
Pukul 1 siang.
Revan dan Rania tengah berada disalah satu butik terkenal dikota A, mereka ketempat itu untuk menyiapkan gaun pengantin yang akan mereka kenakan beberapa hari lagi.
"Kamu mau yang mana?" tanya Revan pada Rania yang duduk disampingnya dengan memperlihatkan semua model gaun pengantin dikatalok ditangannya.
"Yang ini!" tunjuk Rania pada salah satu gaun dikatalok itu.
Revan tersenyum lalu mengacak rambut Rania gemas, mengabaikan seorang pria yang tengah duduk dihadapan mereka dengan wajah masam.
'Seharusnya aku menolak ajakan brother tadi, karena pasti ujung-ujungnya juga seperti ini,' ucap Revin dalam hati dengan menatap malas kakaknya itu, yang tengah memamerkan kemesraan dihadapannya.
Revin bangkit dari duduknya, membuat Rania dan Revan menoleh padanya.
"Aku ijin ke toilet," ucapnya malas, lalu segera berjalan ke toilet dibutik itu.
"Saya mau yang ini," ucap Revan pada karyawan yang sedari tadi berdiri disamping mereka.
"Baik, tuan," ucap karyawan itu dengan tersenyum manis pada pasangan itu.
"Kita pergi makan dulu ya, aku laper," ucap Revan dengan menyentuh perutnya.
"Tapi ... Revin dia ....," ucap Rania yang terhenti kala Revan menaruh telunjuknya dibibir calon istrinya itu.
"Dia sudah dewasa, sayang," ucap Revan lalu menarik lembut tangan istrinya.
Rania hanya menurut dan mengikuti langkah Revan untuk keluar dari butik itu, meninggalkan Revin yang berada di toilet.
Lima menit kemudian.
Revin berjalan keluar dari toilet untuk segera kembali ke tempat duduknya, bersama dengan pasangan yang selalu membuatnya ingin memukul seseorang.
Revin mengernyit saat tidak melihat Revan dan Rania disana. Ia pun bertanya pada karyawan yang tengah membersihkan meja tempat mereka duduk tadi.
"Permisi," ucap Revin membuat karyawan itu menoleh padanya, "Pria yang tadi disini, kemana? Yang wajahnya mirip denganku," ucap Revin dengan tersenyum.
"Dia tadi sudah keluar, tuan. Katanya ingin makan siang," ucap Karyawan itu ramah, dengan senyum diwajahnya.
Revin yang mendengar hal itu terdiam, dengan tangan yang gemetar karena emosi. Kenapa lah kakaknya itu jahat sekali, sampai meninggalkannya sendiri dibutik itu.
"Terima kasih," ucap Revin lalu segera berbalik untuk keluar dari butik itu dengan hati yang terus mengumpat pada kakaknya.
'Dasar brother! Bisa-bisanya kau meninggalkan adikmu dibutik itu, brother sialan! Semoga tersedak air saat minum nanti,' ucap kesal Revin dalam hati, lalu berjalan untuk mendekat ke motornya.
__ADS_1
* * *
Revan dan Rania tengah duduk disalah satu kursi didalam cafe yang tidak jauh dari butik tempat mereka memesan gaun tadi, Revan tersenyum kecil saat melihat dari kejauhan, adiknya yang tengah berjalan mendekat ke motornya dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Rania yang penasaran dengan Revan yang tersenyum-senyum sendiri.
"Tidak apa-apa, sayang. Hanya ada hal lucu yang aku lihat," ucap Revan membuat Rania mengangguk mengerti.
"Owh, aku fikir apa," ucap Rania lalu kembali menyuap puding ke mulutnya.
"Memangnya, kamu mikirnya apa?" tanya Revan dengan senyum jahilnya, dan tak lupa alisnya yang dinaik-turunkan.
"Bukan apa-apa," ucap Rania dengan pipi merona.
Revan tersenyum kecil melihat hal itu, ia tahu jika Rania pasti berfikir ia tengah tersenyum pada wanita diluar cafe itu.
"Aku tidak akan selingkuh, percayalah," ucap Revan lalu menggenggam tangan Rania dan mengecup singkat punggung tangan Rania.
"Jika selingkuh, maka ...," ucap Rania dengan alis yang terangkat, tanda menunggu Revan melanjutkan ucapannya.
