SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
DEMAM


__ADS_3

Revin berjalan perlahan memasuki rumah dengan keadaan basah kuyub. Revin menghentikan langkahnya saat melihat Revan melihat kearahnya.


Revan mengernyitkan alisnya, sedang Revin semakin melangkahkan kakinya mendekat pada kakaknya itu.


"Aku ke kamarku dulu," ucap Revin berjalan melewati Revan yang berdiri terdiam ditempatnya, sedang Ana dan Reana menatap bingung pada Revin.


'Sudah berapa lama dia diguyur hujan, hingga bibirnya pucat begitu?' ucap Revan dalam hati bertanya pada dirinya sendiri dan kemudian menoleh pada Revin yang menaiki tangga.


Ana segera bangkit dari duduknya berniat untuk mengikuti Revin kekamar.


"Aku saja mom," ucap Revan kemudian berjalan mengikuti Revin yang sudah tiba dilantai 2.


Ana menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemudian kembali duduk disamping Reana.


Revan melangkahkan kakinya mendekat kearah pintu kamar Revin.


Revan memutar knock pintu lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Revin.


Revan mengedarkan pandangannya menelusuri setiap sudut kamar Revin, tapi tidak menemukan Revin.


Revan mengernyit saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Dia masih bisa mandi?" tanya Revan pada dirinya sendiri kemudian berjalan perlahan mendekat pada tempat tidur Revin.


Lima menit kemudian.


Revin keluar dari kamar mandi dengan keadaan sedikit gemetar kedinginan, meski air hangat yang mengguyur tubuhnya, tapi tetap saja masih terasa dingin baginya.


Revin terdiam saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Revan yang duduk diatas tempat tidurnya.


"Brother!" ucap Revin yang sedikit terkejut dengan Revan yang berada didalam kamarnya.


Revan menatap Revin dari atas hingga ujung kaki, ia menghembuskan nafasnya lalu berjalan perlahan mendekat kearah adiknya itu.


"Pakai bajumu!" ucapnya kemudian berjalan melewati Revin dan masuk kedalam kamar mandi.


Revin menghembuskan nafasnya dengan bibir yang sedikit gemetar.


Revin segera membuka lemari pakaiannya dan mengambil salah satu kaos yang akan ia kenakan.

__ADS_1


Revin segera memakai bajunya itu dan tidak lama setelah ia memakai bajunya, Revan keluar dari kamar mandi dengan handuk ditangannya.


Revan mendekat kearah tempat tidur dan duduk, Revin yang melihat hal itu berjalan mendekat, dan duduk dilantai dihadapan bawah Revan.


"Berapa lama kau berdiri seperti orang bodoh dibawah guyuran air hujan?" tanya Revan panjang lebar dengan tangan yang mengeringkan rambut Revin mengunakan handuk yang ia ambil tadi.


Revin hanya terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata, membuat Revan menghembuskan nafasnya.


"Jika kau terus seperti ini, kau akan sakit bodoh," ucap Revan tapi Revin tetap diam dengan wajah sendunya.


Lagi-lagi Revan menghembuskan nafasnya, ia tidak bisa lagi berkata-kata. Revan berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat kearah kamar mandi, untuk menyimpan handuk itu ditempatnya.


Tidak lama kemudian, Revan keluar dari kamar mandi dan Revin masih setia duduk dilantai dengan pandangan kosong kelantai.


Revan segera berjalan keluar dari kamar Revin, ia tidak bisa melihat adiknya itu seperti sekarang, tapi ia juga tidak bisa memaksa adiknya itu untuk berbicara jika ia tidak ingin berbicara.


'Maaf Brother, aku tidak bisa memberitahumu hal itu, ataupun hal yang terjadi hari ini,' ucap Revin dalam hati dengan menghembuskan nafasnya kasar dan segera beranjak dari duduknya dan naik keatas tempat tidurnya itu.


Revin menarik selimutnya, dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal itu.


