SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SETUJU


__ADS_3

Ana yang mendengar itu terkejut, ia menatap Arian yang juga menatap tidak percaya pada Revin.


"Apa kau yakin?" tanya Arian dan Revin mengangguk dengan cepat.


Arian lagi-lagi menghembuskan nafasnya, ia tidak tau, apa yang harus ia lakukan.


Arian menatap Ana yang juga menatapnya, dengan tatapan terkejut, sedih bercampur menjadi satu.


"Sayang, aku tidak akan bisa melarang mereka, tidak masalahkan jika mereka pergi ke Negara S untuk melanjutkan pendidikan mereka?" tanya Arian dengan lembut dan tersenyum pada sang istri.


"Tapi ....," Ana tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk memeluk tubuh Arian dan menangis.


Revan yang melihat hal itu, tidak bisa berbuat apa-apa, ia harus ke Negara S, bukan hanya untuk Rania, tapi juga seseorang yang mengancam keluarga mereka.


Sedang Revin yang melihat sang ibu menangis, mengigit bibir bawahnya dengan mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain.


Arian menatap kedua putranya itu, memberi isyarat pada mereka untuk pergi keluar terlebih dahulu.


Revan dan Revin berjalan keluar dari rumah, sedang Reana menatap sedih kedua kakaknya itu, yang ada didalam fikirannya sekarang adalah, apa yang membuat kakaknya itu mengambil keputusan untuk pergi ke Negara S.


* * *


Kini Revin berada didepan kediaman Carlson menanti seseorang keluar dari gerbang rumah itu.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap gadis itu, membuyarkan lamunan Revin.


"Dasar bocil, kau selalu mengingatkanku untuk tidak lupa, tapi kau yang datang terlambat," ucap Revin segera merubah raut wajahnya.


"ish, baru juga segitu, dasar perhitungan," ucap Vivian dengan menyembulkan pipi chubynya.


Vivian segera naik ke motor dan Revin pun segera menyalakan mesin motornya untuk segera tiba di mall.


* * *


Disisi lain, Revan berdiri menatap lekat kebangunan pencakar langit yang terpampang didepannya, sungguh pemandangan yang indah.


Revan berada ditempat terakhir kali ia dan Denia bersama, ia mengingat ucapan Denia kala itu, yang membuatnya tersenyum kecil.


"Cukup lama aku tidak kesini, dan semuanya terlihat sedikit berbeda, banyak bangunan pencakar langit yang baru dibangun," ucap Revan menatap lekat pemandangan itu.

__ADS_1


"Apa kau melihatnya, aku sudah menemukan seseorang yang kau bilang, tapi aku belum bisa membawanya ketempat ini, dan sepertinya masih membutuhkan waktu yang lama, aku berharap tempat ini masih sama ketika aku membawanya kesini, dan aku juga mengharapkan kau bahagia melihatku bahagia," ucap Revan tersenyum menatap langit yang berwarna biru dengan ditutupi sedikit awan.


* * *


Pukul 7 malam.


Revan, Revin, Reon dan Carlos tengah duduk disalah satu meja didalam cafe tempat biasa mereka berkumpul.


Revan dan Revin menelfon kedua sahabatnya untuk bertemu dan membahas sesuatu yang menurut mereka penting. Setelah tadi Revan dan Revin pulang, dan sang ibu yang masih berada didalam kamar, dengan dibujuk oleh Sang ayah untuk bisa mengijinkan mereka pergi ke Negara S.


"Jadi ... apa yang ingin kalian bahas?" tanya Reon yang penasaran dengan kedua sahabatnya itu, yang memasang raut wajah yang sulit dibaca.


"Kami berdua akan melanjutkan pendidikan di negara S," ucap Revan membuat Carlos tersedak jus yang ia minum.


Reon terkejut dan menatap Revan dan Revin bergantian.


"WHAT!? yang benar saja kalian!" ucap Reon dan Carlos bersamaan.


"Benar, untuk apa berbohong," ucap Revin yang diangguki oleh Revan.


Reon dan Carlos bertukar pandang satu sama lain, kemudian menatap Revan dan Revin.


