SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
COKLAT DAN BUNGA


__ADS_3

Revin segera mengunci pintu kamarnya, lalu mengambil laptopnya dan duduk bersila diatas tempat tidur, mengetik sesuatu dilaptopnya itu.


Revin sedikit ragu untuk melakukan hal itu, terlebih lagi ia tidak tahu, apa gadis itu aktif atau tidak dan mau mengangkat telfonnya atau tidak.


Ia menyambar ponselnya dan dengan cepat mengirim pesan untuk seorang gadis yang telah memporak porandakan hatinya.


"Hay bocil, apa kabar?"


Revin mengeryit saat melihat pesan yang ia kirimkan pada Vivian, gadis yang ia rindukan setengah mati.


Revin melempar ponselnya disampingnya, ia sesekali melirik ponselnya menanti balasan dari gadis itu.


Tiba-tiba ponsel Revin berdering dan dengan cepat pria itu meraih benda pipih itu dan tersenyum senang melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.


"Ish, apaan sih. Udah aku bilang jangan panggil bocil,"


Revin tersenyum kecil, melihat balasan chat dari Vivian. Sungguh sangat mengemaskan baginya, ia seperti tengah melihat Vivian cemberut dihadapannya.


"Kenapa? Aku kan tidak salah," balas Revin dengan emot tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Tidak butuh waktu lama, kembali masuk pesan balasan Vivian, yang semakin membuat Revin tersenyum.


"Sekali lagi bilang bocil, ngga akan aku balas!"


balasan Vivian yang seperti mengancam dan hal itu semakin membuat Revin ingin menjahili gadis itu.


"Iya-iya, aku tidak akan mengatakan bocil lagi. Oh iya, aku ingin video call, angkat ya,"


Revin terus menatap layar ponselnya, tidak sabaran menanti balasan pesannya.


"Ish, udah dibilang juga. Ya udah deh, kapan?"


Revin mengernyit melihat balasan pesan Vivian, ia bertanya dalam hati, apa gadis Ini ingin membuatnya kesal? begitu mungkin fikir Revin.


"Minggu depan," balas Revin dengan wajah kesalnya, bertingkah seolah Vivian melihat wajah kesalnya itu.

__ADS_1


"Owh, masih lama dong. Kirain sekarang,"


Revin menepuk keningnya melihat chat balasan Vivian, ia lupa jika sekarang ia berhadapan dengan gadis polos, ingin sekali Revin menservis otak Vivian agar tidak terlalu polos.


Kenapa lah ia harus jatuh hati pada anak dibawah umur, yang membuat ia harus ekstra sabar menghadapi tingkah kadang polos gadis itu, ia jadi ragu mengutarakan isi hatinya untuk sekarang ini. Karena bisa saja gadis itu menganggap ia tengah bercanda.


"Ya ampun, Vivian. Jelaslah sekarang, masa Minggu depan!" balas Revin dengan emot marahnya.


Tanpa menunggu balasan Vivian, dengan cepat Revin mengetik sesuatu dilaptopnya untuk segera melakukan video call dengan gadis yang membuat ia naik darah, dan sayangnya ia menyukai gadis itu.


"Ish, langsung video call, padahal kan aku belum balas," ucap kesal Vivian saat video call tersambung, memperlihatkan wajah imut yang membuat Revin tersenyum kecil dalam hati.


"Habisnya kamu ngajak berantem, memangnya ada orang video call Minggu depan, sedang chatnya sekarang!" ucap Revin dengan wajah dibuat kesal, padahal dalam hati melompat kegirangan.


"Kan siapa tau. Biasanya orang juga bilang gitu," ucap Vivian dengan sesekali melirik keponselnya dan mengetik sesuatu disana.


"Lagi chat sama siapa? Teman kamu? atau pacar kamu?" tanya Revin berturut-turut dengan raut wajah tidak sukanya.


Vivian mengernyit dan menatap wajah Revin dilayar laptopnya yang tengah memasang wajah tidak suka, atau lebih tepatnya cemburu.


"Ada apa denganmu? Aku hanya berbalas pesan dengan kak Carlos," ucap Vivian memperlihatkan layar ponselnya pada Revin.