Revan menuruni anak tangga dengan fikiran yang mencoba untuk menebak apa yang terjadi pada adiknya itu, ia sudah berusaha untuk bisa membuka informasi tersembunyi milik Revin. Tapi sia-sia karena seberapa keras ia mencoba, adiknya itu selalu menutup rapat informasi yang tidak ia ketahui.


Revan merasa menyesal memiliki adik yang kepintaran otaknya tidak jauh berbeda dengannya.


Revan mendekat kearah sang ibu dan tersenyum manis.


"Dia baik-baik saja, Mom. Hanya sedikit ada masalah, Revan akan membantu Revin untuk menyelesaikannya segera," ucap Revan dan Ana yang mendengar hal itu, hanya mampu menganggukkan kepalanya.


'Sebenarnya ada apa?' ucap Reana dalam hati, bertanya pada dirinya sendiri.


Pukul 7 malam.


Saat ini, Arian, Ana, Revan dan Reana tengah duduk berhadapan dengan meja makan, bersiap untuk makan malam.


"Revin mana?" tanya Arian yang tidak melihat Revin disana, bahkan saat ia pulang dari kantor tadi pun sama sekali tidak melihat Revin.


"Aku akan memanggilnya, Dad," ucap Revan beranjak dari duduknya bersiap untuk naik kelantai atas untuk memanggil Revin.


Belum ada 5 langkah Revan melangkahkan kakinya, Revin sudah berjalan mendekat kearah meja makan dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


Revan mengernyit saat Revin melewatinya dengan sesekali menghembuskan nafasnya kasar.


'Apa sebesar itukah masalah yang ia sembunyikan?' ucap Revan dalam hati, bertanya pada dirinya sendiri dan kemudian berjalan kembali ketempat duduknya.


"Kamu baik-baik saja, Revin?" tanya Arian pada Revin yang kini duduk disamping Reana.


"Iya, Dad. Aku baik-baik saja," ucap Revin dengan tersenyum pada ayahnya itu.


Reana mengernyit saat melihat senyum dibibir Revin, yang terkesan seperti senyum paksa dibalik penderitaan dan kesulitan.


"Kakak benar-benar baik-baik saja?" tanya Reana begitu khawatir pada kakak keduanya itu.


"Iya," ucap Revin singkat.


Ana menatap khawatir pada putranya itu, kemudian menghembuskan nafasnya saat mendengar ucapan Revin, ia merasa jika putranya itu sedang tidak baik-baik saja.


Sedang Arian mengernyitkan alisnya, ia tidak bisa percaya jika Revin baik-baik saja, Sedang Revan semakin menatap penuh tanda tanya pada saudara kembarnya itu.


Makan malam pun berjalan dengan hening, tanpa ada yang berbicara, yang terdengar hanya suara sendok yang bergesekan dengan piring keramik.


* * *


Pukul 6:20 pagi.


Revan menyantap sarapannya dengan sesekali melirik kearah tangga, sedang Reana dan Arian mengunyah sarapan mereka dengan lahap.


Tiba-tiba Revan beranjak dari duduknya dan meminum air putih dan berjalan untuk segera naik ke lantai 2.


Arian dan Reana mengerjakan matanya berkali-kali dan bertukar pandang satu sama lain.


Revan berjalan mendekat kearah pintu kamar Revin yang masih tertutup rapat itu, Revan memutar knock pintu dan melangkahkan kakinya memasuki kamar adiknya itu.


Revan mengernyit saat melihat Revin yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya itu.


Revan berjalan mendekat kearah tempat tidur dan menarik selimut Revin dan membuangnya ke lantai, Revan menatap khawatir pada Revin yang terlihat tidak sehat.


Revan naik keatas tempat tidur dan menempelkan telapak tangannya pada kening adiknya itu.


Revan tersentak dan menarik tangannya saat merasakan jika suhu tubuh Revin sangat panas.

__ADS_1


"Keningnya panas sekali," ucap Revan dengan menatap wajah Revin yang terlihat pucat.


Revan segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil selimut yang berada dilantai, kemudian menyelimuti Revin dan berlari keluar kamar Revin dengan terburu-buru.


__ADS_2