanita yang kini duduk dihadapannya, wanita cantik dengan penampilan yang cukup mengoda.


"Dia sekertariku," ucap Revin tiba-tiba, membuat Vivian tersentak. "Rara, kenalkan ini calon istriku," ucap Revin memperkenalkan Vivian pada Rara.


"Halo, nyonya. Saya Rara, sekertarisnya pak Revin," ucap Rara memperkenalkan diri dengan senyum dibibirnya.


"Hay," ucap Vivian dengan senyum paksa dibibirnya.


Revin yang melihat hal itu, tersenyum kecil. Ia mengetahui jika Vivian saat ini tengah cemburu pada Rara.

__ADS_1


"Kapan hari ulang tahun pernikahanmu, Rara?" tanya Revin tiba-tiba, membuat Vivian terkejut.


__ADS_2