
Pukul 5 sore.
Revan dan Revin tiba di rumah mereka dan segera mematikan mesin motor mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Revan dan Revin terkejut ketika melihat Arian duduk di sofa ruang tamu seperti sedang menunggu mereka berdua.
"Daddy ...," ucap Revan dan Revin bersamaan.
Arian menatap kedua putranya itu lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
Revan dan Revin mengerti jika sang ayah ingin berbicara hal yang penting dengan mereka berdua.
Revan dan Revin berjalan mengikuti Arian ke ruangan kerjanya di rumah itu dan kemudian masuk.
Revin menutup pintu saat sudah masuk ke dalam ruangan kerja sang ayah dan mendekat ke arah sang kakak dan kemudian berdiri di samping kakaknya dan menatap ayahnya yang berdiri membelakangi mereka dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celana kainnya.
Arian berbalik dan menatap kedua putranya itu yang menundukkan kepalanya.
Arian menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.
"Kemarilah!" ucap Arian membuat Revan dan Revin mengangkat kepalanya yang menunduk.
Revan dan Revin terdiam saat mengangkat kepalanya dan melihat sang ayah yang merentangkan kedua tangannya dengan senyum di wajahnya.
Revan dan Revin berlari ke pelukan sang ayah dengan tersenyum bahagia.
"Kalian sudah bekerja keras, kalian sudah anak yang baik, apa hadiah yang kalian inginkan?" tanya Arian pada kedua putranya saat sudah melepaskan pelukan mereka.
Revan dan Revin saling bertukar pandang mendengar ucapan sang ayah dan kemudian tersenyum.
Arian yang melihat hal itu menghembuskan nafasnya dan kemudian tersenyum pada Revan dan Revin.
* * *
Pukul 8 malam.
Arian, Ana beserta ketiga anak mereka tengah berkumpul di ruang tamu dan juga mereka sudah makan malam tadi, jadi mereka memilih untuk berkumpul di ruang tamu sembari menunggu jam tidur yaitu jam 9 malam.
Saat ini, Ana dan Reana tengah menonton ketiga pria yang tengah asyik bermain game di ruang tamu.
"Tidak!" ucap Revin sedikit berteriak dan kemudian mengacak rambutnya dan menyilang tangannya di depan dada dengan duduk bersila.
"Sia**n," umpat Revin yang kesal akibat kalah bermain game dengan sang ayah.
Arian tersenyum mendengar umpatan kesal Revin, kini giliran Revan yang melawan sang ayah di permainan game kontrol perang yang sedang tren saat ini.
__ADS_1
Revan mengigit bibir bawanya dengan tangan yang begitu lincah bermain dengan kontrol game itu, sedang Arian dengan santaynya memainkan kontrol game itu dan sedetik kemudian.
"Ah, Sia**n," umpat kesal Revan yang akhirnya kalah.
Arian mengangkat kedua tangannya kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa untuk duduk di samping istri tercinta.
"Kalian masih payah, masa tidak bisa menang dari Daddy sih, bukankah kalian yag menantang Daddy tadi sore," ucap Arian dengan senyum penuh kemenangan.
Revan dan Revin berdiri dari duduknya karna tadi mereka duduk di lantai san kemudian berjalan ke sofa duduk berhadapan dengan sang ayah.
"Bagaimana Daddy bisa terus menang padahalkan Daddy tidak suka bermain game , ajarkan padaku caranya menang, Daddy," ucap Revin antusias.
"Daddy tidak terlalu suka bermain game, tapi Daddy mengunakan otak untuk memikirkan strategi yang bisa membuat Daddy menang," ucap Arian membuat Revan dan Revin saling bertukar pandang.
"Sudah, kalian pergi ke kamar masing-masing untuk segera tidur!" ucap Ana membuat ketiga anaknya segera beranjak dari duduk mereka dan naik ke tangga menuju kamar mereka.
Revan tiba di depan pintunya dan berniat untuk membuka pintu tapi ia hentikan ketika melihat Reana yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" ucap Revan singkat bertanya pada Reana.
"Maafkan Reana, kak. Reana janji tidak akan mengulangi hal yang sama lagi," ucap Reana tersenyum pada Revan yang hanya berwajah datar.