Revin menoleh pada Revan yang terdiam dan menghembuskan nafasnya.


"Untuk menyelamatkan keluarga, orang yang mengincar tiga keluarga besar ada di Negara S, dan sebelum dia bergerak terlalu jauh, aku berniat untuk menghentikannya," ucap Revan membuat ketiga orang itu terkejut.


Revin membelalakkan matanya, ia terkejut mengetahui tujuan Revan selain melanjutkan pendidikan, meski sebenarnya ada selain itu.


Revin, Reon dan Carlos saling menatap satu sama lain, kemudian menghembuskan nafas mereka.


"Kau itu selalu ingin melakukannya sendiri, Brother! Apa kau lupa jika kami juga ada dan kami akan membantumu untuk itu," ucap Revin yang diangguki oleh kedua orang itu.


"Jadi ....," Revin mengantung ucapannya dan menarik nafas panjang lalu, "Kami akan ikut denganmi ke Negara S," ucap mereka bertiga bersamaan.


Revan terdiam mendengar hal itu, kemudian tersenyum kecil.


Revan mengangkat tangannya dan mengulurkan kepalan tangannya ketengah meja, membuat ketiga orang itu tersenyum dan melakukan hal yang sama, melakukan tos kepalan tangan.


"BERSAMA AKAN LEBIH BAIK!" ucap mereka berempat dan sedetik kemudian tersenyum.

__ADS_1


* * *


Dua puluh menit kemudian.


Revan dan Revin menghentikan motor mereka digarasi rumah dan segera turun dari motor, lalu berjalan memasuki rumah bersamaan.


Revan dan Revin menghentikan langkah mereka saat tiba diruang tamu dan melihat sang ibu dan ayah yang tengah berbicara dengan Daenji, tapi dapat mereka lihat, jika raut wajah ayahnya itu, terlihat sedikit kesal.


"Saya mohon bantuannya, kakek," ucap Ana membuat kedua orang yang berdiri tidak jauh dari mereka, mengernyit bingung.


"Kau tenang saja, Ana. Aku akan menjaga mereka dengan baik," ucap Daenji menatap Arian yang berwajah datar dan kesal.


"Maksudnya apa?" tanya Revin yang penasaran.


Ketiga orang itu menoleh dan mendapati Revan dan Revin yang berjalan kearah mereka dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Akhirnya kalian pulang," ucap Daenji dengan tersenyum kecil.


Arian memijit pangkal hidungnya, ia merasa pusing jika memikirkan hal yang akan terjadi pada putra-putranya di Negara S nanti, terlebih lagi dengan Daenji.


"Kalian duduk!" ucap Ana dan kedua remaja itu pun duduk disofa panjang berhadapan dengan Arian dan Ana, dan Daenji disofa disamping mereka.


"Mommy setuju untuk membiarkan kalian pergi ke negara S, tapi ....," ucap Ana mengantung ucapannya membuat kedua remaja itu menelan salivanya dengan susah payah.


"Kalian akan tinggal bersama dengan kakek Daenji!" ucap Ana membuat Revan dan Revin terkejut buoan main.


Revan dan Revin menoleh kearah sang ayah, yang menatap mereka dengan tatapan pasrah dengan keputusan istrinya, karena ia tidak ingin berdebat dengan sang istri.


"Tapi Mom ....," ucap mereka berdua yang berniat untuk menolak, tapi Ana sudah berbicara.


"Tidak ada tapi-tapi! Jika kalian tidak setuju, maka kalian tidak perlu kenegara S!" ucap Ana dengan sedikit meninggikan suaranya.


Revan dan Revin menundukkan kepalanya, bukan ia tidak ingin tinggal bersama sang kakek, hanya saja mereka masih memiliki rasa takut pada kakeknya yang satu itu, rasa takut yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Revan dan Revin menghela nafas bersamaan, jika sudah begini, mau tidak mau maka harus menjawab setuju.


"Baiklah, kami akan tinggal dengan Grandpa Daenji," ucap mereka berdua bersamaan.


Ana beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar dengan air mata yang siap terjun dari pelupuk matanya, Arian yang melihat hal itu segera bangkit dan berjalan mengikuti Ana kekamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2