
Pukul 5:55 sore
Revan memasuki halaman rumah keluarga Su yang akan ia tinggali hingga tiga tahun kedepan bersama dengan kedua sahabat dan adiknya.
Ia menghentikan mobilnya setelah tadi melewati gerbang yang begitu tinggi, sekitar 5 meter, cukup tinggi untuk ukuran dinding pembatas rumah menurut Revan.
Revan segera keluar dari mobil setelah menghentikan mobilnya tepat didepan rumah, dan kini berjalan mendekat kearah pintu besar yang akan membawanya masuk kedalam rumah.
Revan membuka pintu rumah itu dan sedikit terkejut ketika melihat tiga remaja seumurannya tengah duduk disofa panjang, berhadapan dengan kakeknya dan dengan koper dan tas yang masih tersusun rapi disamping sofa panjang tersebut.
"Aku pulang," ucap Revan segera melangkahkan kakinya mendekat kearah sofa tunggal disamping sofa panjang yang diduduki oleh Revin, Reon dan Carlos.
"Ternyata kau memang tepat waktu, Revan. Mirip seperti ayahmu," ucap Daenji dengan tersenyum kecil yang membuat keempat remaja itu merinding.
"Baiklah, karena kau sudah ada disini, aku akan memberitahumu peraturan yang harus dipatuhi, dan hal ini akan berlangsung selama 3 tahun kedepan," ucap Daenji membuat Revan mengernyit lalu menatap Revin yang hanya menunduk dengan lesu, begitupun dengan kedua sahabatnya.
Revan menatap kearah Daenji yang siap untuk melanjutkan ucapannya.
"Mulai hari ini, hingga tiga tahun kedepan. Kalian berempat tidak boleh keluar dari mansion ini, kecuali keluar dipekarangan rumah, itu tidak apa-apa. Kalian hanya akan keluar ketika hari libur saja, ketika kalian ke kampus, kalian hanya boleh belajar, tidak boleh keluyuran atau melakukan hal yang tidak perlu, mengerti!" ucap Daenji membuat Revan terkejut lalu menatap ketiga orang itu, yang hanya menghembuskan nafas mereka, pasrah akan keadaan.
Revan mengepalkan tangannya mendengar hal itu, ia menyesal karena tadi tidak menghabiskan waktu dengan Rania. Ketika tadi selesai dengan sesi pelukan mereka, Revan segera mengantar Rania pulang setelah mendapat satu bonus dari bibir Rania.
'Yang benar saja!? Ini namanya penyiksaan batin,' ucap Revan dalam hati berteriak frustasi dengan menatap Daenji yang hanya berwajah datar, dengan menatap kearahnya.
"Baiklah," ucap Revan pasrah, ia setuju untuk melakukan hal yang dikatakan oleh sang kakek, jika tidak melakukan hal itu, mereka pasti tidak akan bisa menyelesaikan kasus yang ingin mereka selidiki ini.
"Bagus, Franco, antar mereka ke kamar masing-masing," titah Daenji pada pria yang berdiri disampingnya yang tidak lain tangan kanannya.
Franco menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tuan muda," ucapnya pada keempat remaja itu, lalu melangkahkan kakinya mendekat kearah tangga, untuk naik ke lantai dua.
Keempat remaja itu menghembuskan nafasnya, lalu berdiri dari duduknya berniat untuk mengikuti pria itu, tapi suara Daenji menghentikan langkah mereka.
"Kalian!" ucap Daenji membuat keempat remaja itu menoleh kearahnya, "Bawa barang-barang kalian sendiri! Disini tidak ada pelayan yang akan membawa barang kalian, karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka," lanjut Daenji dan dengan cepat keempat remaja itu meraih masing-masing koper mereka.
__ADS_1
Daenji tersenyum kecil melihat keempat remaja itu, sungguh sangat bernostagia baginya, seperti melihat Arian, Carlson dan Rafael saat muda dulu.
"Diusiaku ini, seharusnya menikmati hidup, tapi malah harus mengurusi duplikat 3 bocah nakal itu. Tapi ini seperti melihat mereka lagi, aku jadi tidak sendirian lagi disini," ucap Daenji dengan tersenyum senang.
* * *
Ke empat remaja itu menghentikan langkahnya, saat Franco menghentikan langkahnya didepan pintu kamar yang bertuliskan nama REON.
"Tuan muda Reon, ini kamar anda," ucap Franco dengan begitu formal dan mempersilahkan Reon untuk membuka pintu kamarnya.
"Di dalam tidak ada jebakan tikus kan?" tanya Reon membuat Franco terdiam, sedang ketiga sahabatnya, menatap aneh padanya.
"Apa? Aku hanya bertanya, bisa saja didalam ada banyak jebakan agar aku tidak bisa keluar lagi dari kamar ini," ucap Reon yang menjawab tatapan Aneh ketiga sahabatnya.
Ketiga pria itu memutar bola matanya malas mendengar ucapan Reon.
"Tidak ada, Tuan muda Reon. Semua aman tanpa ada jebakan," ucap Franco dengan tersenyum kecil, menghadapi pertanyaan remaja itu.
Reon menghembuskan nafasnya, kemudian membuka kamarnya perlahan, sangat perlahan seperti ingin mengintip seseorang yang sedang melakukan hal-hal tidak baik. Sedang ketiga sahabatnya menelan saliva mereka dengan susah payah, menanti apa yang akan muncul saat Reon membuka kamar itu.
"Baiklah, sekarang kita ke kamar tuan muda Carlos," ucap Franco menyadarkan keempat pria itu dari keterkejutan mereka.
Revan, Revin dan Carlos menatap sekilas kearah Reon yang juga menatapnya dengan melambaikan tangan, kemudian menutup pintu, bersiap untuk tidur.
Revan, Revin dan Carlos mengikuti langkah Franco, hingga berberhenti didepan pintu kamar yang jaraknya hanya 2 meter dari kamar Reon.
"Ini kamar, Tuan muda Carlos," ucap Franco dan dengan cepat Carlos membuka pintu kamarnya, membuat Revan dan Revin terkejut.
"Semoga kalian mimpi indah," ucap Carlos kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras, membuat Revan dan Revin tersentak.
"Ayo, aku akan mengantar tuan muda Revan dan Revin juga ke kamar masing-masing," ucap Franco menyadarkan Revan dan Revin dari keterkejutan mereka dengan tingkah Carlos yang seperti sudah lupa dengan peraturan Daenji.
"Em, Franco. Apa masing-masing kamar kami memiliki nama?" tanya Revin memecah keheningan, dan seketika menghentikan langkahnya, saat Franco lagi-lagi menghentikan langkahnya.
Franco menoleh kearah Revan dan Revin lalu menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Revin untuk membuka pintu kamar yang bertuliskan namanya.
__ADS_1
"Semua memiliki nama, agar nanti kami tidak perlu mencari kunci cadangan yang sesuai untuk membuka pintu," ucap Franco dengan tersenyum kecil, sedang Revan dan Revin bertukar pandang satu sama lain.
"Terima kasih," ucap Revin lalu membuka pintu kamarnya dan terkejut, karena kamarnya begitu sesuai dengan seleranya.
"Semoga mimpi indah, Brother," ucap Revin sebelum menutup pintu kamarnya.
"Ayo tuan muda," ucap Franco lalu kembali melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Revan.
"Ternyata wajah anda dan saudara anda sangat mirip dengan tuan Arian, sangat mirip," ucap Franco dengan terus berjalan mendekat kearah pintu kamar Revan.
"Tentu saja, karena kami anaknya," ucap Revan dingin dan menatap punggung Franco dengam tajam.
Franco terdiam, kemudian berbalik dan menatap Revin yang memengan ransel dibahu kanannya.
"Dan sifat kalian berdua pasti sedikit berbeda, semoga anda beristirahat dengan baik," ucap Franco kemudian berpamitan pada Revan dan kembali turun kelantai dasar.
Revan hanya menatap datar pada Franco yang pergi meninggalkannya.
"Semoga saja besok pagi semua baik-baik saja," ucap Revan lalu membuka pintu kamarnya dan segera melangkahkan kakinya masuk dan mendekat kearah tempat tidur.
"Waktu yang bagus untuk tidur," ucapnya lalu merebahkan diri diatas tempat tidur.
* * *
Esoknya.
Pukul 6 pagi.
"AAAAAA,"
Terdengar suara teriakan yang berhasil membuat Revan yang baru keluar kamar mandi terkejut.
"Suara siapa itu?" tanya Revan pada dirinya sendiri.
Reon yang berniat masuk ke kamar mandi terkejut bukan main, bahkan handuk yang berada dipundaknya terjatuh kelantai.
__ADS_1
"Siapa yang tidak punya kerjaan berteriak sepagi ini?" tanya Reon pada diri sendiri dengan wajah terkejutnya dan sedikit berjongkok mengambil handuk yang ada dilantai.