Reana yang melihat hal itu menundukkan kepalanya karna merasa jika Revan tidak memaafkannya.
Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepalanya membuat Reana mendongak dan menatap Revan yang tersenyum padanya dengan tangan Revan yang mengelus rambunya.
"Good night, Brother," ucap Reana dengan tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Revan hanya tersenyum kecil kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur.
* * *
Pukul 6:25 pagi.
Revin berteriak di pagi ini kala dirinya terjatuh dari tempat tidur akibat ulah Revan yang membangunkannya.
"BROTHERRR!" teriak Revin pagi ini dan lagi, seperti biasa, aksi kejar-kejaran selalu terjadi setelah teriakan Revin.
Kali ini Revin memengang benda yang di sebut vas bunga di tangannya dengan berlari mengejar sang kakak keluar dari kamar dan berakhir di meja makan.
"Revin, Mandi cepat!" perintah yang mulia ratu pada Revin.
Revin hanya mampur menurut dan kembali ke kamarnya dengan membawa vas bunga itu yang memang tadi berada di atas meja di samping tempat tidurnya.
* * *
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
Revin masih dengan wajah kesalnya dan menatap sang kakak.
"Brother, kenapa kau begitu kejam pada pria yang wajahnya tidak jauh berbeda denganmu ini," keluh Revin membuat Revan menatapnya.
"Makanya jangan bangun kesiangan terus!" ucap Revan santay dan kembali menyuapi mulutnya dengan sarapan pagi ini.
Revin menghembuskan nafasnya mendengar jawaban sang kakak yang menurutnya sangat-sangat tidak bisa ia terima,karna dirinya yang memang tidak bisa jika tidak bermain game dan menaikkan peringkatnya, setelah peringkatnya naik barulah ia tertidur yang mungkin sudah jam 1 atau 3 subuh.
'Dasar, Carlos. ucapannya benar-benar terjadi, mulut sia**n,' umpat Revin dalam hati yang di tujukan untuk Carlos.
* * *
"Hachiuu," Carlos yang tiba-tiba bersin saat sedang sarapan membuat Carlson, Fania dan adiknya Vivian menatapnya heran.
"Kamu kenapa?" tanya Fania yang khawatir pada putranya itu.
"Tidak apa-apa, Ma. tiba-tiba hidungku gatal," ucap Carlos yang membuat Fania mengangguk mengerti.
"Carlos, apa kamu bisa mengantar adikmu ke sekolah hari ini?" tanya Carlson pada putranya itu.
"Oke, Pa," ucap Carlos membuat Carlson tersenyum.
Selesai sarapan Carlos dan Vivian berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah.
"Kami pergi dulu, Ma," ucap Carlos dan Vivian bersamaan kemudian keluar untuk segera berangkat sedang Carlson sudah berangkat sedari tadi karna pagi ini di perusahaannya akan ada rapat penting yang membuatnya harus datang cepat.
Di tengah perjalan ke sekolah Vivian yang memang satu arah dengan sekolah Carlos, mendadak Carlos menghentikan motor kemudian berdecak kesal.
"Ada apa, Kak?" ucap Vivian pada kakaknya.
"Bam motornya kempes," ucap Carlos kesal pada ban motornya yang tiba-tiba kempes.
Mereka pun turun dari motor dan Carlos segera melihat ban motornya yang ternyata bocor tertusuk paku.
"Sia**n," umpat Carlos kesal.
"Bagaimana ini kak, Aku harus segera ke sekolah, jika tidak aku akan di hukum," ucap Vivian lesuh membuat Carlos nampak berfikir.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang Carlos kenal, Carlos kemudian berdiri dari duduknya dan segera menghentikan pengemudi motor itu.
Pengemudi Motor itu berhenti di hadapan Carlos dan kemudian membuka helmnya lalu berbicara.
"Ada apa? kenapa motormu?" tanya pria itu berturut-turut pada Carlos.
__ADS_1
"Ban motorku kempes, aku minta tolong padamu untuk segera mengantar Vivian ke sekolahnya ya," ucap Carlos membuat pria itu terkejut.