
Lima belas menit kemudian.
Revan menghentikan motornya didepan rumah dan tidak lama itu, Revin tiba dan menghentikan motornya disamping motor sang kakak.
Reana turun dari motor dan segera berlari memasuki rumah, sementara Revan dan Revin saling menatap satu sama lain hingga akhirnya Revan mengalihkan pandangannya kearah depan dan mengernyit bingung melihat mobil berwarna hitam terparkir dengan mobil sang ayah.
Revan segera turun dari motornya dan berjalan memasuki rumah dengan helm yang ia pengang ditangan kirinya.
Revin mengernyit bingung melihat mobil hitam itu.
"Tumben Uncle Kimso datang kerumah? padahal akhir-akhir ini 'kan dia sibuk, ada masalah apa ya?" tanya Revin pada dirinya sendiri dan segera berjalan memasuki rumah, menyusul sang kakak.
Revin berjalan mendekati Revan yang berdiri dihadapan Arian, Ana, Kimso dan Fira yang duduk disofa, sementara Reana sudah naik kekamarnya dari tadi.
"Halo uncle, Bibi," sapa Revin saat sudah berada disamping sang kakak.
Kimso dan Fira tersenyum pada Revin yang menyapa mereka dengan senyum diwajahnya.
"Wah, sepertinya kalian ingin pergi ya, rapi sekali," ucap Revin dengan menaik turunkan alisnya pada sepasang suami istri itu.
Revan hanya menatap datar kearah Revin yang berdiri disampingnya.
"Kami akan kembali ke negara S hari ini, jadi kami kesini untuk berpamitan," ucap Kimso membuat Revan terkejut tapi masih dengan raut wajah datarnya.
Senyum diwajah Revin perlahan-lahan pudar, ia menoleh pada sang kakak yang hanya berwajah datar.
"Bukankah Rania sekolah disini, jadi kalau kalian pergi, Rania dengan siapa? apa dia akan tinggal disini?" ucap Revin dengan raut wajah kegirangan mengira jika Rania akan tinggal serumah dengan mereka, jadi akan mudah baginya untuk membuat Revan semakin dekat dengan gadis itu.
"Rania sudah berangkat kemarin ke negara S, dan hari ini mungkin ia sudah masuk kesekolah," ucap Kimso dengan senyum diwajahnya.
Lagi-lagi senyum diwajah Revin luntur seketika, kini raut wajah Revin berubah menjadi terkejut.
"Kenapa pindah begitu cepat, bukankah dia baru saja masuk sekolah dan bahkan belum satu bulan dia disini ...," ucap Revin tidak percaya jika Rania sudah berada di negara S sekarang.
"Kalau begitu, aku permisi kekamar, Paman, bibi, hati-hati dijalan," ucap Revan dengan tersenyum kecil kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk segera kekamarnya.
__ADS_1
Revin yang melihat hal itu, mengepalkan tangannya, kesal sekaligus marah pada kakaknya yang hanya berwajah datar dan sama sekali tidak merasa kehilangan atau apapun.
'Dasar pria bodoh,' geram Revin dalam hati, kesal pada kakaknya itu.
"Daddy, Mommy, uncle dan bibi, aku pamit kekamarku dulu, hati-hati dijalan, dan salamku untuk Rania," ucap Revin dengan tersenyum terpaksa dibibirnya itu.
Kimso dan Fira hanya mengangguk dengan senyum dibibir mereka, sedang Arian menghembuskan nafasnya melihat ekspresi Revin yang seperti itu.
'Anak itu kesal pada siapa lagi? tidak mungkin 'kan pada kakaknya sendiri,' ucap Arian dalam hati dengan sesekali menghembuskan nafasnya.
Revin berjalan dengan cepat kearah kamarnya, Revin menghentikan tangannya yang sudah memengang knock pintu kamarnya dan menoleh pada pintu kamar sang kakak.
Revin dengan kesal berjalan kearah kamar Revan yang pintunya sedikit terbuka, Revin masuk tanpa mengetuk pintu membuat Revan yang tengah membuka baju seragamnya menoleh kearah pintu dan menatap datar Revin yang menatapnya tajam.
"Ada apa? jika bukan hal penting sebaiknya kau keluar, aku ingin beristirahat, dan tidak ingin di nganggu." ucap Revan dan kemudian membuang baju seragamnya keatas tempat tidur dan kini hanya mengenakan celana sekolah dengan dada bidangnya yang terekspor.
"Kenapa reaksi Brother hanya seperti itu, apa Brother ... sama sekali tidak menyadari jika Rania berarti bagimu?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Revin membuat Revan mematung ditempatnya.
Suka? sama sekali tidak ada rasa seperti itu dihati Revan untuk Rania, dia hanya melakukan kewajibannya untuk melindungi Rania yang sudah termasuk keluarganya, dan hal itu tidak lebih dan tidak kurang hanya sebagai kakak adik.
Revin mengepalkan tangannya kesal, marah menadi satu, kini ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"APA KAU ITU BODOH ATAU BAGAIMANA, HAH!" teriak Revin dengan menatap marah sang kakak.
Revan menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Revin yang menatapnya marah.
Kali ini, adiknya itu benar-benar sudah emosi padanya.
"Apa yang kau bicarakan, Revin. berhenti berbuat ulah, keluar dari kamarku, sekarang!" titah Revan yang tidak dapat terbantahkan dengan menunjuk pintu kamarnya yang tertutup rapat dibelakang Revin.
"KAU MEMANG BODOH! APA KAU SAMA SEKALI TIDAK MENYADARINYA, HAH! KAU MENYUKAINYA, KAU MENYUKAI GADIS ITU, MANA MUNGKIN KAU AKAN PERGI MENYELAMATKANNYA JIKA KAU SAMA SEKALI TIDAK MENYUKAINYA! KAU BAHKAN RELA TERLUKA HANYA UNTUK MENYELAMATKANNYA, BERAPA KALI HARUS KU BILANG, HAH! MASALALU ITU HANYALAH MASALALU, JANGAN TERUS TERPURUK DAN MENGINGAT HAL SEPERTI ITU, DENIA SAMA SEKALI ...," Teriakan Revin terhenti saat Revan berteriak padanya.
"DIAM! Keluar dari kamarku!" ucap Revan dengan menekan kata-katanya dengan tangan yang menunjuk kearah pintu kamarnya.
Revin tersentak dan berdecak kesal lalu berbalik dan membuka pintu kamar Revan lalu keluar dengan membanting pintu kamar Revan hingga menciptakan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Ana, Kimso, dan Fira menoleh kearah atas ketika mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, mereka tidak mendengar teriakan Revin dikarenakan kamar Revan yang kedap suara, begitu pun dengan kamar Revin.
'Ada apa diatas? mereka berdua tidak bertengkarkan?' ucap Ana dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.
Ana kembali menoleh pada Kimso dan Fira yang menatapnya.
"Aku rasa mereka sedang bertengkar," ucap Ana membuat Fira dan Kimso tersenyum kecil.
Reana membuka pintu kamarnya dan mengeluarkan sedikit kepalanya saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.
Reana menatap punggung Revin yang berjalan kearah pintu kamarnya dan kemudian masuk dan lagi-lagi menutup pintu kamarnya dengan keras.
'Kak Revan dan kak Revin kenapa ya? apa mereka bertengkar?' ucap Reana dalam hati kemudian menghembuskan nafasny lalu kembali masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu, karena ia belum selesai memakai baju.
Arian yang baru saja menaiki tangga terakhir, menghembuskan nafasnya kala melihat hal itu, ini pertama kalinya Revin marah besar seperti itu pada Revan.
Arian berjalan perlahan mendekati pintu kamar Revan dan membuka pintu dan masuk lalu menutup pintu lagi.
Revan terkejut melihat sang ayah yang berada didalam kamarnya dan menatapnya prihatin.
"Berhenti mengkomsumsi obat penenang itu, Revan." ucap Arian berjalan mendekati Revan yang berdiri disamping tempat tidur tengah memengang botol obat penenang.
Arian mengambil botol obat penenang ditangan Revan lalu membuangnya keatas tempat tidur.
"Dad ...," lirih Revan dengan keringat yang bercucuran di tubuhnya dengan raut wajah yang terlihat begitu tersiksa.
"Kemarilah ..," ucap Arian dengan merentangkan tangannya dan Revan pun memeluknya erat.
Revan mengeluarkan segala kesusahannya dan perlahan-lahan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Arian menghembuskan nafansya, ini pertama kalinya Revan menangis, ia tahu jika putranya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Sudahlah, jangan membuat daddy merasa bersalah pada kalian berdua, jangan terlalu mengurung diri dimasa lalu, Revan. jangan mengingat kejadian itu, jangan berpura-pura tenang didepan daddy, daddy tau, kau selalu menutupinya dengan rapat dengan raut wajah yang kau buat tersenyum dan datar seperti itu, kau anak daddy yang kuat, jangan menangis seperti anak kecil lagi, tenanglah," ucap Arian mencoba menenangkan putra sulungnya yang terlihat begitu menyedihkan sekarang.
"Dia mati karena aku, Daddy," ucap Revan semakin memeluk sang ayah erat.
__ADS_1