
Revin mulai mengetik pesan yang akan ia kirimkan pada Vivian, setelah tadi bertanya pada perawat wanita yang berdiri disampingnya untuk mengganti infusnya.
"Vivi, aku mau bilang sesuatu," isi pesan Revin berusaha untuk menelan salivany yang mendadak sangat sulit untuk masuk ke tenggorokannya.
"Iya, mau bilang apa?"
Revin semakin mengigit bibir bawahnya dengan kaki yang terus bergerak tak menentu, ia kembali bingung harus mengatakannya atau tidak.
Ia kembali menoleh pada perawat yang begitu fokus mengganti infusnya.
"Saya beneran harus tanya dia?" tanya Revin tiba-tiba, membuat perawat wanita itu terkejut.
"I-I-iya, akan lebih bagus jika anda mengatakannya," ucap perawat itu gugup, lalu segera mengganti infus Revin dengan cepat dan berlalu keluar dari kamar rawat itu.
"Terima kasih," ucap Revin sedikit berteriak pada perawat yang telah keluar dari kamar rawat.
Revin terkejut ketika melihat kakaknya yang sudah terbangun dan menatapnya datar.
"A-a-apa?" ucapnya gugup, sedang Revan memilih untuk memalingkan kepalanya, agar bisa kembali tidur.
Revin menghembuskan nafasnya lalu segera mengetik pesan untuk Vivian.
"Setelah lulus nanti, kamu mau kuliah?" isi pesan Revin, dengan jantung yang berdetak tak karuan, seolah tengah lari maraton didalam.
"Iya, kenapa?"
Revin terdiam melihat pesan Vivian, ia tahu jika Vivian berbeda dengan pacar kakaknya, maupun pacar kedua sahabatnya.
Denga ragu, Revin mengetik pesan untuk Vivian.
"Aku mau nikahin kamu pas lulus nanti? Kamu mau kan?" tanya Revin ragu.
Sepuluh detik ....
Dua puluh detik ....
Tiga puluh detik ....
Empat puluh detik. Namun sama sekali belum ada balasan dari pesannya, padahal sudah dibaca oleh Vivian.
"Maaf, aku tidak bisa nikah kalau pas lulus nanti. Aku mau kuliah, buat kejar cita-cita aku."
Revin menundukkan kepalanya, ia menghembuskan nafasnya membuat Revan yang mendengar hal itu menoleh dan menatap aneh adiknya.
"Kamu kenapa?" tanyanya penasaran, karena raut wajah Revin yang mendadak masam.
"Dia tidak ingin nikah kalau lulus nanti, katanya mau kuliah dulu," ucap Revin dengan kepala tertunduk lesuh.
Revan yang mengerti akan hal yang dikatakan oleh adiknya, segera mendudukkan diri diatas brangkar dan menyandarkan punggungnya.
"Diakan masih terlalu dini untuk menikah, Revin. Dia pasti memiliki cita-cita yang ingin ia raih, jika memang kamu mencintainya, dukung dia dan katakan kalau kamu akan menunggu dia hingga lulus kuliah," jelas Revan panjang lebar, menasehati adiknya itu.
Revin menoleh dan menatap kakaknya yang juga menatapnya, ia menghembuskan nafasnya lalu mengangguk mengerti.
Ia menghembuskan nafasnya berulang-ulang, sebelum membalas pesan Vivian.
"Oh, baiklah. Aku akan dukung kamu, aku juga akan tetap nunggu kamu sampai lulus. Jadi semangat belajarnya," isi pesan Revin lalu menatap Revan yang masih menatapnya.
__ADS_1
"Yang sabar, jika kau mencintainya berjuanglah! Aku yakin jika dia memang jodohmu, maka dia akan bersamamu. Jadi tidak perlu khawatir," ucap Revan yang hanya membuat Revin menghembuskan nafas kasar.
'Orang sabar selalu diberi musibah,' ucapnya dalam hati dengan memalingkan wajahnya kearah lain, takut jika kakaknya bisa mengetahui apa yang ia fikirkan.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak didalam hatimu! Orang sabar juga selalu diberikan hal yang tak terduga, kebahagian tiada tara," ucap Revan membuat Revin tersentak lalu menoleh dengan malas pada kakaknya itu.
"Iya, tau!" ucapnya ketus lalu segera melihat layar ponselnya.
Ia kembali tersenyum saat melihat balasan pesan Vivian untuknya.
"Terima kasih, karena sudah ingin bersabar dan menungguku. Aku tau, pasti sedikit sakit saat aku mengatakan hal tadi, maaf ya, aku benar-benar minta maaf,"
"Iya, tidak apa-apa, aku mengerti. Kan aku sudah mengatakan jika akan menunggumu, jadi tidak perlu minta maaf, my little girl."
Revin tersenyum setelah melihat foto yang dikirim Vivian dengan tersenyum, berharap akan sedikit mengobati rasa bersalahnya pada Revin.
"I Love You."
Revin mengirimkan pesan suara pada Vivian, lalu tersenyum kecut meratapi nasib percintaannya. Di mana dia masih harus menunggu selama lebih dari 5 tahun, mengingat hal itu membuat Revin menghembuskan nafas kasar.
"Sabar, orang sabar selalu diberi musibah," ucap Revan yang membuat Revin seakan ingin melemparkan ponselnya pada kakaknya itu.