'Ada apa dengan pria ini?' ucapnya dalam hati, dengan menatap aneh pada wajah Revin dilayar laptopnya.


"Tidak apa-apa. Kau suka bunga apa?" tanya Revin tiba-tiba membuat gadis itu berfikir dengan memiringkan kepalanya, membuatnya semakin imut dimata Revin.


"Bunga Lili, kenapa?" tanya Vivian yang begitu penasaran dengan Revin yang tiba-tiba menanyakan bunga kesukaannya.


"Baiklah, Sebentar lagi akan tiba di rumahmu," ucap Revin dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, dan hal itu sukses membuat Vivian melongo tidak percaya.


Revin mematikan video call-nya dengan Vivian dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang dinegara A.


Cukup lama berdering, akhirnya orang diseberang telfon mengangkatnya, membuat Revin berbinar senang dengan degup jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.


"Halo, uncle Desta. Maaf menganggu, aku ingin meminta bantuan," ucap Revin to the point saat orang diseberang telfon yang tidak lain Desta, mengangkat telfon darinya.

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu, tuan muda Revin," ucap Desta diseberang telfon, yang merasa aneh karena Revin tiba-tiba menelfonnya.


'Apakah dinegara S ada masalah?' ucap Desta dalam hati, terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Em, bisakah uncle membeli satu buket bunga Lili dan satu kotak coklat yang berbentuk hati, lalu mengirimnya kerumah uncle Carlson," ucap Revin panjang lebar membuat Desta terdiam sesaat.


'Sebenarnya ada apa ini? Apa ada yang bisa menjelaskan padaku?' ucap Desta dalam hati, semakin dibuat pusing dengan pertanyaannya sendiri.


"Baiklah, akan segera aku beli dan kirim kerumah Tuan Carlson," ucap Desta yang mulai menenangkan diri, ia tidak ingin ambil pusing dengan urusan remaja yang sedang dilanda cinta ini.


"Terima kasih, uncle," ucap Revin dan kemudian mematikan panggilan sepihak.


"Kenapa aku jadi seperti melihat tingkah laku tuan Arian saat masih muda dulu," ucap Desta dengan mengaruk kepalanya, dulu ayahnya sekarang pindah ke anaknya. Ya Tuhan, sungguh mulai sekali hidup Desta.


* * *


Disisi lain, Revan tengah berdiri didepan pintu rumah Kimso, kini ditangannya telah tersedia sebuket bunga mawar merah dan sekotak coklat berbentuk hati, dengan warna kotak yang serupa dengan mawar merah itu.


Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Revan dengan cepat menyembunyikan mawar dan coklat itu dibelakangnya, kemudian tersenyum ramah pada Fira yang juga tersenyum padanya.


"Eh, Revan. Ada apa? masuk dulu, Revan," tawar Fira dan mempersilahkan Revan untuk masuk kedalam rumah.


"Tidak usah, bibi. Rania-nya ada?" tanya Revan dan Fira menganggukkan kepalanya.


"Ada didalam, aku akan memanggilnya untukmu," ucap Fira lalu pergi untuk memanggil Rania.


Revan berusaha untuk mengatur nafasnya, mendadak ia menjadi gugup. Ini lebih berbahaya daripada menerima hasil ujian akhir semester.


Pintu kembali terbuka membuat Revan menoleh dan menatap wajah gadis yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan sulit diartikan, terutama pada mawar dan sekotak coklat ditangan Revan.


"Kak Revan, masuk dulu kak," tawar Rania yang sedikit gugup, dapat terlihat dari matanya yang berusaha untuk tidak menatap mata Revan.


"Tidak usah. Apakau sibuk?" tanya Revan, dan Rania dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, ini ... dan segera bersiap. Aku akan menunggumu disini, kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Revan dengan memberikan Bunga dan coklat itu pada Rania, yang hanya bisa terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Em, ba-baiklah a-aku akan se-segara bersiap," ucap Rania dan dengan terburu-buru berlari masuk dengan wajah yang merona merah.


Revan tersenyum kecil melihat tingkah malu-malu Rania, sangat mengemaskan dimatanya.


__ADS_2