"Maka aku akan mengurung diriku sendiri dirumah, dan menikmati malam dengan suara yang nik ....," belum selesai Revan berucap, Rania sudah membekap mulutnya dengan mata yang terbelalak.
"Mesum," ucap Rania lalu melepaskan tangannya yang membekap mulut Revan.
"Jangan marah dong, nanti cantiknya nambah," ucap Revan, semakin membuat wajah Rania merona.
"Dasar," ucap Rania dengan memayunkan bibirnya.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang Revan, membuat wajah Revan datar seketika.
"Halo, Revan, Rania," sapa Carlos dengan senyum diwajahnya dan tak lupa dengan Felisia yang berdiri disampingnya.
"Boleh kami duduk disini?" tanya Carlos dan diangguki oleh Rania, sedang Revan memilih diam dengan menatap malas kearah pasangan pengantin baru itu.
"Kok bisa ada disini? Ngga bulan madu?" tanya Rania penasaran, membuat Revan menoleh dan menatapnya.
Posisi mereka saat ini adalah, Revan duduk berdampingan dengan Carlos berhadapan dengan Rania, begitupun sebaliknya.
"Ngga, lagi nunggu kamu selesai nikah. Abis itu malam pertama bareng," ucap Carlos dengan tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya.
Felisia terkejut mendengar ucapan suaminya itu, sedang Rania jangan ditanya, wajahnya sudah memerah.
Plak!
__ADS_1
"Aduh! Sakit Revan," runtuh Carlos saat tiba-tiba Revan memukul kepalanya.
"Bisa tidak, jangan membahas yang seperti itu," ucap Revan membuat Carlos menghembuskan nafas malas.
"Iya-iya. Tidak lagi," ucap Carlos lalu menyambar puding didepannya, yang adalah milik Revan.
"Itu puding milikku!" ucap Revan dengan kesal, sementara Carlos tetap saja menyuapkan puding itu ke mulutnya.
"Itu masih ada," ucap Carlos acuh, lalu menunjuk kearah piring calon istri sahabatnya itu.
Revan mengatur nafasnya, ingin sekali rasanya dia memukul kepala Carlos tanpa henti, tapi melihat jika Rania ada membuat ia mengurungkan niatnya.
Keheningan kembali melanda mereka berempat, hingga lagi-lagi terdengar suara seseorang memanggil Revan dan Rania.
"Halo, Revan, Rania," sapa Reon yang mendekat kearah meja yang diduduki empat orang itu.
"Halo Rania," sapa Liona yang dibalas senyuman oleh Rania.
Wajah Revan semakin berubah datar, keinginannya untuk makan romantis bersama dengan Rania pupus sudah, karena kedatangan empat orang penganggu.
"Muka kamu kenapa, Van? Masam banget," tanya Reon, Meksi sebenarnya ia sudah tahu apa alasannya.
Revan hanya berwajah datar, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tidak bermanfaat dari Reon.
"Tidak lama lagi, kalian akan sah jadi suami istri. Gimana kalau kita bulan madunya barengan," ucap Felisia mengusulkan ide dikepalanya.
Rania dan Liona nampak berfikir, sedang Revan, Reon dan Carlos menatap aneh pada tiga wanita itu.
"Boleh, aku rasa itu usulan yang bagus," ucap Liona menyetujui ide dari Felisia.
"Kalau kamu, bagaimana Rania?" tanya Liona, dengan raut wajah menanti jawaban.
Rania nampak berfikir, sedang tiga pria itu menatap aneh mereka. Karena terlihat begitu akrab, seperti sudah berteman cukup lama.
"Boleh juga. Iya kan, kak Revan?" ucap Rania dengan menatap Revan.
Revan tersadar dan segera menganggukkan kepalanya, membuat dua pria yang duduk disisi kanan dan kirinya menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Oh, iya Car. Kapan Vivian akan kembali ke kampusnya?" tanya Revan, memecah keheningan tiba-tiba itu.
"Setelah pernikahanmu selesai, dia akan kembali kesana. Ada apa?" tanya Carlos yang sedikit penasaran, karena Revan yang tiba-tiba bertanya tentang adiknya.
"Aku sedikit prihatin pada Revin, yang masih harus menunggu tiga tahun atau mungkin empat tahun. Aku berharap adikmu bisa menerima dia nanti, saat hari itu tiba," ucap Revan membuat Carlos dan Reon terdiam seketika, sedang tiga wanita itu bingung dengan apa yang diucapkan Revan.
__ADS_1