"Sialan!" umpatnya kesal, dan tersentak saat ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
Revin segera meraih earphonenya diatas meja, lalu memakainya dengan segera membuat Revan menatap tidak percaya pada adiknya itu.
"I Love Yoo too, my boyfriend."
Satu ....
Dua ....
"AAAAAA, I LOVE YOU TOO HONEY," teriak Revin membuat Revan terkejut dan segera menyentuh dadanya.
"Adik sinting!' umpat kesal Revan karena ia benar-benar terkejut.
* * *
BRUK!
"Aduh!" rintih Carlos yang terjatuh dari tempat tidur.
Carlson yang duduk disofa sembari menidurkan dirinya, terkejut mendengar rintihan putranya yang terjatuh dari tempat tidur. Ia berjalan dengan cepat untuk menghampiri Carlos dan membantunya naik kembali ke brangkar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Carlson yang begitu khawatir pada putranya itu.
"Iya, pa. Aku ngga apa-apa," ucapnya lalu mengelus bekas operasinya yang mendadak sakit.
'Sialan, sakit banget,' rintih Carlos dalam hati, dengan terus mengusap perutnya.
* * *
PRANG!
Rafael menoleh pada Reon yang duduk diatas brangkar, ia berjalan perlahan kearah putranya itu lalu segera mengambil ponsel Reon yang entah bagaimana bisa terjatuh dari meja.
Reon mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bingung dengan ponselnya yang tiba-tiba jatuh dari meja, seperti mendapat getaran hebat saja.
__ADS_1
"Lain kali taruh ponselnya ditengah-tengah, Reon. Jangan dipinggir meja seperti ini," ucap Rafael menasehati putranya itu.
Reon hanya mengatur tengkuknya yang tidak gatal.
* * *
Tiga puluh menit kemudian.
Arian berjalan dengan santai ke kamar rawat kedua putranya dengan paperbag ditangannya, dengan Tupperware yang berisikan makanan didalamnya.
Ia menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu kamar Reon, Arian membuka pintu dan menatap Rafael yang tengah bekutat dengan ponselnya.
"El," panggilnya membuat Rafael menoleh dan menatapnya, "Ini makanan dari Fira," ucap Arian lalu meletakkan salah satu Tupperware diatas meja dihadapan Rafael.
"Terima kasih," ucap Rafael dan Arian hanya tersenyum lalu segera keluar dari sana untuk ke kamar rawat Carlos.
Arian membuka pintu kamar rawat Carlos dan melangkahkan kakinya masuk, Carlson menoleh dan menatap Arian yang berjalan mendekat kearahnya.
"Ini, dari Fira," ucap Arian lalu segera meletakkan satu Tupperware diatas meja didepan Carlson.
"Terima kasih," ucap Carlson dan Arian hanya menganggukkan kepala, lalu segera keluar dari ruangan itu.
* * *
Arian membuka pintu kamar rawat dua putranya dan melihat keanehan yang terjadi disana, Revan yang menutup telinganya dengan tangan, sedang Revin tertawa tidak jelas dengan memakai earphone ditelinga.
"Daddy," ucap Revan saat menyadari Arian memasuki kamar rawat mereka.
Arian menunjuk Revin dengan dagunya, seolah bertanya apa yang terjadi dengan Revin hingga senyum tidak jelas seperti itu.
Revan mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu. Padahal sebenarnya ia tahu, hanya saja malas untuk mengungkitnya lagi.
Arian hanya mengangguk mengerti lalu segera berjalan mendekat kearah Revan.
"Tinggal menunggu dua tahun, setelah itu dia akan hidup bersamamu, jangan pernah sakiti dia, mengerti!" ucap Arian tiba-tiba membuat Revan terdiam, dan seketika menyadari arah pembicaraan sang ayah.
Revan tersenyum senang lalu memeluk tubuh ayahnya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Revin menoleh dan menatap Revan yang memeluk Arian dengan erat.
"Terima kasih, Daddy," ucap Revan lalu melepaskan pelukannya.
"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah kewajiban Daddy," ucap Arian dengan tersenyum lalu mangacak rambut Revan.
Ia melihat Revin yang mendadak murung, ia mengitari brangkar Revan lalu menghampiri putra keduanya itu.
"Ada apa?" tanyanya saat tiba disamping Revin.
"Tidak apa-apa, dad," ucap Revin lesuh.
Arian menghembuskan nafasnya, lalu memeluk putranya dengan sayang.
"Jika dia sudah takdirmu, maka dia akan menjadi milikmu. Percayalah," ucap Arian melepaksan pelukannya dan menyentuh kedua pundak Revin.
Revin tersenyum, lalu memganggukkan kepalanya dan kembali memeluk ayahnya.
"Iya, Daddy. Dukung putramu ini ya," ucap Revin membuat Arian terkekeh.
"Daddy selalu mendukung kalian, keputusan apapun yang kalian ambil, akan Daddy dukung. Selama itu bukan hal yang buruk," ucap Arian dengan tersenyum pada kedua putranya.
__ADS_1
"Terima kasih, Daddy," ucap Revan dan Revin bersamaan. Arian hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dua putranya itu.
'Terima kasih juga, karena telah lahir kedunia ini sebagai putra-putraku,' ucap Arian dalam hati dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampannya.